
[Agam]
Kenapa Sara belum kembali?
Perasaan Agam sudah tidak nyaman. Meski sedang berbicara dengan tamu undangan lainnya, hatinya tidak tenang. Dia terus memikirkan apa yang sedang terjadi pada Sara hingga membuat istrinya itu begitu lama di toilet.
Apa terjadi sesuatu? Apa dia jatuh lagi seperti tadi?
Agam khawatir. Segera dia bangkit dari tempat duduknya, lalu memohon undur diri dengan teman semejanya yang juga menjadi teman ngobrolnya sedari tadi.
Rencana awalnya, dia akan mencari Sara di toilet. Setelah bertanya pada pegawai hotel, dia langsung menuju ke sana.
Tapi, begitu akan melewati pintu yang mengarahkannya keluar dari ballroom, Agam melihat sosok seseorang dengan gaun warna salem seperti yang dikenakan Ava tadi.
“Mas! Sara ... Sara ...”
Ava terdengar panik. Dia menunjuk ke arah di mana ada banyak orang sedang berkurumun di sana.
Tanpa banyak bertanya lagi, Agam pergi ke arah yang ditunjuk Ava itu.
Semakin dekat, perasaannya semakin tidak nyaman, langkahnya semakin cepat. Tapi dengan kondisi kakinya yang tidak bisa melangkah dengan sempurna tetap saja rasanya begitu lambat meski dia hampir berlari.
“Permisi ... Permisi ...”
Kerumunan orang semakin menyulitkannya untuk bergerak maju. Melihat banyaknya orang yang berkerumun semakin menegaskan bahwa telah terjadi sesuatu di sana, semakin keras jantung Agam berdetak karena perasaan tak nyamannya.
Ketika dia berhasil menerobos kerumunan terakhir dari orang-orang itu, Agam langsung menandai sosok seseorang yang sedang berdiri di anak tangga baris kesekian sebagai istrinya.
Tapi, yang terjadi kemudian adalah sosok itu kemudian lunglai dan roboh ke bawah, seperti sehelai bulu angsa yang melambai turun.
“Sara!!!”
Agam segera berlari menuruni tangga menghampiri sang istri yang sedang dipegangi oleh pria berpakaian serba hitam.
“Dia istri saya.”
Dan pria yang ternyata adalah petugas keamanan hotel membiarkannya mendekati Sara.
Agam menyentuh lembut wajah Sara, menepuknya pelan untuk membangunkannya. Tapi, Sara tidak juga sadar.
“Agam, apa Sara hamil? Dia pendarahan.”
__ADS_1
Agam langsung menengadahkan kepalanya. Dia baru sadar ada Widia di sana. Tapi bukan itu yang seketika tertancap di kepalanya hingga membuat sesak dadanya.
Hamil?
Widia menunjuk kaki Sara yang dapat terlihat dengan jelas sesuatu berwarna merah ada di hampir seluruh kakinya.
“Mas!”
Arya terlihat menuruni tangga menghampiri mereka yang saat ini sedang panik.
Begitu mengamati kondisi Sara, Arya berkata, “Aku bantu gendong Mbak Sara. Kita bawa ke rumah sakit sekarang.”
Agam mengangguk dengan cepat. Dia tidak memberikan ruang di kepalanya untuk memikirkan hal lain selain keselamatan Sara saat ini.
Seorang pria lainnya yang memperkenalkan dirinya sebagai manajer hotel mengatakan bahwa mereka sudah menyiapkan ambulans. Arya pun dengan sigap bergerak membawa Sara ke ambulans mengikuti arahan para pegawai yang bertugas.
Perjalanan menuju rumah sakit bukanlah perjalanan yang singkat, terutama jika rasa hati tidak tenang memandangi orang yang kita cintai sedang terbaring tak berdaya. Seperti perjalanan menuju ke neraka rasanya. Dan itu yang dirasakan Agam selama perjalanannya.
Yang lain mengikuti ambulans dengan mobil mereka. Sementara Agam memutuskan untuk ikut bersama Sara dalam ambulans. Meski dia sendiri tidak dapat memegangi tangannya – karena petugas medis yang sibuk memberikan penanganan – seperti yang biasanya dia lakukan setiap kali Sara sakit.
Bertahanlah, Sara! Aku mohon ...
“Janin?”
“Kemungkinan usia kandungannya sudah lebih dari 2 minggu. Kita harus melakukan sesuatu, Pak. Saya hanya bisa menyarankan untuk segera melakukan kuretase.”
“Lakukan. Selamatkan istri saya.”
Lemas. Itu yang terjadi saat dokter mengatakan ada janin dalam tubuh Sara.
Tidak percaya pada awalnya. Mungkin salah orang, begitu pikirnya. Tapi tidak, dokter itulah yang menangani Sara.
Karena itu, dia lemas tadi sore. Karena itu, dia resah saat tidur beberapa hari terakhir ini. Seharusnya aku menyadarinya. Seharusnya aku tahu itu. Aku suaminya.
Agam terus menyalahkan dirinya. Dia menyembunyikan wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Agam sungguh menyesali kebodohannya sebagai seorang suami.
“Mas ...”
Arya datang duduk di sebelahnya. Mungkin dia juga mendengar apa kata dokter.
Tapi Agam masih belum bisa melepaskan kesedihannya.
__ADS_1
Sebuah sentuhan lembut terasa di bahunya. Tepukan dan usapan pelan bergerak searah di atasnya. Dari aroma parfum yang tercium olehnya, dia tahu itu Widia, sang ibu tiri yang sedang berada di dekatnya saat ini.
Agam teringat perkataan Widia saat dia menemukan Sara.
#
“Agam, apa Sara hamil? Dia pendarahan.”
#
Mama tahu Sara hamil. Mungkin pendarahan itu akhirnya Mama berkesimpulan begitu.
Tapi ... kenapa Sara bersama Mama? Mengapa Mama ada di sana? Dan lagi, kenapa Sara ada di sana?
Agam mengangkat wajahnya memandangi Widia yang menatapnya sayu.
Dengan nadanya yang pelan, Agam bertanya, “Kenapa Sara ada di sana?”
Widia berhenti menepuk bahu Agam. Dia menatap Agam dengan keningnya yang berkerut karena ketidakpahamannya.
“Sara pamit dia akan ke toilet. Kenapa tiba-tiba ada di sana sama Mama?”
“Mas ...” Arya juga sama tidak pahamnya. Tapi dia masih berusaha menenangkan Agam yang terlihat sedikit emosi.
Ava kemudian mendekati Widia dan memeganginya, dia juga sama, tidak mengerti arah pembicaraan Agam.
“Kamu curiga Mama yang melukai Sara?" Widia akhirnya buka suara. Dia mulai memahami maksud Agam.
“Siapa lagi? Aku tahu Sara. Dia tidak akan menemui Mama kalau bukan Mama yang memanggilnya,” timpal Agam.
“Mas!,” teriak Ava membela sang Mama. “Ini bukan salah Mama. Sara sendiri ...”
“Jangan ikut campur, Ava!,” bentak Agam dengan sangat keras. Bahkan suaranya menggema di lorong rumah sakit tempat mereka menunggu di ruang tunggu IGD. Beruntungnya, tidak ada orang lain selain mereka.
“Sudah aku katakan, aku tidak akan diam jika Mama menyakiti Sara lagi. Aku tidak akan memaafkannya!!”
Teriakan terakhir dari Agam bersamaan dengan keluarnya seorang perawat dari ruangan tempat yang sama yang tadi dokter masuki.
“Sebentar lagi pasien akan dipindahkan ke kamar rawat. Dokter minta pasien dirawat inap dulu sehari atau dua hari untuk pemantauan. Mohon Bapak menunggu di dalam supaya nanti bisa langsung bersama-sama ke kamar rawat lewat pintu yang di dalam. “
Agam mengabaikan Widia dan yang lainnya begitu saja. Dia ikuti perawat tadi masuk ke dalam dan meninggalkan yang lainnya di sana tanpa banyak kata.
__ADS_1