Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Extra Part 2


__ADS_3

[Sara]


“Lho, Ava belum turun ya, Ken?,” tanya Sara pada pria yang terlihat sangat gugup sedang duduk di ruang tengah. Kegugupannya bisa terlihat karena entah berapa kali sudah pria itu mengusap keringat yang turun dari keningnya.


“B-belum, Mbak ...,” jawab pria yang dipanggil Ken itu. Dia tersenyum dengan canggungnya.


“Bentar, ya. Aku panggilkan.”


Tapi sebelum pergi, Sara merasa perlu untuk memarahi para pria lain yang menyebabkan Ken berkeringat dingin.


“Kalian!,” panggil Sara dalam bisikan yang cukup keras. “Hentikan! Kasihan kan Ken!”


Kedua pria itu, Agam dan Arya tersenyum pada Sara. Lalu bersikap santai dengan ponsel di tangan mereka seakan-akan sedang sibuk dengan pekerjaan mereka.


Tapi Sara tahu ini tidak akan bertahan lama.


Hari ini adalah date time Ava bersama sang pacar, Ken. Mereka berkenalan ketika Ava sering riwa-riwi ke rumah sakit menemani Widia. Setelah 6 bulan, akhirnya mereka memutuskan melanjutkan hubungan yang lebih serius.


Tapi, Sara lebih kasihan pada Ken. Karena tidak mudah jika harus berkencan dengan putri satu-satunya keluarga Wirasurya.


“Ava? Masih lama?,” tanya Sara dari balik pintu kamar Ava.


Dengan mengintip sedikit, Sara bisa melihat Ava masih sibuk berdandan.


Astaga ... masih lama ini kayaknya.


“Iya, bentar lagi,” jawab Ava sembari menggambar alis matanya yang dirasa masih belum sempurna.


“Kamu mendingan cepetan, deh,” kata Sara saat memasuki kamar Ava dan membantu membereskan baju-baju yang berserak di atas tempat tidur.


“Ck, pasti Mas Arya sama Mas Agam, deh,” decak Ava kesal.


Sara hanya tertawa canggung. “Lama-lama pacar kamu dijadiin perkedel sama Mas-Mas mu itu.”


Ava mendengus dengan kasar. Dia mempercepat melukis alis matanya.


“Lagian, dia kan sudah berapa kali ke sini? Masak hadepin 2 herder gitu aja nggak bisa, sih?,” gerutu Ava yang semakin kesal karena baru saja melakukan kesalahan pada alisnya.


Sara menahan tawanya. Herder masih lebih baik, aku rasa. Mereka lebih mirip singa, Va.

__ADS_1


Melihat Ava yang hampir selesai, Sara memutuskan kembali untuk menyelamatkan Ken dari para singa yang mungkin sekarang sedang memelototinya.


Tuh kan, bener ..., batin Sara saat di melongok dari lantai atas.


“Tahu tugasnya, kan?,” tanya Arya dengan tatapan tajamnya.


Ken mengangguk takut-takut. “I-iya, Mas,” jawabnya. “M-makan di restoran kesukaan Ava. A-ava tidak boleh minum b-banyak wine.”


“Terus?” Agam tidak mau kalah.


“T-tidak boleh ngobrol di p-pinggir jalan. A-atau parkiran.”


“Terus?” Arya bertanya lagi.


“P-pulang sebelum jam 11. T-tidak boleh menginap di h-hotel.”


“Kalau ketahuan ke hotel?”


Ken menelan salivanya keras-keras. “P-putus.”


Dan sebagainya, dan seterusnya ...


“Oke, hentikan! Kalian! Bubar! Ava bentar lagi turun!,” perintah Sara membubarkan mereka agar tidak lagi mengganggu Ken yang sekujur tubuhnya sudah basah dengan keringatnya sendiri.


Untungnya, Ava turun tak lama setelah itu. Mereka berangkat dan kedua kakaknya memandangi perginya mobil Ava masih dengan muka yang berkerut.


Yang mereka lakukan memang hanya sekedar mengingatkan. Hanya saja, cara mereka mengingatkan benar-benar sudah seperti dewa maut. Menakutkan.


“Mama tahu?,” kata Sara saat mengajak Widia mengobrol sebelum tidur, kebiasaan Sara hampir setiap malam.


“Kedua anak Mama tuh galaknya minta ampun. Pacarnya Ava sampai ketakutan.”


Widia tersenyum mendengarnya. Itu artinya telinganya sedang dalam kondisi yang baik.


Ada saatnya di mana kondisi telinga Widia menjadi buruk hingga sulit untuk menerima suara apa pun. Hal itu bisa terjadi berjam-jam atau bahkan berhari-hari.


“Untung Ken tahan banting,” lanjut Sara lagi. Dia sibuk merapikan selimut yang menutupi tubuh Widia yang akan tertidur. “Coba kalau nggak?”


“Kalau nggak kuat, mana boleh bersama Ava.”

__ADS_1


Agam ternyata sudah berdiri di pintu kamar sang Mama. Dengan santainya, Agam menyandarkan tubuhnya pada dinding.


Hhuu ... percaya diri sekali suami orang yang satu ini. Macam orang ganteng saja.


Tapi, memang ganteng. Mau gimana lagi?


Sara menghela napasnya. “Mama dengar sendiri, kan?,” gerutu Sara. “Nggak tahu deh ntar kalau punya anak gadis gimana, tuh?”


Begitu selesai merapikan selimut sang mertua, Sara menoleh sebentar mengecek Widia. Ternyata sudah tertidur.


Cepat memang kalau sudah meminum obat.


“Kalau itu ...”


“Sstt ... Mama sudah tidur,” bisik Sara. Ditariknya tangan Agam keluar dari Sara.


Tapi begitu Sara menutup pintu kamar Widia saat mereka sudah di luar, Agam langsung memeluk Sara dari belakang, menciumi leher Sara hingga membuatnya seketika merasakan satu kenikmatan yang menagihkan.


Tapi ... tidak boleh!


“Mas!,” omel Sara bersuara sangat pelan. “Ada Arya, ih!”


“Arya di bawah, nungguin Ava.” Suara Agam tidak kalah rendahnya. Agam sepertinya sengaja mengatakan itu tepat di dekat telinga Sara, membuatnya semakin tidak dapat menahan rasa geli di sekujur tubuhnya.


“Mas, ih! Udah, deh ... Mau ngapain, sih?”


Malah nanya, udah jelas tahu mau ngapain.


“Bikin anak gadis,” kata Agam menyeringai.


Agam langsung melahap habis bibir Sara hingga membuat istrinya itu semakin tidak berdaya.


Sara sudah kewalahan karena Agam sudah tahu semua rahasianya. Semakin sulit baginya untuk menolak.


Yang terjadi kemudian, jelas tidak bisa terelakkan.


Sara hanya bisa pasrah menikmati.


Mau gimana lagi?

__ADS_1


__ADS_2