
[Ibu Fira]
Jujur, saat Ibu mendengar ucapan Sara mengenai alasan putri satu-satunya itu menikahi orang asing bernama Agam, hatinya tidak bisa percaya sepenuhnya. Meskipun Sara memperlihatkan senyum yang terlihat begitu tenang dan seakan-akan tidak terjadi apapun, tapi entah mengapa perasaannya tidak tenang.
Tapi, demi kebahagiaan putrinya itu di hari pernikahannya, Ibu menekan semua perasaan tak nyamannya dalam-dalam.
Yang penting dia bahagia, begitu batinnya.
Tapi, perasaan itu tidak juga hilang.
Ibu teringat, ada masanya saat dulu Sara masih kelas 5 SD. Setiap pagi membangunkannya untuk sekolah, gadis kecil periang itu selalu murung. Raut wajahnya menggambarkan rasa enggan untuk berangkat. Tapi di sisi lain anak itu merasa berat meninggalkan sekolahnya. Dia selalu berkata, “Sara takut ketinggalan banyak pelajaran, Bu. Sudah kelas 5 SD. Takutnya Sara nggak paham.”
Tidak hanya Sara, Ibu juga merasa dilema.
Ibu tidak keberatan jika Sara ingin tetap di rumah, tapi di sisi lain, anaknya sendiri yang ingin tetap bersekolah.
Muncul lah ide untuk membuntutinya ke sekolah.
“Yeyeye ... anake wong wuto (anaknya orang buta), yeyeye.”
“He! Bapakmu tuli, yo?”
Tidak hanya mengatai, mereka menoel kepalanya, mendorong tubuhnya yang mungil meskipun usianya sudah hampir belasan, bahkan ada yang menjambak rambutnya.
Tapi, Sara tetap diam.
Saat ada temannya yang membela, Sara malah melerainya agar tidak bertengkar, lalu tersenyum dengan lebarnya.
Bahkan saat pulang sekolah pun, di depan Ibu dan Ayah nya, senyumnya itu tidak pernah berkurang sesenti pun, seakan-akan tidak terjadi apa-apa dalam hidupnya.
Kalau sudah begitu, saat malam tiba, Ibu pasti menangis di samping Sara yang tertidur.
__ADS_1
Karena itu, Ibu tidak pernah percaya saat Sara mengatakan kalau dia tidak apa-apa tapi dengan senyum di wajahnya. Senyum Sara selalu menyimpan sesuatu di dalamnya. Dan itu lah yang Ibu rasakan akhir-akhir ini setiap kali melihat Sara yang semakin sering tersenyum dan tertawa.
Dan semua yang dipikirkannya selama ini seakan-akan memang benar adanya, saat Mina tiba-tiba menceritakan sesuatu padanya. Ibu mengira Mina hendak melaporkan omongan tetangga yang sedang hangatnya membicarakan suami Sara, tapi ternyata bukan itu.
2 minggu setelah akad nikah Sara, Mina tiba-tiba teringat suatu kejadian saat Ibu terjatuh dan pingsan. Saat itu, Mina yang panik segera berlari keluar mencari bantuan. Meski banyak tetangga yang datang, tapi mereka masih sibuk merencanakan transportasi dan lain-lain.
Tepat di saat genting itu lah, masuklah seorang pria yang langsung menawarkan bantuan untuk membawa mereka ke rumah sakit dengan mobilnya. Tidak perlu berpikir lama, Mina langsung mengiyakan.
Pria itu menggendong Ibu dari rumah ke mobil. Lalu duduk di bangku supir sambil mendengarkan perintah dari pria lainnya yang berdiri dari luar mobil.
“Segera bawa ke rumah sakit. Nanti saya yang hubungi kantor untuk kirimkan mobil ke sini.”
Begitu mobil jalan, Mina masih sempat melihat pria pemberi perintah tetap di depan rumah bersama dengan seorang pria lainnya yang duduk di kursi roda.
Saat akad nikah, Mina merasa seperti pernah mengenal kedua pria yang masuk bersamaan ke rumah saat itu. Setelah 2 minggu itu lah, barulah Mina ingat saat-saat itu dan siapa kedua pria itu.
Pria pemberi perintah itu adalah Raka, dan pria berkursi roda adalah Agam, suami Sara saat ini.
Berhari-hari Ibu memikirkannya, tidak berani bertanya lagi pada Sara. Takut Sara mengira ibunya tidak ridho dengan pernikahannya. Meskipun sebenarnya ada sebagian kecil dari hatinya memang tidak ridho, apalagi melihat kondisi fisik suami Sara itu.
Bukan apa-apa. Ibu sudah merasa bersalah karena Sara harus melewati masa kecilnya seperti itu. Lalu sekarang putrinya itu harus menikah dengan orang yang kondisinya sama dengan ayahnya. Apakah nasib Sara harus seperti itu? Harus selalu menjaga dan merawat orang-orang seperti itu?
Astaghfirullahaladziim! Kenapa jadi berpikiran seperti ini?
Tapi, Ibu tetaplah seorang ibu, manusia berhati lembut yang hanya menginginkan kebahagiaan untuk putri satu-satunya.
Dan ide itu datang begitu saja. Kalau Sara tidak mau bercerita, biar aku pergi dan lihat dengan mata kepalaku sendiri.
Itulah mengapa, begitu Sara bilang tidak datang ke rumah sakit, Ibu langsung menghubungi Mina untuk menemaninya ke rumah Agam tanpa memberitahu Sara.
Pergi mengunjungi Sara di rumah suaminya mungkin memang adalah keputusan yang tepat. Tuhan seperti menunjukkan jalannya saat Ibu diberi kesempatan untuk bisa mengobrol dengan leluasa, tanpa Sara atau siapa pun di dekat mereka. Saat Sara sedang sibuk bermain bola dengan Nisa, dan Mina yang sepertinya memahami isi hati Ibu dan langsung berpamitan pergi ke dalam beralasan membantu Mbok Jami yang baru saja mengantarkan Agam ke teras.
__ADS_1
“Apakah benar, Nak Agam yang waktu itu membawa Ibu ke rumah sakit?,” tanya Ibu setelah beberapa saat mereka terdiam di teras belakang untuk waktu yang cukup lama.
“Iya. Agam yang memerintahkan supir,” jawabnya dengan tegas dan yakin. Pria yang masih memiliki kharismanya meski fisiknya tak sempurna.
Ibu memandangi Agam yang ada di sampingnya lekat-lekat. Posisi kursi roda Agam yang membuatnya menghadap ke arah halaman berumput seakan-akan sedang menikmati pemandangan sore dan keriuhan Sara dan Nisa di kejauhan.
“Tapi, tolong jangan beri tahu Sara.”
Ibu jelas terkejut. “Sara tidak tahu?”
Agam menggelengkan kepalanya.
“Mengapa Nak Agam tidak ingin Sara tahu?,” tanya Ibu lagi.
“Karena Agam tidak ingin membebani Sara dengan perasaan yang tidak penting seperti itu. Sara sudah mau menikah denganku, itu sudah cukup tanpa perlu tahu hal-hal semacam itu.”
Ibu tertawa kemudian. “Lucunya, Ibu malah beranggapan sebaliknya.”
Hening. Mereka terdiam.
“Apa itu yang Ibu pikirkan akhir-akhir ini?”
Ibu tertegun memikirkan pertanyaan Agam. Apakah karena itu? Atau sebelum itu?
“Saat Sara mengatakan dia akan menikah, dia juga mengatakan dia sudah putus dengan pacarnya. Meski Sara bilang sudah lama mereka putus, tapi Ibu tidak percaya. Ibu masih sempat mengintip Sara sedang video call dengan pacarnya sebelum dia berangkat kerja.”
“Ibu mengira mereka akan segera menikah, tapi tidak menyangka ketika Sara mengatakan akan menikah justru bukan dengan pacarnya itu. Mungkin sejak itu Ibu jadi terus memikirkan Sara. Ibu khawatir Sara memutuskan menikah karena hal yang Nak Agam bilang tidak penting itu. Tapi syukurlah ternyata tidak.”
Kembali suasana hening di antara mereka. Hanya ada suara teriakan Sara dan Nisa di kejauhan. Meski demikian, Ibu dapat melihat Sara selalu melihat ke arahnya.
“Mungkin Nak Agam juga merasakannya. Memang benar, kadang Ibu masih memikirkan keputusan Sara untuk menikah dengan Nak Agam. Tapi, melihat Sara dan Nak Agam hari ini ... Ibu juga harus belajar ikhlas untuk kalian berdua.”
__ADS_1
Pelan-pelan Ibu berdiri dan kembali melanjutkan ucapannya. “Maafkan Ibu, Nak Agam. Terima kasih, Nak Agam sudah merawat Ibu, juga mau menerima dan menjaga anak Ibu.”