Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 37-3 : Malam yang Panjang nan Kacau (POV Arya)


__ADS_3

[Arya]


Arya sengaja pulang lebih awal hari ini. Dia masih mengkhawatirkan kakaknya. Di kepalanya terus melintas bayang-bayang wajah pucat Sara, kakak iparnya yang tiga hari ini tidak mau makan.


Masih bersyukur dia mau makan tadi. Tapi tetap tidak seimbang dengan lamanya waktu perut Sara dibiarkan kosong tanpa makanan ataupun minuman.


Harapannya seperti sedang dikabulkan Tuhan ketika dia melihat pintu kamar Agam, sang kakak terbuka, dan tidak ada orang-orang yang berjaga di depannya.


Berarti ... “Mas Agam sudah sadar?”


Tapi yang dilihatnya, di luar apa yang sudah dia bayangkan.


Keadaan kamar yang berantakan, Agam yang kacau, dan Sara yang ... menangis?


Mbak Sara menangis?


“Ada apa ini?”


Dia bertanya pada semua orang yang ada di sana tidak ada yang menjawabnya. Dia hampir emosi dibuatnya, tapi masih ditahannya.


Pelan-pelan dia ingin mencari jawabannya pada Sara, tapi yang didapatinya sang kakak ipar terjatuh dan pingsan.


“Mbak Sara! Dokter!”


Arya segera membawa tubuh Sara ke atas tempat tidur yang ada di dalam kamar yang terbuka mungkin oleh Sara tadi. Tanpa pikir panjang memang. Mengingat kondisi kamar Agam tadi, kamar itu adalah yang langsung dimasuki Arya. Yang penting ada tempat untuk kakak iparnya berbaring.


Tapi, saat akan membawa Sara, satu sosok pria yang dia kenal sedang berada di rumah kakaknya saat ini mengundang pertanyaan besar di kepalanya. Yuda?


Bukan. Bukan itu prioritasnya sekarang. Dia butuh yakin dulu kalau Sara tidak apa-apa. Dia masih menunggu dokter memeriksanya.


Dokter segera memasangkan innffuus ke tubuh Sara. Dan terakhir, dokter mengatakan, “Nyonya butuh istirahat saat ini.”


Syukurlah ...


Arya baru akan keluar, ketika matanya tertuju pada satu foto yang duduk manis di atas sebuah meja. Foto Sara dengan seorang wanita dan pria setengah tua yang Arya yakin mereka adalah kedua orang tuanya, atau mungkin seseorang yang sangat dekat dengan Sara. Karena mereka terlihat sangat manis dan hangat dalam foto itu.


Kedua mata pria di sebelah kirinya agak berbeda dengan mata orang-orang pada umumnya. Arya yakin, pria itu buta.


Ditelusurinya lagi seluruh sudut kamar itu. Beberapa barang yang tidak lazim ada di kamar tamu. Sebagian besar adalah milik seorang perempuan. Jaket, boneka, sisir, tidak mungkin kamar tamu menyediakan semua itu.


Milik Mbak Sara? Kenapa barang-barang Mbak Sara ada disini?


Yuda!

__ADS_1


Arya tiba-tiba teringat Yuda kembali. Segera dia keluar dari kamar itu dan pergi mencarinya.


Terakhir dia melihatnya, Yuda akan ke kamar Agam, tapi Raka yang sedang berdiri di depannya mengatakan pria itu sudah keluar.


Arya mengikuti petunjuk itu. Dia dapat melihat tubuh tegap gagah seorang pria yang sedang menghiisaap rookkoknya. Arya segera menghampiri Yuda.


“Aku yakin kamu pasti tahu semuanya. Karena itu kamu ada disini. Apa yang sebenarnya terjadi pada kakakku?”


Cengkeraman tangan Arya pada baju Yuda menyebabkan pria itu cukup terkejut bahkan sampai melepaskan rookkok yang ada di tangannya. Tatapan mata Yuda yang tajam menandakan pria itu tidak suka Arya memperlakukannya seperti itu.


“Kau yakin sudah bisa mendengarnya? Kalau kau sudah siap mendengar kebenarannya, aku akan ceritakan semuanya saat ini juga. Tapi, kalau kau belum siap, sebaiknya kau lepaskan aku sebelum aku memukulimu.”


Arya terdiam saat Yuda mengatakan itu. Beberapa detik kemudian, dia melepaskannya.


Arya menduduki bangku yang ada di teras, lalu menghela napasnya.


“Apa kata dokter?,” tanya Yuda yang juga turut duduk di bangku teras yang lain.


“Kurang nutrisi. Tubuhnya melemah. Tiga hari dia nggak makan. Aku membujuknya berkali-kali, dia hanya makan sekali, mau berharap apa? Dia masih bisa berdiri saja itu sudah bagus.” Arya mengatakannya seraya bersandar pada bangku dan melemaskan otot punggungnya, memandangi langit malam yang menyentuh air danau buatan di depan rumah Agam.


Yuda terdiam sejenak. Tapi kemudian, dia berkata, “Satu hal yang harus kamu ketahui tentang kakakmu. Dia menjadi seperti ini karena dia terlalu kecewa. Hatinya terlalu sakit.”


“Apakah ini ada hubungannya dengan mamaku?,” tanya Arya lirih.


“Kamu sudah tahu?”


“Apa yang kamu dapat?”


“Mama yang menyebabkan kecelakaan itu. Dia membayar orang untuk menabrak mobil Papa.”


Yuda menghela napasnya. “Selain itu?”


“Belum ada.”


Yuda menghidupkan kembali sebatang rookoknya yang lain, lalu menghisapnya.


“Dua tahun yang lalu, kakakmu pergi dari rumah. Dia pergi berobat ke luar negeri. Singapura, Jerman, terakhir di Jepang. Dari pengobatan itu, kesimpulan diambil ada obat yang melemahkan hingga mematikan otot dalam organ tubuh kakakmu yang menyebabkan beberapa fungsi organ secara acak tidak berfungsi. Dan obbat itu memilih mata dan telinganya. Itulah penyebab kebutaan dan ketulian kakakmu.”


Arya menelan salivanya dengan keras. Ini adalah informasi lain yang sama mengejutkannya saat dia menerima informasi tentang kecelakaan itu.


“Setelah kecelakaan itu, kakakmu berkali-kali menjalani terapi untuk memulihkan kembali kedua kakinya, tapi selalu gagal. Dan pada saat itu, Agam tahu apa penyebabnya.”


Dan masih berlanjut ...

__ADS_1


“Satu-satunya cara untuk bisa memulihkan semuanya adalah membersihkan raacuun dalam tubuh kakakmu, lalu memulai proses terapi untuk pemulihan. Syaratnya cuma satu, kakakmu tidak boleh sampai mengkonsumsi obbaat itu lagi. Jika terjadi, prosesnya kembali ke titik nol.”


Yuda menghela napasnya cukup panjang, mengeluarkan asap rookook dari mulutnya. “Dan itu yang terjadi saat ini. Oobaat itu masuk kembali ke dalam tubuhnya, dan karena di dalam tubuh Agam sudah mengenalinya, dia langsung bereaksi. Semua usahanya hilang begitu saja.”


“Demam tinggi selama 3 hari 3 malam, itu adalah gejala yang sama dengan 2 tahun yang lalu.”


“Apa hubungannya semua ini dengan mamaku?,” tanya Arya.


“Oobaat itu adalah oobaat yang terrlarrang karena efeknya yang membahayakan. Widia memesan obat itu dari dealer oobaat terrlarrang di luar negeri. Penjualnya menyimpan bukti catatan, foto, dan juga video jelas dengan suaranya.”


Ini semua benar-benar gila ...


“Mas Agam punya buktinya. Kenapa nggak penjarakan saja dia?” Arya mungkin sanggup mengatakannya. Tapi tangannya terkepal sangat keras. Dia mengeratkan giginya. Sebagian hatinya tidak rela, tapi sebagian lagi mengatakan harus.


“Tidak semudah itu, Arya.”


“Karena dia memikirkan aku. Benar, kan?”


“Itu yang Agam katakan padaku. Tapi, aku yakin dia punya alasan lain. Dan aku juga yakin kamu juga tahu sebabnya.”


Karena dia menyayangi Mama. Itu yang Mas Agam katakan saat itu.


#


“Aku menyayangi Mama seperti kamu menyayanginya.”


#


Biar bagaimanapun juga, hubungan mereka sangat baik dulu.


“Lalu, siapa sebenarnya Sara? Apakah dia benar-benar istri Mas Agam? Rasanya terlalu mendadak saat aku dengar berita Mas Agam sudah menikah. Mereka terlihat bahagia sebelum ini. Tapi yang terjadi tiga hari terakhir ini, ditambah yang aku lihat di kamar atas tadi, kecurigaanku muncul kembali.”


“Sara hanyalah orang yang berada dalam waktu yang tepat tapi dengan nasib yang salah. Kalau seandainya hidupnya lebih baik, kisah mereka mungkin tidak akan menjadi seperti ini,” jawab Yuda.


“Tapi mengapa Mas Agam menyalahkan semuanya pada Sara sampai-sampai dia memperlakukannya seperti itu?,” tanya Arya yang nada suaranya sedikit meninggi.


“Aku yakin kakakmu itu juga tahu kalau Sara tidak bersalah. Rasa takutnya itu yang sudah membutakan pikirannya.”


Yuda membuang punntung rookooknya ke lantai lalu menginjaknya. Dia menghela napasnya sekali.


“Terus sekarang bagaimana? Mas Agam nggak bisa begini terus.”


“Aku sudah memarahi Agam. Mereka mungkin memulainya dengan cara yang salah. Tapi hati mereka saat ini tidak akan salah. Kita mungkin akan kesulitan menangani Mas mu itu. Tapi aku yakin, Sara bisa mengatasinya.”

__ADS_1


Kali ini, Arya yang menghela napasnya. Mengingat semua yang terjadi akhir-akhir ini, dia juga sependapat dengan Yuda.


Semoga saja begitu ...


__ADS_2