
[Agam]
Hanya karena dia mencium aroma yang biasanya dia rasakan ketika berdekatan dengan Sara, aroma citrus-musk-vanilla, dia serta-merta menyebut nama Sara tanpa berpikir sedikit pun. Sebegitu rindunya dia pada gadis itu sampai-sampai hanya perkara bau yang mirip saja sudah mengingatkannya pada istri yang sangat dicintainya itu.
Tapi, bunyi apa itu? Seperti bunyi jatuh yang sangat keras. Apa yang jatuh?
Agam tidak tahu. Yang jelas, suara keras itu membangunkan hampir semua orang yang ada di lantai itu. Sangat keras berarti sampai terdengar hingga ke ujung lantai ini.
“Doushita no? Dareka ga taoreta no? (Ada apa? Siapa yang jatuh?),” tanya semua orang dalam kebingungan yang sama dengan Agam.
Seorang perawat yang suaranya dia kenali juga datang menghampirinya dan menanyakan hal yang sama, “Doushita no? (Ada apa?)”
“Watashi mo wakarimasen. (Aku juga tidak tahu),” jawab Agam dengan Bahasa Jepang yang fasih.
Dan suara langkah kaki yang bergerak cepat menjauhinya.
“Masaka! Dareka ga taoreta! (Astaga! Ada orang jatuh!)”
Jatuh? Benar-benar ada orang jatuh?
“Ojou-san, Ojou-san (Nona, Nona) ... Watashi no koe ga kikoemasu ka? (Anda bisa dengar saya?)”
Begitu yang Agam dengar meski dia masih belum berpindah dari tempatnya saat ini. Dari perkataan perawat itu, Agam bisa menyimpulkan yang baru saja jatuh adalah perempuan, dan ... pingsan.
Agam mulai menggerakkan kursi rodanya, tapi seseorang menahannya bergerak lebih jauh lagi.
Seorang perawat yang lain lagi memintanya untuk tetap menunggu, sementara perawat itu pergi mengeceknya.
Perasaan Agam semakin tidak enak. Kenapa semuanya terasa aneh?
Semua baru jelas ketika seorang perawat pria datang memberitahunya.
__ADS_1
“Agam-sensei ... Yang jatuh itu mirip sekali dengan foto yang pernah sensei kasih lihat.”
Dia adalah perawat asal Indonesia. Agam memang pernah menunjukkan foto Sara padanya sekali saat mereka mengobrol. Tapi ...
Itu benar-benar Sara?
Agam langsung tidak dapat menahan dirinya. Dia ingin memastikan sendiri itu benar-benar Sara. Tangannya langsung menggerakkan kursi rodanya. Tapi sekali lagi, usahanya dihalangi.
“Tenang, sensei. Akan saya antarkan ke kamarnya. Mereka sudah membawanya ke kamar rawat.”
Dan Agam dibawanya ke tempat di mana Sara berada saat ini.
......................
“Agam! Aku tahu kau pasti akan menghubungiku.”
“Mas Agam!!”
“Jelaskan padaku sekarang juga! Kenapa Sara ada di sini?,” tanya Agam menahan marah dan suaranya agar tidak terdengar hingga ke dalam kamar Sara dirawat saat ini.
“Itu ide Arya!”
“Enak aja! Jangan bawa-bawa aku! Jangan percaya Mas. Tahu sendiri Yuda kan, Mas. Dia sudah kesetanan karena nggak bisa lihat Mas Agam.”
“He! Jangan omong kosong kau, ya!
Dan tidak ada informasi apapun yang bisa Agam dapatkan selama mereka berdebat di ujung sana.
“Hmmp ... Hmmp ...”
“Diam dulu, Bocah!”
__ADS_1
Agam yakin Yuda sedang membekap adiknya saat ini.
“Dengar, Agam,” kata Yuda dengan latar belakang suara Arya yang ditahan. “Dengarkan dulu apa yang mau dia katakan. Dia juga punya hak untuk kau dengarkan. Kalau setelah dia bicara, kau masih teguh dengan keputusanmu, hubungi aku. Akan ada orang datang menjemputnya dan mengantar kembali ke bandara.”
Tapi, permasalahannya bukan itu sekarang.
Agam mengurut keningnya, lalu berkata, “Apa kalian tahu apa yang terjadi pada Sara sekarang ini? Dia jatuh dari tangga dan sekarang sedang tidak sadarkan diri.”
Hening.
Tidak ada suara.
Lalu kemudian ...
“Sara gimana?”
“Mbak Sara nggak apa-apa kan, Mas?”
Mereka panik. Sangat panik.
Dan justru menambah sakit di kepalanya.
Agam langsung memutuskan panggilan itu dan memilih kembali ke kamar rawat Sara.
Dengan dibantu perawat yang masih bersamanya, Agam dibawa kembali ke sisi Sara yang saat ini sedang terbaring.
Dipeganginya tangan Sara yang dingin. Dia gosokkan tangannya dengan tangan Sara, lalu meniupnya, memberikan kehangatan melalui napasnya itu.
Ini benar-benar Sara. Jari-jemarinya. Aku sangat mengenalinya.
Agam menciumi tangan Sara yang masih dipeganginya, dan dibiarkan tetap di sana.
__ADS_1
Kenapa kamu datang, Sara?