Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 51 : Agam & Sara


__ADS_3

[Sara]


“Kenapa kamu datang, Sara?”


Suara yang jelas terdengar hingga terasa seperti tertanam di dalam kepalanya. Sontak Sara membuka kedua matanya. Dia terbangun.


Mimpi. Hanya mimpi.


Teringat dengan jelas dalam mimpinya, dia melihat Agam sedang bertanya padanya dengan nada datar tanpa ekspresi. Rasanya seperti tidak diinginkan.


“Akh!” Denyut di kepalanya tiba-tiba datang dan menyakitkan. Sara langsung teringat yang terjadi terakhir kalinya sebelum dia tak sadarkan diri.


Aku baru jatuh dari tangga.


Dipijatnya perlahan keningnya. Terasa ada sesuatu yang kasar menutupinya. Kasa?


“Sara? Kamu sudah sadar?”


Sara langsung terbangun dari berbaringnya. Denyut di kepalanya semakin menjadi. Dipeganginya sebentar sebelum akhirnya tenang kembali.


Niatnya ingin mencari si pemilik suara, tapi orangnya malah sudah berada di sampingnya.


Tangan Agam mulai meraba naik mencari tangan Sara, lalu ke wajahnya.


“Apa masih terasa sakit? Dokter bilang kepalamu terbentur pegangan tangga. Masih sakit?”


Sara kehabisan kata-katanya. Agam terus menanyainya dengan banyak pertanyaan yang penuh dengan perhatian.


Kalau dia sekhawatir ini, kenapa dia memilih pergi dan menceraikan aku?


Pandangannya kini menjadi nanar, mengingat kembali saat-saat Raka datang memberinya surat cerai itu. Tanpa disadarinya tangannya bergerak naik menyentuh wajah Agam yang menurutnya semakin tirus. Padahal hanya 12 hari ...


“Sara?,” panggil Agam lirih. Tangan Agam kini memeluk tangan Sara yang sedang bersandar di sisi wajahnya. “Kamu tidak apa-apa, kan?”


“Mas khawatir?,” tanya Sara balik. Suaranya juga tak kalah lirihnya, menahan getaran suara karena air mata yang turun.


“Aku sangat khawatir, Sara,” jawab Agam dengan yakin dan tegas seakan ingin Sara tahu dia tidak berbohong.


“Lalu kenapa Mas pergi?”


Diam. Agam tidak menjawab. Hanya terdengar potongan kata yang tergantung tanpa sempat terucapkan sepenuhnya. Padahal Sara mengatakannya tanpa ada nada marah sedikitpun di dalamnya.


“Mas nggak takut aku sakit karena terus merasa bersalah sama Mas?”


“Merasa bersalah apa, Sara? Tidak ada yang salah sama kamu.”,


“Kata siapa? Karena aku, Mas jadi kehilangan NFC. Gara-gara aku, Mas jadi kehilangan satu-satunya kenangan Mas bersama orang tua Mas. Itu semua salah aku, Mas.”


Tangan kanan Agam bergerak menyentuh wajah Sara, mengusap air mata Sara yang jatuh membasahi wajahnya.


“Dengar, Sara. Itu bukan salah kamu. Aku yang menginginkannya.”


“Seperti Mas yang ingin segera bisa berpisah dari aku? Karena itu Mas berikan surat cerai itu? Kenapa nggak Mas bilang sendiri ke aku? Seperti waktu di taman depan rumah, waktu Mas minta aku untuk jangan pergi, kenapa nggak katakan sendiri kalau Mas mau bercerai?”


Sara memukuli dada bidang Agam berkali-kali. Dan setiap kali Agam menangkapnya, Sara melepaskannya lalu kembali memukulinya sembari terus berkata, “Mas jahat!”


“Sara ... Aku ...”


“Mas Agam mau nikah lagi, kan?”


“Sara! Aku hanya mencintaimu, bagaimana bisa aku menikahi orang lain selain kamu?” Suara Agam mendadak meninggi karena pertanyaan Sara itu.


Sara kembali memukuli Agam. “Mas bohong!”


Agam seakan tidak lelah terus menerus menangkap tangan Sara yang memukulinya.


“Lalu, kenapa tiba-tiba Mas minta cerai? Kenapa tiba-tiba Mas ke Jepang? Kenapa aku nggak boleh ikut? Karena Mas mau nikah di Jepang, kan?”


“Sara ...” Agam tidak berhenti memanggilnya, meskipun Sara terus memojokkannya. “Dengarkan aku dulu.”


Kedua tangan Agam kini memegangi tangan Sara agar tidak bergerak lagi.


“Aku pergi ke Jepang karena aku ingin memulihkan diriku sampai aku benar-benar pulih. Aku tidak tahu berapa lama waktu yang aku butuhkan untuk itu. Itu artinya aku nggak akan kembali sampai pemulihanku selesai.”


“Terus kenapa memangnya? Apa aku nggak bisa temani Mas?,” tanya Sara.


“Sara ... dua tahun saja tidak cukup. Aku pernah menjalaninya. Bagaimana kalau butuh waktu yang lebih lama dari itu?”


Tangan kanan Agam kini meraih wajah Sara dan bersandar di sisi wajahnya.


“Aku nggak mau kamu tertahan di sini selamanya karena aku.”

__ADS_1


“Mas nggak pernah bertanya apa mauku.”


Singkat. Tapi jelas. Sangat jelas bahkan Agam tidak bisa berkata lagi. Tangan Agam bergerak turun memegangi tangan Sara.


“Kalau aku yang mau menemani Mas sampai akhir, nggak boleh?”


Agam tetap diam. Tapi dia memikirkannya. Sara tahu dari raut wajahnya saat ini.


“Mas sudah melakukan banyak hal untukku. Jadi kalau sekarang aku melakukan hal yang sama, juga nggak boleh?”


“Sara ...”


Hanya itu kata pertama yang diucapkan Agam. Mungkin juga ingin mengatakan hal lain tapi tertahan.


“Aku tahu Mas ingin aku bisa bahagia. Tapi bagaimana dengan kebahagiaan Mas sendiri? Apa Mas juga bahagia dengan keputusan itu?”


Air mata yang sedari tadi tidak turun, kini jatuh setitik saat Sara mengatakan, “Kalau seandainya aku terima begitu saja keputusan Mas untuk bercerai. Lalu selama Mas pergi aku melupakan Mas dan menerima orang lain, Mas sudah ikhlas?”


Agam menarik napasnya perlahan, lalu menghembuskannya. “Kalau kamu bahagia ... aku juga ... bahagia.”


Pembohong! Untuk mengatakan ‘aku juga bahagia’ saja begitu beratnya.


“Kalau aku nggak bahagia, apa yang akan Mas lakukan? Baru Mas akan muncul di hadapanku lagi?”


Agam tidak menjawab.


“Mungkin sebelum itu terjadi, aku sudah mati karena terlalu sakit hati.”


“Sara!”


Sara menghapus air matanya.


“Baiklah kalau begitu.”


Dia menuruni tempat tidurnya, lalu menghampiri tas koper dan ransel miliknya yang sedari tadi dia lihat ada di ruangan itu.


“Kamu mau ke mana, Sara?,” tanya Agam begitu Sara menjauh darinya.


“Aku bawa surat cerai yang kamu berikan waktu itu, Mas.”


Sara kemudian mendekati Agam kembali. Dia duduk di atas pangkuannya sendiri di sebelah kursi roda Agam.


“Nggak perlu menunggu sampai Mas kembali. Kita selesaikan sekarang saja.”


Sara dapat melihat tenggorokan Agam bergerak naik turun. Dia yakin Agam kini tengah gugup.


“Dua kali sudah, Mas bilang mau menceraikan aku. Sekali lagi, maka pernikahan ini selesai. Aku dan Mas nggak akan bisa bersama lagi.”


“Sara ...”


“Katakan sekarang juga kalau Mas mau menceraikan aku, lalu aku akan menandatangani surat cerai ini. Aku akan kembali ke Indonesia tanpa banyak pertanyaan lagi. Aku anggap semua ucapan Mas yang kemarin hanyalah bohong belaka, Mas nggak pernah mencintai aku, dan pernikahan ini dari awal memang hanya sebuah perjanjian.”


“Sara ...”


Hanya memanggil namanya. Hanya itu. Agam tidak mengatakan apapun selain itu.


“Kalau semua yang Mas lakukan untuk kebahagiaanku, setidaknya pikirkan juga kebahagiaan Mas sendiri,” ucap Sara lirih. “Kalau tidak, aku hanya akan semakin merasa bersalah sepanjang hidupku, dan terus membenci Mas.”


Sara mengusap air matanya. Kepalanya tertunduk membiarkan air matanya terus jatuh ke pangkuannya.


“Rasanya jauh lebih mudah diterima kalau Mas tadi bilang mau menikah,” isak Sara.


Ya. Kenapa dia malah bilang dia mencintaiku? Dia benar-benar seorang pembohong!


Sara masih terus mengusap air matanya dengan lengan tangannya untuk beberapa saat. Hingga kemudian, tangan Agam tiba-tiba saja menggenggam pergelangan tangannya.


Sara terkejut.


“Kemarilah,” kata Agam dengan penuh kelembutan.


Sara masih mencoba memahami apa yang sedang dipikirkan Agam saat ini. Keningnya berkerut saat menatap Agam yang pandangannya justru tidak sedang menghadap dirinya.


Apa maunya?


“Bangunlah. Biarkan aku memelukmu.”


Tanpa komando lagi, Sara segera membangkitkan dirinya dan langsung memeluk Agam dengan eratnya. Agam pun demikian. Sangat erat.


“Maafkan aku, Sara,” ucap Agam lirih. “Aku ingin melindungimu. Tapi aku yang paling banyak menyakitimu. Maafkan aku ...”


Sara hanya menggelengkan kepalanya, lalu membenamkannya di pundak Agam. Menangis di sana hingga membasahi kemejanya, sementara Agam terus membelai rambutnya seraya terus menciuminya cukup lama.

__ADS_1


“Aku sangat merindukanmu, Sara. Sejak aku pergi, aku selalu memikirkan kamu. Saat aku tahu kamu datang, aku ingin marah. Tapi aku terlalu senang. Aku takut, aku mungkin tidak akan bisa melepaskan kamu pergi.”


Agam menciuminya lagi. Sangat lama hingga tak ingin dilepaskannya.


“Kalau gitu, jangan dilepaskan,” ucap Sara lirih dalam dekapan Agam. “Jangan biarkan aku pergi.”


Biarkan aku tetap di sisimu, Mas ...


“Kamu yakin dengan pria sepertiku?”


Sara langsung melepaskan dirinya dari pelukan Agam. Kedua tangannya menangkup wajah Agam. “Mas sempurna di mataku. Sampai kapan pun.”


Kini tangan Agam mencari wajah Sara. “Kamu tidak menyesal?”


Sara menggelengkan kepalanya dengan keras. “Takutnya Mas yang menyesal dengan orang sepertiku.”


Agam menarik Sara kembali ke pelukannya. “Aku tidak akan menyesalinya. Kamu keajaiban terbaik yang Tuhan kirimkan untukku.”


Agam mendekapnya erat. Sara juga demikian.


Entah berapa lama mereka berpelukan. Agam pada akhirnya merenggangkan pelukannya. Lalu membuka telapak tangannya.


Sara memandanginya keheranan. “Apa?,” tanyanya keheranan seraya menghapus air matanya yang masih tersisa.


“Berikan surat cerainya. Aku sendiri yang akan membuangnya,” kata Agam dengan telapak tangannya yang masih terbuka.


Sara seketika gugup. “Surat ... c-cerai apa?”


“Surat cerai yang aku titipkan di Raka. Katanya kamu bawa.”


“Y-yang mana? Memangnya ada?”


Agam menghela napasnya. Dengan nada rendah, dia memanggil, “Sara ...”


“I-itu ... tadi ... cuma bohong. Hehe ... Maaf ...” Dari gugup berubah menjadi penuh percaya diri. “Lagian, mana ada orang bawa surat cerai ke luar negeri sih, Mas?”


Agam mendengus di sela-sela bibirnya yang menyeringai. Sara malah bertambah gugup melihat seringai Agam itu.


Mungkin jarak mereka yang terlalu dekat, atau karena tangan Agam yang memang masih memeluk tubuh Sara, tahu-tahu saja tengkuk Sara didorong mendekati Agam, dan bibirnya sudah direbut oleh pria itu. Sara dibungkam dengan rapat oleh Agam tanpa bisa berkata-kata lagi.


Terlalu merindu mungkin. Sara bisa merasakan pagutan yang sangat dalam dari Agam hingga susah baginya untuk bernapas. Terlalu menuntut hingga rasanya sulit untuk bisa lepas begitu saja. Terutama ketika Agam mulai memaksa masuk melalui sela-sela giginya, saat itulah dia tahu, dia tidak akan bisa lepas dari pria yang kata temannya memiliki zero experience (nol pengalaman) terhadap teman wanitanya.


Nggak mungkin zero experience!


Saat dilepaskan, napas mereka sudah tidak beraturan. Sara langsung memukuli pundak Agam. Sementara Agam hanya menyeringai puas dan bangga.


Tangan Agam yang masih bersandar di tengkuk Sara kemudian mendorong Sara mendekat lagi, lalu menyandarkan kening mereka.


Agam ingin mengatakan sesuatu, tapi selalu batal karena dia terus tertawa bahagia. Ibu jarinya terus membelai lembut wajah Sara.


Tangan Sara yang menggantung di lengan Agam yang pada akhirnya mulai berkata, “Kita akan hadapi ini bersama-sama, Mas.”


Agam mengangguk, kemudian mengecup kening Sara.


......................


Author’s Note :


Halo, semua pembaca ...


Terima kasih banyak sudah mengikuti perjalanan Agam dan Sara sampai sejauh ini. Lama juga ya ternyata 😂


Bisa dikatakan, ini adalah akhir dari bagian pertama, yaitu bagian pengenalan, mulai dari tatap muka sampai memahami perasaan dan permasalahannya masing-masing.


Bagian kedua adalah bagian ketika mereka akan kembali ke Indonesia. Di bagian inilah, mereka akan diuji sebagai pasangan. Jadi masih akan banyak lagi rintangan yang harus dihadapi. Mulai dari bertemu kembali dengan pria yang namanya sudah disebut sejak Part 1 hingga adik ipar yang paling bontot, Ava yang ternyata pendukung terbaik sang Mama.


Lalu, di Jepang ngapain dong?


Hehe ... Ada. Tetap ada, tapi tidak banyak. Bisa dikatakan sebagai extra part dari bagian pertama mungkin, ya. Hehe ...


Karena itu hanya diceritakan secara cepat. Tapi tetap menjadi penghubung ke cerita selanjutnya. Termasuk kabar gembira dari Ibu, dan kejutan besar dari Agam untuk Sara.


Semoga masih penasaran untuk dinantikan, ya.


Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih banyak untuk semua dukungan yang sudah diberikan.


Kekurangan sudah pasti ada. Karena itu , saran dan kritik yang membangun, saya terima dengan lapang dada.


Salam hangat,


Cygni 💕

__ADS_1


__ADS_2