Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 32-2 : Hari Terindah (POV Arya & Agam)


__ADS_3

[Arya]


Arya mengajak mamanya untuk bicara di ruang depan. Agar kemarahan Mama tidak terlihat oleh mereka yang ada di teras.


Tapi yang terjadi malah sebaliknya.


“Mama minta maaf, ya. Mama tahu Mama salah. Maafin Mama ya, sayang.”


Syukurlah kalau Mama sudah sadar.


Setiap manusia pasti punya kekhilafan. Begitu juga dengan Mama Arya. Tapi bukan berarti tidak ada kesempatan baginya untuk berubah, kan?


Arya yang melihat ketulusan dari mamanya itu merasa Widia, sang mama sudah benar-benar berubah. Itu artinya keluarganya sudah bisa bersama seperti dulu lagi, kan?


“Kalau Mama sudah menyesalinya ya sudah. Arya juga senang dengarnya,” kata Arya seraya memeluk mamanya itu.


Lega rasanya ...


“Tapi ikut Mama pulang ya, sayang. Mama kangen kamu. Pulang, ya,” pinta Widia.


Arya menghela napasnya. Dia sendiri masih belum punya keinginan untuk pulang ke rumah utama.


“Maafin Arya ya, Ma. Untuk yang ini Arya masih belum bisa.”


Widia langsung melengos kasar, melepaskan pelukannya dari Arya.


“Kenapa sih kamu nggak mau ikut Mama pulang? Kamu kan punya rumahmu sendiri. Ini rumah kakakmu. Apalagi kakakmu sudah menikah. Nggak etis dilihat orang.”


Arya tertawa mendengar alasan mamanya itu. Lucu sekali. Entah bagian yang mana yang menggambarkan ketidaketisan seorang adik tinggal dengan kakaknya yang sudah menikah? Itu fakta atau cuma alasannya Mama saja?


“Ma, Ma ... Mana ada yang seperti itu?” canda Arya.


Widia langsung menatap tajam Arya. “Kamu nggak percaya sama Mama? Mama lebih tahu daripada kamu? Orang Indonesia itu beda sama orang-orang di US, Arya. “


Arya tidak menjawab apapun. Hanya tertawa. Lucu!


Tapi menertawakan Mama terus-terusan seperti ini jelas tidak baik.


Arya membalikkan Widia menghadap sepenuhnya ke arahnya. Dipandanginya wajah mamanya itu dengan penuh keseriusan.


“Arya punya alasan untuk tetap tinggal di sini. Sudah 5 tahun, Arya pergi jauh dari Mas Agam. Saat Arya pergi, Mas Agam baru kecelakaan, kakinya baru lumpuh. Arya yakin Mas Agam berat mengirim Arya ke luar negeri. Tapi harus dilakukannya karena Mas Agam ingin Arya segera kembali memimpin FTC.”

__ADS_1


Sangat menyakitkan saat itu. Aku sebenarnya juga tidak ingin pergi.


“Begitu kembali, Mas Agam tidak hanya lumpuh, tapi juga buta dan tuli. Waktu Arya dengar kabar ini dari Raka, Arya merasa sangat bersalah karena tidak bisa berada di sampingnya. Karena itu, saat-saat seperti ini ... Arya ingin menebus semua yang hilang saat Arya pergi.”


Arya semakin lirih dan semakin lirih. “Arya akan belajar mengenal Mas Agam yang baru, Ma. Dan hanya Mbak Sara yang bisa membantu Arya.”


Widia tidak mengatakan apapun. Dia mungkin juga sulit menemukan susunan kata-kata yang lain yang bisa menyakinkan anaknya itu.


“Ya sudah kalau kamu nggak mau pulang.”


Akhirnya ...


“Tapi Mama minta kamu pulang ke rumah paling tidak seminggu dua, ah nggak, nggak, tiga! Tiga kali! Kalau perlu setiap hari. Kamu paham, Arya?”


“Siap, komandan!”


Akhirnya, senyum di wajah Widia. Arya juga bernapas lega. Akhirnya ...


Masalah Mama sudah teratasi. Sekarang waktunya kita, Mas.


Dengan penuh keyakinan dan rasa percaya diri yang besar bahwa semuanya akan baik-baik saja, Arya kembali ke teras belakang setelah mengantarkan mamanya ke mobil yang akan mengantarkannya kembali.


Rasanya melegakan sekaligus menyenangkan.


Agam terus meringkuk di atas tempat tidurnya, di tempat biasanya dia tidur. Ya di sisi kiri tempat tidur, sementara Sara berada di sisi kanan. Berusaha mengambil posisi seujung mungkin agar Sara tidak lagi-lagi bisa mencapainya.


Sejak gadis itu tidur bersama, sejak itu dia tahu, gaya tidur Sara sungguh merepotkan.


Ada kalanya Agam kaget terbangun karena tangan Sara tiba-tiba mendarat dengan keras di atas kepalanya hingga membuatnya tidak bisa tidur lagi. Tapi ketika dia tahu Sara terbangun, entah mengapa Agam tidak berani mengubah posisinya, membiarkan gadis itu tetap tahu kalau dia masih tertidur.


Lain waktu lagi, entah apa yang dilakukan gadis itu, yang jelas ada rasa geli menggelitik di punggungnya. Dari atas bergerak ke bawah.


Apa yang sedang dilakukannya? Apa dia tidak tahu kalau aku ini seorang pria? Dia sengaja melakukannya atau apa?


Sungguh tidak lucu yang Sara lakukan. Karena bukan hanya Agam yang terbangun, tapi sesuatu yang lain.


Dia pasti sengaja melakukannya, gerutunya terus-menerus saat Sara keluar dari kamarnya. Mau tidak mau, dia ikut terbangun dan menuntaskan semuanya di kamar mandi.


Satu kebiasaan yang dia ketahui dari Sara adalah gadis itu selalu terbangun pada jam yang sama. Entah apa yang dilakukannya pada pagi-pagi begini.


Pada satu malam, Agam mulai mengkhawatirkan Sara.

__ADS_1


Kadang, Sara juga mengigau saat tidur. Tapi, malam ini entah dia sedang bermimpi apa, Sara terus merintih.


“Sara, Sara ...,” panggil Agam berulang-ulang. Tapi Sara tidak terbangun. Dia masih terus memanggil seseorang dalam tidurnya.


“Maafkan Sara, Bu. Maafkan Sara ...”


Dia masih merasa bersalah pada ibunya.


Tapi, perasaan bersalah itu juga Agam ikut andil di dalamnya. Agam merasa punya tanggung jawab untuk menenangkannya.


Dirabanya atas tempat tidurnya, mencari sosok Sara yang masih merintih dalam tidurnya. Yang ditemukan pertama kalinya adalah puncak kepala Sara. Dia menyentuh helai lembut surai Sara.


Dia berkeringat.


Diusapnya lembut kening Sara, menghapus bulir-bulir air yang membasahi keningnya itu. Ajaibnya, rintihan Sara tidak lagi terdengar. Ajaib memang.


Agam yakin Sara sudah mulai tenang dalam tidurnya.


Tapi ternyata tidak.


Tiba-tiba saja, Sara bergerak dan sedetik kemudian gadis itu sudah memeluknya. Lengan gadis itu sudah mengalungi pinggangnya.


Ya Allah ...


Semakin erat pelukan Sara, semakin tenang tidurnya. Tapi, semakin keras dentuman jantung Agam. Semakin kencang aroma yang masuk ke dalam hidungnya. Aroma citrus-musk-vanilla.


Tapi kini ada satu aroma baru. Aroma yang keluar yang Agam yakin dari surai milik Sara.


Didekatkannya hidung Agam mendekati Sara. Aroma stroberi.


Ya Allah ...


Menolak pun tak akan bisa. Semua hal tentang Sara kini ada di depannya hidungnya. Semua tercium, semua tergambar jelas dalam pandangannya yang gelap.


Tidak tahu harus kemana, tangan Agam kini bergerak menyentuh rambut Sara yang lembut. Rasa ragunya membuatnya menarik tangannya kembali. Tapi rasa inginnya yang besar mendorongnya kembali.


Pelan-pelan, dibelainya lembut rambut Sara itu. Terlalu lembut hingga dia menikmatinya. Terlalu nyaman mungkin hingga Sara kembali mengeratkan pelukannya.


Tidak punya pilihan lain lagi. Atau memang itu yang diharapkannya. Sepanjang malam itu, Agam biarkan Sara melakukan apa yang diinginkannya. Mungkin juga Agam sendiri menikmatinya.


Keesokkan paginya, saat Sara sudah keluar dari kamarnya – seperti biasa –, Agam menghubungi Arya.

__ADS_1


“Mas bisa minta tolong?,” tanya Agam ketika adiknya itu menjawab dengan nada kantuk yang sulit ditahan. “Ini untuk Sara.”


“Siap, komandan!,” seru Arya dari balik teleponnya yang tiba-tiba saja terdengar penuh semangat.


__ADS_2