Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 28 : Pria Berwajah Sendu


__ADS_3

[Sara]


“Mas Agam belum turun, Mbok?,” tanya Sara pada Mbok Jami yang baru saja berpapasan dengannya saat baru saja melewati teras belakang dan mendapati tidak ada sosok suaminya itu di sana.


“Belum, Non. Saya tadi ke atas tapi ada Den Arya di depan kamar Den Agam. Saya ndak berani nanya lagi, Non,” jawab Mbok Jami.


Arya?


“Dari tadi, Mbok?,” tanya Sara lagi.


“Ya lumayan lama, Non. Setengah jam tadi saya ke atas sudah ada Den Arya. Saya ndak tahu Den Arya sudah berapa lama di atas.”


Saat Agam mengatakan dia ingin beristirahat, tidak banyak yang Sara pikirkan. Mungkin dia memang benar-benar ingin begitu, begitu pikirnya. Dengan semua yang terjadi, siapa yang tidak ingin mengistirahatkan hati dan pikiran? Karena itulah, Sara memilih untuk ke ruang kerjanya seperti yang suaminya itu pinta. Menyelesaikan pekerjaan yang seharusnya dia kerjakan.


Tapi mendengar yang dikatakan Mbok Jami, Sara mulai merasa khawatir. Sedari tadi belum keluar dari kamar, dan sekarang Arya sudah menunggu di luar. Kenapa?


Apa mungkin dia tidak ingin menemui Arya?


Sara melangkahkan kakinya menuju kamar Agam. Begitu dia tiba di lantai atas, dari depan pintu yang sebelum ini adalah kamarnya, dia bisa melihat Arya sedang terduduk di depan kamar Agam.


Arya duduk di lantai dengan kepalanya menunduk ke bawah. Sangat dalam hingga rasanya terlalu berat untuk diangkat ke atas. Tapi Arya tidak tidur. Sara masih bisa melihat jari-jemari tangan pria itu dimainkan. Kadang tergenggam erat, kadang ibu jarinya berputar di jari telunjuknya.


Tak lama kemudian, Arya bangkit dari duduknya. Dia mendatangi pintu kamar Agam dan berdiri di depannya.


Tok, tok, tok ...


Ketukan yang sangat lembut. Tidak digedor apalagi diketuk dengan sangat keras. Arya mengetuk pintu seperti sedang meminta ijinnya untuk masuk.


“Mas ... Ini aku, Arya,” kata Arya setelah beberapa kali mengetuk tapi tidak ada jawaban dari dalam sana.


Dan masih sama, tetap tidak jawaban.


Entah sudah berapa kali Arya melakukan hal yang sama seperti itu. 30 menit jelas bukan waktu yang sebentar untuk seseorang yang sedang menunggu.


Arya akan berbalik menuju tempatnya duduk tadi, tapi saat dia berbalik, kedua matanya bertemu dengan Sara yang berdiri tidak jauh darinya. Arya menatap Sara seolah-olah sedang bertemu dengan jawaban yang sedang dicarinya. Dia memelas seperti seorang anak kecil yang sedang meminta perlindungan ibunya yang akan membantunya mendamaikannya dengan ayahnya.


Sara menelan salivanya perlahan. Dia menghampiri Arya yang jelas terlihat sudah kelelahan. Senyum di wajahnya dikembangkan sedikit hanya agar Arya tidak lagi khawatir.

__ADS_1


“Mas mu mungkin sedang tidur,” kata Sara beralasan tapi mengatakannya dengan penuh keyakinan. “Kalau tidur biasanya alat bantu dengarnya dilepas.”


Arya menghela napasnya. “Aku pengen ngomong sama Mas, Mbak. Sebentar saja."


Sara kembali tersenyum meski tipis. “Sebaiknya jangan sekarang. Besok mungkin. Biarkan Mas Agam tenang sebentar, ya.”


Arya masih belum bisa menerima apa yang dikatakan Sara. Raut wajahnya masih memohon pada Sara. Tapi, Sara kemudian berkata, “Kamu juga butuh tenang dulu. Supaya waktu ngomong sama Mas kamu nggak terbawa emosi. Beri kalian waktu semalam ini saja, ya.”


Arya akhirnya menyerah. Dia tidak keberatan dengan saran Sara. Sepertinya dia bisa memahaminya.


Sara menghela napasnya ketika melihat punggung Arya yang semakin menjauh darinya. Adik Agam itu berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang cukup gontai. Ada rasa iba saat melihatnya seperti itu. Dia pasti sangat menyayangi Mas Agam.


Ketika Arya sudah benar-benar menghilang dari pandangannya, Sara kini berganti memandangi pintu kamar Agam. Sekarang entah apa yang akan dilihatnya setelah dia membuka pintu kamar itu.


Semoga bukan pemandangan yang menyakitkan seperti waktu itu.


Sara mengambil napasnya dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan ketika jarinya sudah bersiap di depan papan tombol.


Semoga dia tidak merubahnya.


Kali ini tidak gelap. Lampu di ruangan itu dibiarkan menyala. Buku, selimut, hiasan meja semua masih di tempatnya. Tidak ada yang berserakan di lantai. Tapi, tidak ada Agam.


Sara mendekati rak buku yang ada sudut ruangan. Letaknya di tengah menyekat ruangan menjadi dua. Dulu Sara menemukannya di sana. Mungkin juga sekarang ada di sana, pikirnya.


Dan ternyata benar.


Sara melihat sesosok tubuh lemah yang bersandar pada rak buku. Kepalanya menengadah ke atas. Sementara kedua kakinya tetap lurus ke depan. Kursi rodanya masih setia menemani di sampingnya. Sedangkan di sampingnya yang lain telah duduk sebuah nakas di mana di atas terdapat sebuah benda kecil yang Sara tahu itu adalah alat bantu dengar.


Perlahan, Sara duduk di sampingnya dengan menghadap dirinya, menatap wajah pria yang sudah sebulan lebih ini telah menjadi suaminya. Ternyata wajahnya sesendu ini ...


Dengan gerakan yang lembut, Sara menggenggam jemari Agam yang bersandar di pangkuannya. Agam sedikit terkejut.


Tapi yang dilakukan Agam malah menarik tangannya kembali.


“Aku tidak apa-apa. Pergilah,” katanya dengan suaranya yang parau dan lemah.


Dia tidak semarah waktu itu.

__ADS_1


Sara mencoba lagi. Dia bangkit dan berlutut, lalu perlahan mendekatkan dirinya pada Agam.


Sara memeluknya.


Dengan lembut, tangan Sara menepuk pelan punggung pria itu. Sesekali dia mengusap perlahan, lalu kembali menepuknya.


Sara tahu Agam tidak akan dapat mendengarnya. Tapi tetap saja, dari mulutnya dia berkata berulang-ulang dengan suara lirihnya, “Nggak apa-apa, Mas. Bukan salah Mas. Mas sudah melakukan yang terbaik."


Dan seperti telah mendengar semua yang dikatakan Sara, Agam yang awalnya hanya diam tidak bereaksi apapun, kini kedua tangannya mengeratkan Sara dalam pelukannya. Semakin lama semakin erat semakin enggan untuk dilepaskan.


Sepanjang malam itu, Sara menemani Agam di sudut kamarnya, dan membiarkan suaminya itu tetap memeluknya hingga tertidur.


......................


Berat rasanya ketika Sara akan membuka matanya. Rasa kantuk masih lekat menyerangnya, tapi di sisi lain dia merasakan sesuatu yang berat berada di atas pangkuannya. Dipaksakanlah juga akhirnya kedua mata Sara untuk dibuka.


Terlihat olehnya Agam tengah tertidur di sana, di atas pangkuannya. Sangat pulas. Tidak terlihat tanda-tanda akan bangun.


Entah bagaimana cerita awalnya, yang jelas setelah Agam memeluknya dengan sangat erat, ketika Sara sudah menyadarinya, kepala Agam sudah bertumpu di atas pangkuannya.


Sara membiarkan dirinya menikmati pemandangan yang ada di bawahnya saat ini. Entah sejak kapan, berlama-lama memandangi wajah Agam seperti ada kesenangannya sendiri.


Rasanya begitu menyenangkan dan menenangkan sekaligus. Waktu serasa berhenti, dunia serasa tak lagi berputar, seluruh pusat bumi seakan-akan hanya tertuju pada pria berwajah sendu itu. Perhatian Sara seperti sedang diikat olehnya.


Terlalu asyik menikmati hingga tak lagi menyadari ketika tangannya perlahan bergerak. Melihat rambut Agam sedikit menutupi bagian atas wajah Agam, Sara berniat menyingkirkannya.


Sedikit sudah disingkirkan, tapi tangannya tak dapat berhenti membelai rambutnya. Sara ketagihan hingga sulit baginya untuk berhenti. Rasanya terlalu menenangkan.


Tapi kemudian ...


Kedua mata Sara sontak terbelalak lebar. Jantungnya langsung berdegup sangat kencang dan cepat. Dia terlalu terkejut bahkan lupa untuk menarik napasnya.


Dipandanginya pergelangan tangannya yang saat ini tengah digenggam oleh Agam, bergantian dengan memandangi wajah Agam yang masih menutup matanya.


Namun, beberapa detik kemudian, kedua mata Agam terbuka perlahan. Dan seperti sedang menatap dirinya, jantung Sara berdegup tiga kali lebih cepat daripada tadi. Sara tidak dapat berkata-kata kala memandangi kedua bola mata Agam itu.


“Kamu sedang apa?,” tanya Agam kemudian.

__ADS_1


__ADS_2