Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 7 : Sang Ibu Mertua


__ADS_3

[Sara]


#flashback_on#


“Ada satu pertanyaan yang tidak bisa saya pahami sampai sekarang. Tentang Ibu Mas Agam. Dia minta saya untuk melindunginya dari ibunya. Tapi di depan ibuku, dia bilang kedua orangtuanya sudah meninggal. Lalu, siapa Ibu yang yang dimaksud Mas Agam?,” tanya Sara pada Raka tadi pagi.


“Ibu Tuan Agam memang sudah meninggal saat Tuan berumur 6 tahun.”


Ternyata benar meninggal, ya? Lalu ...


“Yang dimaksud Tuan dalam perjanjian itu adalah Nyonya Widia Kirana, ibu tiri Tuan Agam. Tuan Wirasurya menikah lagi saat Tuan berumur 7 tahun.”


#flashback_off#


“Oh, itu pasti Nyonya,” kata Mbok Jami.


Sara semakin tidak paham. Dia bertanya balik, “Nyonya ... siapa ya, Mbok?


“Mamanya Den Agam.”


DEG!


Sara langsung salah tingkah. Dia benar-benar tidak menyangka jika ibu mertuanya itu akan datang di saat Agam tidak ada di rumah.


Bagaimana dia harus menghadapinya? Agam bahkan tidak pernah memperkenalkannya pada ibu mertuanya itu. Jangankan dikenalkan, Sara yakin Agam pasti tidak memberitahu ibu tirinya itu kalau dia sudah menikah. Karena itu tidak ada orang tua yang hadir saat mengantarkan Agam ke rumahnya waktu akad nikah mereka. Lalu sekarang bagaimana?


Sara segera mengeringkan tangannya dengan kain lap kering. Lalu melepaskan ikat rambutnya, merapikan rambutnya itu, kemudian mengikatnya lagi. Setelah itu, dia hampir berlari menuju pintu meninggalkan dapur, tapi kemudian dia berhenti begitu mendekati pintu.


Dilihatnya kaca yang menempel pada dinding di bawah rak lemari dapur yang menggantung yang menampilkan bayangan dirinya. Kembali dia panik. Dirapikannya segera baju yang dikenakannya, dikibaskan celananya seakan-akan banyak debu menempel di sana – padahal sebenarnya tidak. Baru kemudian, dia berbalik lagi dan melanjutkan perjalanannya menuju pintu.


Tapi kemudian berhenti lagi tepat di depan pintu. Lalu bergeser ke samping dan bersembunyi di balik dinding pintu.


Tunggu. Haruskah menemuinya? Atau harus menunggu Agam?


Tapi, ibu mertuanya sudah ada di sini sekarang? Masak ya sembunyi? Apa katanya nanti?


“Yang nemenin Agam disini siapa saja?”


“Ada saya sama Jami, Nyonya.” Suara Pak Pardi kembali terdengar menjawab pertanyaan ibu Agam itu. Tapi kini, suara itu semakin mendekat.


“Cuma 2 orang aja?”


“Mboten, Nyonya (Tidak, Nyonya). Ada satpam, ada supir juga.”


“Ya, itu sedikit namanya, Pardi.”


“Sepurane, Nyonya (Maaf, Nyonya).”


Semakin jelas suara mereka, semakin dekat mereka dengan tempat Sara berada. Dan semakin kencang detak jantung Sara terdengar hingga ke telinganya sendiri. Sara semakin gugup, dan semakin sulit memutuskan. Apakah dia harus melangkah keluar, atau menunggu mereka masuk ke ruang makan?


“Agam ya gitu. Dia pindah rumah nggak bilang-bilang. Saya ini ya khawatir. Kalau sendirian begini, siapa yang ngurusi dia. Agam pasti kesulitan. Agam nggak pernah bilang mau sewa suster?”


“Anu, Nyonya. Den Agam ... “


Tepat di saat itu, Sara yang berdiri di dekat pintu dapur melihat sosok wanita cantik baru saja melewati pintu tanpa melihat dirinya. Wanita yang sangat cantik bahkan seketika Sara menjadi minder dengan dirinya sendiri. Pakaian yang dikenakan wanita itu justru malah mendukung kecantikannya. Seakan-akan semua yang ada pada diri wanita itu adalah simbol kecantikannya.


“... sudah nikah, Nyonya.”


Lanjutan kalimat Pak Pardi ternyata membuat ibu Agam berbalik menghadap Pak Pardi yang berjalan di belakangnya.


“Ni ... kah?”


Dan pada saat itulah, kedua mata ibu Agam dan Sara saling bertemu. Sepasang bola mata berwarna kecoklatan yang sangat indah sedang menatapnya lurus.


Sara semakin gugup. Tatapan mata ibu Agam seakan sedang menguncinya hingga membuatnya tidak dapat bergerak. Kedua alis matanya hampir bertemu dan mengerut.

__ADS_1


“Ini Non Sara. Istrinya Den Agam, Nyonya.” Pak Pardi akhirnya mengenalkan dirinya pada ibu Agam. Dan reaksi pertama Sara menganggukkan kepalanya dengan sedikit membungkuk.


“Sara?”


“S-saya Sara.”


Sara kini melihat perubahan pada tatapan mata ibu Agam. Yang tadinya adalah kebingungan, kini berubah lebih berbinar. Meskipun bercampur dengan terkejut dan rasa heran, tapi sebagian lagi adalah rasa bahagia.


“Astaga ... Ya, Tuhan. Agam menikah? Kapan? Ya Tuhan, Agam. Kamu benar-benar istrinya Agam?”


Sara tersenyum dengan canggungnya. Bagaimana dia harus bersikap? Bukan suaminya yang mengenalkannya pada ibu mertua, tapi seorang asisten rumah tangga. Katakan, bagaimana dia harus bereaksi?!


“M-maafkan saya dan M-mas Agam ...”


Sara langsung berhenti. Tidak berani melanjutkan kata-katanya. Sekarang dia harus memanggil apa? Mama? Sudah bolehkah? Atau nyonya, sama seperti mereka? Apa?!


“Mama ... Panggil mama, ya,” kata ibu Agam itu seakan-akan tahu apa yang sedang dipikirkan Sara. Kini dia berjalan mendekati Sara, meraih kedua tangannya, lalu menggenggamnya lembut.


“Mama yang minta maaf karena nggak datang waktu kalian menikah. Bukan mama nggak mau datang. Tapi Mama nggak tahu kalau Agam menikah. Kalau seandainya Agam ngasih tahu Mama, Mama pasti akan segera pulang.”


Agam tidak memberitahunya. Benar.


“T-tidak apa-apa, M-ma ... Saya yang salah.”


Masih terasa kaku saat Sara memanggil wanita itu dengan sebutan Mama. Seharusnya bukan masalah, karena biar bagaimanapun dia ibu mertuanya.


Semua gara-gara Mas Agam. Seharusnya dia memperkenalkannya lebih dulu daripada mementingkan pekerjaannya. Tujuan utamanya kan ibu tirinya.


“Sini, sini dulu. Mama pengen ngobrol.”


Dan tangan Sara sudah ditarik oleh ibu Agam. Dengan penuh semangat, Sara ditarik ke ruang tengah. Dia sepertinya sudah tidak sabaran untuk mengobrol.


“Sini, duduk sini,” ajak ibu Agam seraya menepuk dudukan sofa yang ada di sampingnya, tanda dia ingin Sara duduk di sampingnya.


Tanpa menunggu Sara duduk, pertanyaan selanjutnya sudah mengalir begitu saja. Sara perlahan mendudukkan dirinya samping ibu mertuanya itu.


“A-ashara Revalina.”


“Cantik. Nama yang cantik. Kayak orangnya.”


Sara tersenyum, meski masih canggung rasanya.


“Nama saya Widia Kirana. Panggil saya Mama Widia. Mama aja juga boleh.”


“Iya, M-ma.” Sara masih merasakan lidahnya begitu kaku ketika menyebut kata Mama. Dia hampir menyembunyikan wajahnya karena rasa malunya itu.


“Jangan sungkan,” kata ibu Agam yang bernama Widia itu yang masih saja tahu apa yang dipikirkan Sara. Kedua tangan Widia menggenggam lembut tangan Sara seraya sesekali mengusapnya perlahan.


“Mungkin cara kita berkenalan agak ... apa ya? Aneh? Tapi, tidak bisa menghapus kenyataan kalau kamu menantuku.”


Widia, sang ibu mertua Sara, sedang tersenyum lembut memandangi Sara. Membuat Sara mempertanyakan kembali, apa tujuannya menjadi istri Agam?


“Jujur, saya tadi memang kaget. Sedih gitu. Agam itu anak saya. Tapi, kenapa saya malah tidak tahu kalau Agam menikah? Saya harus tahu ini dari Pak Pardi dan bukan dari Agam sendiri,” curhat Widia yang jelas terlihat sedih dan kecewa.


Iya, apalagi saya, pikir Sara.


“Apa Agam cerita kalau Agam bukan anak kandung saya?”


Sara menganggukkan kepalanya. Dari Raka, sama saja, kan?


“Meski dia bukan anak kandung saya, tapi dia tetap anak pertama saya. Saya belajar jadi ibu karena Agam. Jadi, meskipun saya agak kecewa tadi, tapi saya sangat senang, karena lagi-lagi karena Agam saya jadi tahu rasanya jadi ibu mertua. Punya anak menantu yang cantiknya seperti ini.”


Sara tersipu karenanya. Dia memajang senyum manisnya karena kata-kata ibu mertuanya itu. Rasa kaku dan tegang perlahan menghilang.


“Berapa umurmu?”

__ADS_1


“22 tahun.”


Widia kemudian menyerangnya dengan tatapan menggoda. “Haduh, si Agam, kok pinter cari istri. Dasar Agam!”


Sara lagi-lagi tersipu malu karenanya.


Eh, tapi tunggu. Ngapain tersipu? Kan nikahnya bukan serius?


“Adiknya Agam yang paling kecil juga perempuan. Umurnya setahun lebih muda dari kamu. Sekarang lagi belajar fashion di New York, Amerika. Anaknya memang suka bikin-bikin baju gitu.”


Dan masih berlanjut ...


“Adiknya Agam yang nomer 2, cowok. Sekarang belajar bisnis di Boston, Amerika juga. Selisih 8 tahun dari Agam. Mau nerusin perusahaan papanya. Jadi sama Agam dikirim ke Harvard, sekolah terbaik katanya. Tapi bentar lagi sudah mau balik ke Indonesia. Sekolahnya sudah hampir selesai.”


Hanya senyum. Hanya itu yang bisa Sara lakukan selama Widia bercerita.


“Sudah dua setengah bulan terakhir ini, Mama nengok adik-adiknya Agam di Amerika. Sejak Agam pergi nggak tahu kemana, Mama sering khawatir gimana keadaannya? Apalagi kalau ingat kondisi Agam yang seperti itu. Karena itu, adik-adiknya Agam sering suruh Mama ke sana buat berlibur, biar nggak sumpek sendirian di rumah kata mereka,” cerita Widia lagi.


“Untungnya ada Raka. Raka yang sering kasih kabar ke Mama. Tapi ya tetap saja khawatir. Meskipun Agam umurnya segitu, Mama tetap nggak bisa nggak khawatir. Mama sudah sama Agam sejak dia masih kecil. Sudah seperti anak kandung Mama sendiri.”


Sara bisa merasakan kesedihan ibu tiri Agam itu dari setiap kalimat yang diucapkannya. Tidak ada yang mencurigakan darinya. Semua kesedihannya terlihat nyata bagi Sara. Lalu, apa yang membuat Agam membenci wanita secantik ini? Widia terlihat sangat menyayangi Agam. Apa yang salah darinya?


“Kamu dulu kuliah? Sekolah dimana?” Pertanyaan Widia berikutnya mengagetkan Sara yang masih melamunkan pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya.


“S-saya hanya sarjana S1 dari kampus biasa, Ma,” jawab Sara yang tidak bisa menyembunyikan rasa mindernya. Tapi memang, jika dibandingkan dengan cerita Widia tentang anak-anaknya ditambah lagi Agam dengan segala kebisaannya, Sara jelas bukan apa-apa.


“Ah, sudah, sudah, Mama yang salah. Nggak penting itu. Yang penting Agam cinta sama kamu. Maaf, ya ...”


Kali ini, Sara tertawa canggung. Cinta, ya?


“Coba cerita sama Mama. Gimana ceritanya kalian bertemu? Kok bisa ...”


“Maaf, Nyonya ...”


Seorang pria dengan setelan kemeja dan celana panjang, serta jas hitam tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Sara dan Widia, dan baru saja memotong pembicaraan Widia yang sedang penuh semangat. Widia langsung menatapnya kesal.


“Nyonya masih ada janji dengan Mrs. Lee dari PMG Group setelah ini,” lanjut pria itu lagi.


Widia mendengus pelan, lalu melambaikan tangannya untuk meminta pria itu pergi. Dan pria itu menurutinya.


Setelah pria itu pergi, raut wajah Widia langsung berubah, terutama ketika dia melanjutkan pembicaraannya dengan Sara.


“Dia asisten Mama. Memang gitu kerjaannya, gangguin orang lagi senang,” kata Widia yang diiringi tawanya. Sara, mau tidak mau, ikut tertawa bersamanya.


“Selama Mama di Amerika, Mama banyak menunda pertemuan dengan beberapa kolega. Tapi begitu Mama dengar Agam sudah kembali, Mama langsung buru-buru balik. Mama takut Agam ngilang lagi seperti waktu itu. Tapi, ya gitu, sekarang malah ketahuan sama mereka, makanya maksa ngajak ketemuan. Padahal Mama masih pengen ngobrol sama kamu. Sama Agam juga.”


2 tahun tanpa kabar dimana jejaknya. Entah bagaimana bisa dia sembunyi selama 2 tahun itu?


“Gini saja. Nanti kalau Mama agak senggang, kita keluar bareng, ya. Makan siang, jalan-jalan, apa saja. Pokoknya sama kamu. Nanti juga, nggak tahu kapan, Mama kesini lagi, mau ketemu sama Agam. Mau bicara. Agam kalau di kantornya sussaah ditemuin,” lanjut Widia lagi.


Sara hanya bisa menganggukkan kepalanya.


“Sara mau ya jalan sama Mama?”


“I-iya, Ma.”


Widia masih terus mengoceh ini dan itu selama perjalanan mereka menuju mobil yang akan mengantarkannya. Sara terus berada di sampingnya menjawab dengan anggukkan atau gelengan kepala dan disertai senyuman. Bahkan hingga sudah berada di dalam mobil, kaca jendela mobil pun diturunkan untuk bisa berbicara dengan Sara.


Ketika mobil melaju dan menghilang di belokan barulah Sara bisa bernapas dengan lega.


Kesan pertama yang Sara dapatkan tentang ibu Agam, Widia Kirana bukanlah kesan yang buruk. Wanita itu begitu menyenangkan. Dari ceritanya jelas terasa bagaimana dia sangat menyayangi anak-anaknya, termasuk juga Agam. Jika bertanya siapa yang salah? Sara justru langsung akan menuding Agam.


2 tahun pergi tanpa memberitahu kemana tujuannya, bagaimana keadaannya, jelas itu merupakan kejahatan, apalagi pada orang tua yang membesarkannya selama ini.


Jadi pertanyaannya sekarang, tugas Sara adalah melindungi Agam dari apa? Dari Widia? Mengapa? Apa yang harus dilindungi dari Widia?

__ADS_1


__ADS_2