Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Extra Part 4


__ADS_3

[Sara]


“Dik Sara?”


Sara sedang menikmati siang hari nan teduh karena cuaca tang cukup sejuk siang itu di taman kecil dekat danau yang ada di depan rumah saat dia mendengar satu suara yang sudah lama tidak dia dengar.


“Ci Linda ...,” sapa Sara yang langsung disambut dengan pelukan. “Apa kabar?”


“Astaga, baik, baik. Kamu gimana? Sudah lama ya kita nggak ketemu?,” kata Ci Linda yang sama halnya dengan Sara, terharu karena pertemuan mereka itu. Terutama jika mengingat bagaimana menyakitkannya pertemuan mereka yang terakhir kalinya.


#


“Dia tidak bersalah, Pak. Saya juga ada di sana,” teriak Ci Linda yang suaranya terdengar hingga ke tempat Sara berada.


Tapi, tidak ada seorang pun yang mau mendengarkannya. Bahkan salah satu polisi masuk ke ruangan dengan menggerutu.


“Dari tadi teriak mulu. Pusing dengernya!”


“Siapa, sih?”


Keduanya saling pandang-pandangan dan memberi isyarat dengan mata mereka.


Sara tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Yang lebih dipikirkannya adalah Ci Linda yang masih berteriak di luar sana.


“Bu, jangan mengada-ada. Tindakan Ibu ini bisa kami anggap menghalangi penyelidikan. Dari pengakuan korban juga tidak ada nama Ibu,” kata salah satu polisi entah yang mana.


“Lho, bagaimana bisa nggak ada? Saya punya buktinya. Saya foto-foto di sana. Nih buktinya,” bentak Ci Linda.


Lagi-lagi, Ci Linda tidak digubris.

__ADS_1


“Usir saja sudah!,” kata salah satu petugas yang dari tadi ada di ruangan itu.


Sara langsung bangkit dari duduknya, “B-biar saya saja yang bicara dengannya.”


Lebih baik begitu daripada mereka mengasari Ci Linda.


Begitu petugas itu memberikan ijinnya, Sara menemui Ci Linda yang masih memarahi polisi lainnya yang ada di luar. Padahal polisi itu lebih memilih untuk mengerjakan pekerjaannya daripada meladeni Ci Linda, tapi tetap saja wanita tinggi langsing itu terus mengomel.


“Astaga, Dik Sara,” teriak Ci Linda begitu melihat Sara keluar dari ruangan. Sara langsung dihujani dengan pelukan dan banyak pertanyaan.


“Kamu gimana? Baik, kan? Duh, kok jahat banget, sih? Aku punya buktinya kamu nggak bersalah. Mereka pasti sengaja, Dik Sara.” Ci Linda terus memperlihatkan foto-foto saat dia di sana.


Pengacara saja bahkan tidak bisa membuat polisi percaya. Bukti video itu terlalu nyata untuk bisa mereka percaya.


Tapi, Ci Linda sampai melakukan ini ...


“Ci ...,” panggil Sara selembut mungkin. “Terima kasih Ci Linda sudah datang kemari.”


Sara memeluk Ci Linda lagi. Erat, dan lebih erat lagi. Ci Linda juga sepertinya memahami maksud Sara, karena setelah itu dia tidak banyak bicara.


Sara masih bertemu di Ci Linda sekali sebelum dia berangkat ke Jepang. Tapi, begitu kembali, Ci Linda sudah tidak tinggal di rumahnya yang lama, meski rumah itu masih tetap dirawat oleh para asistennya.


#


“Ada bisnis yang harus diurus langsung sama suami saya di Sydney. Terpaksa harus menetap di sana. Evan juga saya ajak. Mau gimana lagi. Kakak-kakaknya kan sudah besar. Bisa ditinggal,” cerita Ci Linda.


“Oh iya, Evan ketemu temannya di Sydney. Katanya mereka kenalan di rumahnya kamu. Siapa namanya? Nino, ya Nino.”


Oh ya, tentu saja mereka bertemu. Mas Agam mengirim Nino sekolah di sana.

__ADS_1


“Syukurlah kalau bisa ketemu Evan. Mereka bisa sama-sama di sana. Jadi ada temannya,” kata Sara.


Ci Linda sependapat dengannya.


Suasana hening sesaat. Tapi kemudian, Ci Linda mengatakan sesuatu, “Saya dengar suami Jeng Indira jabatannya diturunkan. Lalu katanya dia dipindahkan ke pelosok, ya?”


Sara mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari pemandangan danau yang ada di depannya.


Jeng Indira adalah teman Widia yang ikut terlibat dalam insiden yang menyebabkan Sara difitnah. Entah bagaimana caranya, yang jelas suami Jeng Indira ikut membantu istrinya dengan memanfaatkan pengaruh kuatnya.


Yuda yang paling geram dengan masalah ini. Dia selalu bilang, “Suatu saat nanti pasti akan kujegal mereka.”


Sara tidak tahu bagaimana caranya – dan juga tidak mau tahu juga, tapi suatu saat Yuda dengan sombongnya berkata, “Akhirnya tumbang juga dia!”


“Ah, yang penting semua baik-baik saja,” kata Ci Linda lagi.


Sara tersenyum padanya kali ini.


“Kapan-kapan kita kumpul bareng seperti dulu. Sama anak-anak juga kalau perlu,” ucap Ci Linda seraya bangkit dari duduknya. Raut wajahnya menggambarkan kelegaan saat tersenyum pada Sara.


Sara juga demikian. Dia mengangguk menjawab ajak Ci Linda itu.


Semua yang terjadi di saat-saat itu masih tergambar jelas dalam ingatannya. Masa-masa gelap nan menyakitkan, tapi masih menyisakan rasa manis. Sesuatu yang masih bisa Sara syukuri karena pada akhirnya hubungannya dengan Agam yang semakin kuat.


“Tuh, Bundanya ngelamun.”


Dengan cepat, Sara menghapus setitik air yang baru saja turun. Lalu, bangun dan berbalik menyambut Agam dan Gia yang baru datang.


“Eh, anak Bunda udah mandi?” Sara menciumi pipi putrinya setelah Agam mengecup keningnya.

__ADS_1


Sore itu, bertiga mereka menikmati sore hari di depan rumah mereka. Suasana yang menyenangkan sore itu.


__ADS_2