
[Sara]
Apa ini? Oh iya, bantal. Aku kan yang taruh bantal di tengah.
Tapi ... kenapa rasanya begitu ... hangat? Aromanya juga ... begitu menenangkan ...
Sara semakin mengeratkan pelukannya. Semakin erat, semakin hangat, semakin tidak ingin dia lepaskan. Sangat hangat ...
Tidak bisakah begini terus sampai besok?
Tapi, bukankah bantal itu seharusnya empuk, ya? Kenapa ini begitu keras?
Sara langsung membuka matanya. Dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah wajah seorang pria yang sedang menutup kedua matanya. Pria yang sangat dikenalnya beberapa minggu terakhir ini.
Dug, dug, dug ...
Jantung Sara berdetak cukup keras. Dia bisa mendengarnya dengan sangat jelas dari telinganya sendiri, seakan-akan jantungnya sedang ada di samping telinganya.
Tapi, bukan itu yang menjadi perhatiannya sekarang ini. Sara terlalu asyik memandangi wajah Agam yang jaraknya mungkin hanya sejengkal saja dari wajahnya.
Baru kali ini rasanya aku bisa melihat dengan jelas bulu mata Mas Agam. Panjang dan lentik. Terlalu cantik untuk jadi bulu mata seorang pria.
Alisnya tebal menyatu. Hidungnya tidak terlalu mancung. Tulang rahangnya terlihat sangat kuat. Bibirnya ...
Tangan Sara yang berada di pinggang Agam kini bergerak naik. Jari tangannya sudah bersiap akan menyentuhnya. Tapi kemudian terhenti.
Setelah beberapa saat memandang bibir yang terlihat begitu tegas dan maskulin itu, tangan Sara kembali bergerak maju.
Lebih dekat ...
Dan hampir dekat ...
Astaghfirullahaladziim, Sara!!!
Sara sontak terbangun. Dan kepalanya kini terus merutuki dirinya sendiri.
Ya Allah, Sara! Kenapa jadi mesum begitu otakmu?!
Berulang kali dia menjitak kepalanya sendiri. Sakit. Tapi setimpal untuk otak mesumnya itu, katanya.
Untung saja Mas Agam nggak bangun. Kalau bangun gimana? Malu setengah mati aku.
Eh, tapi dia beneran masih tidur, kan?
Sara yang tidak percaya mendekatkan tangannya kembali ke wajah Agam, melambaikannya perlahan di depan wajah suaminya yang masih tertidur.
Beneran masih tidur! Wah, tidurnya nyenyak juga. Sampai nggak terbangun meskipun aku ...
Sara malu sendiri mengingat apa yang baru saja dia lakukan. Dia mengacak-acak rambutnya untuk membuatnya melupakan semua kejadian itu. Padahal tidak ada pengaruhnya juga.
Aargh! Gaya tidurmu makin lama makin meresahkan, Sara!!
Dipandanginya lagi wajah Agam yang tertidur sebelum dia akan keluar dari kamar itu. Terlihat sangat tenang. Sara tersenyum pada akhirnya.
Kalau ingat-ingat kemarin, siapa yang nggak akan tidur senyenyak ini? Baru kali ini rasanya lihat Mas Agam sebahagia itu.
Sara ada di belakang mereka – memperhatikan keduanya dari dalam – kala dua kakak beradik itu saling bercanda dengan beradu otot di teras belakang. Tipikal bercanda ala anak laki-laki. Sangat akrab. Entah apa yang yang mereka guraukan. Yang jelas melihatnya saja sudah bikin hati hangat. Itu yang Sara rasakan kemarin.
Mereka dulu pasti sangat akrab. Syukurlah, Arya masih memegang prinsipnya sendiri, meskipun Mama ...
Ya, Widia. Sara langsung teringat. Hari ini dia ada janji bertemu dengan ibu mertuanya itu. Entah apa yang ingin Mama katakan.
#
__ADS_1
“Mama? Untuk apa?,” tanya Agam begitu Sara memberitahunya tentang telepon itu semalam, saat mereka bersiap akan tidur.
Sara merasa dia harus memberitahu Agam. Dia tidak ingin hal yang dulu pernah terjadi – saat dia pergi menemui Widia tanpa sepengetahuan Agam – terjadi lagi ke depannya yang berujung kemarahan Agam.
“Aku juga nggak tahu. Tapi katanya penting,” jawab Sara. Dia memilih diam tentang nada bicara Widia yang terdengar agak marah.
“Aku ngomong ini ke Mas hanya agar Mas nggak salah paham seperti waktu itu. Kalau Mas mengijinkan aku datang, aku akan datang. Tapi, kalau nggak, aku akan bilang Mama kalau aku nggak bisa datang,” tutur Sara lagi menjelaskan semua niatnya.
“Pergilah.” Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Agam menjawabnya. “Besok biar supir yang antarkan kamu. Satu jam saja kamu ketemu Mama, lalu cepatlah kembali.”
#
Setidaknya dia mengijinkan meskipun hanya satu jam. Itu artinya dia sudah mempercayaiku.
Sara menghela napasnya perlahan, lalu tersenyum lega. Syukurlah ...
Sekali lagi Sara memperhatikan wajah tidur Agam yang tenang. Perlahan-lahan di dalam hatinya serasa berdesir sesuatu yang terasa asing. Hangat, tapi juga mendebarkan. Sesuatu yang pernah dia rasakan dulu.
Nggak. Nggak mungkin. Mungkin cuma gugup karena mau ketemu Mama.
Sara menggelengkan kepalanya berulang-ulang. Membuang perasan aneh dan juga rasa khawatirnya sekaligus. Berharap dia bisa lebih tenang.
Tapi ternyata tidak.
Sholat! Ya, sholat! Sebentar lagi shubuh. Mungkin aku bisa tenang setelah itu.
Semoga saja begitu.
......................
Woah ... Ini rumah atau istana?
Sara tidak bisa berhenti takjub pada rumah yang sangat besar milik keluarga Wirasurya. Yep, rumah yang akhir-akhir ini Sara sering dengar mereka menyebutnya rumah utama. Rumah tiga lantai dengan dikelilingi oleh hamparan rumput hijau dengan bunga-bunga warna-warni di sekelilingnya. Ini istana, pasti!
Sara tidak diantarkan masuk ke dalam rumah, melainkan mengelilingi rumah hingga belakang rumah. Di sanalah terlihat sebuah meja teras yang dikelilingi empat kursi lainnya. Salah satunya sedang diduduki oleh Widia dengan berteduhkan sebuah payung besar. Tiga orang pelayan sedang menemaninya dengan berdiri di sampingnya.
Selama perjalanannya mendekati tempat Widia berada, Sara bisa merasakan beberapa pasang mata sedang memandanginya. Para pelayan yang sedang membersihkan jendela rumah, atau yang sedang bekerja di taman bunga, atau yang sedang menemani Widia pun ikut berbisik sembari memandangi diri Sara yang terus berjalan tanpa mempedulikan mereka. Meskipun sebenarnya dalam hatinya sudah merasa risih dengan kelakuan mereka.
Aku cuma penasaran apa yang sedang mereka bisikkan.
“Selamat siang, Ma,” sapa Sara sesopan mungkin, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya.
“Duduk.” Masih dengan nada yang sama seperti saat di telepon waktu itu. Widia meminta Sara untuk duduk tanpa memandangi Sara sama sekali.
“Mama akan langsung saja,” kata Widia begitu Sara sudah duduk di kursi yang ada di hadapannya.
“Kamu sudah dengar sendiri waktu itu, kan? Apa kamu juga berpikir Mama berniat buruk pada NFC?”
Ternyata tidak mudah jadi menantu di keluarga Wirasurya. Hhaaa ...
“Sara tidak tahu apa-apa tentang NFC atau FTC, Ma,” kata Sara menjawab pertanyaan mertuanya itu. Begitu saja lebih baik daripada salah jawab.
“Mama hanya ingin Agam fokus sama kesehatannya sekarang ini. Kamu tahu sendiri kan penyakit yang diderita Agam itu nggak mudah. Dia saja sudah susah mengurus dirinya sendiri. Sekarang masih pura-pura tangguh mengurus perusahaan. Mama hanya khawatir Agam kenapa-kenapa. Tolonglah, bujuk suamimu itu. Serahkan saja NFC ke Arya. Biar Arya yang urus semuanya.”
‘Suamimu’ ... terdengar seperti orang asing ... Dan lagi, penyakit? Kebutaan, ketulian, dan kelumpuhan Mas Agam adalah penyakit? Susah mengurus dirinya sendiri? Dia khawatir atau sedang merendahkan Mas Agam?
“Dan juga Arya. Dia terlalu menyayangi Agam. Mama sulit kalau harus ngomongin Arya. Akhirnya, ya gini ini. Arya marah sama Mama. Salah paham sama maksud baik Mama. Padahal Mama melakukan ini juga buat mereka. Ya buat Arya, ya buat Agam.”
Kenapa rasanya Mama ngotot sekali Arya harus pulang kemari? Kenapa Arya seperti tidak diperbolehkan tinggal di sana? Kenapa Mama tidak pernah memaksa Mas Agam untuk pulang ke rumah utama seperti Mama memaksa Arya begini?
“Mama cuma bisa minta tolong sama kamu sekarang ini, Sara,” kata Widia dengan nada suara yang lebih lembut daripada tadi. “Tolong bujuk Agam dan Arya. Minta Agam untuk serahkan NFC. Dan juga minta Arya untuk pulang ke sini. Kamu lihat sendiri, kan? Rumah ini besar. Tapi Mama sendirian di sini. Tolong bantu Mama, ya.”
Sara menghela napasnya. Tidak tahu harus berkata apa. Hanya memandangi pemandangan halaman rumah yang bisa dipandanginya dari tempatnya duduk.
__ADS_1
Halaman rumah utama cukup luas. Lebih luas dari teras belakang rumah Agam. Tapi suasananya sunyi sekali. Tidak seperti di sana. Setidaknya di halaman belakang masih terdengar bunyi jangkrik atau suara burung yang sedang terbang. Bahkan angin yang bertiup pun masih lebih sejuk yang di rumah Agam.
Pantas saja, Mas Agam suka sekali duduk berlama-lama di teras.
“Sara minta maaf, Ma.” Sara akhirnya memberanikan dirinya untuk mengatakan sesuatu.
“Soal Mas Agam, Sara tidak bisa bantu apa-apa. Karena itu adalah keputusan Mas Agam sendiri. Yang bisa Sara lakukan sekarang hanyalah mendukung semua keputusannya.”
Lagipula, aku menjadi istri Mas Agam karena perjanjian. Aku nggak punya hak melarangnya. Tapi kalaupun aku adalah benar-benar istrinya, aku tidak mungkin memintanya berhenti jika dia sendiri begitu mencintai semua yang dia lakukan di NFC.
Mas Agam berusaha keras agar tetap bisa memimpin NFC. Dengan kemampuannya saat ini, dia masih bisa menghasilkan karya luar biasa. Bukankah itu artinya dia tidak akan bisa dihentikan oleh siapapun? Bahkan aku sebagai istrinya pun tidak.
“Yang Sara tahu, Mas Agam tidak pernah kesusahan mengurus dirinya sendiri. Dia berusaha keras berlatih untuk bisa mengerjakan semua pekerjaan dasar dengan tangannya sendiri. Makan, mandi, mengenakan pakaian, hampir semua hal Mas Agam kerjakan sendiri. Bagi Sara, Mas Agam adalah pria normal, sama normalnya dengan pria lainnya. Mas Agam tidak berpenyakitan.”
Sara dapat melihat dengan jelas, tatapan penuh kebencian yang terpancar dari kedua mata Widia. Meski hatinya terasa tidak nyaman sekali harus melawan ibu mertuanya, Sara paksakan untuk tetap tegar.
Berbeda dengan saat di mana Sara harus melawan Widia beberapa waktu lalu – saat Sara harus menuruti perintah Agam untuk melarang Widia mendekatinya –, kali ini Sara tidak merasa bersalah sedikitpun. Dia tidak menyesal harus mengatakan itu pada Widia.
“Untuk Arya, Sara akan mencoba membujuknya. Tapi, Sara tidak janji.” Sara masih melanjutkan ucapannya.
“Biar bagaimana pun juga Arya bukan anak kecil lagi. Arya punya keputusannya sendiri. Sara tidak bisa memaksanya. Arya adalah adik Mas Agam. Memaksa Arya pulang hanya akan terkesan Sara sedang mengusirnya.”
“Jadi, Sara minta maaf, Ma. Sara akan tetap bicara dengan Arya, tapi keputusan ada pada Arya sendiri.”
Meskipun sebenarnya, aku lebih suka kalau Arya di rumah. Semenjak kedatangan Arya, suasana hati Mas Agam juga sedikit berubah. Ah, nggak, nggak. Banyak perubahannya.
“Tahu apa kamu soal Agam?” Widia kini tengah menatapnya sinis dan meremehkan. Kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Bibirnya tak berhenti mencibir Sara.
“Berapa lama kalian nikah? Seminggu? Sebulan? Setahun?” Widia mendengus kasar. “Kamu nggak tahu apa-apa soal Agam. Suatu saat nanti kamu pasti tahu bagaimana Agam. Saat itu baru kamu nyesel karena nggak percaya sama Mama.”
Sara menghela napasnya. Jadi, seperti inikah wajah Mama Widia yang sebenarnya?
Sara kemudian bangkit dari tempat duduknya. Dia bisa merasakan kehadirannya sudah tidak diperlukan lagi di sana. Satu jam dari Mas Agam sudah cukup.
“Maaf, Ma. Sara harus pulang sekarang. Mas Agam minta Sara cepat pulang.”
Sara sudah beberapa langkah menjauh dari Widia, dan saat itu teriakan kemarahan Widia sampai ke telinga Sara.
“Kamu pikir aku nggak tahu siapa kamu? Kamu menikah sama Agam supaya Agam bisa membiayai pengobatan ibu kamu, kan? Kamu cuma orang miskin yang hanya ingin numpang hidup!”
Akhirnya ... Seharusnya memang begini. Tidak ada seorang ibu yang tiba-tiba bisa menerima orang yang tidak dikenal sebagai menantunya. Apalagi untuk ibu yang anaknya adalah orang dengan harta dan nama.
Sara melanjutkan melangkah setelah sempat terhenti karena teriakan Widia. Dia tidak mempedulikan lagi teriakan Widia memanggil namanya.
“Nyonya tidak apa-apa?,” tanya supir yang khawatir dari kaca spionnya. Mobil itu langsung membawanya pergi begitu Sara menaikinya.
Begitu naik, hal pertama yang dicari Sara adalah tissue. Air matanya tiba-tiba saja sudah berontak untuk turun.
“Nggak, Pak. Nggak apa-apa, kok,” jawab Sara seraya tersenyum. “Kita pulang ya, Pak.”
“Siap, Nyonya.”
Pulang. Ke rumah Agam. Sejak kapan rumah itu menjadi rumahku juga? Bahkan untuk ke sana saja, aku menyebutnya pulang.
Tapi setidaknya, dia menjadi cukup tenang saat dia mengatakan pulang. Setelah mendengar apa yang dikatakan Widia, pulang memang adalah hal terbaik yang bisa dia pikirkan saat ini. Ya, pulang dan tidur, lalu lupakan semuanya.
......................
“Tante Saarrraaaaaaa .....”
Pulang, ya. Tapi tidur, mungkin belum.
Sara masih belum bisa tidur. Karena ketika dia tiba di rumah, teriakan anak laki-laki dan perempuan sudah menyambutnya.
__ADS_1