
[Agam]
Sejak 5 tahun yang lalu, kata 'cacat' sudah menjadi bagian dari hidup Agam. Semenjak satu persatu organ tubuhnya kehilangan kemampuannya, sejak itulah dia belajar menerima semua cemooh, pandangan meremehkan, dan semua hal yang merendahkan dirinya karena kekurangannya itu.
Sama seperti yang dilakukannya hari ini ketika dia melewati pintu rumah Sara.
Tanpa perlu melihat, Agam bisa merasakan bagaimana pandangan orang-orang yang ada di ruangan itu begitu melihat dirinya. Dia bisa mendengar omongan orang-orang yang sedang berbisik membicarakannya dirinya. Thanks to SH 3.2.
"Dia lumpuh?"
"Ya Allah, suaminya Sara cacat?"
"Astaghfirullahaladziim ... amit-amit, Ya Allah. Cepet nyebut!"
Bahkan ketika Agam menemui Ibu Sara untuk melamar Sara secara resmi - seperti permintaan gadis itu -, dia dapat merasakan perasaan takut dan jijik dari suara yang dikeluarkan oleh Ibu Sara.
Tidak heran, siapa yang mau punya menantu cacat seperti ini.
"Sebagai orang tua, saya mendoakan kalian agar selalu bahagia dalam pernikahan ini. Selalu bersama tidak hanya di dalam kesusahan, tapi juga kebahagiaan." Begitu kata Ibu Sara setelah menerima lamaran Agam.
Seperti yang Sara katakan, ibunya pasti akan merestui mereka berdua. Dan ternyata memang benar. Semua lancar bahkan hingga selesai akad nikah.
__ADS_1
Bukan berarti tidak gugup. Agam jelas mengalaminya. Ini pengalaman pertama baginya. Beberapa hal membuatnya begitu sulit untuk dilakukan.
Menghafalkan ijab kabul, misalnya.
Dia bisa menghafalkan begitu banyak rumus dan formula. Tapi untuk menghafalkan sebait kalimat ijab kabul, dia butuh semalaman. Aneh ...
Mungkin karena aku tidak mencintai pengantinku. Bisa jadi itu. Tapi, Sara sudah melakukan tugasnya, sekarang giliranku untuk menyelesaikan sisanya, begitu pikirnya.
Dan kerja keras semalamannya itu akhirnya terbayar sudah, ketika para saksi mengatakan 'sah' dengan lantang dan serentak. Lega rasanya. Seperti baru saja menyelesaikan uji coba penemuan baru.
Tapi ternyata itu masih belum selesai.
Saat Ibu Sara mengenakan sesuatu di jarinya dan juga lehernya yang dikatakannya sebagai hadiah pernikahan, lalu berkata, "Ibu titip Sara, ya." Agam merasakan tubuhnya kaku seketika. Dia seakan bisa mendengar suara dentuman dari jantungnya. Rasanya seperti orang yang tiba-tiba ketahuan telah melakukan sesuatu yang salah.
Tidak ada dalam daftar rencananya bahwa dia akan diserahi sebuah tanggung jawab untuk menjaga seseorang. Dia tidak berpikir sampai ke sana.
Pernikahan ini hanya sementara. Akhir dari pernikahan ini bahkan sudah direncanakan kapan waktunya. Karena itu, dia dan Sara sepakat bekerja sama. Dia memberikannya sesuatu yang dibutuhkan Sara, dan Sara melakukan sesuatu yang dia butuhkan. Ini hanyalah sebuah perjanjian kerjasama.
Lalu tiba-tiba seorang ibu menitipkan anaknya padanya karena dia adalah seorang suami. Beliau bahkan meminta untuk membimbingnya, how? (bagaimana?)
Bagaimana dia melakukannya, kalau dia sendiri bukan benar-benar seorang suami?
__ADS_1
Terlebih lagi, ketika dia mendengar suara tangisan Sara. Dia bisa merasakan penyesalan Sara dalam tangisan itu. Berbohong pada orang tuanya, jelas itu terasa sulit bagi Sara.
Karena itu Agam menawarkannya untuk mundur. Mengembalikan semua seperti semula. Masalah surat nikah, dia bisa mengaturnya. Dia juga mungkin akan mencari orang lain untuk menggantikan Sara. Bukan masalah sulit. Yang penting, Sara bisa bebas dari rasa bersalahnya.
Tapi, gadis itu malah menolaknya. Dia tetap ingin meneruskannya. Membuatnya semakin terbebani dengan perasaan bersalah pada Ibu Sara yang sekarang menjadi mertuanya. Perasaan yang harus dia bawa selama 2 tahun ke depan.
Mungkin ini yang dikatakan orang-orang, bahwa dalam setiap keinginan selalu ada konsekuensi yang harus dijalani.
......................
Saat mereka berada di mobil dalam perjalanan mereka menuju rumah Agam, dia menyerahkan hadiah pernikahan yang diberikan ibu mertuanya pada Sara. Usaha terakhirnya untuk melepaskan sebagian rasa bersalahnya itu.
"Kamu simpan saja. Aku tidak berhak," kata Agam.
Tapi kemudian, sentuhan lembut Sara dapat dia rasakan pada tangannya. Gadis itu membuka telapak tangannya, lalu meletakkan sesuatu di atasnya, kemudian menutupnya dengan jari-jemarinya.
"Tidak perlu. Itu hadiah pernikahan dari Ibu. Simpan saja," kata Sara. "Kamu juga memberikan aku banyak seserahan, jadi kita impas."
Agam tidak dapat menemukan kata yang tepat untuk membalasnya. Saat dia sedang memikirkannya, suasana di dalam mobil justru malah menjadi hening. Semakin lama Agam diam, dia semakin kehilangan kesempatannya untuk mengembalikannya. Pada akhirnya, Agam terus memegangi perhiasan itu di tangannya.
Biar aku simpan dulu. Pada saatnya nanti kita berpisah, aku akan mengembalikannya, pikir Agam.
__ADS_1
2 tahun ...