Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 61-2 : Puncak Kemarahan (POV Arya)


__ADS_3

[Arya]


Arya melangkahkan kakinya dengan cepat. Mengimbangi langkah kaki sang kakak yang lambat karena kondisi kakinya yang belum sempurna benar. Kadang dia mendahului sang kakak, membersihkan jalan dari kerumunan untuk bisa dilalui.


Arya tahu, Agam tidak tenang sejak dia menutup telepon itu. Tapi, siapa yang bisa tenang? Vian ada bersama Sara saat ini. Jangankan Agam, Arya pun juga tidak tenang.


Apa yang dilakukan bajjinngan itu di sana?


“AAAHHH!!!”


Mereka sudah hampir tiba ketika mendengar suara teriakan Sara yang histeris. Agam terlihat pucat sekaligus.


Tidak heran, teriakan itu beriringan dengan tangis histerisnya. Seperti seseorang yang sedang kehilangan sesuatu yang sangat berharga.


Agam semakin cepat melangkah. Arya pun mengikutinya dari belakang.


Begitu Arya memasuki area terbuka itu bersama Agam, dia bisa melihatnya jelas apa yang terjadi meski belum sepenuhnya bisa menyimpulkan.


Vian sedang berdiri di depan Sara yang sedang menangis meraung-raung di pelukan Mbok Jami.


“Apa yang kamu lakukan pada Sara?!”


BUG!!!


Baru kali ini dia melihat kemarahan sang kakak seperti itu. Kepalan tangan Agam mendarat sempurna di wajah Vian hingga menyebabkan robekan pada bibirnya. Darah mengalir dari luka itu.


“MAS AGAM!!!”


Suatu kebetulan yang sepertinya sengaja diatur oleh yang Maha Pengatur Segalanya. Di antara semua orang, kenapa harus Ava yang datang dan melihat itu semua?


“Lepas, Mas! Lepas!,” teriak Ava seraya memukuli lengan Agam yang sedang mencengkeram kain baju Vian.


Tapi Agam tak juga merenggangkan cengkeramannya. Arya pun maju mendekati Agam.


“Lepaskan dia, Mas. Mbak Sara ...”


Agam menoleh memandangi Sara, lalu melepaskan cengkeramannya. Dia mendorong Vian ke belakang sebelum akhirnya pergi menghampiri Sara yang masih belum juga tenang.


Ya, hanya Mbak Sara yang bisa menurunkan emosi Mas Agam. Dan hanya Mas Agam yang dibutuhkan Mbak Sara saat ini.


“Kenapa Mas memukulnya?,” tanya Ava pada Agam yang sudah menjauh.


Tapi Agam tetap pergi. Dia tidak menghiraukan pertanyaan Ava.


“Ava!,” bentak Arya. “Kamu seharusnya tanya sama dia. Apa yang sudah dia lakukan pada Mbak Sara sampai dia sehisteris itu?”


Ava memandangi Sara yang saat ini sedang ditenangkan Agam. Lalu, kembali pada Vian yang memegangi bibirnya yang terluka.

__ADS_1


“Sudah! Percuma aku ngomong di sini. Ayo, Al! Kita obati lukamu.” Ava membawa Vian pergi dari sana. Dia lebih peduli pada tunangannya daripada kebenaran tentang apa yang terjadi.


Tapi lebih baik begitu daripada Vian tetap disini.


“Sstt ... sudah tidak apa-apa. Tidak ada apa-apa,” kata Agam menenangkan Sara yang sekarang menangis di pelukan Agam.


Arya teringat ada Mbok Jami tadi di sini. Dia berniat menanyainya. Matanya mulai menyisiri tempat itu mencari keberadaan asisten rumah tangga kepercayaan kakaknya itu, tapi terhenti pada sosok Widia yang sedang berdiri di satu sudut yang masih dapat terlihat oleh semua orang sebenarnya.


Pandangan Widia penuh kecemasan kala melihat Agam dan Sara. Jangan lupa raut wajah kesedihannya. Tapi, itu bukan kepura-puraan. Mamanya itu sedang mengkhawatirkan entah itu Agam atau Sara.


Widia mungkin merasa ada yang memperhatikannya. Dia berhenti memandangi Agam dan Sara, lalu beralih pada Arya. Tatapan mereka bertemu dan saling memandangi cukup lama. Meski demikian, Arya tetap tidak bisa memahami apa yang sedang dipikirkan sang Mama.


Pada akhirnya, Agam berhasil membawa Sara kembali ke kamarnya. Tidak butuh waktu lama sebenarnya. Dokter dan perawat ikut membantu. Arya dan Widia mengikuti mereka dari belakang.


Sementara dokter memeriksa Sara di kamarnya, Widia menunggu di luar. Sedangkan Arya masih sempat mendengar peringatan dokter, meski hanya di dekat pintu.


“Saat-saat seperti ini sangat rentan bagi ibu-ibu yang baru keguguran untuk mengalami kondisi depresi. Jadi, pasien harus benar-benar tenang hingga kondisi psikologisnya kembali stabil. Sebaiknya biarkan pasien beristirahat total.”


Depresi ... melihatnya seperti tadi, sangat mungkin hal itu terjadi.


Arya beringsut mundur dari kamar rawat Sara dan menutup pintunya. Dia kembali pada Widia yang kemudian menatapnya cemas.


“B-bagaimana Sara?,” tanya Widia.


Ada apa dengan Mama? Kenapa dia seperti ini?


Arya pandangi keranjang penuh buah yang tertutupi plastik bening yang dipegangi Widia.


Itu berarti dia ke mari untuk menengok Mbak Sara.


“Mama sebaiknya pulang saja. Mas Agam saat ini sedang benar-benar emosi, apalagi melihat Sara seperti tadi.”


Widia pun setuju. Dia pergi tak lama setelah itu dan menitipkan keranjang buah yang tadi dibawanya untuk Sara.


Begitu dokter keluar, Arya pun masuk. Dilihatnya Agam yang merapikan selimut Sara, saat dia sedang meletakkan keranjang buah di atas meja


“Bagaimana keadaan Mbak Sara?,” tanya Arya setengah berbisik.


Agam kemudian menciumi kening Sara. Lalu mengajak Arya untuk keluar.


“Kita bicara di luar saja.”


......................


“Mama dan Ava bagaimana?,” tanya Agam ketika mereka sudah menduduki bangku yang ada di depan kamar rawat Sara.


“Mama barusan pulang. Ava, entahlah. Mungkin juga pulang sama tunangannya itu,” jawab Arya.

__ADS_1


“Mereka ke sini berniat menengok Sara. Buah tadi dari Mama,” lanjut Arya.


Agam hanya mengangguk.


“Mama sepertinya sangat khawatir dengan Mbak Sara. Aku nggak tahu kenapa, tapi aneh rasanya. Kemarin juga Mama terus menanyakan tentang Sara. Entah apakah itu pura-pura atau Mama memang begitu.”


“Aku rasa mungkin karena Mama pernah mengalaminya,” kata Agam menanggapi Arya.


Kening Arya langsung berkerut. Dia tidak paham maksud kakaknya itu.


“Seingatku, dulu waktu hamil kamu, Mama pernah pendarahan. Tapi tidak parah. Jadi masih bisa dipertahankan,” kata Agam menjawab rasa penasaran Arya.


Arya terdiam. Dia tidak pernah tahu cerita tentang ini.


“Menurut Mas apa yang mereka bicarakan tadi?” tanya Arya kembali membahas mengenai Sara dan Vian.


“Aku juga tidak tahu. Sara masih belum bisa aku tanyai. Tapi yang jelas pasti sudah sangat keterlaluan hingga Sara semarah itu,” jawab Agam.


Kemudian, Agam mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuannya, lalu bergumam, “Seharusnya aku tadi tidak pergi.”


Arya kemudian menepuk bahu Agam.


“Kita harus melakukan sesuatu, Mas. Aku nggak akan pernah setuju Ava menikah dengan cowok bannggssaat macam Vian!”


“Tapi kalau kita langsung memisahkan mereka, Ava pasti akan sangat marah dan menilai kita tidak adil,” timpal Agam.


Arya tidak mau kalah. “Aku lebih baik berdebat sama Ava seumur hidupku daripada melihat dia menikah dengan si breengseek itu.”


Kali ini semua diam. Mereka sama-sama berpikir.


Tak lama, Agam mengatakan sesuatu. “Aku akan menemui Mama. Aku akan bicara dengannya.”


“Mas mau bilang apa?”


“Semuanya,” jawab Agam. “Tentang siapa Vian sebenarnya. Awalnya mungkin Mama tidak akan percaya. Tapi aku yakin, dengan bukti-bukti dari Yuda, lama-kelamaan Mama akan percaya.”


Agam kembali melanjutkan. “Mama yang menyetujui pertunangan Ava dan Vian. Maka harus Mama juga yang membatalkannya.”


Benar juga.


“Kalau gitu, biar aku saja.”


Arya yakin harus dia yang melakukannya.


“Kalau aku yang ngomong sama Mama, aku yakin Mama akan percaya 100%.”


Agam mengangguk setuju.

__ADS_1


__ADS_2