
[Agam]
“Ada apa, Mas?,” tanya Arya khawatir. Ava juga menatapnya cemas.
“Sara ... teleponnya tidak aktif,” bisik Agam pada Arya.
Agam mencoba menelpon lagi. Tetap tidak aktif.
“Mungkin baterenya habis,” kata Arya memberikan satu alasan untuk menenangkan Agam.
Mungkinkah?
Agam menelpon Mbok Jami untuk memastikan.
“Saya sudah kembali, Den. Tadi makanannya sudah diambil sama Non Sara.” Begitu kata Mbok Jami ketika Agam menanyakan Sara padanya.
Lalu, di mana Sara sekarang? Bukankah seharusnya dia sudah ada di sini?
Agam akhirnya menyerah. Dia memutuskan untuk menghubungi Yuda.
“Terjadi sesuatu dengan Sara. Tolong, selidiki ini, Yud.”
......................
Agam akhirnya meninggalkan Arya dan Ava di kamar rawat untuk menjaga Widia, sementara dia pergi ke cafe rumah sakit untuk menemui Yuda.
Hanya butuh waktu kurang dari 1 jam, Yuda sudah bisa memberikan informasi tentang Sara, meski belum sepenuhnya.
“Sara bertemu dengan seseorang. Lalu mereka membawanya pergi,” jelas Yuda seraya menunjukkan rekaman CCTV dari rumah sakit.
“Siapa mereka?,” tanya Agam.
“Yang satu, tidak tahu. Tapi yang satu ...” Yuda meletakkan selembar kertas di atas meja. “... residdivis.”
Perasaan Agam semakin tak karuan, terutama saat Yuda menceritakan semua hal tentang pria yang baru saja disebut. Banyak yang sudah dilakukannya hingga menjadikannya naarapidaana.
“Kemungkinan ada hubungannya dengan Vian,” lanjut Yuda lagi.
“Jadi, di mana mereka sekarang?,” tanya Agam.
Belum sempat terjawab, telepon Agam sudah berbunyi.
Nomer tidak dikenal.
“Mencariku?”
“Di mana Sara?” Agam langsung bertanya tanpa basa-basi lagi. Nadanya sudah setengah ketus. Mengingat dia butuh informasi tentang keberadaan Sara, Agam menahan kemarahannya.
__ADS_1
“Ada, ada ...,” jawab Vian seraya tertawa seakan-akan sedang menertawakan Agam. “Dia sedang tidur di sampingku. Jadi, kita bicara pelan-pelan saja, ya. Agar kita tidak membangunkannya.”
Agam mulai geram.
“Apa yang kamu inginkan? Kamu sudah menjual rumah keluarga Wirasurya. Kamu sudah mendapatkan yang kamu mau. Kenapa harus melibatkan Sara?,” tanya Agam. Dia sengaja menunjukkan pada Vian bahwa dirinya mengira Vian hanya mengincar rumah itu.
“Belum sepenuhnya,” jawab Vian. “Future Corp masih berdiri.”
Dia mengincar Future Corp.!
“Aku nggak ingin sahamnya. Kalian tahu aku nggak akan bisa mengurusnya,” lanjut Vian lagi. “Aku ingin nilai uang yang bisa aku dapat dari saham-saham yang kalian miliki.”
“Lepaskan Sara, aku berikan yang kamu mau,” tawar Agam.
“Tidak,” jawab Vian tegas. “Berikan yang aku mau, dan akan aku lepaskan Sara.”
Agam menggeram. Dia menggertakkan giginya.
“Besok siang. Aku memberimu waktu hanya sampai besok siang.”
Begitu saja, dan panggilan itu berakhir.
Agam semakin marah. Dia hampir membanting ponselnya.
“Tadi itu Vian?,” tanya Yuda.
“Sara bersamanya,” jawab Agam geram.
Dia berbohong. Dia mau bawa Sara ke Belanda.
“Kita harus mencegahnya membawa Sara.”
Tanpa menunggu lagi, Agam langsung berdiri dan bersiap pergi. Yuda menyusulnya kemudian.
......................
Begitu tiba di bandara, Agam langsung keluar dari mobil dan berlari masuk. Kepalanya tidak berhenti menoleh ke kanan dan ke kiri. Matanya terus mengawasi orang-orang di sekitarnya.
Meski kedua matanya tidak bisa melihat dengan sempurna, setidaknya dia masih ingat dengan jelas postur tubuh Sara yang mungil dan setinggi dagunya.
“Kamu ke sana. Aku coba cari ke sana,” perintah Yuda menunjuk arah yang berlawanan dengannya.
Agam menuruti perintah sahabatnya itu. Mereka terpencar di arah yang berbeda, tapi dengan tujuan yang sama, mencari Sara.
Tak lama kemudian, Yuda muncul menghampirinya dan memberinya informasi terbaru.
“Laporan dari anak buahku. CCTV bandara menangkap gambar orang yang mencurigakan. Dia membawa seseorang dengan ditutupi kacamata besar, topi dan syal tebal menutupi wajahnya. Orang itu duduk di kursi roda.”
__ADS_1
Agam berpikir sebentar, lalu berkesimpulan, “Apa Sara tidak sadar? Mungkin mereka membuatnya tidak sadar.”
“Bisa jadi.”
Agam dan Yuda kembali mencari. Dengan pengaruh yang dimiliki Yuda, mereka akhirnya bisa memasuki area ruang tunggu calon penumpang keberangkatan.
Tidak banyak orang yang berkursi roda. Tapi, Agam tidak mau melewatkan apa pun. Dia tetap memastikannya satu persatu.
“Sara? Maaf, saya salah orang.” Terus begitu hingga orang kesepuluh.
Hingga pada akhirnya Agam melihat salah satu calon penumpang dengan deskripsi yang Yuda berikan.
Berkursi roda, berkacamata, kain merah di lehernya, mungkin itu syal.
Agam semakin yakin itu Sara.
Dengan langkah cepat secepat yang bisa dia lakukan, Agam mendekatinya.
“Sara?”
Tangan Agam bergerak cepat melepaskan kacamata dan syal yang dikenakan. Begitu wajahnya dapat terlihat, Agam memundurkan tubuhnya.
Dia bukan Sara ...
BUG!
Sebuah pukulan keras sudah mendarat di wajah orang berkursi roda itu. Tangan Yuda yang kokoh tiba-tiba saja sudah mencengkeram orang itu.
“Mana bos mu? Mana Sara?,” tanya geram.
Agam melihat orang lain lagi yang saat ini sedang dikunci lengannya oleh anak buah Yuda di belakang sosok berkursi roda. Sementara itu, orang-orang mulai saling berbisik dan memandangi mereka.
Petugas keamanan bandara datang menghentikan. Tapi datang lagi anak buah Yuda yang bertugas menjelaskan.
Agam kini hanya fokus pada orang berkursi roda.
“Jawab!,” desak Yuda yang semakin keras mencengkeram dan menarik orang itu agar lebih dekat dengannya.
Tapi orang itu masih bisa santai tertawa.
Agam hendak maju dan mendesak orang itu, tapi panggilan masuk di teleponnya menghentikannya.
“Belum menemukanku?”
Vian!
“Dimana Sara? Kamu sengaja melakukan ini, kan? Kamu hanya ingin membawa Sara. Benar, kan?,” tanya Agam terus menerus dengan emosi yang hampir memuncak.
__ADS_1
“Pintar sekali. Tapi tebakanmu terlambat. Karena aku sudah meninggalkan Indonesia.”
Tawa Vian semakin lama semakin lantang dan keras terdengar. Dan rasa sakit di hati Agam semakin lama semakin menusuk rasanya.