Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 30-2 : Obrolan Sore Hari (POV Agam)


__ADS_3

[Agam]


“Nanti sore, aku ajak Arya ke teras buat temani Mas, ya?,” kata Sara siang tadi saat datang ke ruang kerjanya untuk menyerahkan pekerjaannya. Permintaan yang tumben dilakukan Sara. Biasanya Sara tidak terlalu mempedulikan apa yang dilakukan Agam di teras. Buktinya dia tidak pernah menemaniku tiap sore.


“Dari kemarin Arya ingin sekali ngobrol sama Mas. Tapi aku yang minta Arya tahan dulu sampai kalian benar-benar tenang,” katanya lagi.


Oh, soal itu ...


Dan disinilah Arya pada akhirnya. Sedang duduk di sebelahnya. Agam sempat mendengar gesekan kaki kursi dan lantai di sampingnya. Sepertinya Arya memindahkannya agar bisa berdekatan dengan Agam.


“Jadi kamu masih main (game)?,” tanya Agam membuka obrolan mereka terlebih dahulu.


“Hmm ... Kadang-kadang.”


“Aku dengar di US kamu masih sempat main bersama beberapa anak remaja di sana.”


Itu yang dilaporkan Raka ...


“Hanya latihan kecil-kecilan. Skill mereka bagus, jadi aku bantu asah sedikit, hehe ...,” jawab Arya diselingi tawa kecilnya.


“Kamu tidak ingin main lagi? Seperti dulu. Kita bisa cari lagi timnya yang bisa cocok dengan gaya bermainmu. Sekarang E-sport (*) semakin diakui. Kamu dan timmu bisa fokus ke kejuaraan manapun. Perusahaan yang akan jadi sponsor kalian.”


“Nggak, Mas. Umurku sudah terlalu tua untuk itu,” tolak Arya dengan halus. Tawa kecilnya juga ikut menyertai.


“Kamu baru 24 tahun. Banyak pemain lain yang lebih tua dari kamu.”


Arya tertawa lagi. Kali ini lebih keras dari yang tadi.


“Kalau kamu khawatir tentang perusahaan, kamu bisa minta tolong Raka. Nanti biar aku cari asisten lain. Aku juga nanti ikut bantu, seperti biasanya,” tawar Agam lagi.


“Nggak, Mas. Mas sudah cukup bekerja keras selama ini. Dengan kondisi Mas yang seperti itu. Aku seharusnya jangan merepotkan Mas lagi.” Suara Arya semakin lama semakin lirih.


Dia kembali berkata, “Waktu aku dikabari Mas sakit, aku sudah pengen balik ke Indonesia. Aku pengen secepatnya balik, supaya aku bisa bantu Mas. Supaya Mas nggak perlu khawatir lagi tentang pekerjaan. Meskipun aku nggak sampai lulus, tapi aku percaya aku masih bisa mengatasinya dengan ilmu yang aku dapat selama itu.”


“Kadang aku hanya ingin kalian hidup tanpa beban apapun, apalagi untuk perusahaan,” ucap Agam yang tak kalah lirihnya.


“Karena itu, Mas. Aku sekarang sudah siap. Aku akan bantu Mas setelah ini. Seperti pesan Papa. Kita harus saling bekerja sama. Perusahaan akan kita tangani bersama,” Arya mengatakannya dengan penuh percaya diri.


“Mas cuma ingin kamu tahu, Mas tidak ...”


Arya langsung memotongnya. “Aku tahu, Mas. Aku tahu,” ucapnya lirih. “Kalaupun iya, aku juga nggak keberatan. Kita saudara, Mas. Perusahaan itu milik keluarga kita. Dan Mas adalah keluargaku.”


Kali ini mereka terdiam. Tidak ada dari mereka yang bersuara. Hanya angin yang bertiup sepoi-sepoi yang membawa keharuman khas rerumputan kala sore hari.


“Kenapa Mas tiba-tiba pindah rumah?,” tanya Arya memutuskan keheningan di antara mereka. “Apa ... karena Mama?”


Agam terdiam. Tidak tahu harus menjawab apa.


Arya juga tidak mendesaknya untuk menjawab. Dia malah bertanya kembali, “Apa Mas membenci Mama?”


Agam kembali diam. Tapi kali ini dia menjawabnya setelah beberapa saat.

__ADS_1


“Aku ... menyayangi Mama seperti kamu menyayanginya.” Agam mengatakannya dengan lirih. “Aku tidak tahu ... apakah aku membencinya atau ...”


Ucapan Agam menggantung begitu saja tanpa ada kelanjutannya.


“Atau apa?


“Atau ... aku hanya marah ... pada diriku sendiri.”


Yang aku tahu hanyalah, aku tidak akan pernah bisa membencinya. Semarah apapun aku.


“Aahh ... Tapi berita Mas menikah adalah yang paling sulit aku percaya. Mas Agam menikah? Aku nggak pernah lihat Mas tertarik sama cewek. Sekarang menikah? Mas tahu? Aku sampai telepon Raka, nanya dia berkali-kali. Aku suruh dia bersumpah segala. Terus telepon si playboy gila itu. Semua bilang benar. Aargg!!! Rasanya sulit dipercaya. Mas Agam menikah?!?” Arya tiba-tiba saja sudah mengganti topik pembicaraan mereka.


Agam hanya tersenyum. Sampai hari ini, dia sendiri juga masih sulit percaya kalau dia akan menyetujui ide dua orang itu. Ide gila.


Tapi, memilih Sara rasanya tidak segila itu.


“Mas kenal Mbak Sara dimana? Siapa yang kenalin? Mbak Sara cantik lho, Mas. Waahh ... Mas beruntung banget bisa dapat istri secantik itu. Sudah cantik, pinter masak, penyayang lagi. Mas tahu? Mbak Sara waktu nyelamatin Milo, keren banget, Mas!”


Agam tersenyum bangga. Rasa-rasanya musim langsung berganti musim semi. Bunga bermekaran dimana-mana.


“Aku juga ah mau cari istri yang kayak Mbak Sara.”


Seketika itu juga, bunga-bunga menjadi layu. Agam langsung kesal. “Pulang sana!”


“Nggak mau, ah! Aku kan masih mau lihat Mbak Sara.”


“Pulang ke rumah utama sana! Jangan ganggu istri orang!”


Arya langsung tertawa terbahak-bahak. Suaranya bahkan menggema di teras.


Arya yang sedari tadi mengoceh tidak menyadari tangan Agam sudah mulai bergerak mencari sosok Arya, lalu memiting kepala Arya dengan lengan kokohnya.


Belum cukup dengan itu, tangan Agam yang lain dikepalkan lalu menekan puncak kepala Arya dengan tulang jarinya. Jelas saja, Arya langsung mengerang kesakitan.


“Pulang sana! Jangan bikin repot istri orang!”


“Hahaha ... Nggak mau! Aduh, Mas! Sakit!”


Entah sudah berapa lama Agam tidak bercanda seperti ini dengan adiknya itu. Dulu, sebelum kecelakaan itu terjadi, mereka sering bercanda seperti itu. Saling gelut, saling ganggu, semua terasa begitu wajar dilakukan.


Tapi sejak kecelakaan itu, dan Arya harus ke Amerika untuk pendidikannya, semua mendadak menjadi begitu sepi. Hanya Ava yang bisa menemaninya waktu itu. Tetap saja, ada yang hilang sejak Arya pergi.


Semua terasa seperti mimpi saat ini. Agam baru menyadari kedatangan kembali adiknya itu adalah yang dia tunggu selama ini. Kekacauan dalam hidupnya yang membuatnya lupa, pada dasarnya dia tidak pernah sendiri.


Mungkin setelah ini keadaan akan menjadi lebih baik, begitu harapan Agam saat ini.


Extra Part :


[Arya]


“Yes, yes, yes! Menang lagi, Kak! Menang!!!,” seru Evan yang kegirangan setelah dia menang tujuh kali berturut-turut. Kemenangan yang sulit dia lakukan selama ini katanya.

__ADS_1


Padahal Arya hanya mengajarnya beberapa hal dasar dan tips-tips penting yang harus diingatnya, tapi memang dasar bocah itu sangat cerdas, dia bisa mengingat semuanya, dan langsung mempraktekkannya.


Tidak tanggung-tanggung, Arya membiarkannya bermain dengan karakter miliknya. Evan sempat gemetar karena dipaksa Arya menggunakan miliknya. Kemenangan pertama, Evan masih cemas. Kemenangan kedua, kekhawatiran semakin surut. Dan kemenangan-kemenangan lainnya, dia semakin percaya diri.


“Besok main lagi ya, Kak,” serunya lagi yang kini malah sudah tidak canggung lagi mengajaknya bermain.


Arya menyeringai. “Boleh. Besok kita main bareng. Kamu pakai punya kamu, Kakak pakai punya kakak. Kita hajar semua!”


“B-beneran, Kak? B-boleh?”


“Ya boleh. Kenapa nggak?”


Evan langsung berselebrasi mengelilingi kamar Arya, seperti pemain bola yang baru saja mencetak gol emasnya. Arya hanya tertawa melihat tingkah bocah itu.


Evan mungkin sudah sangat terbiasa berada di rumah Agam, dia bahkan tidak canggung atau sungkan tidur di tempat tidur Arya ketika dia lelah berteriak.


Namanya juga anak-anak.


“Kak, kenapa berhenti main? Padahal kalau Kakak main terus, Evan yakin Kakak pasti akan jadi Top Global (**),” kata Evan saat sedang berbaring. Dia melipat kedua tangannya di belakang kepalanya sambil menatap langit-langit kamar.


Kayak orang dewasa saja.


Arya ikut berbaring di samping bocah itu. Lalu menghela napasnya.


“Mimpi Kakak dulu adalah bisa bermain bersama idola Kakak di pertandingan nasional. Dan karena itu sudah terwujud, jadi sekarang Kakak punya mimpi yang baru. Kakak mau mewujudkannya,” jawab Arya yang juga menatap langit-langit kamarnya.


“Siapa idola Kakak?”


“Lord Rigel.”


Evan sontak terbangun. Dia terduduk di samping Arya yang masih terbaring. “Di mana Lord Rigel sekarang, Kak? Kakakku pernah kasih lihat rekaman permainannya. Keren banget, Kak!”


Ah, benar juga. Itu kan sudah lama. Tidak seperti sekarang yang banyak menebar foto di mana-mana. Apalagi dulu mana mau difoto-foto gitu.


Arya membangkitkan setengah badannya menghadap Evan yang masih terduduk. Kepalanya disandarkan pada telapak tangannya. Dia tersenyum bangga setelahnya.


“Kamu mau tahu siapa Lord Rigel?”


Evan langsung menganggukkan kepalanya berulang-ulang.


“Lord Rigel itu ...” Arya mendekatkan dirinya pada Evan dan berbisik di telinga bocah itu.


Ketika, Arya menjauh, Evan terdiam. Kedua matanya terus berkedip. Mulutnya langsung menganga tanpa bisa ditutup kembali.


Sementara Arya menunjukkan senyum seringainya seraya menaikturunkan alis matanya, kedua mata Evan sekarang perlahan terbuka lebar dan semakin terbelalak. Anak itu menarik napasnya dalam-dalam hingga mengeluarkan suara tarikan.


Dalam napas yang tertahan, Evan berkata dengan suara tertahannya, “Lord Rigel nggak mungkin Om Agam?!”


......................


Author’s Note :

__ADS_1


(*) E-sport adalah suatu istilah untuk kompetisi permainan video pemain jamak, umumnya antara para pemain profesional. Aliran permainan video yang biasanya dihubungkan dengan olahraga elektronik adalah aliran strategi waktu-nyata, perkelahian, tembak-menembak orang-pertama, dan arena pertarungan daring multipemain. Turnamen seperti The International Dota 2 Championships, League of Legends World Championship, Battle.net World Championship Series, Evolution Championship Series, Intel Extreme Masters, menampilkan siaran langsung serta hadiah tunai pada para pemainnya. (Wikipedia)


(**) Top Global adalah peringkat atas seluruh pemain dari seluruh dunia. Setiap game pasti memiliki peringkatnya sendiri-sendiri.


__ADS_2