
[Sara]
Dung, dung, dung ...
Jantung Sara semakin cepat berdetak. Terutama saat Sara melihat wajah Agam berada sedekat itu. Tepat di hadapannya.
Meski ada bantal yang memisahkan mereka, tapi rasanya seperti hanya sejengkal saja. Sara terlalu fokus memandangi wajah Agam.
Kenapa posisinya tiba-tiba jadi begini, ya Allah?
“Apa kamu menyukainya?” Agam lagi-lagi menanyakan pertanyaan yang aneh.
Siapa? Aku? Apa? Oh ... Soal Ibu ...
“S-suka. Aku menyukainya. T-terima kasih Mas sudah mengundang mereka.” Sara semakin gugup, dan semakin gugup.
Sara semakin salah tingkah. Kedua mata Agam yang terbuka seakan sedang menatapnya. Padahal dia tahu Agam tidak dapat melihat. Tapi, pikirannya tidak bisa berhenti membayangkan hal semacam itu.
Ya Allah ... Aku harus ngapain ini?
Tiba-tiba saja, Sara merasakan sesuatu bergerak melayang mendekati dirinya. Diliriknya sedikit ke arah atas, dan dia melihat tangan Agam sedang mendekati dirinya.
Semakin dekat, semakin dekat ...
Tangan Agam hampir mendekati wajah Sara.
Reflek yang bisa dipikirkannya adalah menutup kedua matanya. Kuat-kuat.
Dug, dug, dug ....
Ya Allah, dia mau apa?
Dug, dug, dug ....
Detak jantung Sara semakin kencang dan cepat. Semakin lama Agam tidak melakukan apa-apa, semakin jantung Sara semakin tidak terkendali. Sara semakin tidak sabar menunggu apa yang akan dilakukan Agam.
Kamu berharap Agam melakukan apa, Sara?!?!
Lalu ...
“Selamat malam. Maaf sedikit melanggar batasmu.”
Hah?!
__ADS_1
Sara membuka kedua matanya. Dilihatnya pria itu kini tengah berbalik memunggunginya kembali.
Apa ini?
Apa itu tadi?
Dia melongo tanpa bisa mengatupkan bibirnya lagi. Dia terus bertanya-tanya apa yang baru saja terjadi. Kenapa tiba-tiba perubahannya sangat drastis begini? Ada apa ini?
Hatinya seketika merasakan satu lubang besar yang menganga lebar. Kosong tak berdasar. Rasanya sangat mengecewakan.
Sara!! Kenapa kamu malah kecewa?!
Sara ikut berbalik memunggungi Agam. Apa yang bisa dia lakukan sekarang selain tidur? Dia tekan jauh-jauh rasa kecewa yang tidak beralasan itu. Kenapa harus kecewa, dasar Sara oon!
“Selamat malam, Mas.”
“Selamat malam, Sara.”
Dan begitu saja mereka mengakhiri hari itu.
......................
“Pagi, Mbak,” sapa Arya yang baru saja turun dengan setelan rapi yang dia kenakan. Kemeja, jas, beserta dasinya.
“Pagi, Arya,” sapa balik Sara. “Hari ini mulai ngantor?”
“Oh, pagi-pagi Mas Agam sudah berangkat. Katanya ada rapat penting. Raka tadi yang jemput,” jawab Sara.
Memang begitu adanya. Entah ada apa, tapi sepertinya sangat penting. Dia sampai melewatkan sarapannya.
“Ada apa, ya?”
Bahkan Arya juga heran dengan itu.
Tapi Sara tidak tahu apa-apa soal itu. Dia sendiri lebih mengkhawatirkan Agam yang tidak tahu apakah dia akan sarapan di kantor atau masih harus menunggu makan siang nanti.
Iya kalau makan siang. Kalau nggak? Itu artinya ... seharian nggak makan, dong?
Pagi itu, Arya masih sempat menyantap bubur ayam sebelum dia berangkat kerja. Sara senang sekali dengan cara Arya menyantap semua masakannya. Arya membawa perasaan senangnya setiap kali sendoknya masuk ke dalam mulutnya.
Rasanya seperti dihargai ...
“Jadi, apa Mama sudah nggak marah lagi, ya?,” tanya Sara. Melihat Mama kemarin yang pergi tanpa mengatakan apapun lagi dan tanpa ada lagi drama, Sara berpikiran mungkin Widia sudah tidak masalah jika Arya tidak pulang ke rumah utama.
__ADS_1
“Tenang aja, Mbak. Mama sudah nggak keberatan, kok. Ya sebagai gantinya, Arya yang harus mampir setiap hari jenguk Mama,” jelas Arya dengan diselingi tawa kecilnya.
Sara ikut tertawa bersamanya.
Meski aneh rasanya, karena Widia terlihat sangat marah waktu itu. Tapi dia memilih untuk tidak mengatakannya.
Mungkin memang benar Mama mengalah untuk Arya.
“Kalian dulu pasti sangat dekat ya, sampai nggak mau pisah gini,” canda Sara dengan tawanya.
“Bagiku Mas Agam tetap yang paling keren, Mbak.” Arya mengatakannya dengan penuh rasa bangga.
Sara tidak bisa untuk tidak tersenyum. Terlalu menggemaskan ...
Yang selanjutnya terjadi adalah Arya mengoceh tanpa henti tentang bagaimana kehebatan kakaknya itu. Idola nomer satu baginya.
“Apa Mbak tahu kenapa aku jadi tahu banyak game? ,” tanya Arya penuh semangat.
Sara menggelengkan kepalanya.
“Karena dulu waktu Mas Agam masih sekolah, dia sering ikut kompetisi game.”
Kedua mata Sara langsung terbelalak lebar. “Mas Agam? Main game?”
Arya tersenyum puas, tapi juga bangga. “Dulu selalu satu tim sama Yuda.”
“Y-yuda??”
Waktu itu Arya masih umur 10 tahun, sedangkan Agam berumur 16 tahun. Meski umur Arya masih kecil , tapi Agam selalu mengajaknya kemanapun Agam pergi untuk berkompetisi, meskipun hanya sebagai cadangan. Tapi dari sanalah Arya belajar dari sang kakak.
“Sampai sekarang, kalau para penggemar game battle royale berkumpul, mereka juga pasti akan membicarakan Lord Rigel dan Lord Tamtam.”
Sara tertawa mendengar penjelasan Arya itu. Sekarang dia mengerti mengapa Yuda minta dipanggil Tamtam.
“Wah, sudah hampir jam sepuluh.”
Benar juga. Terlalu asyik mengobrol sampai lupa waktu.
“Kamu mau ke NFC, kan ya?,” tanya Sara saat melihat Arya akan beranjak pergi.
“Hmm ... Sebenarnya sih mau ke FTC.”
Eh? Bukan, ya?
__ADS_1
“Mbak mau nitip sesuatu?”
“Sebenarnya ...”