
[Sara]
Tadi malam, Sara bermimpi indah sekali. Jalan-jalan di pantai, menikmati angin darat yang menyejukkan, dan langit jingga karena matahari yang akan segera berakhir jam kerjanya. Menyusuri pantai di atas pasir putih tanpa alas kaki, sesekali ombak datang membasahi bibir pantai hingga menghapus jejak kaki yang baru saja dibuatnya.
Saat lelah, Sara duduk menghadap pantai di samping seorang pria yang sedari tadi sudah berada di sana. Dengan santainya, Sara menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
“Pantainya bagus ya, Mas?,” tanya Sara begitu bahagianya.
“Hmm, iya. Bagus.”
Suara ini ... Rasanya aku pernah mendengarnya.
Sara mengangkat kepalanya perlahan, lalu menoleh sedikit hanya untuk mencari tahu siapa pemilik suara yang tidak asing itu?
Saat pria itu menatapnya, senyum di wajah pria itu seakan menyadarkannya kembali.
Tunggu. Kenapa jadi Mas Agam?
Dan ... saat Sara membuka matanya, pantai di hadapannya sudah berganti menjadi pemandangan sebuah ruangan yang setengah asing.
Yep, setengah asing. Setengah, dia merasa pernah melihatnya. Setengahnya lagi, dia merasa sepertinya ini pertama kalinya dia terbangun di tempat ini.
Mata Sara mulai berkeliling mencari petunjuk. Kanan, kiri, atas, bawah. Dan berhenti tepat di hadapannya. Di sana dia melihat sebuah punggung asing yang belum pernah dilihatnya.
Punggung yang kokoh dan tegap tertutupi piyama coklat yang halusnya selembut sutra. Punggung yang lebar yang rasanya menggoda untuk disentuh.
Tangan Sara yang sedari tadi bersandar di sana perlahan-lahan bergerak mengikuti tulang punggung yang menonjol di balik piyama. Kenapa rasanya menenangkan?
Astaghfirullahaladziim!!! Itu Mas Agam!!
Sara langsung terduduk di atas tempat tidur, memandangi sosok Agam yang masih tertidur membelakanginya dengan perasaan penuh kepanikan.
Apa yang baru saja kamu lakukan, Sarraaa???
Ya Allah, Sara. Kamu sendiri yang bikin pembatas, kamu juga yang melanggarnya. Kamu memang benar-benar penjahat, Sara!
Pelan-pelan, tanpa membuat banyak gerakan, Sara merangkak mendekati Agam, mengintip perlahan dari balik punggung pria itu.
Masih tidur ...
Sara kembali duduk, mengelus dadanya untuk menenangkan degup jantungnya yang tidak beraturan, dan mengatur kembali napasnya yang sempat kocar kacir.
Dipandanginya punggung pria yang semalaman berada di sampingnya, sembari mengingat percakapan mereka tentang anak kucing dan semua hal yang telah dilakukannya. Meskipun masih merasa bersalah dan malu akan kebodohannya sendiri, Sara tetap tersenyum jika mengingat bagaimana pria itu bisa memahami dirinya.
Ternyata, dia juga bisa semanis itu ...
Dilihatnya jam meja di atas nakas dekat Agam menunjukkan pukul 03.55. Bentar lagi sholat shubuh.
Perlahan Sara bangkit, dan pergi bersiap untuk rutinitasnya pagi ini.
......................
“Waahh ... Wanginya enak nih,” seru Arya begitu dia masuk ke ruang makan. Sara dan Mbok Jami yang sedang menyiapkan makan siang ikut tersenyum melihat Arya yang kini mendekat ke meja makan dan terlihat sangat siap melahap semua yang ada di atasnya.
“Masak apa nih, Mbok?,” tanya Arya penuh semangat.
__ADS_1
“Yang itu kiriman ibunya Non Sara, pesmol ikan, pesanannya Den Agam. Kalau yang ini bistik sapi sama sup jagung,” jelas Mbok Jami sembari meletakkan semangkuk saus bistik ke atas meja.
“Pesmol?”
“Iya, Den. Pesmol. Bikinannya ibu Non Sara enak loh, Den. Gulai kemarin juga,” kata Mbok Jami memuji. Terdengar oleh Sara yang sedang menyiapkan pesmol untuk dimakan Agam hingga membuatnya tersipu.
Arya mengangguk-angguk seraya membulatkan bibirnya. “Pantesan enak.”
Tapi kemudian berseru pada Sara yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari Arya, “Mbak, aku boleh ngincip pesmolnya?”
“Loh, kan memang untuk semua. Mbok Jami dan yang lainnya juga dapat. Punyanya Mas Agam sudah dipisahin kok. Nih, untuk Mas Agam,” jawab Sara meletakkan sepiring ikan yang sudah dipotong kecil-kecil seperti biasanya di atas meja tempat Mas Agam duduk.
“Asyik ...,” seru Arya lagi bersemangat.
Tak lama kemudian, Agam datang ke ruang makan. Dan Arya sudah penuh semangat bercerita menu makan siang hari ini.
Agam mendengarkan setiap ocehan Arya. Sesekali dia memberikan senyuman di setiap cerita yang diucapkan Arya. Dia tidak meminta Arya untuk berhenti apa lagi menyelanya. Agam terlihat menikmatinya.
Benar kata Mbok Jami, Mas Agam sangat menyayangi adik-adiknya.
#
“Den Agam kalau sama Den Arya sayaanng banget, Non. Den Arya juga sama. Dulu kecilnya, Den Agam kalau kemana-mana Den Arya pasti ngikuti di belakang. Punya apa-apa, ya Den Agam dibagi. Den Arya juga sama,” begitu kata Mbok Jami saat mereka sedang menyiapkan makan siang tadi.
“Kalau sama Non Ava juga sama sayangnya, tapi ndak sedekat sama Den Arya.”
“Ava?”
“Adiknya Den Agam yang paling kecil.”
Oh, yang sekolah fashion.
#
Mengingat semua pembicaraan itu, lalu melihat interaksi keduanya membuat Sara mengulum senyumnya.
“Kapan kamu akan ke FTC?,” tanya Agam pada Arya di sela-sela makan siang mereka.
FTC?
“Nanti aja deh, Mas. Masih mau lihat-lihat dulu, ya dipelajari juga,” jawab Arya dengan santai sembari menikmati pesmol ikan yang ternyata disukai Arya.
“Jangan terlalu lama. Kalau ada yang tidak kamu pahami, tanyakan pada Mas atau Raka. Selama ini dia yang handle semuanya, Mas yang pantau,” timpal Agam.
“Arya!”
Belum sempat menjawab, Arya sudah terkejut saat seseorang memanggil namanya, yang ternyata adalah Widia, mamanya. Tidak hanya Arya sebenarnya, hampir semua yang ada di ruang makan.
Agam tidak. Dia bereaksi normal seperti tidak terjadi apapun.
“Ya ampun, Arya. Kata supir kamu mau tinggal di sini. Kenapa kamu nggak bilang-bilang sama Mama? Mama nunggu kamu pulang seharian.”
Begitu masuk, orang pertama yang dilihat Widia adalah Arya. Dan semua omelannya hanya untuk Arya. Kenapa tidak pulang? Di sini tidur di mana? Di sini ngapain saja? Dan selanjutnya, dan selanjutnya.
Arya sendiri sebagai orang yang diajak bicara hanya menjawab seadanya. Dia terlihat tidak tertarik dengan pertanyaannya. Bukan orangnya, hanya pertanyaannya saja. Karena setidaksukanya Arya pada setiap pertanyaan mamanya itu, dia masih menunjukkan rasa hormatnya pada Widia.
__ADS_1
“Ikut Mama pulang, ya? Mama sendirian di rumah utama. Ya? Ikut Mama, ya?,” bujuk Widia terus menerus. Entah ini sudah ke berapa kalinya dia bilang begitu. Sementara yang diajak ngomong hanya makan, makan, dan makan saja.
“Arya!” Widia akhirnya mulai merajuk. “Kamu gimana sih? Ini Mama ngomong dari tadi nggak didengerin.”
“Arya dengerin, Ma. Arya kan lagi makan, gimana jawabnya. Mama makan juga deh. Enak lho ini. Apa tadi namanya, Mbak?” Kali ini, Arya mengajak Sara untuk ikut dalam perbincangan mereka.
“Pesmol ikan kakap,” jawab Sara .
“Oh, iya. Pesmol. Bikinan ibunya Mbak Sara. Mama coba, deh. Enak banget, Ma. Mbok, tolong ambilin piring buat Mama.”
“Ibunya Sara?,” tanya Widia keheranan. Dia lalu menoleh ke arah Sara yang langsung dibalas senyuman oleh Sara. Kemudian berpindah ke Agam dan piring yang ada di hadapannya. Dia memandangi Agam yang sedang melahap sesendok nasi dengan potongan ikan di atasnya.
“Ibu kamu yang masak?,” tanya Widia sekali lagi. Kali ini pertanyaan itu untuk Sara.
Setelah dipikir lagi, rasanya ini pertama kalinya Mama melihat ke arah aku dan Agam semenjak dia datang tadi.
“I-iya, Ma,” jawab Sara singkat.
Widia melirik sebentar ke arah Agam. Tapi kemudian dikagetkan oleh Mbok Jami yang membawa piring kosong untuknya.
Sara bangkit dari duduknya untuk membantu mengambilkan, tapi ditolak Widia. Semenit kemudian, sepotong ikan sudah berpindah ke piring Widia dan mulai mencicipinya.
Kedua mata Widia langsung terbelalak lebar. Lalu memandangi potongan ikan yang baru saja masuk ke mulutnya.
“Enak, kan?,” tanya Arya dengan senyumnya yang lebar.
Widia menganggukkan kepalanya. “Ibu kamu pintar masak, ya.”
Sara tersenyum lega.
“Kemarin juga ada gulai daging sapi. Hmm .... Enak semua pokoknya, Ma.” Arya kembali memuji.
“Gulai?,” tanya Widia yang lagi-lagi keheranan.
Sara juga tidak paham dengan reaksi Widia yang seperti itu. Entah apa yang membuatnya heran. Meski demikian, Widia masih terus melahap makanan yang ada di meja makan sambil sesekali melirik ke arah Agam yang masih tetap tenang menikmati makan siangnya.
Usaha Widia membujuk Arya untuk pulang ke rumah utama ternyata tidak berhenti begitu saja. Selesai makan siang, Widia masih mengikuti Arya kemana pun pria itu pergi. Terus merengek tanpa henti meski Arya berkali-kali menolak permintaannya itu. Dengan berbagai alasan, Widia terus meminta Arya pulang. Tapi dengan satu alasan saja, Arya menolak untuk ikut.
“Pokoknya Arya mau tinggal di sini. Arya mau tinggal sama Mas Agam,” kata Arya dengan tegas menolak.
“Terus nanti kalau kamu mulai kerja gimana? Siapa yang ngurus kamu? Siapa yang nyiapin makanan kamu, pakaian kamu, kebutuhan kamu?”
“Di US juga semuanya Arya yang siapkan sendiri. Kalau kerja ya tinggal berangkat dari sini. Mobil, sudah ada. Makanan, ada Mbak Sara. Pakaian, ada Mbok Jami. Lain-lain, ada Mas Agam. Semua ada di sini. Dah, ya. Mama pulang saja. Kan di rumah utama juga banyak orangnya. Mama nggak sendirian lah.”
Sara melihat ke arah Agam yang sudah menggerakkan kursi rodanya menaiki tangga. Lalu, kembali pada Widia yang masih terus berusaha membujuk Arya. Hanya Arya yang melongok dari balik Widia menatap Agam yang pergi. Sedangkan Widia sepertinya tidak peduli dengan kepergian Agam, meskipun Arya yang ada di hadapannya tidak berhenti memandangi Agam yang terus bergerak naik.
Apa cuma perasaanku saja atau memang begitu? Ada perbedaan perhatian yang diberikan Widia kepada Agam dan Arya.
......................
Author's Note :
Cuma mau bilang terima kasih buat desainernya NovelToon untuk covernya. Bagus pakai banget banget. Saya syukak! (人 •͈ᴗ•͈)
Terima kasih juga untuk semua yang sudah mendukung novel ini. Yang sudah like, subscribe, komen, terima kasih semuanya. Yang hanya baca saja juga terima kasih banyak sudah mampir. Pokoknya terima kasih semua (っ˘з(˘⌣˘ )
__ADS_1
Salam hangat,
Cygni 💕