Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 17 : Hari yang Tidak Diduga


__ADS_3

[Sara]


“Maaf, Non. Saya minta ijin pulang rumah hari ini. Karena anak saya yang bungsu tiba-tiba sakit.”


Begitu kata Mbok Jami tadi pagi saat berpamitan dengan Sara.


Selepas sarapan, saat semua orang sudah kembali bekerja, Sara dikejutkan oleh Mbok Jami yang tiba-tiba datang ke ruang kerjanya. Dia lebih berani mendatangi Sara di ruang kerjanya di lantai bawah daripada mendatangi kantor Agam yang di lantai atas.


“Saya ndak berani ke atas, Non. Takut Den Agam marah. Tapi, semua makanannya Den Agam hari ini sudah saya masakkan. Saya simpan di lemari pemanas. Nanti tinggal dihidangkan saja, Non.”


“Nggak apa-apa, Mbok. Nanti saya sampaikan ke Mas Agam. Sama Pak Pardi juga , Mbok?,” tanya Sara yang sudah menghampiri Mbok Jami dan membelai punggungnya dengan lembut, memberinya kekuatan. Pasti sangat khawatir.


“Ndak, Non. Saya dulu saja. Saya cuma nunggu kakaknya pulang. Baru bisa saya tinggal.”


......................


Sara sudah berada di dapur sebelum Agam turun. Jam setengah dua, suaminya itu belum juga terlihat bayangannya di ruang makan yang letaknya berdempetan dengan dapur.


Biasanya jika jam segitu belum juga turun, artinya Agam akan terus bekerja sampai sore. Itu yang dia pelajari selama tinggal di rumah Agam.


“Tunggu 5 menit lagi saja,” ucapnya lirih seraya memperhatikan jam dinding yang jarum panjangnya sudah menunjuk ke arah menit 33. Berharap Agam sudah muncul sebelum itu.


Dan, tidak sampai 5 menit juga ...


“Mbok, saya mau makan siang.”


Akhirnya ...


Sara sudah membuka mulutnya untuk memberitahu Agam tentang Mbok Jami. Tapi sebelum suaranya sempat keluar, Agam mulai berbicara lagi.


“Nanti sore Raka datang sebentar mau antarkan dokumen. Kalau sudah terima tolong taruh di ruang kerja bawah saja, ya.”


Sara masih mencoba lagi. Tapi, lagi-lagi Agam mulai berbicara.


“Masih lama, Mbok? Saya sudah lapar.”


Astaghfirullah, ya Allah. Sabar ...


Sara terpaksa menunda keinginannya dan pergi mengeluarkan makanan Agam dari lemari penghangat.


Tidak butuh waktu lama bagi Sara untuk menyiapkannya karena Mbok Jami sudah melakukan semuanya. Sara hanya perlu menyajikannya di depan Agam.


Agam hanya perlu menunggu sampai semua selesai. Dan terakhir, Sara tinggal meletakkan sebuah sendok dalam genggaman Agam. Itu artinya, hidangan sudah siap untuk disantap.


Selesai juga ...


Agam memakannya dengan santai. Dia terlihat menikmatinya. Tentu saja, dia sangat menyukai masakan Mbok Jami hingga tidak pernah memakan masakan dari orang lain.


Ah, iya! Ada alasan mengapa dia begitu.


Agam hanya memakan masakan Mbok Jami. Itu yang pernah Agam katakan padanya dulu.


Dan sekarang Mbok Jami tidak ada di rumah. Bagaimana kalau dia mengira itu bukan masakan Mbok Jami? Bagaimana kalau Agam kemudian tidak mau memakannya?


“Sara sudah makan, Mbok?,” tanya Agam hingga membuyarkan lamunan Sara.


Bagaimana ini? Jawab nggak? Sara kini berada di antara pilihan yang sulit.


“Mbok?”


Sara masih diam dengan pikiran yang rumit untuk memutuskannya. Dan kini Agam kembali bertanya.


“Sudah pergi, ya?,” ucap Agam lirih


Tanpa disadarinya, Sara menganggukkan kepalanya berkali-kali. Berharap Agam tidak bertanya lagi.

__ADS_1


Untungnya begitu. Agam kemudian melanjutkan kembali makannya. Sara pun bernapas lega.


Sara menempati kursi yang jauh dari Agam. Sambil memandangi Agam yang menikmati makanannya tanpa suara sedikitpun. Hanya dentingan sendok yang beradu dengan piring setiap kali dia mengambil makanannya dari piring.


Jika diingat kembali, Agam bukanlah tipe pemilih makanan. Semua masakan Mbok Jami selalu dia habiskan. Belum pernah Sara melihat makanan bersisa di piringnya.


Mungkin Agam memang bukan pemilih makanan. Kondisi mentalnya yang membuat dia memilih siapa yang boleh memasak untuknya. Kalau dipikir lagi juga, meskipun Mama Widia membawa masakan yang sama, Agam tetap tidak akan memakannya. Karena bukan Mbok Jami sendiri yang memasaknya. Sungguh aneh, tapi juga pasti menakutkan.


Agam masih menikmati makanannya tanpa tahu ada Sara di hadapannya. Perlahan-lahan dia masukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa ada rasa khawatir sama sekali. Begitu juga dengan Sara. Hanya memperhatikan.


“Terima kasih masakannya, Mbok.”


Sudah selesai?


Tapi, Agam tidak langsung pergi. Dia masih diam di tempatnya. Hanya kepalanya saja yang dimiringkan hingga salah satu telinganya terangkat ke atas.


Mencari Mbok Jami?


Entahlah. Yang penting sekarang Agam sudah kembali ke ‘istana’nya. Dan Sara bisa kembali menyelesaikan pekerjaannya.


......................


“Mbok ...,” panggil Agam saat dia turun di sore hari.


Sara yang saat itu masih di ruang kerjanya, dan baru akan beranjak keluar, mendengar panggilan itu segera dia mendatangi Agam.


Pasti minta diantar ke belakang, pikir Sara.


Panggilan kedua Agam langsung berhenti saat Sara menggenggam pegangan yang ada di belakang kursi roda Agam hingga memberikan hentakan kecil pada kursi rodanya. Saat itulah Agam mengubah kursi rodanya menjadi manual. Dan barulah Sara mendorongnya.


“Tolong tetap di sini dulu, Mbok,” kata Sara begitu dia selesai memposisikan kursi rodanya.


Deg! Sara langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya, khawatir dia bersuara karena kagetnya itu.


Bagaimana ini? Ngapain dia suruh tetap di sini? Kalau ngajak ngobrol gimana?


Tapi kemudian ....


“Semua orang bilang saya ini terlalu egois, kejam. Apa menurut Mbok, saya juga begitu?”


Haduh! Bagaimana ini? Bagaimana ini?


Kedua mata Sara tertutup rapat. Memaksa otak di kepalanya mencari alasan untuk menjawabnya. Tapi detak jantungnya yang sudah tidak karuan justru malah membuat otaknya berhenti berputar.


“Mbok? Masih di situ, kan?”


Sara semakin putus asa. Dia semakin panik memikirkan apa yang harus dia lakukan.


Tepat pada saat itu, dia melihat kedua tangannya. Kedua matanya seketika terbelalak lebar.


Uhuk ... Uhukkk .... Uhukkk hukkkk ...


Sara meneruskan batuknya tanpa berhenti. Semakin lama semakin keras suaranya dan dalam. Agam pun tidak berhenti memanggil Mbok Jami.


“Mbok? Mbok kenapa?”


Uhukkk ...


Sara kemudian berlari masuk ke dalam sambil terus mempertahankan akting batuknya. Bahkan sampai di dalam dia masih terus terbatuk-batuk.


Hingga dirasa cukup jauh, Sara mulai mengecilkan suaranya, dan kemudian berhenti terbatuk seraya mengintip ke arah Agam yang sedang membelakanginya.


Sara menghela napas leganya. Dia mulai mengusap dadanya untuk menenangkannya.


Untung percaya, batinnya.

__ADS_1


Tapi, belum selesai sampai disitu.


“Mbok ... Mbok ...”


Agam memanggil kembali.


Apa lagi ini, ya Allah? Kan belum waktunya masuk?


Tapi, Sara harus ke sana. Dan hanya itu satu-satunya ide yang dia punya saat ini.


Uhukk ... Uhukkk ...


“Masih batuk, ya?,” tanya Agam yang terdengar khawatir. “Mbok minum obat dulu. Nanti kesini lagi tolongin saya dorong masuk. Setelah itu Mbok ikut saya ke kamar atas. Ada yang mau saya kasihkan.”


Sara tercengang. Batuknya seketika berhenti. Tapi, akting harus totalitas. Sara masih terbatuk saat masuk ke dalam. Setelah beberapa menit, dia kembali untuk membawa Agam masuk.


......................


Untuk pertama kalinya, Sara dapat melihat dengan jelas isi kamar Agam setelah 2 kali masuk ke dalam. Tertata rapi, bersih, dan berjarak cukup untuk kursi roda Agam bergerak. Sepertinya memang diatur sedemikian rupa untuk itu.


Agam masih bergerak masuk lebih dalam lagi, sementara Sara tetap berdiri di dekat pintu. Begitu selesai, Agam berbalik dengan sebuah map di tangannya.


Sara perlahan mendekati Agam dan mengambil map itu.


Australia, begitu yang tertulis di halaman depan map itu beserta pulau dan benderanya.


“Yang bungsu bentar lagi mau lulus SMA ya, Mbok? Ini ada daftar universitas di Australia. Pilih-pilih dulu saja sesuai minatnya. Begitu sudah yakin beri tahu saya atau Raka. Nanti kita siapkan.”


Sara tertegun.


“Jangan pikirkan soal biaya. Semua sudah disediakan. Lagipula, dengan nilainya yang bagus, dia bisa mengajukan beasiswa. Jadi, jangan khawatirkan apapun.”


Sara masih berdiri di tempatnya, memandangi Agam dengan segala kekagumannya. Sulit baginya untuk bisa percaya Agam yang dingin seperti itu bisa memikirkan hal-hal seperti ini.


“Mbok?”


Uhukk ... Sara hampir berteriak karena rasa kagetnya. Tapi untung otaknya masih lancar ketepatannya.


“Jangan terlalu dipikirkan, Mbok. Saya hanya melanjutkan apa yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya. Dulu kedua kakaknya, sekarang adiknya. Ini kesempatan untuk mereka karena mereka anak-anak cerdas. Sayang kalau tidak dimaksimalkan.”


Dia ... luar biasa.


“Ya sudah kalau begitu. Saya mandi dulu setelah itu saya turun untuk makan malam. Mbok bisa keluar.”


Sara masih terdiam memandangi Agam. Dia masih sibuk dengan pikirannya yang sedang mengagumi Agam. Setelah lebih dari 10 detik, barulah semua pikirannya kembali berkumpul.


Mandi? Mandi!!!


Dia melihat Agam melepaskan alat bantu dengarnya dan meletakkan di meja kecil di dekatnya. Lalu menekan sesuatu di pegangan kursi rodanya.


Keluar! Aku harus keluar!


Tapi kemudian sesuatu terjadi. Entah bagaimana ceritanya, kalungnya putus dan menyangkut pada kain bajunya. Tapi cincin yang tersemat di kalung itu jatuh entah kemana.


Sara khawatir memandangi pintu, tapi dia harus mencari kalungnya. Ada cincin Vian di sana.


Kalau tidak dicari, kapan lagi aku bisa masuk kesini?, pikirnya.


Dengan cepat Sara merendahkan tubuhnya, agar bisa melihat dengan jelas sesuatu yang bulat yang tergeletak di dasar lantai atau mungkin di kolong-kolong.


KLAK!


Apa itu?


Tubuh Sara langsung menegak dan menengok ke arah pintu. Dia sudah yakin itu bunyi pintu yang terkunci. Pelan-pelan Sara mendekati pintu lalu menggerakkan gagangnya.

__ADS_1


Dikunci!


Tangisan Sara sudah mulai memenuhi isi di kepalanya.


__ADS_2