Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 38 : Menangis Bersama


__ADS_3

[Sara]


#


“Katakan padaku, Sara! Siapa yang bisa melakukan ini?


“Kamu bekerja sama dengan Mama pada akhirnya?”


“Hatiku sangat sakit, Sara. Sakit sekali.”


“Besok aku akan mengantarmu pulang. Surat cerainya akan aku kirimkan segera.”


“Maafkan aku, Sara. Maafkan aku ...”


#


Tidak!


Sara seperti baru saja dilempar dengan keras dari ketinggian. Hempasan yang kuat hingga membuatnya langsung membuka matanya.


Mimpi. Ternyata hanya mimpi ...


Suara-suara Agam rasanya seperti masih melekat di kepalanya. Terus diputar berulang-ulang hingga membuatnya mengingat kembali kejadian yang dia alami sebelum dia tidak sadarkan diri.


Ah iya ... Tadi aku pingsan.


Masih diingatnya dengan jelas suara Arya yang terus memanggil namanya. Dan juga ... harapannya untuk bisa mendengar suara Agam.


Tapi, yang diingatnya malah suara Agam saat pria itu sedang mengamuk tadi.


Sebulir air mata jatuh melalui ujung netranya.


Sara berniat menghapus air matanya, tapi saat dia menolehkan kepalanya ke kiri, dilihatnya sosok pria yang dia kenali sedang duduk di atas kursi rodanya. Mas Agam ...


Pria itu tengah tertidur. Kepalanya tertunduk tapi tidak terlalu dalam. Sara masih bisa melihat wajah teduhnya yang sedang memejamkan kedua matanya.


Kembali Sara mengingat semua pertengkaran mereka. Saat Agam mencurigainya, menuduhnya, bahkan menyalahkannya. Lagi, air mata Sara jatuh perlahan dan membasahi bantal yang menjadi alas kepalanya.


Tapi aku tetap tidak bisa membencinya ...


Sara kemudian teringat kembali mimpinya tadi.


#


“Maafkan aku, Sara. Maafkan aku ...”


#

__ADS_1


Itu suara Mas Agam ... Aku nggak ingat, Mas Agam ada bilang begitu tadi.


Lamunan Sara buyar karena dikejutkan oleh kepala Agam yang tiba-tiba saja terkantuk. Agam pun terbangun.


Sara yang sedang berbaring seketika itu juga mematung. Dia tidak berani menggerakkan badannya. Dia juga tidak tahu mengapa dia melakukan itu. Hanya refleks saja tiba-tiba sudah dilakukannya.


Perlahan, Agam memajukan tubuhnya mendekati tempat tidur, tangannya mulai meraba bagian atas tempat tidur seakan-akan sedang mencari sesuatu.


Dia cari apa?


Sara masih pada posisi tanpa berani bergeser seinci pun. Dan sedetik kemudian, tangan Agam sudah mencapai lengan kirinya. Dia genggam telapak tangan Sara dengan tangan kirinya, dan tangan kanannya masih mencari hingga ke atas, ke bagian atas lengan Sara.


Terus naik, dan naik hingga mencapai kening Sara. Disentuhkannya telapak tangannya yang terbuka itu menutupi kening Sara.


“Demamnya sudah turun. Syukurlah ...,” ucap Agam lirih.


Tangan Agam masih memeluk dengan lembut tangan Sara. Kadang dia mengusapnya perlahan seperti sedang mengusir rasa sakit Sara.


Tak lama, hanya beberapa menit. Setelah itu, Sara mendengar suara isak tangis. Agam melepaskan genggamannya. Sebagai gantinya, kini pria itu sedang menutupi wajahnya. Agam menangis.


“Maafkan aku, Sara. Semua salahku.”


Hati Sara seketika merasakan pilu yang pedih, menyaksikan pria itu sedang menangisi sesal atas semua yang sudah dia lakukan. Sara tidak tega melihatnya. Setitik air mata kembali jatuh membasahi wajahnya.


Dia bangkit dari tidurnya, mencari tiang inffusnya agar berada di dekatnya, lalu duduk tepat di hadapan Agam. Dengan lembut, Sara menyentuh wajah Agam, lalu mengusap air matanya.


“Kamu sudah sadar?”


Sara meraih tangan kanan Agam. Dikepalkannya tangan itu, lalu mengeluarkan ibu jari dan kelingkingnya. “Ya.”


Sara berisyarat kembali, “Mas bagaimana? Masih sakit? Dokter bilang apa?”


Agam tidak menjawab. Dia hanya menundukkan kepalanya.


“Aku antar Mas ke kamar, ya. Mas kan masih sakit, butuh banyak istirahat.”


Sara hendak berdiri, tapi tangan Agam menahan lengannya. Sara kembali duduk.


“Kamu tidak marah?”


Mas Agam mengira aku marah. Dia merasa bersalah karena tadi.


Sara menghapus air matanya, lalu memegangi kedua tangan Agam, dan berisyarat, “Tidak.”


“Aku tahu Mas sedang ketakutan. Aku jadi nggak bisa marah sama Mas. Aku juga sama takutnya seperti Mas.”


Agam menimpali dengan lirih, “Kamu ... takut apa?”

__ADS_1


“Mas takut semua orang menyakiti Mas. Aku sendiri takut Mas nggak mau percaya lagi sama aku,” jawab Sara dalam isyaratnya.


Meski tangan kanannya sedang dipegangi oleh Sara, dengan tangannya yang lain, Agam menutupi wajahnya. Dia menangis kembali.


Setelah menghapus air matanya kembali, Sara kembali berisyarat di atas telapak tangan Agam.


“Waktu Mas bilang Mas mau antar aku pulang, aku juga takut waktu itu. Aku takut aku nggak bisa lihat Mas lagi.”


Agam semakin tersedu-sedu menangis.


“Aku cuma mau Mas tahu. Mas boleh nggak percaya sama aku. Tapi Mas jangan suruh aku pergi, ya. Karena aku nggak bisa ninggalin Mas sendirian saat Mas dalam kondisi yang seperti itu.”


Sara teringat bagaimana Raka melarangnya masuk saat itu. Perih rasanya saat dia tahu tidak ada yang bisa dia lakukan selain menunggu di depan sembari mendengarkan teriakan Agam yang memilukan itu. Sungguh, waktu itu ingin rasanya dia mendorong Raka dan menerobos masuk tanpa mempedulikan larangan Raka.


“Jadi semarah apapun Mas, aku akan tetap di samping Mas. Sampai Mas sudah capek marah-marahnya, Mas tahu Mas nggak sendirian. Ada aku.”


Agam menangis. Sara pun demikian.


“Aku nggak akan pernah bisa menyakiti Mas.”


Agam menarik tangannya kembali. Dia menyentuh wajah Sara yang sembab dan basah karena air mata. Dengan ibu jarinya, Agam mengusap air mata Sara. Lembut sekali ...


“Aku telah banyak menyakitimu. Maafkan aku ...”


Sara memegangi tangan Agam yang masih bersandar di wajahnya. Dia menggelengkan kepalanya, memberikan tanda pada Agam bahwa dia baik-baik saja.


Terakhir, Sara memeluk Agam. Sangat erat. Membelai punggung pria itu perlahan-lahan. Dari atas ke bawah, lalu naik lagi ke atas.


Agam juga tidak kalah eratnya. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Sara, menyembunyikan wajahnya sembari terus menangis di sana.


Malam itu, mungkin adalah malam yang penuh dengan kekacauan. Tapi, pada malam itu juga, Sara belajar sesuatu dari semua yang terjadi pada hari itu dan tiga hari sebelumnya.


Ketika Agam meminta perceraian itu, dunia Sara seakan runtuh. Meski ini hanyalah pernikahan kontrak, tapi berat baginya untuk bisa meninggalkan Agam.


Sejak itu, Sara tahu, perasaannya telah berubah.


Mungkin ini hanya sepihak. Jadi, biarkan aku tetap disini sampai masa kontrak itu habis. Setelah itu, biar aku mencari caraku sendiri untuk bisa melupakan semua ini.


......................


Author's Note :


Sekali lagi, terima kasih untuk semua dukungan yang sudah diberikan untuk karya ini. Mulai dari like, comment, subscribe, gift, vote, dan lain-lainya.


Tetap sehat, tetap bahagia, dan terus berkarya 🌟


Cygni 💕

__ADS_1


__ADS_2