Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 52-1 : Another Story in Japan


__ADS_3

[Sara]


Aozora Fukkou Hausu, itu nama tempat dimana Agam memulihkan dirinya.


Sebuah tempat milik seorang professor dan dokter ahli bedah otak yang juga diakui di Jepang sebagai ahli neurologi dan kardiovaskular nomor satu, Satoshi Yamamoto, atau Agam menyebutnya dengan Prof. Yamamoto.


Agam mengenalnya sejak dia sedang mengembangkan project Selene untuk versi kedua. Saat berkunjung ke Jepang, Agam bertemu dengan Prof. Yamamoto sedang melakukan penelitian tentang pemulihan pasien lumpuh dan gagal fungsi indera manusia yang bukan karena faktor bawaan dari lahir.


“Prof. Yamamoto melakukan penelitian itu karena dia ingin istrinya yang lumpuh dan menjadi buta sejak kecelakaan bisa kembali berjalan dan melihat kembali.”


Agam waktu itu masih 23 tahun. Masih sehat. Tidak terpikirkan olehnya suatu saat nanti dia akan mengalami hal yang sama dialami oleh istri Prof. Yamamoto. Hanya merasa bahwa ide penelitian itu sangat luar biasa hingga dia mau menyumbangkan Selene untuk membantu penelitian Prof. Yamamoto itu.


Dan ketika penelitian itu berhasil, Prof. Yamamoto menawarkan untuk Agam datang ke tempatnya.


“Rumah rehabilitasi ini dibangun di atas tanah milik keluarga Prof. Yamamoto. Untuk istrinya, dia membangun sebuah tempat agar istrinya bisa beristirahat dan memulihkan diri. Dan juga agar Prof. Yamamoto bisa fokus menyelesaikan penelitiannya.”


“Lama-kelamaan, tempat ini semakin besar dan berkembang. Ruangan demi ruangan semakin bertambah karena semakin banyak orang datang untuk memulihkan dirinya. Hingga jadi seperti sekarang ini.”


Luar biasa ...


“Jadi, bagaimana keadaan istri Prof. Yamamoto sekarang?,” tanya Sara.


“Beliau meninggal 5 tahun yang lalu, sebelum penelitian Prof. Yamamoto benar-benar berhasil.”


Innalillahi wainnailaihi rojiun ... sayang sekali ... Nyonya Yamamoto belum sempat melihat keberhasilan suaminya.


Sebelum kembali ke Indonesia, rumah rehabilitasi milik Prof. Yamamoto itu adalah pemberhentian terakhir dari seluruh tempat di beberapa negara yang pernah dikunjungi Agam.


Saat itu, penelitian hampir selesai. Tapi Agam tetap mencobanya meski belum mendapatkan pengakuan. Dan berhasil, meski belum maksimal. Sayangnya, Agam harus kembali ke Indonesia, dan pengobatan itu berhenti. Agam harus menjaga dirinya agar obat itu tidak kembali masuk ke tubuhnya, agar pengobatan itu bisa diselesaikan suatu saat nanti.


Panggilan dari Prof. Yamamoto untuk melanjutkan pengobatan itu sudah lama datangnya, bahkan sebelum insiden demam 3 hari itu terjadi. Tapi Agam selalu menundanya. Begitu masalah itu muncul, Agam mulai memikirkannya kembali. Dan akhirnya, di sinilah dia.


“Ohayou, sensei ...” Begitu sapa setiap orang yang melewati kamar tempat Agam tinggal.


‘Sensei’ adalah panggilan untuk seseorang yang dianggap sebagai guru oleh orang Jepang.


Tidak hanya datang sebagai pasien, Agam juga membantu Prof. Yamamoto memberikan kelas mengenai penggunaan Selene dalam penelitian. Meski hanya kelas tambahan yang diadakan dua kali, mereka tetap memanggil Agam dengan panggilan ‘sensei’.


Sekali atau dua kali, beberapa mahasiswa pasti akan datang setiap harinya mengunjungi kamar Agam. Beberapa dari mereka ada yang sekedar mengobrol, tapi yang paling banyak adalah melakukan sesi tanya jawab untuk tugas makalah dan presentasi mereka.


Karena baru tiga hari Sara di sana, belum banyak yang mengenalnya. Tapi beberapa perawat yang sudah mengenal Sara pasti akan menyapanya. Seperti yang dilakukan seorang perawat cantik yang saat ini sedang mampir ke kamar Agam memeriksa rutin Agam.


“Ohayou, Sara-san ...”


“O-ohayou ...” Sara membalas sapaannya dengan gugup.


Dan setelah itu, Agam dan perawat itu akan mengobrol sendiri. Sara penontonnya.


Mau bagaimana lagi, Sara tidak bisa bahasa Jepang. Salah satu hal yang tidak dia pikirkan sebelum dia berangkat ke Jepang.


Tapi bukan salahku juga, kan? Nggak mungkin aku les bahasa Jepang di saat yang lain sedang sibuk cari Mas Agam, begitu pikirnya sebal terutama saat melihat tawa Agam saat bersama perawat itu.


Agam sempat menawarinya mengambil kursus di pusat kota. Tapi, Sara menolaknya. Akan sangat merepotkan kalau harus bolak-balik seperti itu, apalagi perjalanannya butuh waktu yang lama. Selain itu juga, tujuannya ke Jepang juga bukan untuk itu. Jadi, dia memutuskan untuk belajar sendiri dari kelas online atau buku. Yang paling sering, tentu saja, minta tolong Agam mengajarinya.


Setidaknya, tiga hari berada di Jepang, dia bisa mengucapkan selamat pagi. Seperti yang tadi dilakukannya. Sudah boleh bangga, kan?


Meski demikian, pemandangan Agam berbicara dengan bahasa Jepang yang fasih adalah pemandangan yang luar biasa baginya saat ini.


Beneran terlihat keren, begitu pikirnya setiap kali dia melihat Agam berbicara dengan bahasa Jepang.

__ADS_1


“Kalau semisal aku nggak nyusul Mas ke sini, kira-kira Mas bakalan milih salah satu dari mereka, nggak? Mereka cantik-cantik, Mas,” tanya Sara begitu perawat yang bertugas memeriksa rutin kondisi kesehatan Agam keluar dari kamar untuk melanjutkan tugasnya yang lain.


Agam tertawa, juga tidak menjawab. Dia malah memanggil Sara untuk duduk di dekatnya.


Begitu Sara melakukan permintaan Agam, tangan Sara langsung digenggamnya lembut.


“Aku buta, Sara. Aku tidak bisa melihat bagaimana rupa mereka,” jawab Agam.


“Kalau nanti Mas bisa lihat lagi, Mas pasti tahu seberapa cantiknya mereka,” timpal Sara.


“Ya, kalau aku bisa lihat lagi, aku sudah punya rencana lain waktu itu.”


“Rencana lain?”


Agam semakin mengeratkan genggamannya pada tangan mungil Sara, dan mengusap punggung tangannya dengan lembut.


“Pertama, aku cari fotomu yang aku taruh di sebelah tempat tidurku. Sengaja aku taruh sana, supaya bisa langsung aku lihat begitu kedua mataku kembali berfungsi,” kata Agam.


“Setelah itu, aku kembali ke Indonesia. Cari kamu, terus lihat kamu secara langsung. Itu rencanaku.”


Sara pandangi pemilik wajah sendu yang ada di hadapannya saat ini. Wajahnya sedikit demi sedikit memerah. Untung Agam tidak bisa melihatnya. Jadi dia tidak perlu menyembunyikannya.


“Ish ... Aku kan nggak nanya itu,” ucap Sara lirih. Dia mengalihkan pandangannya dari Agam, mengurangi rasa panas di wajahnya.


Agam tertawa lagi. Dia menarik Sara masuk ke dalam pelukannya.


Padahal, kata-kata Agam lebih mirip sebuah gombalan menurut Sara, tapi ketika terdengar olehnya, entah mengapa, rasanya menggelitik manja di telinganya.


......................


“Sara-san mada koko ni imasuka? Mou sugu gogo ni-ji ni narimasu. Agam-sensei no jugyou mo mou sugu owarimasu yo. (Sara-san masih di sini? Ini sudah hampir jam 2 siang. Kelas Agam-sensei sebentar lagi akan selesai),” kata salah seorang relawan yang bertugas di dapur.


"Oshirase itadaki arigatou gozaimasu. Sugu ni owarasemasu. (Terima kasih sudah mengingatkan. Aku akan segera selesai.),” jawab Sara dengan bahasa Jepang yang belum seberapa fasih. Tapi sedikit demi sedikit dia mulai menguasainya.


Hari ini adalah hari ke-15 Sara tinggal di Jepang. Selain dia sudah mulai bisa berkomunikasi dengan bahasa Jepang – meski belum sefasih Agam –, Sara mulai kenal dengan hampir semua orang yang bekerja di rumah rehabilitasi itu, baik itu karyawan, relawan, pekerja magang, hingga beberapa pasien dari kecil hingga sepuh.


Statusnya sebagai istri seorang pengajar yang juga adalah pasien nomor satu di tempat itu menjadikannya bebas ke mana pun yang dia sukai tanpa ada yang melarangnya – bahkan Prof. Yamamoto pun tidak –, termasuk dapur.


Jika Agam ada kelas, Sara akan pergi ke mana saja untuk membantu sembari menunggu kelas Agam selesai. Kadang dia membantu di dapur seperti saat ini, kadang pula dia membantu di ruang perawat untuk menyiapkan beberapa barang keperluan pasien, kadang pula bermain dengan anak-anak di ruang bermain.


Ketika akan selesai, barulah Sara kembali ke kelas untuk menjemput Agam, dan setelah itu mereka pergi berjalan-jalan di sekitar rumah rehabilitasi.


Sara segera meletakkan peralatan dapur yang dia pegang. Setelah itu mengenakan jaket miliknya, dan mengambil sweater milik Agam, lalu berangkatlah dia ke kelas.


Ketika kelas selesai – karena banyaknya peminat, kelas Agam kini menjadi tiga kali dalam seminggu –, bukan berarti Agam bisa langsung bebas keluar begitu saja. Beberapa orang masih tinggal untuk berdiskusi dengan Agam. Kalau sudah begitu, biasanya Sara akan menunggu di luar.


Seperti saat ini, seorang gadis cantik sedang berbicara dengan Agam. Bahasanya terlalu sulit untuk dimengerti oleh Sara. Jadinya dia tidak begitu memahami apa yang mereka bicarakan. Itu artinya, mereka memang serius membicarakan tentang bidang mereka.


Masalahnya, aneh rasanya bagi Sara untuk membiarkan Agam dengan gadis itu berduaan di sebuah ruangan. Jadilah dia masuk ke ruangan itu tanpa suara, tanpa sepengetahuan Agam dan mahasiswanya, dan memilih tempat di ujung untuk duduk dan menunggu.


“Sara?” Agam seperti sedang memastikan sesuatu ketika gadis itu pergi. Entah bagaimana ceritanya, tebakannya benar.


“Kok Mas tahu, sih?”


Agam malah tertawa, lalu berkata, “Rahasia.”


“Ish ...”


Tapi, memang jadi pertanyaan bagi Sara sejak lama, bahkan sejak dia datang ke Jepang. Saat sebelum dia jatuh dari tangga itu, Agam bisa dengan tepat menebak bahwa itu ada dia. Bagaimana bisa?

__ADS_1


Sara pernah mencoba bertanya, dan jawabannya selalu sama seperti tadi. Rahasia.


“Mas nggak pake alat pembaca pikiran, kan?,” tanya Sara curiga.


Tawa Agam semakin kencang. “Mana ada yang seperti itu?”


“Ya jadi apa dong?” Sara mencoba bertanya kembali.


“Namanya itu ...” Suara Agam semakin lama semakin pelan.


Sara kesulitan mendengarnya.


“Iya, Mas?” Didekatkan telinganya ke Agam. Tapi Agam tetap menjawab dengan pelan. Lebih pelan malah.


Sara mendekat lagi.


Tiba-tiba saja, sebuah kecupan sudah mendarat di sisi wajahnya.


“Iih ... Mas!”


Sementara Sara sedang kesal, Agam malah tertawa puas penuh kemenangan yang malah menambah kadar kesal Sara.


Untungnya, dengan sedikit bujukan dan permintaan maaf, acara jalan-jalan mereka masih dapat terlaksana.


Satu tempat pemberhentian yang biasanya jadi tempat Sara mengistirahatkan Agam. Tempat yang sama yang dia lihat pada gambar yang ditunjukkan Yuda padanya saat di Indonesia. Tempat yang paling indah menurut orang-orang di sini.


Tempat yang nyaman untuk mengobrol dan bersantai. Cocok untuk Agam yang suka dengan ketenangan.


Mereka sedang mengobrol santai saat tiba-tiba Agam meminta Sara untuk berdiri di hadapannya. Meski pertanyaan banyak menghinggapi kepalanya, Sara tetap melakukannya.


Dengan kedua tangannya yang menggenggam tangan Sara, Agam berkata, “Kita memulai kisah kita dengan cerita yang cukup aneh.”


Sara tertawa mendengarnya. Ya, memang aneh.


“Aku tidak menyesalinya jika itu artinya akan membawamu padaku. Tapi ...”


Agam semakin mengeratkan genggaman tangannya.


“... aku tetap ingin melakukan sesuatu yang dulu tidak aku lakukan.”


Jantung Sara mendadak bertambah cepat degupnya.


“Aku ingin melamarmu, dengan benar kali ini.”


Tangan kanan Agam melepaskan genggaman tangannya pada Sara, lalu mengambil sesuatu di saku celananya.


Saat dikeluarkan, Sara melihat sebuah logam berbentuk bulat sedang dipeganginya dan dihadapkan pada Sara.


“Aku tahu kita sudah menikah. Tapi, maukah kamu menerima pria sepertiku jadi bagian dari masa depanmu?”


Setetes air mata meluncur bebas menuruni wajahnya. Diikuti tetesan air mata lainnya.


Dia tidak harus melakukan ini. Tapi tetap dilakukannya. Bagaimana bisa aku berkata tidak?


“Aku mau, Mas. Asalkan bersama Mas, aku mau ...” Sara langsung memeluk Agam.


Cincin yang dipegang oleh Agam kini disematkan di jari manis Sara bersama dengan cincin yang diberikan Agam pada saat mereka menikah dulu.


Keduanya sama-sama penting. Sama pentingnya dengan Mas Agam di hidupku.

__ADS_1


__ADS_2