Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Extra Part 3


__ADS_3

[Agam]


“Anak siapa yang baru kalian culik?” Yuda memperhatikan kedua pria di depannya dengan tatapan curiga. Dia baru datang dan mendapati Agam dengan seorang bayi perempuan tidur dalam gendongannya.


“Dia anakku!,” protes Agam yang sedang membawa bayi lucu itu yang berumur 6 bulan. Kekesalannya sontak membuatnya memelototi Yuda.


“Ngajak berantem nih Yuda.” Arya juga tidak mau kalah. “Ponakanku cantik gini.”


“Justru karena dia cantik. Nggak mungkin lah anaknya si Agam,” kata Yuda membela dirinya.


Agam dan Arya kompak melotot tajam pada Yuda.


Agam tahu Yuda hanya menggodanya. Yuda tahu waktu Sara hamil sebelum dia berangkat ke Dubai. Hampir setahun lamanya di Dubai, Yuda akhirnya kembali, dan sekarang sedang mengunjungi Agam di rumah.


“Sara mana?,” tanya Yuda sembari celingak-celinguk mencari sosok Sara.


“Beberapa hari ini, aku lihat dia sudah cukup capek mengurus Gia. Belum lagi terapi Mama beberapa minggu terakhir ini cukup berat. Perawat Mama sampai kewalahan. Jadi, Sara ikut membantu,” cerita Agam.


“Karena itu ...,” kata Agam bersamaan dengan helaan napas panjangnya. “Aku paksa dia istirahat sebentar. Aku minta Ava temani dia jalan-jalan. Soal Mama ada perawat. Gia biar sama aku dan Arya.”


“Kalian?? Urus Gia??” Yuda hampir berteriak.


“Sstt ....” Arya langsung memukuli lengan Yuda. “Jangan keras-keras! Gia baru tidur! Kau nggak tahu sesusah apa menidurkan Gia?!”


Sementara itu, Gia baru saja menggeliat dalam gendongan Agam. Dengan sigap Agam membuai Gia kembali.


Tapi gagal, Gia terbangun dan menangis cukup kencang. Makin lama, makin kencang.


Kini bertiga mulai panik. Bertiga mulai sibuk menenangkan si kecil Gia.


Ada Agam yang terus memanggil nama Gia dengan lembut sembari menggendong dan menepuk pelan punggungnya.


“Gia, sayang ... Ayah di sini, sayang ... cup, cup, ya ...”


“Nggak pakai babysitter?,” tanya Yuda.


“Sara nggak mau,” jawab Agam singkat sambil terus menenangkan Gia.


“Bujuk lah, Gam. Masak dia yang ngurus semua?,” desak Yuda lagi.


“Sudah! Dia tetap nggak mau,” jawab Agam yang sudah mulai kesal karena Yuda malah tidak membantu sama sekali.


Yuda tidak tahu berapa kali Agam terus membujuk Sara untuk menyewa jasa babysitter sejak Sara masih hamil 7 bulan. Dari cara yang paling lembut hingga cara yang paling keras sekali pun. Cara yang terakhir itu berimbas Sara marah berhari-hari pada Agam hingga menangis, lalu Agam disuruh tidur di kamar Arya. Sejak itu, Agam tidak berani lagi.


“Kan lebih baik uangnya disimpan saja Mas untuk tambah-tambah beli rumah utama,” begitu katanya.


Padahal keuangan kita baik-baik saja, tangis Agam dalam hatinya.


Oek, oek ...


Lalu, ada Arya yang mencoba menghibur Gia. “Gia ... sayang ... ini daddy, sayang ...”

__ADS_1


“Daddy?” Yuda tidak terima.


“Penting kah?” Kedua mata Arya langsung menusuk tajam ke arah Yuda.


Yuda akhirnya menghela napas panjangnya, “Sini, biar aku yang gendong.”


Dia pernah mengasuh Tania sendirian. Mungkin bisa.


Tidak ikhlas sebenarnya. Tapi Agam serahkan juga Gia dalam gendongan Yuda.


“Menenangkan bayi itu gampang. Tania dulu juga aku yang urus. Kalian tuh harus banyak belajar,” kata Yuda menyombongkan dirinya sendiri.


Perlahan-lahan tapi pasti, tangisan Gia semakin lama semakin mereda. Gia pada akhirnya kembali tenang.


“Sstt ... sstt ...” Yuda masih terus menenangkan Gia dengan desisan dari mulutnya.


“Tuh, kan. Gampang.”


Tapi kemudian ....


Oek, oek ...


Gia kembali menangis.


“Kenapa nangis lagi?,” teriak Yuda.


“Mana kutahu? Kan kamu yang paling ahli,” timpal Agam membalikkan tuduhan Yuda sembari mengambil alih Gia.


Benar juga. Mungkin ngompol.


Agam meletakkan Gia di atas meja, lalu memeriksa popoknya.


“Tidak ada apa-apa,” seru Agam yang semakin panik karena tangis Gia tidak juga reda.


“Telepon Sara saja.”


“Tidak boleh!”


Usulan Yuda langsung ditolak dengan keras oleh Agam dan Arya.


“Ini susunya Non Gia, Tuan.” Lala datang membawa sebotol susu milik Gia.


Lala adalah asisten rumah tangga yang baru. Dia adalah anak dari keponakan Mbok Jami yang bekerja menggantikan Mbok Jami yang pensiun beberapa bulan yang lalu.


Dengan sebotol susu itu, Gia akhirnya tertidur.


Tapi, itu belum berakhir.


“Cek popoknya, Gam. Cek popoknya.”


“Dia baru ganti popok, Yud!”

__ADS_1


“Masak susu lagi, Mas?”


“Ya kali. Bayi kan cepet laper.”


“Apa kepanasan, ya?”


“Itu AC nyala dari tadi, Gam. Masuk angin yang ada.”


Begitu terus hingga keduanya lelah. Tapi beruntung, Gia akhirnya tertidur juga. Semua berkat sebotol susu. Ya, Gia lapar lagi.


...****************...


[Sara]


Agam memberinya hari libur. Tapi selama acara jalan-jalannya bersama Ava, Sara justru tidak tenang.


Mas Agam bisa kan, ya? Mereka baik-baik saja, kan? Tapi mereka tidak menelpon, berarti seharusnya baik-baik saja, kan? Kenapa Mas Agam nggak nelpon, sih?


Ava yang sedari tadi bersamanya sampai terus menerus harus memanggilnya. Hampir tidak terdengar.


Meski demikian, Ava tidak menyerah. Dia menjalankan tugas kakaknya dengan baik. Sara terus ditarik ke tempat-tempat yang sudah ditetapkan oleh sang kakak. Sebut saja, salon, spa, restoran, terakhir butik.


Masih ada 2 tempat lagi sebenarnya. Rencana awal mereka akan pulang saat malam. Tapi begitu selesai di butik, Sara memohon minta pulang.


Mereka akhirnya pulang.


“Mbak, bajunya Gia ...”


“Sstt ...” Sara menghentikan Ava untuk berbicara lebih panjang lagi.


Keduanya kini memandangi pemandangan yang luar biasa di ruang tengah.


Sebuah baby rocking chair sedang mengayun Gia di atasnya, berdiri di atas meja. Dan tiga orang pria yang tertidur dengan kepala tersandar di meja, mengelilingi Gia.


Gia? Dia sedang tertawa memandangi bundanya yang yang baru datang.


Sara tidak mau melewatkan pemandangan ini. Dia segera mengambil ponselnya dan segera mengabadikannya dengan kamera ponselnya.


Di kepalanya sudah berencana akan mencetak gambar itu dan meletakkannya di meja tempat memamerkan beberapa foto.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


#


Pada suatu obrolan tengah malam yang menjadi kebiasaan Agam dan Sara sebelum tidur.


“Kalau suatu hari kita punya anak, Mas mau dipanggil apa?”


“Ayah ... setiap kali kamu menyebut Ayah, rasanya terdengar begitu menyenangkan. Kadang aku berpikir, apa rasanya ketika seseorang memanggilku Ayah? Apakah akan sama rasanya? Karena itu, aku berpikir kelak aku ingin dipanggil Ayah oleh anak-anakku."


#

__ADS_1


__ADS_2