Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 29 : Antara NFC dan FTC


__ADS_3

[Sara]


“I-itu ...”


Sara panik bukan main. Beberapa menit yang lalu, dia yakin Agam masih tertidur. Dan sekarang, tiba-tiba saja pergelangan tangannya dicengkeram oleh pria itu. Jelas dia panik. Apa yang akan dikatakannya? Apa yang bisa jadi alasannya?


“A-anu ... I-itu ... Nyamuk! Ya! Ada nyamuk! Haha ... Nyamuknya banyak, ya,” kata Sara seraya mengibas-ngibaskan tangannya yang lain di udara seperti sedang mengusir sesuatu.


Agam tidak menjawab apapun. Dia masih memegangi pergelangan tangan Sara. Kedua mata Agam juga masih tertuju pada Sara seperti sedang memandanginya lekat-lekat. Kegugupan Sara semakin tidak terkendali.


“M-mas ...”


Agam kemudian melepaskan tangan Sara. Dia membangkitkan tubuhnya agar bisa duduk. Lalu tangannya mulai bergerak mencari sesuatu di atas nakas. Alat bantu dengarnya.


Seketika itu juga, Sara sudah merasa dirinya bodoh sekali. Bisa-bisanya dia lupa kalau Agam tadi tidak menggunakan alat bantu dengar. Jadi untuk siapa dia menjelaskannya panjang lebar?


Sara menelan salivanya dengan keras ketika Agam kini tengah duduk menghadap dirinya. Meski mata Agam tak lagi memandangi dirinya, kegugupan dan kepanikan Sara masih belum reda juga.


“N-nyamuk! Beneran tadi ada nyamuk!,” seru Sara lagi mengulangi perkataannya yang tadi tidak didengar Agam.


Agam mengacak pelan rambut di kepalanya, lalu berkata, “Benarkah? Kukira kamu sedang mencukur rambutku.”


Eh?


Sara mengernyitkan keningnya. “Untuk apa aku melakukan itu?”


Agam mengangkat bahunya. “Entahlah. Iseng mungkin?”


Tak percaya rasanya dia baru saja mendengar itu. “Mas ngiranya aku umur berapa?”


“Ya, kalau orang iseng masak ingat umur?”


Sara langsung mendengus kesal. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, menjauh dari Agam. “Ah, nggak tahu, ah.”


Saat dia kembali pada Agam, Sara melihat pria itu sedang tersenyum cukup lebar. “Ish, malah senyum,” gerutunya. Dan kembali memalingkan wajahnya.


Kesal rasanya.


Tapi, lama kelamaan, tak kuasa Sara menahan bibirnya untuk mengembang. Dia tersenyum. Semakin lama, senyumnya semakin mengembang lebar, lalu tertawa. Sara tidak dapat lagi menahan rasa geli di dadanya.

__ADS_1


Sara semakin tidak dapat menahannya ketika Agam malah ikut tertawa bersamanya. Untuk pertama kalinya semenjak mereka menikah, Sara melihat senyum dan tawa Agam sekaligus pada satu malam.


Syukurlah, Mas sudah lebih baik sekarang.


“Terima kasih,” kata Agam tiba-tiba. Sara langsung berhenti tertawa ketika mendengar Agam mengatakannya. Rasanya aneh saja. Karena dia merasa tak melakukan apapun sedari tadi.


“Terima kasih karena ... tidak pergi.”


Sara tersenyum lega. Satu hal yang dia sendiri sempat ragu tadi, tapi ternyata tidak buruk juga jika dilakukan.


Jika seandainya aku menuruti permintaannya, Mas Agam mungkin akan tetap seperti itu sepanjang malam. Lukanya ... mungkin akan semakin melebar.


“Terima kasih juga, Mas,” kata Sara kemudian. “Terima kasih karena Mas mau percaya sama aku.”


Ya, mempercayai orang lain itu sulit. Dan ketika seseorang sudah memutuskan untuk melakukannya, itu artinya dia sudah melewati banyak pintu yang harus dia buka dan lalui. Membuka setiap pintu itu tidak mudah. Karena setiap pintu mewakili rasa tidak percayanya.


Mas Agam sudah sangat bekerja keras untuk bisa melakukan itu semua.


“Aku bukan tidak mempercayai semua orang.” Agam kembali mengatakan sesuatu untuk membalas ucapan Sara itu. “Aku hanya ... melindungi diriku sendiri. Aku takut ... dengan pengkhianatan.”


Selanjutnya yang dilakukan Agam adalah menceritakan hal-hal yang diributkan olehnya dan ibu tirinya itu tadi siang.


Next Future Corp (NFC) dulunya adalah perusahaan yang menjual barang-barang elektronik, dimana ibu Agam menjadi kepala Engineering Team (ET), dan ayah Agam adalah pemiliknya yang meneruskan kepemimpinan ayahnya, atau kakek Agam.


Tapi semuanya berubah semenjak ibu Agam meninggal. Setelah itu, NFC seperti berjalan di tempat, tidak maju tidak juga mundur. Berkat kepiawaian ayah Agam bernegosiasi, NFC mampu bertahan dengan produk-produk lama yang masih bisa dijual.


Ketika Agam berumur 20 tahun, saat dia masih berstatus mahasiswa, Agam memiliki banyak ide-ide brilian yang akhirnya disadari oleh ayah Agam. Jadilah NFC tempat Agam bereksperimen dan membuat. Agam bergabung dengan NFC kala itu sebagai inventor atau pencipta sekaligus peneliti.


Selene adalah produk pertama Agam.


Jelas sangat kontras dengan apa yang digeluti NFC.


Karena itu lah, ayah Agam mendirikan Future Technology Corp (FTC), perusahaan yang akan menjadi distributor atau penjual untuk NFC.


Tugas FTC salah satunya adalah menjual produk-produk yang dihasilkan oleh NFC. Meski demikian, FTC bebas membuat produknya sendiri yang tidak diproduksi oleh NFC.


“FTC dibangun 3 tahun setelah aku bergabung dengan NFC. Pada saat itu FTC dipimpin oleh Papa sendiri. Semua pekerjaan menjual yang biasanya dikerjakan oleh NFC dipindahkan ke FTC. Jadi beberapa orang melihat FTC adalah perusahaan yang dikendalikan oleh NFC. Begitu juga Mama.”


Padahal NFC tidak begitu ...

__ADS_1


“Mama menganggap FTC adalah perusahaan yang baru berdiri. Tidak seperti NFC. Jadi dia menganggap FTC bukan apa-apa.”


Ketika ayah Agam meninggal, usia Arya masih 19 tahun waktu itu. Masih terlalu muda dan belum berpengalaman untuk memimpin FTC. Karena itulah, Agam mengirimkannya ke Amerika untuk sekolah di sana.


“Tapi, Mama mengira aku membuang Arya jauh-jauh agar aku bisa mengendalikan NFC dan FTC sekaligus.”


Sedangkal itu ...


“Aku tahu, Mama hanya ingin melebur NFC dan FTC jadi satu. Menjadikannya satu-satunya yang bisa dipimpin oleh Arya. Aku juga percaya Arya tidak akan melakukan itu. Dia tahu seberapa berharganya kedua perusahaan ini. Tapi, aku khawatir jika NFC tidak berada di bawah kendaliku, hal itu akan terjadi.”


“NFC dulu pernah menjadi kebanggaan kedua orang tuaku. Aku hanya ingin NFC tetap utuh agar aku bisa melanjutkan cita-cita almarhum Mama dulu. Dia punya beberapa rancangan yang tidak bisa dikerjakannya dulu karena bertentangan dengan bidang NFC. Tapi kini NFC sudah bisa berdiri sendiri. Aku bisa mewujudkannya.”


Agam mengepalkan kedua tangannya, dan berkata, “Aku ingin mewujudkannya.”


Sara memahaminya sekarang. Karena itu dia bersikap begitu defensif. Dia terlalu melindungi dirinya sendiri, seakan-akan seluruh dunia sedang memusuhinya. Padahal tidak semua.


Ada Arya yang masih mendukungnya. Tapi kekhawatirannya, ditambah lagi kekurangan fisiknya mengakibatkan dia menjadi selalu waspada. Dia terus merasa khawatir orang-orang akan menyerang di saat dia tidak dapat melihat ataupun mendengar.


Dia merasa sendirian di dunianya yang gelap.


Sara kemudian mengulurkan tangannya dan menggenggam salah satu tangan Agam. Tidak mengatakan apapun. Hanya tetap begitu sampai Agam tahu dia tidak sendirian.


Malam semakin larut. Agam masih terus bercerita hingga waktu sudah berganti hari. Dan Sara masih tetap di sana setia menemani.


Entah bagaimana ceritanya, saat lelah sudah menyerang, Sara akhirnya kembali terlelap dengan Agam yang (lagi-lagi) tertidur di pangkuannya.


......................


Keesokkan paginya, saat Sara sedang menyiapkan sarapan bersama Mbok Jami, Arya kemudian masuk menyapanya, masih dengan kelesuan yang sama seperti kemarin. Mata lesunya jelas menandakan dia kurang tidur semalam.


Sara tersenyum melihat Arya yang sudah duduk di atas meja makan. Raut wajahnya memperlihatkan keengganannya untuk sarapan. Tapi bunyi pada perutnya jelas memaksa dia untuk turut sarapan.


Mungkin semalam dia nggak makan.


“Tadi Mbak bikin nasi goreng. Mau?,” tanya Sara menawari.


Dengan gerakan lemah, Arya mengangguk.


Dengan senyum di wajahnya, Sara pun bangkit mengambilkan adik iparnya itu sepiring nasi goreng.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Agam masuk dan langsung menempati tempat biasanya. Arya yang begitu melihat Agam langsung berdiri dan menyapanya. Jelas terlihat, Arya yang gugup karena ingin berbicara dengan kakaknya.


“Mas ...”


__ADS_2