Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 52-4 : Another Story in Japan


__ADS_3

[Sara]


“Kenapa Mas nggak bicara dulu denganku?,” tanya Sara.


Setelah meminta Raka untuk menunggu, Sara mengajak Agam untuk bicara di satu tempat yang masih di sekitar rumah.


Agam menceritakan bagaimana dia tidak sengaja mendengar pembicaraannya dengan Ibu. Dan karena itu dia meminta Raka untuk datang.


“Sara ... dengarkan dulu ...,” pinta Agam mencoba mengatakan sesuatu di sela marahnya Sara yang belum reda, meskipun Agam sudah memegangi tangan Sara dan mengusapnya lembut, berpikir mungkin cara itu bisa meredakan emosinya.


“Ibu bilang nggak apa-apa kalau aku nggak kembali ke Indonesia dulu.”


“Iya, aku tahu. Tapi kita sama-sama tahu bagaimana Ibu. Beliau tidak akan keberatan, apalagi kalau kamu sudah memintanya,” sambung Agam. “Tapi, aku lebih tahu kamu, Sara. Aku tahu kamu sangat ingin bisa menemani Ibu.”


“Aku juga ingin menemani Mas,” protes Sara.


“Aku tahu, Sara. Aku tahu,” bujuk Agam lebih lembut lagi. Dia menarik tangan Sara untuk mendekat. “Kamu ingin bisa menemani kami berdua sekaligus kalau kamu bisa. Tapi kita juga tahu itu tidak mungkin.”


“Mas ...”


“Dengarkan aku dulu, Sara ...” Tangan Agam mulai mencari sisi wajah Sara dan bersandar di sana. “Aku juga ingin kamu tetap di sini bersamaku. Tapi operasi yang aku jalani hanya operasi kecil. Sedangkan Ibu akan menjalani operasi besar, jauh lebih berbahaya daripada aku. Ibu butuh kamu di sana, Sara.”


Sara mulai menitikkan air matanya. Agam menghapus perlahan dengan ibu jarinya.


Kalau seandainya aku tidak harus memilih.


“Pikirkan lagi, Sara. Ibu hanya ditemani Mina. Tapi kamu adalah satu-satunya keluarga yang dimiliki Ibu. Dokter akan selalu mencarimu, karena kamu keluarganya. Mina tidak akan bisa melakukan itu untuk menggantikan kamu.”


“Aku janji sama Mas hadapi ini bersama-sama,” isak Sara.


Kedua tangan Agam kini menangkup wajah sembab Sara. Mengusap air mata istrinya dengan lembut seraya menunjukkan senyumnya.


“Kita masih bersama, sayang. Kita masih bersama. Di manapun kamu, aku selalu ingat, kamu bersamaku. Aku janji aku akan baik-baik saja. Begitu kamu kembali, kamu akan lihat aku yang baru.”


Sara memeluk suaminya itu dengan erat. Ucapan Agam membuatnya merasakan begitu banyak cinta yang dia terima dari suaminya. Dia tahu Agam mengalah untuk memudahkannya memilih satu di antara dua. Tapi tidak membuatnya merasa dia telah melupakan salah satunya.


Begitu banyak yang sudah kamu berikan, Mas ...


“Mas melakukan ini bukan supaya bisa ditemani perawat Aozora, kan?,” goda Sara dalam tangisnya. Dia masih memeluk erat Agam.


Agam tertawa menanggapinya. “Kalau gitu buat apa aku manggil Raka ke mari?”


“Benar juga ...,” ucapnya lirih.


Tapi kemudian ...


“Bisa saja kalian kerja sama ...”


Agam tidak menjawab apapun. Dia malah semakin kencang tertawa


......................


“Mas ... Sudah siap?”


Sara bisa melihat senyumnya dari layar ponsel kecilnya. Agam mengangguk saat Sara bertanya.

__ADS_1


Terdengar suara teriakan dari balik layar ponsel Agam. “Jangan khawatir, Mbak. Kalau Mas Agam nakal, aku marahin nanti.”


Itu suara Arya ...


Agam sudah cerita kemarin ketika Sara menghubunginya, kalau Arya akan datang bersama Yuda. Mereka akan di sana untuk beberapa waktu.


“Ibu gimana?,” tanya Agam kemudian, mengalihkan perhatian Sara dari Arya.


“Ibu baik, Mas. Dokter bilang semuanya bagus. Sekarang timnya sedang siap-siap. Ibu juga.”


Karena itu Sara di luar sembari menunggu mereka selesai bersiap dan memindahkan Ibu ke ruang operasi.


“Mas sendiri gimana? Prof bilang nggak apa-apa, kan?”


“Tidak apa-apa. Jangan khawatir, Sara. Ini cuma operasi kecil. Satu jam saja juga sudah selesai,” kata Agam menenangkan Sara.


Semoga saja begitu ...


“Maaf, aku tidak bisa menemani kamu di sana.”


Agam mengatakannya lirih. Yang justru membuat Sara tidak dapat menahan air matanya.


“Yang penting Mas baik-baik saja ...,” isak Sara.


“Kamu belum pernah keliling kota Sapporo selama kamu di sini,” lanjut Agam lagi. “Nanti kalau aku bisa jalan lagi, aku akan temani kamu jalan-jalan.”


Sara mengangguk seraya menahan isaknya.


“Kita jalan-jalan ke Hokkaido juga. Di sana banyak tempat yang bagus. Aku yakin kamu pasti suka.”


Menahan isak tangisnya itu yang paling sulit. Sara terus sesenggukan karenanya.


Agam mengangguk, lalu terdiam cukup lama setelahnya, membiarkan Sara tetap terisak.


Dan tiba-tiba saja, Agam berkata, “Aku mencintaimu, Sara. Sangat mencintaimu.”


Semakin tak kuasa Sara menahannya. “Aku juga ... Aku juga sangat mencintaimu, Mas.”


......................


Hampir sebulan sudah Sara berada di Indonesia. Agam masih di Jepang bersama Raka. Kadang Raka balik ke Indonesia untuk mengerjakan beberapa tugas dari Agam. Kalau sudah begitu, Agam hanya ditemani perawat dari Aozora.


Kadang pula, Arya berkunjung ke sana. Atau paling tidak mampir melihat kakaknya saat ada kunjungan kerja ke Jepang. Pada akhirnya, Sara jadi menerima banyak video mereka saat bersama. Paling tidak Sara jadi tahu apa saja yang dilakukan Agam selama pemulihan.


Video call sendiri memang sering, tapi Sara kadang suka tidak tenang ketika dia tidak sempat untuk menghubungi Agam, sementara sibuk mengurus Ibu.


Untuk Ibu, semuanya berjalan dengan baik. Tubuh Ibu dapat menerima dengan baik donor ginjal yang diterimanya. Dokter mengatakan tidak ada masalah ataupun komplikasi pasca operasi. Hanya saja Ibu masih harus melakukan pemeriksaan rutin dan masih harus menjaga pola makannya, meski tidak seketat sebelumnya.


“Kembalilah,” kata Ibu suatu ketika. “Agam yang butuh kamu saat ini. Ibu baik-baik saja. Makin sehat malah. Jauh lebih sehat dari sebelum-sebelumnya.”


“Tapi, Ibu masih harus rutin kontrol. Dokter masih mau lihat perkembangan Ibu setelah operasi. Takutnya Ibu kenapa-kenapa,” kilah Sara beralasan.


Dia juga ingin kembali segera ke Jepang. Tapi sekarang jelas tidak mungkin meninggalkan Ibu begitu saja jika dia masih belum yakin pada kesehatan Ibu.


“Ya kan ada Mina. Ada suster yang ditugaskan Agam. Mereka bisa temani Ibu ke rumah sakit. Mobil juga setiap saat siap antarkan Ibu. Jadi ndak usah khawatir,” kata Ibu terus berusaha membujuk Sara.

__ADS_1


Sara memandangi Ibu dengan penuh kasih. Dia memahami maksud Ibu. Mungkin Ibu juga melihat kekhawatiran Sara yang bercabang, antara Ibu dan Agam.


Ibu selalu bisa melihat apa yang sedang aku risaukan.


“Ibu pengen Sara ke Mas Agam. Mas Agam pengen Sara ke Ibu. Jadi sebenarnya kalian itu sayang nggak sih sama Sara?”


Sara berpura-pura merajuk di depan Ibu.


Ibu malah memukul pelan lengan Sara. “Kamu ini ...”


Mereka tertawa setelahnya.


“Nanti setelah Ibu kontrol sekali lagi, terus dokter bilang sudah nggak apa-apa, Sara kembali ke Sapporo,” kata Sara menenangkan Ibu, dan Ibu menyetujuinya.


......................


Sara terus melangkahkan kakinya dengan cepat sambil menarik kopernya begitu dia turun dari mobil yang membawanya dari bandara ke Aozora.


Panggilan orang-orang yang dia kenal sedang menyapanya hanya dibalas sekadarnya. Dia sudah tidak sabar untuk menemui Agam yang katanya sedang ada di rumah. Itu artinya, perjalanan Sara masih jauh.


“Mas, Mas ...,” panggil Sara berkali-kali begitu dia membuka pintu pertama. Tapi, dimana dia?


Tidak ada di mana pun. Di ruang tidur juga tidak ada. Di belakang juga tidak ada.


“Mas ...,” panggilnya sekali lagi sebagai usaha terakhirnya.


Apa di kamar mandi, ya?


Sara langsung membalikkan tubuhnya, berniat mencari suaminya di tempat lain. Tapi ...


BUG!


Dia menghantam sesuatu yang keras seketika. Dia pegangi kepalanya yang kesakitan karena hantaman itu. Tapi yang dilihatnya dari balik lengannya lebih menarik hingga membuatnya melupakan rasa sakitnya.


Wuaa ... Ini ...


Jarinya seketika menunjuk perut datar yang ada di hadapannya. Pandanganya terus naik mencari ujung kepala si pemilik perut datar itu.


Dia ... tinggi ...


Selama ini Sara hanya melihat Agam ketika dia sedang duduk. Dan sekarang dia baru sadar, ternyata Agam setinggi itu. Lebih tinggi darinya.


Agam sedang bertelanjang dada. Mungkin baru dari kamar mandi.


Tangan kirinya sedang memegangi tongkat. Dia bisa berdiri sekarang ...


“Sara?”


Panggilan Agam membuyarkan lamunan Sara hingga tak bersisa. Sara kembali fokus pada pria yang ada di hadapannya kini.


“M-mas ... Kamu s-sudah ...”


Belum sempat diselesaikan, Sara langsung ditarik oleh Agam ke dalam pelukannya. Satu tangan memeluk Sara dengan erat, sedangkan tangan yang lain masih memegangi tongkatnya.


“Aku sangat merindukanmu, Sara ...”

__ADS_1


Sara juga tidak mau kalah. Dia tersenyum kala memeluk erat suaminya itu.


“Aku juga, Mas. Aku juga kangen banget sama Mas.”


__ADS_2