
Seorang gadis kecil dengan gaun pendek warna pinknya terlihat sangat cantik dan lucu. Bando di atas kepalanya yang juga berwarna pink turut menambah kadar keimutan di wajahnya yang bundar.
“Aduh, imutnya ...,” bisik hampir semua orang yang berpapasan dengannya. Beberapa orang ingin mendekatinya, tapi urung dilakukan karena sosok pria yang sedang menggandengnya. Mereka membungkuk memberi salam sebagai gantinya.
“Daddy, Gia boleh beli itu?,” kata gadis kecil bernama Gia seraya menunjuk strawberry cake yang ada di rak display di sebuah cafe.
“Gia mau?”
Gia mengangguk senang.
“Bilang dulu. Daddy Arya yang paling ganteng.”
Gia tertawa cekikikan. Gadis kecil itu menutup tawanya dengan kedua tangannya. Lalu, menggelengkan kepalanya.
Bahu Arya turun seketika itu juga. Dia tahu Gia tidak akan menurutinya. Tapi, cake itu tetap dia belikan.
Begitu membelinya, Gia langsung menarik tangan Arya ke sudut paling ujung. Tempat biasa yang paling Gia sukai karena di sana bisa memandangi pemandangan jalan raya yang ada di bawah gedung tempat mereka berada.
“Gia ...”
“Iya, Daddy ...”
“Gia sayang sama Daddy, kan?,” tanya Arya memelas. Kedua tangannya menopang kepalanya di depan Gia yang sedang lahap memakan cakenya.
“Sayang, Daddy,” jawab Gia sambil tetap melahap cakenya.
“Jadi, lebih ganteng mana? Daddy atau Ayah?”
Gia sontak menaikkan tangan kanannya yang sedang memegangi sendok, dan berteriak, “Ayah!”
Arya menunduk dalam sekali. Dia bahkan menyembunyikan wajahnya di atas kedua tangannya yang kini terlipat. Ini adalah percobaannya kesekian kali mengubah pilihan Gia.
Tidak mudah memang. Gia sangat mengidolakan sang Ayah.
“Ayah datang!”
Teriakan Gia langsung membuat Arya mengangkat wajahnya. Dilihatnya sang kakak, Agam sudah menggendong dan mendapatkan pelukan hangat dari Gia.
Arya langsung melemas kembali. Kepalanya ditundukkan lagi di atas kedua lengannya.
“Kamu ajarin Gia apa lagi?,” selidik Agam menatap curiga pada Arya yang masih tertunduk.
Kepala Arya bangkit lagi. “Aku nggak bilang apa-apa. Gia sendiri yang bilang Daddy nya lebih ganteng dari Ayah nya.”
“Tidak mungkin!” Agam menoleh menatap Gia yang tertawa cekikikan, lalu menggelengkan kepalanya.
“Siapa yang paling ganteng?,” tanya Agam.
“Ayaahh!,” pekik Gia penuh semangat.
Agam tersenyum bangga, lalu memberi gadis kecil itu banyak ciuman di pipinya.
“Makanya, nikah. Biar dibilang ganteng sama anaknya,” goda Agam pada sang adik.
“Mas lama-lama mirip Mbak Sara,” gerutu Arya.
Agam tertawa menanggapinya.
Arya menghela napas panjangnya. Dia menyerah, untuk kali ini – biasanya dia akan mencoba lagi lain waktu.
“Mas setelah ini ke sana, kan?,” tanya Arya pada Agam yang saat ini sedang menurunkan Gia agar menghabiskan cake miliknya.
“Iya. Aku jemput Sara sama Mama dulu. Baru setelah itu ke sana. Kamu juga, kan?,” tanya Agam balik.
“Iya, Mas. Setelah ini aku berangkat jemput Ava.”
Agam mengangguk. Dia tersenyum. Lalu beralih memandangi Gia yang masih lahap dengan cake strawberry kesukaannya. Senyumnya kini berubah menjadi senyum penuh kasih.
Jika itu tentang Gia, Agam bisa berubah menjadi seperti itu.
Enam tahun lalu, tidak seperti hari ini. Semua masih terasa berantakan dan tidak pada tempatnya.
Widia yang kondisinya masih naik turun, masalah yang diakibatkan Vian masih belum diselesaikan, dan masih banyak hal lainnya yang menjadi imbas dari semua masalah, termasuk juga Sara.
__ADS_1
Agam membawa Sara ke rumah sakit setelah kejadian itu, memeriksakan kondisi Sara setelah Vian memberinya terlalu banyak obat tidur agar Sara tetap bisa tenang selama perjalanan. Beruntungnya, tidak ada hal yang serius.
Sara yang sudah sadar akhirnya bisa menceritakan bagaimana dia dibawa dari rumah sakit dengan mengancam Sara akan memberi tahu Ibu tentang semua pernikahan kontrak Sara dan Agam.
Sara yang ketakutan akhirnya menuruti kemauan Vian. Dan setelah itu, Sara tidak tahu apa-apa.
Sara selesai, tapi belum untuk Widia. Selama lebih dari 3 minggu, semua fokus hanya tertuju pada sang Mama yang masih dirawat di rumah sakit. Penolakan masih terus berlangsung selama waktu itu – bahkan terkadang sampai setelah itu. Tapi, Widia cukup beruntung masih dikelilingi oleh orang-orang yang masih mau menerimanya dan menyayanginya.
Selama berbulan-bulan, Widia terus mendapatkan segala macam terapi. Mungkin karena rasa lelah menjalani terapi yang berulang-ulang, rasa bosan yang akhirnya mendorong Widia menerima sedikit demi sedikit keadaannya yang sekarang. Widia berdamai dengan kondisinya sendiri.
Tapi juga karena rasa lelah yang tidak bisa diterima tubuhnya, Sara mengalami keguguran dua kali. Kondisi yang memprihatinkan hingga dokter sempat memvonisnya sulit untuk memiliki anak.
Sara sempat hancur. Dia sempat merasa tidak berguna. Jika bukan karena Agam yang selalu menguatkannya, mungkin Sara akan sulit untuk bangkit.
Seperti sebuah keajaiban, kehamilan itu muncul dengan tidak diduga. Empat tahun lalu, pada bulan terakhir, lahirlah Gianna Aaliyah Wirasurya, yang artinya pemberian penuh kemuliaan dari Tuhan Yang Maha Baik.
Seperti kata Sara, “Gia adalah keajaiban.”
Gia seperti hadiah terindah bagi keluarga Wirasurya di tengah rasa sakit yang sudah mereka lalui. Mereka memperlakukan layaknya putri kecil, tapi tetap tidak bisa menggeser posisi tuan putri yang masih dipegang oleh Ava.
“Bunddaaaa ...” Kaki kecil Gia berlari sangat kencang menghampiri Sara yang sedang mendorong Widia yang duduk di kursi rodanya.
“Eh, hati-hati, Gia. Nanti jatuh,” teriak Sara mewanti-wanti Gia yang langsung memeluk Sara.
Agam yang begitu datang seperti biasa langsung mengecup kening Sara, baru setelah itu mengambil alih kendali kursi roda Widia untuk dia dorong, dan membiarkan Gia memonopoli sang Bunda.
“Sapa Oma dulu, dong,” kata Sara mengingatkan Gia.
Gadis kecil itu langsung memberi salam pada punggung tangan sang Oma, lalu menciumi pipi kanan dan kirinya. Widia tersenyum setelah Gia melakukan itu.
Lalu, gadis kecil itu memegangi kedua tangan Widia, dan berkata, “Oma, hari ini Gia makan cake enak banget. Oma mau? Tadi Gia bungkusin satu di mobil.”
Widia mengangguk senang. Lalu menggerakkan tangannya. “Nanti temani Oma makan, ya.”
Gia kembali berisyarat, “Iya, Oma.”
Hari ini adalah jadwal Widia melakukan terapi. Dan hari ini adalah tugas Sara yang mengantarkannya bersama dengan seorang perawat – kadang bergantian dengan yang lainnya. Kalau sudah begitu, Agam yang bertugas menjaga Gia, bahkan kadang membawanya ke kantor.
Kantor yang dulunya adalah kantor FTC yang kini berganti nama menjadi Future Group. Kantor NFC yang lama dengan sangat terpaksa akhirnya dijual.
Arya mendapatkan ide yang lebih baik. Dia berpendapat untuk menggabungkan kantor NFC dan FTC dengan nama Future Group.
Agam setuju tapi Arya yang harus menjadi CEO nya. Dan Arya tidak mau kalah. Dia setuju jika Agam yang menjadi wakil CEO yang membawahi bagian teknologi, atau Chief Technology Officer atau CTO.
Setelah melewati diskusi yang panjang dan alot, mereka pun sepakat.
“Hari ini, aku mau bawa Mama ke satu tempat,” kata Agam berisyarat pada Widia.
Widia yang penasaran pun bertanya, “Ke mana?”
“Nanti Mama akan tahu.”
Biasanya, setelah terapi, Sara akan langsung pulang ke rumah atau menjemput Gia dari sekolahnya. Tapi, hari ini berbeda. Karena itu, Agam datang menjemput.
Karena hari ini, Agam, Arya, dan juga Ava punya kejutan untuk Widia.
Yuda berhasil membawa Vian ke penjara. Atas desakan semua orang dari keluarga Wirasurya dan juga pengaruh Yuda beserta keluarganya, Vian mendapatkan hukuman yang paling maksimal.
Tapi semua itu tetap tidak bisa membuat mereka menyelamatkan rumah dan aset-aset yang berhasil dijual oleh Vian tanpa sepengetahuan Widia.
Rumah yang dijual Vian pada akhirnya tetaplah terjual. Tidak ada yang bisa menghentikannya atau pun membatalkannya. Keluarga Wirasurya kehilangan rumah yang menjadi simbol kesuksesannya.
Pada akhirnya, rumah Agam lah yang menjadi rumah baru bagi mereka semua.
Beruntungnya, Arya bisa melakukan negosiasi dengan pembelinya. Ketiga bersaudara itu sepakat hanya menyelamatkan rumah utama. Dengan melakukan kesepakatan bersama pemilik yang baru, mereka setuju untuk membeli rumah itu kembali dalam waktu 5 tahun – butuh waktu beberapa bulan untuk mendapatkan menyelesaikan masalah Vian, barulah mereka mulai bernegosiasi.
Lima tahun cukup untuk mereka bertiga – berlima termasuk Sara dan Gia – mengumpulkan semuanya untuk membeli kembali rumah utama. Dan itulah kejutan mereka untuk Widia.
“Onti Avvaaa ...” Begitu melihat tantenya, Gia sudah langsung berlari menghampiri Ava yang datang bersamaan dengan mobil Agam.
“Ih, pasti ada maunya, nih,” kata Ava. Keduanya memang lebih mirip kakak adik ketimbang tante dan keponakannya.
“Kan Onti yang janji mau kasih Gia bando,” kilah Gia dengan polosnya.
__ADS_1
Begitu Ava mengeluarkan satu bungkus plastik berisi bando berwarna pink, merah, dan putih – warna kesukaan Gia –, gadis kecil itu langsung melompat kegirangan berusaha merebutnya dari Ava. Padahal dia tahu kalau dia kalah tinggi.
“Eits, kasih tahu dulu, siapa Onti paling baik sedunia?”
“Onti Avvaaa!!!”
“Nggak adil!!! Kenapa Gia nggak bilang begitu tadi sama Daddy?,” protes Arya yang langsung memeluk Gia dan menggendongnya.
Gia yang cekikikan malah lebih suka pada bando barunya ketimbang menghiraukan Arya.
Sementara Agam dibantu dengan supir dan Sara sudah berhasil menurunkan Widia yang masih penasaran di mana dia sekarang ini berada.
Agam mendorong kursi roda Widia memasuki rumah utama. Dengan Sara yang ada di sampingnya sedang menggandeng lengannya.
“Semuanya masih sama seperti dulu,” kata Sara. Dia tidak berhenti melihat-lihat sekelilingnya.
“Hmm ... Arya minta agar dirawat. Arya juga menawarkan orang yang akan merawatnya, tapi ditolak. Untungnya, pemilik sebelumnya sangat baik orangnya.”
“Syukurlah, semuanya bisa kembali,” kata Sara lagi dengan senyumnya manisnya saat menatap Agam.
Agam menghentikan kursi roda Widia di bagian teduh di depan rumah utama. Dia duduk di atas salah satu kakinya seraya menghadap sang Mama.
Dia meraih tangan Widia dan menuntunnya pada sebuah berkas surat dan kunci. Setelah itu, Agam berisyarat, “Maaf jika ini terlalu lama. Ini untuk Mama.”
Widia tidak memahaminya. Dia bertanya kembali, “Apa ini?”
“Ini surat-surat kepemilikan rumah utama,” jawab Agam seraya menuntun tangan Widia pada berkas suratnya.
Lalu, meletakkan kunci rumah itu tepat di atas telapak tangannya. “Ini kunci rumah utama.”
Widia hampir meremas surat rumah yang dipegangnya. Air matanya terus turun. Tangannya kini melepaskan surat dan kunci itu, lalu meraih tangan Agam.
“Kenapa kalian melakukan ini?,” tanya Widia dalam isyaratnya. “Gunakan uang kalian untuk masa depan kalian sendiri.”
Ava kemudian maju mendekati sang Mama. Dia mengambil tangan Widia dan berisyarat, “Mama juga masa depan kita.”
Arya juga melakukan hal yang sama. “Maaf, Ma. Hanya ini yang bisa kita lakukan.”
Widia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Dengan kedua tangannya, dia meraih ketiganya dalam satu pelukan. Lalu, menangis bersama di sana.
Sara yang kini sedang menggendong Gia, memandangi pemandangan yang tak biasa ini juga dengan air mata. Gia yang melihat bundanya menangis, dengan tangan mungilnya membantu sang Bunda menghapus air matanya.
Sara malah urung menangis karena tingkah Gia ini.
“Sa-la, Hi-a,” panggil Widia dengan suaranya, memanggil Sara dan juga Gia, sang cucu, mengajak mereka ikut bergabung bersama yang lain.
......................
...Di setiap pilihan yang dipilih, selalu ada konsekuensinya. Entah itu baik atau pun buruk...
...- anonim -...
......................
...FIN...
......................
Author’s Note :
Wah, akhirnya tamat 🥲
Lho, tamat? Yap, Mengikuti garis besar ceritanya, novel ini memang tamat 😁
Kok terburu-buru? Bukan terburu-buru, memang seharusnya end di sini. Tapi untuk kisah lain yang tidak sempat diceritakan dalam cerita besarnya, akan dilanjutkan dalam extra part nya, ya 😄
Sekali lagi, dan untuk kesekian kalinya, saya tidak akan pernah bosan bilang terima kasih, terima kasih, dan terima kasih untuk semua dukungannya. Mulai dari like, vote, 🌟 🌟 nya, pokoknya semua bentuk dukungannya, saya ucapkan terima kasih banyak.
Terima kasih banyak sudah menemani saya menyelesaikan cerita cinta Agam dan Sara sampai akhirnya bertemu dengan Gia. Pokoknya terima kasih banyak.
Sehat selalu, semoga selalu terhibur, dan dapat manfaat dari cerita sederhana ini.
Sekali lagi terima kasih. Kisah ini masih berlanjut hingga ke beberapa extra part.
__ADS_1
Cygni 💕