
[Sara]
Nggak ada!! Nggak di mana-mana!! Terus di mana dong?!
Sara dari tadi sudah panik memikirkan cincinnya yang hilang. Cincin pemberian Vian sebelum mantan kekasihnya itu berangkat ke Melbourne selalu dipakainya hingga hari pernikahannya dengan Agam. Cincin yang semalam hilang entah ke mana terjatuh di kamar Agam, dan dia tidak dapat menemukannya bahkan saat dia kembali ke kamar Agam pagi tadi.
Ya, Sara kembali ke kamar Agam tadi pagi, mencarinya sekali lagi di saat pria itu sudah keluar dari kamarnya. Sebuah kebetulan yang menguntungkan sebenarnya, karena password kamarnya masih sama saat terakhir kali dia masuk ke sana.
Meskipun dengan semua kemudahan itu, cincinnya tetap tidak ada. Sara menyerah. Dia kini hanya bisa berharap saat Mbok Jami diperintahkan untuk membersihkan kamar Agam.
Tapi, kapan? Entahlah. Yang pasti dia berharap, Agam tidak tahu untuk saat ini.
Drrtt ...
Dari Ibu ternyata.
Hari ini adalah jadwal cuci darah Ibu. Tapi Sara sengaja untuk hari ini tidak datang ke rumah sakit, karena takut Mbok Jami masih belum bisa kembali, meski pun dia bilang akan kembali hari ini. Tapi yang namanya orang sakit, siapa yang bisa merencanakan?
Karena itu, dia menelpon untuk memberitahu Ibu soal ini semalam setelah semua huru-hara yang dibuat Agam.
Tapi, yang terjadi sekarang malah sebaliknya.
“Ibu lagi di perjalanan mau ke rumahmu. Ini minta tolong supir buat anterin.”
“Kak Sarraaa ...”
“Huss ... Tante Sara ...”
Itu suara Nisa. Dan, Mbak Mina!
“I-ibu ngapain ke sini? Kenapa nggak pulang istirahat saja?,” kata Sara yang sebenarnya sedang memberikan alasan untuk menolak.
“Ibu memang punya rencana mau ke sana sama kamu. Tapi karena kamu ndak datang hari ini, ya sudah Ibu minta tolong supir. Oh iya, Agam suka tim ikan ndak? Ini Ibu ada bawakan tim ikan patin. Ibu takut suamimu ndak suka yang pedas-pedas, jadi Ibu tim saja tadi pagi.”
Cobaan apa lagi ini, ya Allah??
“Ya sudah, nanti saja di rumah, ya. Ini Nisa dari tadi seneng banget di mobil.”
Dan panggilan pun berakhir.
Sara tidak punya pilihan lain, selain ... membicarakan ini dengan Agam. Dan pria itu pasti masih di ruang kerjanya.
“Ada apa?,” tanya Agam dengan suara kerasnya. Agam pasti terkejut karena Sara mengetuk pintu lalu membukanya tanpa menunggu perintah Agam untuk masuk.
Sara sudah tidak sabar lagi. Dia sudah terlalu panik memikirkan Ibu yang akan datang ke rumah ini.
“I-ibu ... mau k-kesini,” jawab Sara dalam napasnya yang hampir putus setelah berlari tadi.
“Iya, aku sudah tahu. Supir bilang mereka dalam perjalanan ke mari,” jawab Agam singkat. Tapi cukup membuat dada Sara sesak.
Kok bisa dia sesantai itu?
Sara langsung mendekati meja kerja Agam dan berdiri di sana. Berhadapan dengan Agam dan mulai mengatakan isi kepalanya.
“Aku m-minta tolong, Mas. Ibu b-bawa makanan untuk Mas. Aku tau Mas nggak mau makanan lain selain yang dimasak Mbok Jami. Tapi tolong jangan tolak Ibu, ya. Aku nanti yang akan cari alasan supaya Mas nggak perlu memakannya. Tolong ya, Mas,” pinta Sara yang terdengar memelas.
Agam menjawab dengan menganggukkan kepalanya.
“Dan ... aku minta maaf. Hari ini mungkin agak sedikit berisik. Karena Ibu juga datang bareng Nisa,” lanjut Sara lagi yang lagi-lagi dijawab dengan anggukan.
“Nanti kalau Mas nggak mau di bawah lebih lama, bilang saja. Nanti aku anterin, atau ... atau ... aku bilang ke Ibu kalau Mas mau kerja. Ya, Mas ya?”
Setiap permintaan Sara dijawab dengan anggukan tanpa sepatah kata pun. Tapi itu sudah cukup melegakan hatinya meskipun belum sepenuhnya. Karena ujian sebenarnya adalah saat badai itu datang.
__ADS_1
......................
“Tante Saraaaaa ...”
Panggilan Nisa begitu kerasnya begitu gadis kecil itu turun dari mobil. Dia langsung berlari ke arah Sara yang sudah menunggu di depan pagar rumah sejak telepon dari Ibu yang mengatakan kalau mereka hampir sampai. Nisa langsung memeluk Sara hingga membuat Sara menggendongnya.
“Nisa dimarahin mama karena manggil Kak Sara,” bisik gadis itu di telinga Sara yang mengundang tawanya.
“Kok Nisa ikut? Memangnya nggak sekolah? Bolos yaa?,” tanya Sara saat memeluknya. Nisa masih di jenjang PAUD. Sara tahu sekolah Nisa hanya 3 kali seminggu. Dia memang suka menggoda gadis kecil itu.
“Kan sekolahnya libur. Mas Nino yang nggak libur.”
Begitu melihat Ibu bersama Mbak Mina yang turun dari mobil, Sara langsung menurunkan Nisa dari gendongannya dan menghampiri Ibu untuk memberikan salamnya.
“Gimana kabarmu? Sehat?,” tanya Ibu saat memeluk Sara.
“Sehat, Bu. Ibu gimana? Enakan?”
“Sehat, kok. Sehat. Agam ke mana? Kerja, ya?,” tanya Ibu lagi setelah tidak melihat Agam bersama Sara.
“I-iya, Bu. Mas Agam lagi di atas. Ada kerjaan yang belum selesai. Nanti kalau sudah selesai biasanya turun kok, Bu.” Sara mulai beralasan.
Tidak menunggu lebih lama lagi. Sara langsung memapah Ibu masuk ke dalam rumah. Dengan dibantu Mbak Mina yang membawa barang bawaan Ibu. Mereka yang sedari tadi sudah terpesona dengan kemegahan rumah Agam, pada akhirnya memasuki rumah bersama Sara.
Sara dan Ibu sedang membongkar sekantong tas belanja yang biasa dibawa Ibu ke minimarket. Tim ikan patin sudah berhasil dikeluarkan dari sana, dan wangi kelezatannya sudah melimpah ruah memenuhi ruang makan begitu dikeluarkan. Mbok Jami sampai ikut merayu Ibu agar diberitahu resepnya. Tentu saja Ibu akan memberikannya.
“Ibu ndak tahu kesukaan suamimu. Ini Ibu bawakan juga ayam goreng serundeng. Yang kemarin gimana? Suka?”
Lidah Sara mendadak menjadi kelu. Ayamnya Sara berikan pada Pak Pardi agar dibagikan sebelum insiden dengan Agam dan mamanya. Mana mau Agam memakannya.
“S-suka ...,” jawabnya singkat tapi juga berbohong.
Semoga Ibu tidak bertanya apa pun ke Agam, doanya dalam hati.
Sara langsung berbalik mencari asal suara yang ternyata adalah Agam.
“Waalaikumsalam, Nak Agam.”
“Sara, bisa ke mari sebentar?,” panggil Agam yang malah membuat Sara keheranan.
Tapi Sara tetap melakukannya.
“Ada apa, Mas?,” tanya Sara yang membungkuk dan berbisik di depan Agam.
Tapi pria itu malah menengadahkan tangan kanannya di hadapan Sara. Yang dilakukan Sara adalah menatapnya dengan bingung.
“Berikan tanganmu,” kata Agam lagi.
Kedua mata Sara mengerjap berkali-kali. Meski tak biasanya Agam begini, tapi Sara tetap meletakkan tangannya di atas telapak tangan Agam yang terbuka.
Agam kemudian memutar telapak tangan Sara hingga menghadap ke atas, lalu menuliskan sesuatu dengan jari telunjuknya.
Aahh ... dia mau berisyarat, batin Sara yang akhirnya sekarang memahami maksud Agam.
“Tolong antarkan aku ke Ibu,” pinta Agam dalam isyaratnya. “Aku ingin menyapa Ibu.”
Hatinya langsung terasa hangat. Trenyuh melihat Agam mau melakukan itu, meski sebenarnya dia bisa saja tidak melakukannya. Dan terlebih lagi, pada kondisi di mana Agam memiliki gangguan pada dirinya sendiri.
Sara kemudian mengepalkan telapak tangan kanan Agam, lalu mengeluarkan ibu jarinya dan jari kelingkingnya. Artinya, iya.
Perlahan, Sara mendorong kursi roda Agam yang sudah beralih ke manual. Begitu jarak di antara mereka sudah cukup, Sara memanggil Ibu yang kemudian berbalik menghadap Agam dengan senyumnya yang khas. Sara kemudian menggenggam tangan Agam, lalu menuntunnya pada tangan Ibu.
Ibu yang memahami maksud Sara, dengan cepat menyambut tangan menantunya itu.
__ADS_1
“Bagaimana kabar Nak Agam?,” tanya Ibu saat memeluk Agam begitu selesai menciumi punggung tangannya.
Sara terkejut bukan main ketika Ibu melakukan itu. Tapi, terlambat untuk menghalanginya. Meski demikian, tidak terlihat tanda-tanda kemarahan Agam setelahnya. Sedikit tenang, tapi juga was-was.
Jangan sampai ada kedua kalinya, Sara, batinnya.
“Baik, Bu. Ibu bagaimana? Dokter bilang kondisi Ibu stabil akhir-akhir ini. Hanya berpesan kalau tensi Ibu yang perlu dipantau. Apa Ibu sedang banyak pikiran?”
Lagi. Sara dibuat terkejut lagi. Dia memantaunya selama ini.
“Ndak ada kok, Nak. Ibu hanya kurang tidur akhir-akhir ini. Ndak tahu kenapa jadi susah tidur,” kata Ibu menjelaskan.
“Kok Ibu nggak pernah cerita ke Sara?”
“Ibu ndak mau bikin kalian khawatir. Tapi ini suamimu malah sudah tahu duluan,” kata Ibu seraya tertawa di sela-selanya.
“Kok Mas juga nggak pernah cerita?,” protes Sara pada suaminya tanpa dia sadari karena rasa kesalnya pada Ibu.
“Sama seperti Ibu. Takut kamu kepikiran,” jawabnya. Lalu kemudian, berkata pada Ibu, “Nanti Agam beri tahu dokter soal ini.”
Ibu kemudian memanggil Nisa untuk memberi salam pada Agam.
“Kamu pasti Nisa, ya?,” tanya Agam saat Nisa menciumi punggung tangannya.
“Iya, Om,” jawab Nisa.
“Kata Tante Sara, Nisa suka donat, ya?”
Sara langsung mendelik, meski Nisa sendiri sangat bersemangat menjawab pertanyaan Agam.
Aku nggak pernah bilang begitu. Tapi pertanyaannya, dari mana dia tahu?
“Bentar lagi ada yang datang bawa donat. Nanti bawa pulang juga untuk Mas Nino, ya.”
Nisa langsung saja bersorak, tapi kemudian ditegur oleh Mbak Mina karena lupa berterima kasih.
Hari ini, Agam memberinya banyak kejutan. Bukan tidak menyukainya, Sara bahkan sesekali mengulum senyumnya tanpa dia sadari. Hanya saja, terlalu banyak kejutan juga tidak baik untuk jantung. Terkejut berkali-kali dibarengi dengan rasa bahagia hanya akan membuat jantung bekerja lebih cepat dari biasanya.
......................
Tugas Sara baru dimulai saat jam makan siang. Ibu Sara sudah sibuk menyiapkan makan siang di atas meja makan dengan dibantu oleh Mbok Jami dan Mbak Mina. Sedangkan Nisa dan Agam sudah siap di bangkunya masing-masing di depan meja makan.
Sara menelan salivanya bersamaan dengan titahnya pada otak di kepalanya untuk bekerja mencari alasan. Saat itu, dia tengah melihat Ibu sedang mengupasi ikan dari durinya dengan sendok di tangannya. Sesekali dengan tangannya yang sudah dicuci bersih sebelum membedah ikan, Ibu mencabuti duri yang terlihat. Lalu kemudian, menyendokinya untuk dipindahkan ke piring makan yang ada di depannya. Sara yakin itu untuk Agam.
“Ini namanya tim ikan patin. Bentar ya, Ibu pisahkan dulu durinya. Kalau ikan ini durinya besar-besar. Ndak seperti ikan bandeng. Dagingnya juga lembut. Jadi, enak bisa langsung dikunyah nanti,” kata Ibu yang tangannya tidak berhenti bekerja.
Mbok Jami sudah berdiri di sana dengan tatapan yang cemas melihat Ibu. Apa yang dipikirkan Mbok Jami dari Sara adalah sama.
Sama Mamanya saja, Agam menolak. Apalagi sama Ibu.
“Bu, sini biar Sara yang siapkan untuk Mas Agam. Ibu makan saja dulu. Mas Agam makan siang masih jam setengah duaan nanti. Kalau sekarang Mas Agam masih mau ke atas dulu. Biasanya ada meeting online di atas. Ini Sara mau antar ke sana. Ibu tunggu sini dulu, ya.” Sara terus beralasan.
Untungnya, Ibu tidak sesulit Widia. Jika Sara sudah berkata demikian, Ibu tidak akan membantahnya.
Tapi, Agam justru punya pendapat yang berbeda.
“Meetingnya sudah selesai tadi. Sekarang aku lapar. Bisa tolong berikan aku ikannya? Aku juga ingin mencicipi,” kata Agam tanpa beban sama sekali.
KLING, KLANG!
Sendok di tangan Sara meluncur dengan lancar dari tangannya hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras di ruang makan. Mulut Sara sendiri terus menganga saat dia menatap Agam dengan penuh keheranan.
Manis sekali dia dari tadi. Tapi ini kenapa tiba-tiba menolak bekerja sama?
__ADS_1