Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 58 : Rencana Vian


__ADS_3

[Sara]


Sara sedang sibuk membantu Agam merapikan dasinya yang belum rapi benar terikat di leher kemejanya, saat sang suami sedang sibuk menghafal isi pidato yang akan disampaikannya hari ini dari airpod yang terhubung dengan ponselnya. Dia merekam semuanya ke dalam ponselnya lalu mendengarkannya berkali-kali.


Hari ini, hari yang membuat Agam sibuk selama berhari-hari semenjak kepulangannya dari Jepang akhirnya mencapai batas akhirnya. Produk-produk baru hasil penelitian Agam dan beberapa peneliti lainnya dari Jepang dan Indonesia akan diluncurkan oleh sebuah perusahaan Jepang yang menjalin kerjasama dengan Agam.


Dan Agam akan memberikan pidatonya hari ini.


Sara tersenyum melihat tingkah suaminya itu yang sedari tadi bibirnya tidak berhenti bergerak mengikuti apa yang didengarkan dari airpodnya. Lebih dari seminggu ini, Agam bekerja keras menghafalkannya.


Pikiran Sara kemudian melayang ke bulan lalu, saat masih disibukkan dengan perdebatan-perdebatan di antara Agam dan saudara-saudaranya. Jika dibandingkan dengan yang sekarang, keadaan jauh lebih tenang. Syukurlah ...


Jika tidak demikian, mungkin Mas Agam tidak akan bisa sefokus ini mempersiapkan semuanya.


Vian pada akhirnya bekerja untuk Arya di FTC sebagai wakil direktur yang mengepalai semua tim marketing di FTC. Awal yang bagus dan sebuah batu loncatan yang sangat tinggi sebenarnya. Posisi yang begitu penting langsung diberikan untuk Vian, Chief Marketing Officer.


Ava juga sibuk dengan peluncuran brand fashion beserta butiknya. Kadang dia datang ke rumah untuk menengok Agam – meski tidak sesering Arya –, tapi tidak ada perbincangan lagi tentang Vian. Semua hal yang dibicarakan adalah tentang rencana usaha barunya nanti.


Agam juga tidak banyak bercerita tentang mereka. Dia sendiri sudah sibuk dengan pekerjaannya. Jadinya Sara tidak mau banyak bertanya lagi.


Yang penting semuanya baik-baik saja.


Sara terkejut tiba-tiba saja sebuah kecupan manis sudah mendarat di bibirnya. Tangannya ternyata masih memegangi dasi Agam yang belum selesai dirapikan. Sara mungkin diam terlalu lama hingga Agam melakukan itu.


“Ish ...,” desis Sara mengulum senyumnya, tersipu karena ulah Agam yang mendadak itu.


“Kamu kenapa? Kok diam saja?,” tanya Agam.


Sara menggelengkan kepalanya seraya menggerakkan kedua tangannya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


“Ikutan gugup juga sama kayak Mas,” jawab Sara beralasan. Lalu kemudian, sebuah ide terbesit, “Aku bantuin, ya.”


Sara bermaksud membantu Agam menghafalkan pidatonya. Dia melakukan ini karena penasaran dengan isi pidato yang akan disampaikan Agam.


Masalahnya, Agam tidak mengijinkan Sara mendengarkannya. Sekuat apapun Sara berusaha mencari tahu, sekuat itu juga Agam menyembunyikannya. Entah kenapa Agam melakukan itu.


Lagi, Agam mendaratkan kecupannya. “Usaha yang bagus, tapi tidak. Terima kasih.”


“Ish, pelit.”


Agam tersenyum karenanya.


Hari sudah hampir gelap saat mereka bersiap akan berangkat. Agam sudah siap dengan setelan mewahnya, begitu juga Sara yang sudah siap dengan gaun indah yang dia pilih bersama Agam beberapa hari yang lalu.


Sara baru akan melangkahkan kakinya ke dalam mobil. Tapi entah mengapa tiba-tiba saja dia merasa tubuhnya terasa ringan sekali hingga seakan-akan melayang. Pandangannya perlahan menggelap. Sara terhuyung ke belakang.


Beruntung, Agam belum naik dan sedang berdiri di belakang Sara. Dengan sigap, tubuh Sara ditangkapnya dengan kedua tangannya.


“Sara?”


Pegangan tangan Agam pada kedua sisi bahunya, dan juga panggilan lembut tapi penuh kecemasan seketika mengembalikan Sara pada kesadarannya. Seketika kecerahan pandangannya kembali, tak lagi menggelap.


“Kamu sakit?,” tanya Agam seraya menyentuhkan tangannya ke kening Sara. “Kamu kenapa?”


Sara berusaha bangkit kembali, memastikan dirinya baik-baik saja. Tapi, kakinya masih lemah. Dia kembali terhuyung. Dan Agam dengan cepat menangkapnya.


“Kita ke dokter, ya,” tawar Agam.


“J-jangan, Mas. Aku nggak apa-apa. Tadi cuma kurang hati-hati saja, Mas.” Sara beralasan.


Ini acara penting Mas Agam. Jangan sampai aku merusaknya.

__ADS_1


“Tapi kamu tadi ...” Agam terlihat ragu dengan ucapan Sara.


Sara langsung memotongnya. “Aku nggak apa-apa. Beneran. Kita sudah hampir terlambat. Ayo ...”


Sara langsung masuk ke dalam mobil tanpa babibu lagi, dan menarik tangan Agam agar menyusulnya. Agam yang ditarik seperti itu, mau tidak mau, pada akhirnya menuruti permintaan sang istri.


......................


Acara yang sangat meriah diadakan di sebuah ballroom hotel mewah. Begitu Sara dan Agam turun dari mobil, mereka sudah disambut oleh kerumunan wartawan dengan kilatan lampu blits yang terus berkejapan.


Agam terus menggandeng tangan Sara dan membawanya melewati para wartawan yang terus memanggil namanya. Selentingan Sara mendengar ada yang bertanya alasan mengapa peluncuran ini tidak dilakukan oleh FTC. Tapi Agam terus berjalan mengabaikan mereka.


Ketika hampir mendekati tempat acara, Sara bertemu dengan Arya yang datang bersama Ava dan Vian. Arya masih ramah seperti biasanya, begitu juga dengan Ava yang mengabaikan Sara, seperti biasanya.


“Mama masih perjalanan. Masih macet di jalan,” jelas Arya memberikan laporan pada Agam tentang keberadaan Widia.


Hampir semua pengusaha yang terkait mendapatkan undangan resmi dari perusahaan Jepang. Dalam hal ini, seharusnya hanya Arya dan Widia. Tapi Agam menitipkan ke Arya untuk Ava dan Vian.


Sara hanya sekali melihat ke arah Vian untuk menyapanya, lalu memilih untuk melihat ke arah lain, menghindari bertemu pandang lagi dengan pria itu. Dan tidak buruk juga ternyata, Sara malah melihat Yuda sudah datang bersama Tania.


Begitu mengatakannya pada Agam, Sara segera menghampiri Yuda dan Tania, menyapanya.


Ah, kangen rasanya. Nggak terasa, Tania sudah 9 tahun sekarang.


Pada akhirnya, mereka masuk ke dalam ballroom dan menduduki tempat yang sudah disediakan untuk mereka. Sayangnya, Agam dan Sara duduk terpisah dari yang lainnya.


Pembukaan yang sangat meriah turut membuka acara yang juga dihadiri oleh beberapa artis dan influencer yang berkaitan dengan produk-produk yang akan diluncurkan malam ini.


Tidak hanya alat penerjemah sebenarnya, setidaknya ada 3 produk lainnya yang merupakan hasil penelitian Agam juga ikut diluncurkan bersama hasil penelitian dari peneliti lainnya.


Melihat betapa dihargainya semua hasil kerja keras Agam selama ini, Sara hanya bisa bangga karena bisa berada di tempat itu. Mungkin tidak semegah yang diadakan oleh NFC – seperti yang pernah diceritakan Agam – yang hanya memamerkan semua penelitian Agam, tapi begini saja sudah sangat baik. Lebih dari sekedar baik.


Rasa bangga Sara seakan tumpah ruah ketika nama Agam dipanggil dengan meriahnya untuk memberikan sambutannya di depan podium. Inilah saat Sara bisa mendengarkan hasil latihan suaminya itu selama beberapa hari terakhir ini.


“Selamat malam, para hadirin sekalian ...” Begitu sapa Agam mengawali pidatonya.


Sara hampir menitikkan air matanya melihat Agam yang dengan gagahnya berdiri di sana mewakili semua kerja kerasnya atas namanya sendiri. Tanpa embel-embel NFC di belakangnya. Hanya namanya, Tirtagama Wirasurya. Seakan-akan podium itu hanya ditujukan untuk dirinya.


Semua orang menghargainya. Semua orang menghormatinya. Semua orang mengenalnya. Dia lah sang dewa teknologi yang selalu dielukan semua orang.


“... dan terakhir, tapi yang terbaik dari semuanya. Istri saya, Ashara Revalina.”


Kedua mata Sara langsung terbelalak lebar begitu namanya disebut. Dia sudah mulai gugup ketika kini semua mata tertuju padanya. Tapi dia memfokuskan dirinya hanya pada apa yang akan dikatakan Agam.


“Terima kasih ...,” lanjut Agam. “... sudah hadir dalam hidupku. Semua ini, karena kamu bersamaku.”


Dengan jari telunjuk pada tangan kanannya, Agam menunjuk dadanya. Kemudian, menyilangkan kedua tangannya yang terkepal di depan dadanya. Lalu menunjuk Sara dengan jari telunjuknya.


Terakhir, Agam kembali menyilangkan tangannya yang terkepal.


Aku juga mencintaimu, Mas ...


Meski cahaya hanya pada podium tempat Agam berdiri, tapi pandangan mata Agam seakan lurus menatap Sara yang duduk di antara banyak meja para tamu undangan. Sara hanya bisa menatap kembali Agam yang masih berdiri di atas sana seakan membalas tatapan mata sang suami.


Begitu Agam kembali ke tempatnya, Sara langsung memeluknya sebelum Agam duduk di tempatnya.


“Jadi ini yang Mas hafalkan berhari-hari? Kenapa nggak bilang aja?,” rengut Sara dalam pelukan Agam yang disambut tawa oleh suaminya.


“Bukan kejutan namanya kalau gitu.”


Sara semakin erat memeluknya, mengabaikan semua orang yang masih bertepuk tangan untuk Agam dan dirinya.

__ADS_1


......................


Pidato dari Agam, itu baru awal acara. Sisanya masih berlangsung cukup lama. Setidaknya cukup lama sampai Sara tidak kuat lagi menahannya.


“Mas, aku ke toilet sebentar, ya ...,” bisik Sara pada Agam yang sedang berbicara dengan tamu lainnya yang duduk dalam meja yang sama dengannya.


“Ayo, aku temani ...”


Agam baru akan berdiri, Sara sudah melarangnya.


“Nggak usah, Mas. Aku sendiri saja.”


“Tapi, kamu kan ...”


Mas Agam mungkin masih khawatir saat aku jatuh tadi.


“Nggak apa-apa, Mas. Di sini kan banyak yang mau ngobrol sama Mas. Aku bisa, kok. Kan deket sini.”


Agam masih khawatir. “Kamu yakin?”


“Iya, Mas ...” Sara memberi kecupan di pipi Agam, lalu berkata, “Jangan khawatir ...”


Toiletnya ternyata tidak jauh. Sara sempat bertanya tadi. Hanya perlu menyusuri jalan panjang yang terhubung dengan lorong menuju bagian hotel yang lain. Di ujung jalan, di situlah toiletnya.


Saat melewati lorong, Sara sempat melihat seorang pria dengan seragam khas hotel tersebut dengan troli barang yang sedang dia dorong. Sara bertanya padanya letak toilet, dan tidak jauh lagi rupanya.


Beberapa menit setelah dari toilet, Sara kembali menyusuri jalan yang sama seperti saat dia datang tadi. Petugas hotel yang tadi dia temui masih di sana ternyata.


Kukira tadi dia akan pergi.


Tapi ternyata, pria itu tidak sendirian. Sara melihat sosok pria yang dia kenal masuk bersama pria itu ke dalam ruangan yang ada di lorong itu. Entah ruangan apa itu.


Mas Vian?


Vian tidak melihatnya Sara. Mungkin jarak mereka yang cukup jauh tadi. Jadi Vian tidak terlalu memperhatikannya.


Mungkin kenalannya.


Tapi, Sara tidak peduli. Itu urusannya.


Sara berjalan melewati ruangan itu tanpa mempedulikan pintu ruangan yang terbuka sedikit. Dia hanya memikirkan kembali ke tempat acara, itu saja.


Tapi, pembicaraan kedua orang yang tadi dia lihat menarik perhatiannya.


“Lakukan dengan benar. Pastikan dia kena dan jatuh sesuai rencana.”


Langkah Sara terhenti.


Jatuh? Siapa?


“Widia akan sampai sebentar lagi. Bersiaplah.”


Sara langsung menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya. Kenapa Mas Vian menyebut nama Mama? Apa yang sedang dia rencanakan? Jatuh? Apa dia akan mencelakainya?


Sara masih belum percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Dia ingin membantah semua dugaannya, tapi suara yang dia dengar adalah suara yang dia kenal. Itu benar suara Vian yang baru saja berbicara.


Dengan rasa takut yang masih menggelayutinya, Sara memilih untuk pergi dari sana. Lebih baik aku kembali ke Mas Agam.


Baru selangkah kakinya bergerak, dan sebuah tangan menahan lengannya. Dengan cepat, lengannya sudah ditarik masuk ke dalam ruangan itu.


Dalam satu kali lemparan, Sara dihempaskan begitu saja mengenai dinding, dan Vian berdiri di hadapannya menghalangi jalan Sara untuk keluar. Kini Sara tidak bisa bergerak dalam ruangan yang sempit tapi penuh dengan barang-barang. Ruangan itu ternyata adalah sebuah gudang.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan di sini?," tanya Vian yang hampir menggeram kesal.


Sara menatap Vian dengan tatapan kebencian, tapi juga dipenuhi dengan rasa takutnya.


__ADS_2