Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 10-2 : Sesuatu yang Disembunyikan (2)


__ADS_3

[Sara]


13.20


Sara baru datang dari rumah sakit dan langsung berpapasan dengan satpam dan Pak Pardi. Begitu dia memberikan sekotak roti yang dia beli sepulangnya dari rumah sakit, Pak Pardi langsung berkata, “Ada Nyonya di dalam, Non.”


Nyonya siapa lagi kalau bukan Mama Widia.


Sara langsung bergegas masuk ke dalam rumah. Dari langkah pertamanya menginjak ruang tengah, Sara sudah mendengar suara Widia yang sedang berbicara dengan Agam.


“Kamu kenapa nggak bilang-bilang Mama kalau kamu pergi? Kamu nggak tahu, Mama cari kamu ke sana ke mari. Khawatir sama kamu. Terus sekarang, kamu balik. Tahu-tahu sudah bangun rumah. Pindah kesini bawa Mbok Jami, Pak Pardi, dan yang lainnya. Mama sih nggak apa-apa kamu bawa mereka, yang penting bisa jaga kamu, tapi kenapa pindah gitu, lho?”


Tapi, yang diajak ngomong hanya diam.


“Dan itu lagi. Sara. Kenapa kamu nikah nggak bilang-bilang Mama? Kamu takut Mama nggak merestui? Mama pasti akan merestui kamu, Agam. Mama sudah lihat Sara. Dia cantik, baik. Mama nggak keberatan sama sekali. Yang penting itu kamu. Kalau kamu bahagia, Mama sudah pasti akan bahagia.”


“Kenapa Mama kesini?”


Itu suara Agam ...


Sara mendengus kasar, mengeluarkan rasa marahnya karena pertanyaan Agam itu.


Dari tadi hanya diam. Sekalinya bicara, ketus sekali.


“Kamu ini nanya apa, sih? Mama nggak boleh kesini? Mama cuma mau nengokin kamu, Gam.”


Sara bisa mendengar suara Widia yang sudah mulai bergetar. Sara yakin, Mama menangis.


“2 tahun kamu pergi nggak bilang-bilang. Tiap malam Mama nggak bisa tidur mikirin kamu. Apa kamu sudah makan? Apa ada yang ngurus kamu? Mama khawatir, Agam.”


Kali ini jelas terdengar tangisan Widia. Sara segera mempercepat langkahnya. Harus ada yang menghentikan ini semua.


“M-mama ...”


Sara yakin Widia mendengar panggilannya, meski tidak langsung berbalik. Tapi Sara dapat melihat lengan Widia yang bergerak.


Mama pasti sedang menghapus air matanya.


“Sara ...,” seru Mama penuh semangat begitu dia (akhirnya) berbalik dan menghampiri Sara. “Kamu baru datang?”


Begitu Widia selesai memeluknya, Sara mencium punggung tangan mertuanya itu. Lalu, menghampiri Agam untuk melakukan hal yang sama.


Sara akan menarik tangannya kembali begitu dia selesai melakukan tugasnya sebagai istri yang baru pulang ke rumah. Tapi, Agam menahan tangannya, menggenggamnya hingga Sara tidak dapat merebutnya kembali.


Perlahan Sara dapat merasakan sesuatu yang bergerak di telapak tangannya. Ternyata, Agam sedang berbicara dengan menggunakan bahasa isyarat Ayah Sara. Isyarat yang beberapa hari terakhir ini menjadi tugas Sara untuk mengajarkan Agam.


“Jangan kemana-mana. Lakukan tugasmu,” kata Agam dalam isyarat itu.


Ya, aku tahu. Karena itu aku datang.


“Mama tadi bawa makanan kesukaan Agam, makaroni schotel. Mbok, makaroninya tadi bawa sini, ya. Tadi Mama masak begitu ingat mau kesini. Sara ikut incip-incip, ya.”

__ADS_1


Sementara Widia masih sibuk mempersiapkan makaroni, Agam yang masih menggenggam tangan Sara kembali menuliskan isyarat di telapak tangan Sara.


“Jangan biarkan dia memberiku makanan itu. Apa pun yang terjadi, halangi dia.”


“Ini buat Sara. Yang ini buat Agam. Ayo sini Mama suapin.”


Agam langsung memalingkan wajahnya begitu Widia selesai bicara. Dia benar-benar tidak ingin memakannya.


Sara langsung bertindak menengahi keduanya.


“Ma, biar nanti dimakan sama Mas Agam, ya,” kata Sara seraya mencoba mengambil sepiring makaroni yang sedang dipegang Widia.


Tapi, Widia menolak melepaskannya.


“Bentar, Sara. Dikit aja ya, Gam. Incip dulu dikit,” rayu Widia sekali lagi.


Itu artinya, Sara harus mencoba lebih keras lagi.


“Ma, Ma ... Maaf, Ma. Tapi, Mas Agam harus menjalani diet untuk terapi kakinya besok. Jadi, ini Sara simpan dulu, ya. Biar nanti dimakan Mas Agam besok. Nanti Sara yang panasin,” bujuk Sara sepenuhnya berbohong.


Widia hampir percaya. Piring yang dipegangnya hampir dilepaskan saat Sara menariknya. Tapi sedetik kemudian, dia mencoba lagi.


“Ma!,” bentak Agam dengan suaranya yang keras. “Turuti kata Sara. Dia yang mengatur semuanya. Jangan bikin dia susah.”


Keinginan Sara untuk memarahi Agam saat itu cukup besar. Melihat Widia diperlakukan seperti itu oleh Agam sudah membuat Sara geram.


Tidak perlu segalak itu. Apalagi pada orang tua.


“Mama pulang saja. Nggak perlu datang kesini. Aku ...”


“Mas!”


Sara sudah tidak bisa menahannya lagi. Kali ini sudah benar-benar keterlaluan.


“Oke, oke, Mama pulang sekarang,” kata Widia seraya memberi Sara tanda untuk tidak mengatakan apa-apa lagi. “Kalian jangan bertengkar. Mama pulang.”


Sara masih menemani Widia hingga menuju mobil. Berkali-kali dia mengatakan, “Maafin Mas Agam, Ma.”


Tapi, mertuanya itu rupanya sangat berbesar hati. Berkali-kali pula dia menenangkan Sara seraya berkata, “Nggak apa-apa, Sara. Nggak apa-apa. Agam memang gitu. Keras hatinya. Tapi dia orang yang baik. Mama tahu itu.”


Sebaik apapun itu tapi kalau tidak bisa menghormati orang tuanya, mana bisa dikatakan orang baik?


Ketika Sara kembali setelah mengantarkan Widia ke mobil, kemarahan Agam masih juga belum hilang. Dia terus mengomeli Mbok Jami meski itu bukan kesalahannya.


“Lain kali kalau Mama datang lagi bawa makanan, jangan disimpan di kulkas. Cari alasan!”


“Buang semua makanan yang tadi dibawa Mama. Jangan ada yang makan. Dengar, Mbok?”


Sara memandang kasihan pada Mbok Jami. Memang kalau punya uang bisa seenaknya seperti ini kah? Main perintah sana sini, marah-marah tidak jelas, sungguh menyebalkan!


“Apa Mas tadi nggak terlalu kasar sama Mama? Mas nggak pikirkan perasaan Mama?” Kemarahan Sara jelas menyingkirkan rasa takutnya. Entah keberanian dari mana, dia bahkan mampu mengatakan itu secara frontal pada Agam.

__ADS_1


“Kamu bilang aku kasar?”


Sara bisa melihat Agam menggenggam tangannya dengan keras. Otot-otot di keningnya jelas terlihat. Itu artinya, Agam menjadi sangat marah saat ini.


“KAMU NGGAK TAHU APA-APA!!”


Sara langsung tersentak mendengar bentakan Agam yang sangat keras itu. Suaranya bahkan menggema di ruangan dapur. Sara dapat melihat Mbok Jami yang merinding ketakutan melihat Agam yang seperti itu.


“SIAPA KAMU BERANI BILANG AKU KASAR? KAMU TAHU APA?!”


Sara diam. Dia tidak berani menjawab apapun. Jantungnya yang berdetak kencang dan cepat karena suara Agam tadi membuatnya menahan semua isi kepalanya untuk dikeluarkan.


Saatnya untuk diam, Sara ...


Tiba-tiba saja kursi roda Agam bergerak meninggalkan dapur. Sara langsung terduduk di atas kursi meja makan seraya menghembuskan napasnya yang sedari tadi tertahan karena rasa takutnya itu.


Sara masih tidak menyangka Agam akan semarah itu. Diambilnya air yang tersedia di atas meja makan, lalu menenggaknya sekaligus. Dia hampir terbatuk karenanya.


“Permisi, Non ...,” sapa Mbok Jami seraya mengambil 2 piring makaroni schotel yang tadi diambilkan Widia untuknya.


Selintas dia melihat makanan itu akan dibawa pergi oleh Mbok Jami. Sudah pasti akan membuangnya seperti perintah Agam. Tapi, Sara menahannya.


“Biarkan saja, Mbok,” kata Sara menahan tangan Mbok Jami. “Taruh saja, nanti biar saya yang makan. Sayang Mbok, sudah dimasak susah payah sama Mama.”


Tak butuh waktu yang lama, Agam tiba-tiba kembali ke ruang makan. Masih dengan aura kemarahannya. Sara terkejut bukan main saat melihat Agam yang sudah hampir mendekatinya.


“Mas ...,” panggil Sara lirih.


Kedua tangan Agam meraba meja makan dengan tergesa-gesa. Tangannya terus bergerak mencari sesuatu di atas sana. Dan begitu dia menyentuh piring makaroni itu, tangannya langsung menghempaskan piring itu dengan kasar.


PRANG!


“AKU BILANG BUANG YA BUANG!”


Piring itu terpelanting dan pecah.


Tapi, Agam masih belum selesai. Dia kembali mengayunkan tangannya untuk mencari piring yang lain di atas meja makan. Begitu tangannya diayunkan ...


PLAK!


“Aduh!”


“Astaghfirullahaladziim, Non Sara!!!”


Tangan Agam baru saja mendarat di wajah Sara. Rasa panas seketika menyelimuti separuh wajahnya. Tapi yang paling menyakitkan adalah rasa nyeri di kepalanya akibat pukulan Agam yang terlalu keras.


Seraya mengusap pipinya, Sara melihat Agam yang sedang memegangi tangan yang baru saja menyentuh Sara. Agam terlihat panik, tapi tidak mengatakan apapun, sekali pun itu maaf.


Tak lama kemudian, kursi roda Agam sudah membawa Agam keluar dari dapur. Sara ditinggalkan begitu saja dengan rasa nyeri di pipinya.


“Mas ..."

__ADS_1


__ADS_2