
[Sara]
“Bukan! Bukan Ibu, Mas! Ibu nggak tahu apa-apa!”
Sara terus menggerakkan jarinya yang gemetar di atas telapak tangan Agam. Entah berapa kali dia salah mengisyaratkan karena gemetar di tangannya itu. Tapi tetap dia ulangi lagi dan lagi.
“Lalu siapa? Bagaimana kamu akan menjelaskan semuanya itu? Aku ingin berpikir itu bukan Ibu. Tapi semua bukti mengarah padanya. Katakan padaku, Sara! Siapa yang bisa melakukan ini? Kamu? Kamu bekerja sama dengan Mama pada akhirnya?”
Semakin deras air mata Sara mendapat tuduhan seperti itu. Agam kembali mencurigainya lagi seperti dulu. Kepercayaan yang sudah dia dapatkan kini seakan hilang tak berbekas. Agam seperti melupakan semua hal yang sudah Sara lakukan untuknya.
Sakit? Iya. Tapi aku nggak bisa membencinya. Aku tahu alasan Mas Agam menjadi seperti ini. Dia ketakutan saat ini. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?
“Mas tahu aku nggak mungkin melakukan itu. Ibu juga tidak, Mas. Ibu tulus menyayangi Mas.”
Air mata Sara terus turun hingga membasahi tangannya. Entah berapa kali pegangannya pada tangan Agam terus terlepas karena licin akibat air matanya itu setiap kali dia berisyarat. Ditambah lagi gemetar pada tangannya. Sara semakin kalut setiap kali Agam menuduh Ibu yang melakukan ini semua.
“Lalu apa Sara? Apa yang bisa menjelaskan ini semua? Katakan padaku, Sara! Apa??”
Bahkan Agam juga tidak berhenti menangis. Di tengah suaranya yang meninggi, kemarahannya yang tergambar jelas di setiap kalimatnya, Agam tidak berhenti menitikkan air matanya.
Mendapatkan pertanyaan yang seperti itu, Sara tidak bisa mengatakan apapun. Dia sama tidak tahunya dengan Agam.
Aku tidak tahu. Tapi bukan berarti aku bersalah.
__ADS_1
“Dulu ... waktu aku tahu Mama yang melakukan ini semua, hatiku sangat sakit, Sara. Tapi sekarang ... rasanya lebih sakit daripada waktu itu. Sakit sekali, Sara.” Agam mengatakannya sembari terus memukuli dadanya, berulang-ulang.
Dada Sara semakin sesak rasanya melihat Agam yang seperti itu. Sara bahkan sesenggukan dengan air mata yang tumpah ruah. Dia menahan tangan Agam untuk menghentikannya melakukan lagi.
Sara kembali berisyarat, “Jauh di lubuk hati Mas, Mas sebenarnya juga nggak percaya, kan? Mas nggak percaya kan kalau aku atau Ibu melakukan ini semua?”
Agam tidak menjawab. Dia hanya mengepalkan tangannya.
“Keluar,” ucap Agam lirih. “Kembali ke kamarmu dan bereskan semua barang-barangmu. Besok aku akan mengantarmu pulang. Surat cerainya akan aku kirimkan segera.”
Terlepas sudah tangan Agam dari genggaman tangan Sara.
“Dari awal seharusnya aku tidak menikahimu, dan membiarkan kamu berada di dekatku.”
“Mas Agam sudah sadar?”
Seruan penuh semangat datang dari luar kamar Agam. Arya terdengar sangat senang sekali. Mungkin dia melihat Raka dan Sara tak lagi di depan. Ditambah dengan pintu kamar Agam yang terbuka lebar. Jelas saja kalau dia sangat senang memikirkan kemungkinan kakaknya telah sembuh.
Tak lama kemudian, sosok Arya telah muncul di dalam kamar Agam. Dia datang dengan senyumnya yang lebar, tapi seketika hilang begitu saja begitu dia melihat isi kamar Agam yang berantakan.
Sara yang mendengar suara Arya segera bangkit dari duduknya dan memilih pergi dari sana. Dia hanya tidak ingin Arya melihat semua ini. Tapi terlambat. Arya sudah terlanjur melihatnya.
Dan begitu Arya melihat wajah sembab Sara yang penuh basah dengan air mata, kening Arya berkerut.
__ADS_1
“Ada apa ini? Mbak kenapa? Ada apa ini, Mas? Raka?”
Tidak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Arya. Sara pun tidak. Dia terus berjalan meninggalkan kamar Agam tanpa melihat Arya lagi.
“Mas, ada apa? Kenapa Mbak Sara menangis?
Arya masih belum menyerah. Bahkan saat Sara sudah keluar dari kamar, dia masih mendengar adik iparnya itu terus bertanya pada Agam yang tidak Arya ketahui kalau Agam tidak mengenakan alat bantu dengarnya.
Sara terus berjalan menjauh dan menjauh. Tujuannya adalah ruangan yang dulu adalah kamarnya.
Semenjak Sara pindah ke kamar Agam, tempat itu tetap apa adanya. Agam tidak pernah memerintahkan Sara untuk membersihkannya atau mengosongkannya. Jadilah kamar itu tetap seperti awalnya dengan barang-barang milik Sara. Kadang, Sara juga menggunakannya untuk tempat sholat kala dia tidak mau mengganggu tidur Agam.
Dan sekarang, mungkin memang jalannya memang dibuat begitu. Tempat itu sengaja dibiarkan seperti itu agar Sara bisa menggunakannya untuk saat-saat seperti ini. Miris sekali rasanya ...
Sara baru memegangi gagang pintu kamarnya, saat dia sudah merasakan sakit luar biasa pada kepalanya. Pandangannya mulai kabur dan berputar.
Tapi dia tahu dia harus bertahan. Dibukanya pintu itu, sesak di dadanya semakin menghabiskan oksigen yang tersimpan di sana. Pandangan Sara semakin kabur dan terus menggelap. Lama kelamaan, tangannya terlepas dari gagang pintu, tapi malah mendorong pintu semakin terbuka. Sara roboh.
“Mbak Sara! Mbak Sara! Dokter!”
Meski kedua matanya tertutup, sayup-sayup, dia masih mendengar Arya memanggil namanya. Tubuhnya seakan diangkat tinggi dan bergerak melayang. Entah apa yang terjadi.
Tapi, sebelum Sara benar-benar kehilangan kesadarannya, dia masih berharap dalam hatinya. Seandainya saja, itu suara Mas Agam ...
__ADS_1