
[Sara]
Sara memandangi teras belakang dari sofa tempatnya duduk saat ini. Pandangannya kosong. Tapi ingatannya tidak bisa lepas dari sosok Agam yang duduk menghadap hijaunya padang rumput yang melintang di halaman belakang.
“Tuan Agam ingin mengatakan dia ingin Nyonya melanjutkan hidup tanpa dirinya,” kata Raka yang sedari bilang ini dan itu yang katanya adalah pesan dari Agam.
Kenapa? Kenapa dia memutuskannya sendiri?
Hanya itu yang Sara pikirkan saat ini. Mengapa Agam tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya sedang dia tanggung saat ini? Apakah tidak bisa Sara tetap bersamanya dan mendampinginya?
Dia memang egois! Hanya memikirkan perasaannya sendiri!, rutuk Sara dalam hatinya yang saat ini sedang sangat marah pada Agam. Air matanya terus jatuh satu persatu
“I-ini adalah surat rumah ini dan juga surat kepemilikan mobil. Tuan Agam ingin Nyonya memilikinya,” lanjut Raka lagi.
Sara tidak melirik sedikitpun. Pandangannya masih tertuju pada pemandangan halaman di teras belakang dengan hati yang penuh kesesakkan karena emosi yang campur aduk. Marah, sedih, khawatir, entah apapun namanya itu. Tapi satu yang jelas, Sara sudah merindukannya.
“Aku tidak butuh rumah ini atau mobil,” ucap Sara lirih.
“Tuan Agam ingin ... Nyonya bisa tinggal dengan Ibu Nyonya di sini.” Raka terdengar cukup berat mengatakannya. Sara pun tidak mau tahu bagaimana raut wajahnya saat ini.
Apa dia lupa kalau aku punya rumahku sendiri?
“Pengobatan Ibu Nyonya tetap akan dilanjutkan. Dengan mobil ini, Tuan Agam berharap bisa membantu mengantarkan Ibu Nyonya dan Nyonya ke mana saja yang diinginkan.”
Apa dia lupa kalau sekarang sudah ada taksi online?
Raka sempat terdiam sejenak. Mungkin juga sedang memikirkan apa yang harus dikatakan selanjutnya.
“I-ini cek dari Tuan Agam. Nyonya bisa menulis sendiri berapa nominal yang Nyonya minta. Uang ini un ...”
“Mas Agam pergi kemana?” Pandangan Sara beralih menatap Raka yang masih memegang cek yang sedang diletakkan di atas meja tanpa mempedulikan sama sekali cek itu.
“S-soal itu ... Tuan Agam tidak ingin Nyonya tahu.”
“Kalau gitu, aku minta kontaknya yang sekarang.” Begitu Sara mendengar Raka bilang Agam telah pergi, dia langsung menghubungi Agam. Tapi tidak terhubung.
“S-soal itu ...”
“Aku mau dengar sendiri dia mengatakannya.”
Raka terdiam. Tidak bisa berkata apapun. Keringatnya sudah deras mengucur sedari tadi. Tangannya kini beralih dari lembaran cek ke keningnya yang basah.
“S-saya juga tidak tahu Nyonya.”
Sara mendengus. Pandangannya beralih lagi ke teras belakang.
Air matanya masih terus turun karena rasa kesalnya yang sudah mencapai ubun-ubunnya.
Wajar jika Sara marah. Agam pergi tanpa mengatakan apapun. Setelah mereka menghabiskan waktu bersama beberapa hari terakhir ini. Dia merasa seperti sedang dibohongi.
Kebohongan besar!
Sara mengusap kembali air matanya dengan kasar. Dia kembali menatap Raka. Tapi terkejutnya Sara saat dia melihat orang yang berbeda yang saat ini sedang duduk di hadapannya.
“Arya? Kapan kamu datang?”
__ADS_1
Sara melongo ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada seorang pun di sana selain mereka berdua.
“Raka aku suruh tunggu di luar, Mbak,” kata Arya yang seakan tahu apa yang sedang dipikirkan Sara.
“Aku kesini cuma mau lihat keadaan Mbak. Mbak baik-baik saja?”
Sara menggeleng. “Mas Agam pergi begitu saja. Nggak ngomong apa-apa. Nggak ada penjelasan. Hanya nitip itu saja. Bagaimana aku bisa baik-baik saja?”
Sara menunjuk barang-barang yang diberikan Raka tadi padanya pada Arya yang ada di atas meja. Lalu kembali menatap Arya.
“Apa Mas Agam ada bilang dia ke mana?” Sara masih berusaha mencari tahu.
Kalau Raka mungkin tidak diberitahu. Tapi kalau Arya kan adiknya.
Tapi, Arya malah menggeleng.
Napas Sara berhembus panjang tanda dia sedang melepaskan kekecewaannya.
“Mas Agam melarang aku kasih tahu ini ke Mbak. Tapi aku rasa Mbak berhak untuk tahu.”
Arya kemudian bercerita bagaimana Sara bisa bebas waktu itu. Apa saja yang dilakukan Agam untuk membebaskannya. Dan rencana Agam setelah dia tidak lagi mengurus NFC.
Sudah habis berlembar-lembar tisu yang ada di atas meja. Sara sudah tidak dapat menahannya keluar lebih banyak saat dia tahu Agam telah melepaskan NFC demi dirinya. Perusahaan yang terus dia lindungi hingga mengikis semua kemampuan fisiknya satu persatu. Dilepaskan begitu saja.
“Kalau aku tahu Mas Agam akan ambil keputusan seperti ini, aku pasti akan melarangnya,” kata Sara dalam tangis sedu-sedannya.
“Dia sangat menyayangi NFC. Sekarang dia melepaskannya begitu saja,” raung Sara dalam tangisnya.
“Mas Agam masih menyayangi NFC. Tapi dia lebih sayang Mbak.” Arya membela kakaknya itu.
Tapi tetap saja ...
Sara melanjutkan raungan tangisnya. Diambilnya dengan paksa tisu yang ada di hadapannya.
“Kalau memang dia ingin memulihkan dirinya, kenapa aku nggak boleh ikut? Setidaknya dia bisa nanya kan apa mauku? Kalau aku sendiri bilang aku nggak mau, baru dia boleh pergi!”
Satu jam lebih Sara menyebut nama Agam hanya untuk melampiaskan kemarahannya, dengan tangisnya yang tersedu-sedu.
Lebih marah lagi saat dia tahu, ternyata Arya juga tidak diberitahu ke mana Agam akan pergi.
Arya hanya mendengarkan selama itu. Sesabar itu dia terus menerima kemarahan Sara untuk menggantikan kakak kesayangannya.
Begitu tenang, Arya mulai bertanya, “Apa yang akan Mbak lakukan sekarang?”
Benar. Apa yang akan aku lakukan sekarang?
Sara pandangi kembali teras belakang. Tatapan kosongnya menandakan Sara sedang memikirkan hal lain dalam benaknya.
“Pulang,” ucap Sara lirih. “Ke rumah Ibu.”
“Mbak yakin mau pulang?,” tanya Arya. “Ini rumah Mbak juga. Mas Agam memberi ...”
Sara memotong kalimat Arya itu. “Ini rumah Mas Agam.”
Dia pandangi sudut-sudut rumah dari tempatnya duduk saat ini. Ternyata banyak kenangannya bersama Agam di rumah ini dalam pernikahan mereka yang singkat.
__ADS_1
Tawa, sedih, marah, sakit ... semua ada ...
Sara mengusap air matanya, lalu berkata, “Mas Agam membangun rumah ini sebelum dia kembali ke Indonesia. Semua sudut rumah ini sudah dipikirkannya dengan matang. Mas Agam adalah jiwa rumah ini.”
Pandangannya kini beralih ke Arya. “Dan tanpa Mas Agam, rumah ini hanya rumah biasa. Seperti cangkang kosong.”
Arya tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk menimpali kalimat Sara itu. Dia terdiam dan menundukkan kepalanya.
Setelah beberapa saat membereskan beberapa barangnya, Sara akhirnya pulang ke rumahnya dengan diantarkan oleh Arya.
Masih bertangis-tangisan dengan Mbok Jami, Pak Pardi, dan beberapa pekerja lainnya sebelum pergi. Baru setelah itu, Sara pergi. Mobil dan supir yang disiapkan Agam untuknya ditinggalkan begitu saja.
......................
“Sara?”
Ibu yang sedang menyirami tanaman di pagar depan begitu terkejut ketika melihat sosok putri satu-satunya datang. Sara pun langsung memeluknya.
Pelukan yang sangat erat diberikan Sara seperti sedang melepaskan rindunya seakan baru bertemu setelah bertahun-tahun lamanya terpisah. Air mata yang turun langsung dihapusnya agar Ibu tidak khawatir dengan kepulangannya.
Arya pamit kemudian ketika sudah memberikan tas koper bawaan Sara. Ibu sempat bengong melihatnya.
Tapi berita terbesar bisa jadi baru saja dibuat oleh para tetangga yang melihat Sara.
Sara tidak mempedulikannya. Diajaknya Ibu untuk masuk ke dalma rumah.
Seperti tidak terjadi apa-apa, Sara memasuki rumah dengan wajarnya. Dia menunjukkan betapa rindunya pada rumah itu. Membawa tas kopernya ke dalam kamarnya yang dulu, lalu merebahkan dirinya di atas kasur.
Tidak ada yang berubah. Rupanya Ibu membiarkan kamarnya tetap sama seperti dulu. Tidak ada tanda-tanda debu di kamarnya menandakan Ibu rajin membersihkannya.
Perlahan Ibu duduk di samping Sara sambil terus intens memandangi putrinya itu dengan tatapan penuh pertanyaan.
Dalam posisi berbaringnya, Sara hampir tertawa melihat Ibu yang seperti ingin bertanya tapi masih menunggu momen yang pas.
“Ibu kenapa sih? Kok kayaknya nggak seneng Sara pulang?,” canda Sara menggoda Ibu.
“Bukan gitu. Ibu khawatir sama kalian. Kamu tiba-tiba pulang begini bawa koper. Kalian bertengkar?”
Bertengkar? Mas Agam bahkan masih mencium keningku semalam.
Sara tidak menjawab. Dia memindahkan kepalanya ke atas pangkuan Ibu lalu memeluk Ibu sambil berbaring. Membenamkan wajahnya di perut Ibu.
Perlahan dia merasakan tangan Ibu membelai puncak kepalanya. Sentuhan lembut yang sudah lama tidak dia rasakan. Sara merasakan kehangatan di setiap sentuhan Ibu menyentuh kepalanya.
“Suami istri kalau bertengkar itu sudah biasa. Tapi jangan sampai pisah rumah begini. Lebih baik bicarakan baik-baik.”
Setiap kata yang diucapkan Ibu, tangan Ibu pasti sedang membelai kepala Sara.
Sara hampir menangis dalam persembunyiannya. Air matanya keluar sedikit, tapi menyatu langsung dengan baju Ibu.
Sara kemudian duduk di hadapan Ibu. Dia sekarang siap untuk bercerita.
“Mas Agam berencana mau berobat ke luar negeri. Sangat lama. Tidak tahu kapan kembali,” begitu ceritanya, sedikit berbohong.
“Kalau gitu, kamu harus ikut," jawab Ibu dengan tegasnya.
__ADS_1