
[Widia]
Saat Arya datang dan mengatakan dia ingin bicara, Widia mengira putra tercintanya akhirnya mau memaafkan dia. Memaafkan semua keinginannya yang hanya untuk membuat anak-anaknya aman dan sejahtera di masa depan. Keinginan yang pada akhirnya menentang semuanya yang ada di keluarga Wirasurya.
Mulai dari suaminya, lalu Agam, dan terakhir ... Arya, darah dagingnya sendiri.
#
“Mama akhirnya benar-benar melakukannya, kan?,” kata Arya malam itu saat dia masih rumah sakit untuk sebuah sandiwara yang bertujuan untuk menekan Agam.
“Arya ...,” panggil Widia lirih seraya memelas menatap putranya. “... Mama melakukan ini demi kamu dan Ava. Mengertilah ...”
“Tidak!”
Bentakan Arya yang sangat keras sontak membuat Widia terhenyak. Belum pernah dia mendapat hari di mana Arya akan membentaknya dengan keras seperti itu.
“Aku tidak pernah meminta Mama melakukan ini! Terutama pada Mas Agam!,” lanjut Arya lagi.
Widia langsung menyadari sesuatu kala itu. Dia akan kehilangan putranya yang lain. Dan ternyata benar.
“Mulai saat ini, selama NFC belum kembali pada Mas Agam, aku tidak akan bicara dengan Mama.”
Air mata Widia penuh seketika menghalangi pandangannya. Saat dia menutup matanya, setetesnya meluncur mulus melintasi wajahnya.
“Satu lagi,” lanjut Arya lagi sebelum dia benar-benar meninggalkan ruang rawat. “Aku tidak akan tinggal rumah utama.”
“Kamu akan tinggal di mana, Arya?”
“Mama tidak perlu tahu di mana aku tinggal.”
Widia langsung terjatuh ke lantai begitu Arya menutup kembali pintu kamar rawatnya dan pergi meninggalkannya. Dia menangis tanpa berani mengeluarkan suara, meskipun tidak ada siapa pun di sana.
Dia merasa, dia akan seperti orang yang sedang mencari simpati orang lain atas kesalahan yang sudah dia perbuat sendiri. Karena itu, dia memilih tak bersuara, meski rasanya sangat menyakitkan.
Dan, Arya serius dengan apa yang dikatakannya. Dia benar-benar tidak pulang. Tidak juga bicara dengannya.
Bahkan ketika Widia datang ke kantornya kala itu, mencoba membujuknya kembali, Arya tidak menggubrisnya.
Arya hanya bicara sekali. Sudah pasti jelas ada keterpaksaan.
Saat Widia meminta pengawalnya membawa Sara yang waktu itu datang ke kantor Arya, saat itu Arya menghentikan mereka dan berbisik padanya, “Jangan buat keributan di sini. Jangan sampai aku semakin membencimu.”
Widia semakin sulit meraih kembali apa yang sudah dia lepaskan.
#
Jadi, tidaklah heran dia begitu senang sekali saat Arya datang menemuinya di rumah utama. Dia sudah cukup senang saat Arya masih mau mengobrol dengannya di rumah sakit, dan mengira Arya ingin berbaikan dengannya.
Tapi nyatanya tidak ...
#
“D-dari mana ... kamu dapat informasi i-ini?,” tanya Widia yang sangat gugup dan panik begitu membaca berlembar-lembar informasi yang didapatkan Arya mengenai Vian atau yang dia kenal sebagai Al.
Widia tahu dari mana biasanya mereka mendapatkan informasi selengkap ini. Tapi dia ingin mendengarkan jawaban lain yang bisa menenangkannya dari rasa bersalah.
“Apakah itu penting?,” tanya Arya balik. “Aku tahu Mama percaya informasi itu valid.”
“I-ini nggak mungkin. Bagaimana Ava bisa mengenalnya?”
“Mereka sudah bertemu sebelum Ava ke US. Dia sudah merencanakan semuanya hingga rela menyusul Ava ke sana,” jelas Arya.
Hati Widia langsung jatuh sejatuh-jatuhnya. Dia tidak pernah menyangka akan ada hari di mana semua yang dia lakukan di masa lalu kini berbalik menyerangnya.
Jadi ini yang dikatakan orang-orang sebagai karma?
“Apa pun yang Mama lakukan di masa lalu sudah jelas bukan kesalahan Ava. Jadi, jangan biarkan Ava yang menebus semua kesalahan Mama.”
Arya benar. Ini seharusnya menjadi karmaku. Kenapa Ava yang harus menanggung semuanya?
#
Bukan Widia tidak bersedih saat Agam mengatakan bahwa mereka adalah dua orang yang kebetulan saling mengenal. Saat Agam mengatakannya, Widia serasa baru saja kehilangan yang sangat besar. Hatinya langsung kosong serasa seluruh isinya sudah dikeluarkan dari sana.
Lalu, Arya juga? Widia sudah merasa menjadi orang paling sendiri di dunia ini.
Ava, satu-satunya harapan Widia setelah Agam dan Arya sudah tidak lagi peduli dengannya.
__ADS_1
“Apa yang sudah aku perbuat?,” tangis Widia yang meraung-raung di dalam kamarnya menyesali semuanya.
#
“Mas Agam bilang, Mama yang menyetujui pertunangan ini, Mama juga yang harus membatalkannya,” kata Arya.
“Agam? D-dia juga tahu?”
Arya mengangguk.
Tentu saja dia tahu. Yuda temannya.
“Aku dan Mas Agam tidak bisa melakukan apapun kalau Mama masih mendukungnya. Saat Ava marah, dia pasti akan minta dukungan Mama,” jelas Arya lagi.
Agam ... benar. Hanya dia yang dapat memahami adik-adiknya dengan baik. Bahkan di saat seperti ini, dia tetap benar. Ibu macam apa aku ini?
#
Dia bukan tidak menyayangi Agam. Dia sangat menyayanginya. Agam memang anak pertama baginya. Agam pernah menjadi satu-satunya dunia bagi seorang Widia.
Tapi semua itu berubah sejak Arya dan Ava lahir. Semua prioritasnya seakan berubah. Semua pandangannya ikut berubah. Dia terbawa arus oleh keegoisannya sendiri. Entah pemikiran dari mana.
Yang jelas setelah itu, dia lebih memprioritaskan Arya dan Ava. Meski terkadang rasa keibuannya pada Agam masih tersisa di dalam hatinya.
Tanpa rasa bersalah, dia sering mengabaikan Agam. Tapi, Agam tetap menghormatinya. Di situlah, Widia semakin menuntut Agam ini dan itu demi Arya dan Ava.
Saat dia meminta NFC dari Wirasurya, sang suami, Widia mendapatkan pertentangan yang keras. Padahal NFC untuk anak Wira yang lain juga, Arya. Tapi kenapa justru Wira menentangnya? Widia mulai berpikir Wira masih terikat pada masa lalunya. Dia cemburu.
Di situlah Widia sulit menerimanya. Dia mulai menekan Agam.
Tapi, untuk pertama kalinya, Agam juga menentang Widia, sama seperti ayahnya. Baru saat itu, Agam menolak permintaannya dan tidak mau mengalah untuk adik-adiknya. Widia mulai tak terkendali.
Itulah saat Widia mulai memikirkan cara untuk mencelakai Agam. Kecelakaan hingga obat itu.
Bahkan di saat dia memikirkan rencana kecelakaan itu, dia masih sempat berpesan pada sang supir, “Hanya lukai saja. Jangan sampai membunuhnya.”
Widia berpikir, tidak apa-apa kalau aku harus merawatnya seumur hidupku. Yang penting dia tetap hidup. Yang penting NFC menjadi milik Arya sepenuhnya.
Widia disamarkan oleh pikirannya sendiri. Dia tidak bisa memisahkan antara rasa sayangnya pada Agam dan obsesinya pada NFC. Dia dibingungkan oleh perasaannya sendiri.
Tapi, yang namanya kesalahan tetap salah. Yang namanya kebohongan tetap adalah kebohongan. Dari awal dia berbohong, maka dia terus berbohong untuk menutupi kebohongannya yang lain.
Karena itu juga, untuk mendapatkan dukungan Ava, dia langsung menyetujui pertunangannya dengan Vian tanpa banyak bertanya, tanpa menyelidikinya terlebih dahulu.
Lalu sekarang, Arya mengatakan siapa Vian yang sebenarnya. Widia seperti sedang ditusuk oleh kesalahannya sendiri. Dua kali. Tidak, mungkin juga berkali-kali sudah.
Semuanya kini berbalik arah.
Tapi, aku masih bisa memperbaikinya, kan? Aku masih bisa menyelamatkan Ava, kan?
#
“Aku ingin kalian membatalkan pertunangan kalian,” kata Widia pada Vian yang sedang duduk di hadapannya di satu ruangan tertutup yang ada di dalam restoran.
Widia yang siang itu memanggil Vian untuk bertemu tanpa sepengetahuan Ava, berniat akan menyelesaikan segalanya tanpa harus memberitahu Ava tentang siapa sebenarnya Vian.
Vian terlihat begitu tenang saat Widia menyerahkan selembar cek dengan angka yang cukup besar tertulis di dalamnya.
“Apa Ava tahu Mama melakukan ini?,” tanya Vian.
“Ava tidak perlu tahu. Kamu hanya perlu menerima cek ini, lalu putuskan dia. Kamu pergi ke mana saja terserah kamu.” Widia terus mencengkeram kain dressnya di balik meja. Dia sangat gugup.
“Kenapa begitu tiba-tiba? Kenapa Mama melakukan ini?” Vian lagi-lagi bertanya.
Widia menelan salivanya kuat-kuat, dan berkata, “T-tidak ada. Aku tidak ingin Ava menikah dulu. Dia masih muda.”
“Kalau aku masih mau menunggu?”
Widia semakin keras mencengkeram. “T-tidak perlu. Kamu lebih baik cari orang lain.”
Vian mendengus. Tapi dia menyeringai. Widia mengintipnya sebentar saat dia menundukkan kepalanya.
Tapi, Vian mengambil cek itu. Dia pergi setelahnya.
Sebelum menjauh, Widia berkata lagi, “Waktumu 3 hari. Putuskan Ava segera.”
Widia bernapas lega saat itu kala melihat punggung Via menjauh lalu menghilang dari pandangannya. Sedikit tenang karena satu masalahnya berakhir dengan baik.
__ADS_1
#
Tiga hari Widia menunggu. Dia selalu berada di dekat Ava, takut-takut kalau Ava tiba-tiba butuh teman curhat karena diputuskan tunangannya. Tapi, tidak ada yang berubah dari Ava. Dia masih terlihat ceria.
Tepat hari ketiga itulah, Widia mendapatkan telepon itu.
#
“Halo, Ma. Aku sekarang lagi jalan-jalan ke luar kota sebentar, berdua sama Al. Mungkin kita akan pulang besok, ya.”
DEG!
Tidak!
“A-ava ... k-kenapa kamu nggak b-bilang dulu s-sama Mama?,” tanya Widia yang sudah sangat ketakutan.
“Ya makanya ini aku telepon Mama.” Tidak ada kesedihan sama sekali dari nada suara Ava.
“A-ava ...”
Lalu terdengar suara Vian. “Biar aku yang ngomong, kamu gantiin aku sebentar nungguin pesanannya, ya.”
Ava ...
“Siang, Nyonya. Maaf, karena pertunangannya sudah dibatalkan bukankah seharusnya saya memanggil Nyonya?”
“K-kamu sudah mengambil cek itu. Artinya kamu setuju untuk memutuskan Ava. K-kamu bawa ke mana Ava?” Widia semakin tidak dapat mengendalikan rasa takutnya. Dia panik memikirkan Ava yang masih bersama dengan Vian.
“Saya tidak mengatakan akan memutuskan Ava.”
“K-kamu!!!”
“Saya hanya mengambil cek itu karena itu adalah hak saya. Hak seorang anak yang ayahnya Nyonya abaikan begitu saja di dalam penjara. Benar kan, Nyonya Widia Kirana yang terhormat?”
Tidak ...
“Saya yakin, Nyonya sudah tahu siapa saya,” kata Vian lagi. “Karena itu Nyonya ingin saya menjauh dari Ava.”
Widia mulai menitikkan air matanya. Dia sudah terlalu takut.
“Maaf, Nyonya. Tapi Ava adalah satu-satunya pintu masuk saya ke keluarga Wirasurya. Agar saya bisa membalaskan dendam keluarga saya.”
Tidak, tidak, tidak ....
“K-katakan, kalian d-di mana?” Widia kini semakin gugup dan cemas.
“Sangat mudah, Nyonya. Berikan saham NFC pada saya. Akan saya beri tahu di mana kami berada. Adil, bukan?”
“Al, ayo!!!” Dari kejauhan, Widia bisa mendengar suara Ava. Semakin Widia tidak dapat mengendalikan gemetar pada tangannya.
Tanpa malu lagi, Widia mulai menangis, “Ini antara kita, kenapa kamu melibatkan Ava? Dia tidak tahu apa-apa.”
“Sama seperti saya, Nyonya. Ayah saya hanya menjalankan perintah dari Nyonya. Tapi yang menanggung dosanya adalah seluruh keluarga saya. Ibu, kakak saya, dan juga saya sendiri.” Suara Vian terdengar seperti sedang menahan amarahnya.
“Ayah saya juga harus meninggal di dalam penjara. Semua adalah salah Nyonya,” lanjut Vian lagi.
“Aku mohon. Lepaskan Ava. Aku akan berikan uang sebanyak yang kamu mau. Tapi lepaskan Ava,” tangis Widia memohon pada Vian.
“Tidak, Nyonya. Saham NFC. Aku mau itu.”
Suara Al tiba-tiba saja sudah berganti menjadi suara Ava. “Sudah ya, Ma. Ava pergi dulu. Bye, Ma. Muah ...”
Dan berakhir. Panggilan itu ditutup.
Widia belum menyerah. Dia menelponnya kembali. Tapi ...
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif.”
Napas Widia semakin memburu. Dia panik, takut, cemas ... semuanya tercampur aduk menjadi satu memenuhi isi kepala dan dadanya. Napasnya sesak seketika.
Apa yang harus aku lakukan sekarang?, batin Widia merintih dalam tangisnya.
Dan, hanya satu nama yang dia sebut.
“Agam ...”
Pada akhirnya, dia hanya bisa meminta tolong pada Agam. Anak yang selama ini dia abaikan perasaannya.
__ADS_1
Dan tanpa mempedulikan rasa malunya itu, Widia menemui Agam dan memohon pertolongannya.
“Agam, tolong Mama ... Vian bawa Ava pergi. Mama nggak tahu mereka ke mana.”