Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 21 : Bintang Jatuh (POV Agam)


__ADS_3

[Agam]


Begitu Sara masuk ke ruang kerjanya dengan rasa panik, Agam sudah tahu ini tentang apa. Raka sudah menelponnya memberi kabar dari supir yang biasanya bertugas mengantarkan Ibu Sara.


Dan seperti waktu itu, jika tentang ibunya, Sara selalu ekstra hati-hati. Dia selalu takut kalau Agam melakukan kesalahan. Padahal Agam juga paham soal itu.


Kalau seandainya sampai terjadi masalah, bukankah aku juga yang terkena imbasnya?


Tapi Agam tidak mengatakan apapun. Dia biarkan Sara dengan segala kepanikannya. Sedangkan dirinya sudah punya rencana sendiri untuk menyambut orang-orang penting dalam hidup Sara.


Sejak malam itu mungkin. Ya, pasti sejak malam itu. Malam saat Agam mengerjai Sara habis-habisan dengan segala permintaannya yang tidak biasa. Sejak itu, Agam sudah mulai candu bersimpangan dengan apa yang dipikirkan Sara tentang Agam.


Sara mengira Agam tidak suka Ibu datang ke rumah, Agam menyambutnya dengan hangat. Sara mengira Agam tidak suka Nisa, Agam merencanakan donat dan playground itu. Sara mengira Agam tidak akan memakan masakan Ibu, Agam memakannya, dengan lahap.


Semua Agam lakukan demi untuk mendengarkan rintihan amarah dan kesal yang ditahan Sara dalam suara cicitnya.


Aneh memang. Tapi menyenangkan. Dan juga bikin ketagihan. Candu.


“Tuan, tuan ...,” panggil Raka berulang-ulang saat mereka sedang berada di ruang kerja setelah makan siang, meninggalkan Sara dan yang lainnya berkeliling rumah.


“Ada apa?,” tanyanya.


“Saya hanya khawatir. Tuan dari tadi tersenyum setiap kali saya memberi laporan. Saya takut Tuan sakit.”


Ehem ...


Agam berdehem sekali, lalu mengubah raut wajahnya kembali normal. Dia baru sadar, Raka benar. Giginya terasa kering saat dia mengatup bibirnya.


“Kamu kembali ke kantor saja. Selesaikan sisanya. Baru setelah itu boleh pulang,” titah Agam pada Raka.


“Tapi, saya ingin bertanya sesuatu, Tuan,” tanya Raka dalam nada pelannya.


Mencurigakan.


“Apa?”


“Tuan minta pada Ibu Nyonya Sara untuk menginap di sini. Tapi, kalau sampai menginap, Tuan sama Nyonya bagaimana?”


Deg!


“Apakah Tuan dan Nyonya akan sekamar saat Ibu Nyonya datang menginap?”


Aku lupa! Terlalu asyik mengerjai Sara sampai lupa soal itu.


“I-itu tugasmu untuk mencari tahu,” jawab Agam dengan lantang.


“Ya? Saya, Tuan?”


“Ya iya, itu tugasmu hari ini. Jangan pulang sebelum ketemu jawabannya.”


Agam bisa mendengar suara lemas Raka yang keluar dari ruangannya.


......................


Saat semuanya pulang, suasana di rumah kembali sunyi seperti biasanya. Tidak ada keriuhan yang terasa hangat seperti tadi siang memenuhi seluruh ruangan. Yang anehnya, Agam merindukannya.


Setelah makan malam, Agam yang biasanya akan kembali ke ruang kerja atau kamarnya, tapi kali ini dia minta pada Mbok Jami untuk diantarkan ke teras belakang. Aroma teras yang biasa dia rasakan melalui hidungnya mengingatkannya pada percakapan dengan Ibu sore tadi yang juga dilakukan di tempat yang sama.


Bukan tentang bagaimana perasaan Ibu tentang Agam. Bukan. Dia sudah tahu itu, sejak akad nikah. Meski sang Ibu bilang dia bisa menerimanya, Agam tahu, masih ada rasa berat di hatinya dari caranya berbicara. Dan Agam tidak mempedulikannya. Seperti yang dia pikirkan selama ini. Tidak akan ada orang tua yang mau menikahi anaknya dengan orang cacat seperti dirinya. Dia paham.


Tapi ini tentang sebuah kalimat yang diucapkan Ibu yang langsung melekat di kepalanya terus-menerus.


“Saat Sara mengatakan dia akan menikah, dia juga mengatakan dia sudah putus dengan pacarnya.”


Putus? Jadi dia punya pacar? Apa karena pernikahan ini dia putus? Atau sebelumnya?


Agam kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Lalu memainkannya dengan jemarinya.


Apakah ada hubungannya dengan cincin ini? Vian?


Semakin dipikirkan, entah mengapa dadanya juga semakin sesak. Agam tidak menyukai rasa sesak itu.


“Mas ...”


Panggilan Sara yang tiba-tiba membuka pintu teras membuat Agam refleks memasukkan kembali cincin itu ke saku celananya dengan cepat.


Sara kemudian meletakkan sesuatu yang lembut di tangannya. Semacam kain yang terbentuk rapi menyerupai baju.


Rajutan?


“Itu sweater rajut. Ibu suka sekali merajut. Dulu aku dibuatkan satu. Tapi ... ehem ... i-intinya, Ibu buatkan satu juga untuk Mas,” kata Sara menjelaskannya.


Agam mengerti maksud kalimat Sara yang terpotong itu. Gadis itu sedang membicarakan sweater miliknya yang pernah dilemparkan ke wajah Agam. Sweaternya masih disimpan Agam. Enggan untuk dikembalikan. Sara pun juga tidak memintanya. Mungkin takut mengungkit sesuatu.


“Niatnya mau dikasihkan tadi waktu bongkar-bongkar, tapi kelupaan. Ibu titipkan ke aku takut kelupaan sampai pulang. Ternyata benaran lupa.”


Agam membuka sweater itu, lalu mengenakannya. Sara membantunya saat kesulitan memasukkan lengannya.

__ADS_1


Hangat.


“Wah, pas!,” seru Sara seraya bertepuk tangan. “Ibu dari dulu memang pinter kalau soal begini, padahal cuma lihat saja.”


Jemari tangan Agam bergerak perlahan di atas lengannya yang terbungkus sweater itu. Lembut rasanya.


Dengan semua keraguan sang ibu mertua akan dirinya, Agam mengakui perhatian Ibu tidak pernah berkurang padanya atau pun Sara.


“Mas ... Apa yang sebenarnya kalian bicarakan tadi?,” tanya Sara tiba-tiba.


Saat Sara datang bertanya dengan cemas, Ibu mengalihkan pembicaraannya. Sara pasti masih belum puas karena pertanyaannya belum terjawab oleh Ibu.


“Hanya ... mengucapkan terima kasih karena sudah menjaga anaknya,” jawab Agam seadanya.


Sara menghela napasnya. “Ibu memang seperti itu. Meski hatinya terasa berat, tapi tetap Ibu jalani. Nanti kalau sudah penuh di kepala, baru mulai ngomong. Pasti karena itu tensinya sering naik.”


Mereka kembali terdiam.


“Mbok Jami menemukan ini waktu bersih-bersih kemarin.”


Agam mengeluarkan cincin dari saku celananya, lalu memberikannya pada Sara.


“Ukurannya kecil. Aku yakin ini milik jari wanita. Jelas bukan punya Mbok Jami. Jadi aku yakin, ini punyamu. Karena tidak ada wanita lain di rumah ini selain Mbok Jami dan kamu.”


Sara terdengar sangat gugup. “O-oh iya ... Pasti terjatuh. K-ketemu di mana, ya?”


“Di selasar atas," jawab Agam berbohong.


“O-oh ... M-mungkin menggelinding sampai ke sana.”


Dia mempercayainya.


“Vian ... Nama dalam cincin itu. Benar, kan?” Agam mencoba bertanya. “Dia pacarmu?”


Sara terdiam cukup lama. Entah apa yang sedang dilakukannya.


“Mantan.”


Jawaban yang singkat.


“Ibu mengira kalian akan menikah, tapi ternyata malah menikah denganku.”


“Ibu bilang begitu?,” sahut Sara dengan agak keras.


Agam menganggukkan kepalanya.


“Kalian masih berhubungan?” Agam memberanikan dirinya untuk bertanya.


“Dia sudah memutuskan aku,” jawabnya. Lalu melanjutkannya lagi, “Sebelum menikah.”


Entah apa yang sedang merasukinya. Tapi, Agam ingin tahu lebih banyak. Maka, bertanya lah dia.


“Kamu masih mencintainya?”


Sara tidak langsung menjawabnya. “Aku tidak tahu.”


Sesak rasanya. Entah mengapa, dadaku terasa penuh.


“Kamu masih menyimpan cincin itu. Bukankah artinya kamu mengharapkan ada perubahan?”


Lagi-lagi tak langsung menjawab.


“Mungkin juga karena ... aku ingin ada penjelasan yang bisa aku terima tentang alasan dia memutuskan aku.”


Kali ini Agam yang terdiam. Pertanyaannya masih ada, tapi keberaniannya yang tidak ada. Takut dia kehabisan nafas, karena terlalu sesak di dadanya.


“Apa yang sedang kamu lakukan?,” tanya Agam mengganti topik pembicaraan mereka yang rasanya malah membuat dia dan Sara semakin menjauh.


“Melihat bintang,” jawabnya lirih. Tapi kemudian, “... m-maaf, maaf, bukan maksudku ...”


Agam tidak memberikan reaksi apapun. Dia paham maksud Sara. Tapi dia tidak peduli tentang itu. Dia lebih tertarik dengan topik sebelum ini. Hanya saja tidak sanggup untuk dilanjutkan.


Tiba-tiba, tangan kanannya merasakan sentuhan lembut dari Sara. Dibalikkannya telapak tangan Agam hingga terbuka ke atas.


“Kamu mau apa?,” tanyanya heran.


Agam merasakan sesuatu bergerak dalam telapak tangannya. Ke atas, ke samping, Agam semakin mahir membacanya.


“Bintang jatuh?”


“Hmm! Barusan ada bintang jatuh,” Sara menjawab dengan antusias. “Nggak mau buat permintaan?”


Agam tertawa sinis menanggapi pertanyaan Sara itu. “Kamu masih percaya hal semacam itu?”


Sara tidak menjawab. Tiba-tiba saja, Sara sudah mengerucutkan jemari tangan Agam, lalu menaikkannya ke atas. Sementara tangan yang lain dibuat menengadah ke atas.


“Bintang itu datangnya dari atas ...,” kata Sara.

__ADS_1


Lalu menggerakkan kuncup jemarinya yang di atas meluncur menyamping ke bawah menuju tangannya yang lain. “... meluncur ke bawah. Dan hap ...”


Tangan yang lain yang ada di bawah digenggam menutup. “... ditangkap.”


Kemudian, menggerakkan tangannya itu menuju dada kirinya. “Lalu disimpan disitu dulu. Nanti kalau sudah kepikiran, baru dipakai permintaannya.”


Dan sentuhan lembut itu sudah menjauh darinya. Tapi kehangatannya masih menggelitik di kulitnya. Agam yang masih memegangi dada kirinya, kini terpaku tanpa bisa mengatakan apapun.


“Ayah dulu yang mengajari aku untuk menyimpannya disitu. Lalu aku pakai sekali waktu wawancara kerja supaya bisa diterima. Dan ternyata lulus! Jadi sekarang sisa 2.”


Agam tersenyum mendengar celoteh Sara yang terdengar begitu menggelikan di telinganya, tapi cukup menggelitik di hatinya.


Cerita yang aneh.


Tapi Agam sendiri masih memegangi dada kirinya. Dia bahkan menepuknya sekali dan berharap agar bintang itu tetap di sana dan tidak hilang.


Kelak aku akan menggunakannya, batinnya sudah berencana.


......................


“Mas ...”


Kursi roda Agam yang akan membawanya ke kamarnya berhenti ketika Sara memanggilnya. Tak lama kemudian, gadis itu sudah berada di dekatnya.


“Terima kasih untuk hari ini. Mas sudah mau membantuku untuk menghadapi Ibu. Mbak Mina dan Nisa juga. Soal playground, menginap, dan lain-lain, aku tahu Mas hanya sekedar berbasa-basi. Aku pastikan Ibu tidak akan kemari lagi apalagi untuk menginap.”


Dan masih berlanjut.


“Soal lauk yang dibawa Ibu tadi, aku sudah bilang ke Mbok Jami untuk taruh di wadah lain. Besok biar dimakan aku sama yang lainnya.”


Agam terdiam sejenak. Lalu sesuatu yang menyenangkan tiba-tiba saja melintas di dalam otaknya yang cerdas itu.


“Sara.”


“Y-ya?”


“Bisa tolong bantu aku ke kamar? Daya kursi rodanya habis. Jadi tidak bisa bergerak.”


“Eh ...”


Beberapa menit kemudian, saat mereka di depan kamar Agam. Tangan Sara sudah menuntun tangan Agam ke papan tombol passwordnya. Tapi Agam menarik tangannya, lalu berkata, “Kamu saja yang masukkan. Passwordnya ...”


Sara masih menuruti permintaan Agam.


Begitu kursi roda Agam tiba di dalam kamar, Agam meminta hal yang lain lagi.


“Sara, bisa tolong papah aku ke tempat tidur? Agak sulit kalau kursi rodanya tidak berfungsi.”


“Eh, tapi bukannya ...” Sara menghentikan kalimatnya.


“Kenapa?” Agam tahu maksud Sara.


Kamu pasti melihatnya.


“B-bukan apa-apa.”


Dan tak lama kemudian, Sara sudah mengalungkan lengan Agam ke atas pundaknya, lalu membawanya ke tempat tidurnya.


“Terima kasih.”


“Kalau gitu aku keluar dulu.”


“Sara. Tolong besok beri tahu Mbok Jami. Aku ingin mencicipi ayam goreng serundeng yang Ibu bawa tadi.”


Sara jelas pasti terkejut. “Ha? T-ta ...”


“Dan, satu lagi. Aku serius tentang kamar itu. Dan juga playground. Mereka akan mulai mengerjakannya besok.”


Agam dapat mendengar suara Sara yang tertahan di tenggorokannya. Mungkin tidak menemukan kata yang tepat untuk mengucapkannya. Bibirnya kini mengembang.


“Oh iya. Besok kamu akan ikut ke NFC. Aku akan mengenalkanmu dengan seseorang. Sekarang, aku mau tidur. Tolong tutup pintunya waktu kamu keluar. Selamat malam.”


Selesai mengatakannya, Agam merebahkan dirinya. Lalu berpura-pura tidur, menunggu Sara menutup pintunya.


KLAK!


Dia sudah keluar, batinnya.


Agam yakin demikian. Karena tidak ada aroma citrus-musk-vanilla di dalam kamarnya. Gadis itu benar-benar sudah keluar, tidak seperti waktu itu.


Ide yang menyenangkan hanya agar dia bisa merasakan aroma citrus-musk-vanilla lebih lama lagi. Aroma yang entah mengapa akhir-akhir ini rasanya ingin selalu ada di dekatnya. Tidak ingin jauh.


Sekalinya hilang seperti saat ini, hatinya sudah merindukannya. Feeling lonely.


Kalau aku suruh Raka, apa ada parfum yang seperti itu?


Lalu kemudian, Agam menyadari sesuatu.

__ADS_1


Lama-kelamaan aku terdengar seperti orang mesum saja. Ck.


__ADS_2