Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 55-1 : Kebohongan Sejak Awal


__ADS_3

[Sara]


“Wuah, kenapa kamu jadi tambah embul?,” seru Sara saat melihat Milo di atas bantal tidurnya. Dia sengaja memainkan perut buncit si kucing untuk menggodanya. Tapi yang digoda sedang malas bergerak rupanya.


Semalam, begitu tiba di rumah, Sara hanya sempat bertemu dengan Mbok Jami dan Pak Pardi. Ya, mereka masih bekerja di rumah Agam – atau rumah Sara (?).


Selama rumah itu kosong, Mbok Jami dan Pak Pardi lah yang mengurusnya, termasuk juga Milo. Tapi Arya sesekali datang mengantarkan kebutuhan Milo. “Mama nggak suka ada hewan peliharaan di rumah,” begitu katanya.


Kadang Arya mengirimkan foto dan video Milo ke Sara saat dia di Jepang. Tapi akhir-akhir ini jarang dilakukan, mungkin juga karena terlalu sibuk. Karena itu, agak kaget juga Sara melihat Milo sudah segembul itu.


Milo pada akhirnya bangun dan mulai bermanja dengan Sara. Entah karena dia mengingatnya, atau memang Milo yang bisa akrab dengan siapa saja, tapi kucing itu terlihat nyaman menggosokkan kepalanya di lengan Sara.


Sara tersenyum melihat kucing itu akhirnya bisa tumbuh sehat. Padahal dulu terlihat sangat kecil dan lemah.


Bermain dengan Milo adalah cara Sara menenangkan pikirannya dari rasa gelisahnya pembicaraannya tentang Vian dengan Agam semalam. Agam sedang berada di ruang kerjanya, dan Sara tidak tahu harus apa, maka Milo jadi tujuannya untuk membantunya sedikit lebih relaks.


Tapi, pikirannya semakin menjelajah jauh. Sara semakin rumit memikirkan Vian dan hal-hal yang baru dia ketahui dari Agam.


Australia dan yatim piatu, itu baru sebagian kecil. Kebenaran lainnya jauh lebih membuatnya seperti orang bodoh selama ini.


“Aku cari kamu di mana-mana, ternyata di sini.”


Sara langsung menoleh mencari suara Agam yang ternyata sudah berdiri di dekatnya. Dia berdiri akhirnya meninggalkan si kucing yang masih ingin bermanja dengannya.


“Sudah mau berangkat, Mas?,” tanya Sara yang malah tidak menjawab pertanyaan Agam.


“Bentar lagi,” jawab Agam. Tangannya kini menyentuh wajah Sara dan mengusapnya lembut. “Masih memikirkan soal semalam?”


Sara menggelengkan kepalanya. “Sedikit. Tapi sudah nggak apa-apa.”


“Kamu yakin?”


Sara mengangguk.


Mas Agam sudah cukup khawatir bahkan sampai tidak berani mengatakannya. Jadi sebaiknya aku tidak perlu menunjukkan kegelisahanku.


“Hari ini kamu jadi ke rumah Ibu, kan?,” tanya Agam lagi.


“Iya, Mas. Nanti setelah Mas berangkat.”


“Tidak perlu menunggu aku berangkat. Kamu pakai saja mobil yang di rumah. Nanti aku dijemput supir kantor. Lagipula kamu bawa banyak oleh-oleh. Mobil yang di rumah lebih besar,” jelas Agam.


“Mas nanti sampai jam berapa? Habis dari tempat Ibu, mau aku jemput?”


“Hari ini cuma lihat-lihat sebelum perilisan. Nanti kalau sudah selesai, aku menyusul sekalian jenguk Ibu.”


Sara mengangguk setuju.

__ADS_1


Kerjasama antara Agam dengan perusahaan teknologi dari Jepang menyebabkan Agam membawa serta kesibukannya ke Indonesia.


Project alat penerjemah yang dulu dikerjakan bersama Tania dan Yuda akhirnya dapat diselesaikan. Sebuah perusahaan teknologi yang cukup punya nama di Jepang mengajukan dirinya untuk memproduksinya.


Agam hanya mengajukan sebuah syarat. “Perilisannya harus dilakukan di Indonesia juga.”


Jadi, karena itu, kantor cabang perusahaan tersebut di Indonesia sudah mulai sibuk mempersiapkan perilisannya. Dan Agam juga ikut disibukkan karenanya.


“Tante Saraaaaa ...” Teriakan Nisa terdengar riuh begitu Sara memasuki pagar.


Kedua tangan Sara sudah penuh dengan barang bawaan, itu pun masih dibantu supir membawanya. Dan Nisa yang sudah tidak sabaran langsung memeluk Sara tanpa menunggunya meletakkan barang-barangnya.


“Nisa ... Bantuin Tante Sara bawa masuk barangnya. Peluknya nanti saja di dalam.” Untung saja ada Mbak Mina.


Begitu meletakkan semuanya, Sara memberikan salamnya pada Ibu, lalu memeluknya dengan erat.


“Sara kangen banget sama Ibu,” ucap Sara lirih saat memeluknya. “Ibu sehat, kan?”


Ibu mengangguk seraya tersenyum. “Ibu sehat. Kamu gimana? Agam gimana? Kalian sehat semua, kan?”


“Alhamdulillah sehat, Bu.”


“Alhamdulilah ...”


Sedikit mengobrol sama Ibu tentang Agam dan kesibukannya sekarang, begitu juga dengan kesehatannya. Sementara anak-anak yang sudah tidak sabaran mengintip satu persatu barang-barang yang dibawa Sara.


Tapi melihat Ibu yang semakin sehat sejak operasi itu, Sara bisa bernapas lega. Padahal dokter telah mewanti-wanti untuk berhati-hati jika terjadi komplikasi. Syukurlah, hal itu tidak terjadi.


Butuh waktu lebih dari satu jam untuk membagi-bagikan semua barang bawaan untuk semuanya. Terlalu banyak memang yang dibawa Sara dari Jepang.


Sebagian besar justru dipilihkan Agam saat mereka jalan-jalan. Tidak hanya untuk Ibu, Agam memilih mainan untuk Nisa dan Nino. Sedangkan untuk Mina dan suaminya, serta untuk Mbok Jami dan Pak Pardi di rumah diserahkan untuk Sara yang mengerjakannya.


Begitu selesai membagikan, Sara membiarkan anak-anak bermain dengan mainan barunya, sementara dia kembali pada Ibu untuk mengobrol.


“Sara, sakbenere ana sing arep Ibu omongno ... (Sebenarnya ada yang mau Ibu bicarakan ...)”


Belum selesai Ibu mengatakannya, seseorang sudah memberi salam.


“Assalamualaikum, Bu ...”


Sara terkejut bukan main melihat siapa yang sedang berdiri di pintu depan.


Mas Vian?


......................


#

__ADS_1


“Maafkan Ibu ... Tapi, sudah setahun terakhir ini, Vian selalu datang ke sini. Ibu mengira kalian ndak akan saling ketemu. Karena itu, Ibu ndak cerita.” Itu yang sebenarnya ingin dikatakan Ibu pada Sara.


#


Setahun? Untuk apa?


Tapi setahun? Bukankah itu sama dengan kembalinya Ava ke Indonesia?


“Kata Ibu, Mas sering ke sini,” kata Sara tanpa berbasa-basi lagi begitu dia mengajak Vian keluar untuk berbicara.


Vian tersenyum menanggapinya. “Kenapa? Aku sekarang sudah nggak boleh ke sini?”


“Menurut Mas Vian sendiri gimana?,” tanya Sara balik. “Mas sudah bertunangan dengan Ava. Aku nggak mau ini jadi kesalahpahaman di kemudian hari yang akan menyeret Ibu dalam masalah ini.”


“Kamu takut suamimu atau Ava yang salah paham soal ini?”


“Keduanya. Ava adik iparku. Mas juga akan menjadi adik iparku. Jadi kurasa ada baiknya Mas berhenti datang ke mari.” Sara menatapnya dengan tegas. Memberinya kejelasan yang sangat jelas kalau dirinya keberatan dengan kedatangannya.


Vian hanya terdiam. Tapi senyumnya masih terpajang di sana.


“Sudah berapa lama kalian menikah?”


“Jadi Ava adalah jodoh yang dipilihkan orang tua Mas?,” Sara sengaja bertanya balik di saat Vian menanyakan hal itu. Dia enggan menjawabnya.


“Hmm ... Mereka dikenalkan teman mereka.”


Bohong. Orang tua yang mana maksud Mas?


“Kamu mencintainya?” Vian kembali bertanya.


Dan Sara melakukan hal yang sama. “Jadi bagaimana kalian bertemu? Mas di Melbourne, Ava di New York.”


Vian terdiam. Senyumnya hilang berganti gerak bibirnya yang menunjukkan dia sedang berpikir.


“Video call, seperti kita dulu.”


Sara meremas tangannya dengan keras. Kenapa harus mengungkit soal kita? Dari awal tidak ada kita.


Sara teringat pembicaraan semalamnya dengan Agam. Vian ternyata mengenal Ava sebelum dia berangkat ke Melbourne. Sebelum Ava berangkat ke New York, mereka pernah bertemu. Itu bahkan sebelum Sara dan Vian saling mengenal. Ava sudah berada di New York ketika Sara mulai mengenal Vian.


Dan lagi, dari awal kamu selalu berada di New York, bukan di Melbourne.


“Kamu belum menjawab pertanyaanku, Sar.” Suara Vian seketika membuyarkan lamunan Sara. “Kamu menikah dengannya sudah berapa lama? Sebelum atau sesudah kita putus?”


Apa maksudnya?


“Assalamualaikum ...”

__ADS_1


Sara langsung menolehkan kepalanya. Rasa terkejutnya membuatnya refleks melakukan itu. Dan lebih terkejut lagi ketika melihat Agam sudah berdiri di depan pintu pagar rumahnya.


“Mas Agam ...”


__ADS_2