Cinta Itu (Tidak) Buta

Cinta Itu (Tidak) Buta
Part 18-2 : Misi Pencarian (POV Agam)


__ADS_3

[Agam]


Tok, tok, tok ...


“Masuk,” perintah Agam pada seseorang yang sedang mengetuk pintu ruang kerjanya.


“Permisi, Den.”


Ternyata Mbok Jami ...


“Tadi malam ada paket datang. Karena sudah malam, Pardi ndak berani ke kamar Den Agam. Jadi dititipkan ke saya,” kata Mbok Jami.


Agam dapat merasakan sesuatu mendarat di tangannya. Seperti kertas besar dengan bulatan plastik yang terlilit seperti tali tipis kecil yang panjang.


“Pak Pardi ke mana?,” tanya Agam keheranan. Karena biasanya tugas ini adalah tugas Pak Pardi.


“Anu, Den. Sepurane (Maaf). Kemarin kan saya ijin pulang sebentar, (anak) yang bungsu sakit. Saya ngiranya hari ini bisa balik sambil nunggu (anak) yang nomer dua datang dari Jogja. Tapi ternyata ndak dapat pesawat. Nanti siang baru bisa datang. Jadi saya gantian sama Pardi dulu, Den. Pardi yang pulang ke rumah, saya balik ke sini nyiapin makanan.”


Agam terus mendengarkan penjelasan Mbok Jami.


“Saya minta ijin ke Non Sara, Den. Soalnya Den Agam sudah ke atas kemarin, saya ndak berani.”


Hmm ....


“Jadi, kemarin Sara yang masak?,” selidik Agam.


“Bukan, Den. Saya yang masak semuanya. Saya simpan di lemari pemanas. Non Sara tinggal sajikan saja di meja makan.”


Agam tidak banyak memberikan reaksi saat mendengarkan penjelasan Mbok Jami. Bagaimana tidak? Dia sudah tahu semuanya semalam.


“Saya ke ruang makan dulu, Den. Siapin sarapan,” pamit Mbok Jami yang diiyakan oleh Agam.


Semenjak makan siang, sedikit pun Agam tidak menaruh curiga pada Mbok Jami yang lebih banyak diam dan suka menghilang. Dia mengira mungkin Mbok Jami sibuk dengan pekerjaannya.


Sedikit merasa aneh saat makan siang, sebuah sendok diletakkan dalam genggamannya. Aneh memang, karena Mbok Jami tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Agam bahkan sempat bertanya dalam hatinya untuk apa Mbok Jami melakukan itu. Tapi ketika hidungnya menangkap aroma masakan di depannya, dia tiba-tiba teringat saat mengikuti kelas untuk penyandang tuna netra dulu di Jepang. Itu adalah tanda bahwa makanan telah siap.

__ADS_1


Tapi, dia tidak curiga. Dia mengira, Sara yang mengajari Mbok Jami. Karena Sara sudah terbiasa dengan hal-hal semacam itu. Dia sama sekali tidak curiga bahwa orang yang ada di dekatnya kemarin itu adalah Sara.


Kecurigaan Agam adalah saat meminta Mbok Jami mendorong kursi rodanya ke teras belakang.


Wanginya ... sangat khas. Aroma citrus bercampur musk dan vanilla. Wangi yang sama yang ada di baju rajut yang pernah dilemparkannya ke wajah Agam. Wangi itu yang selalu mengikutinya.


Hanya curiga. Keyakinannya belum pasti. Hanya berpegang pada wangi tubuh rasanya terlalu cepat menyimpulkan. Agam tetap pada dugaan awalnya. Itu adalah Mbok Jami, dengan aroma khas Sara (mungkin saja ada di dekat Mbok Jami).


Hingga pada satu saat di mana dia mendengar sendiri suara Sara. Thanks again to SH 3.2.


“Hhhaaahh ... ya Allah ...”


Terdengar lirih. Tapi SH 3.2 dapat mendengar suara hingga 1 meter lebih. Dan Agam belum terlalu jauh dari Sara. Sudah jelas suaranya akan terdengar. Agam menyeringai senyum sinisnya saat itu. Dia seperti baru saja menangkap tikus kecil.


Lalu, keinginan untuk mengerjai gadis itu tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.


“Mbok, saya mau makan omelette. Tolong bikinkan.”


Sara tidak menjawabnya. Tapi Agam dapat mendengar suara wajan yang beradu dengan spatula berulang-ulang. Dan tak lama kemudian, aroma omelette yang menggoda sudah menantangnya di hadapannya. Ingin rasanya dia memakannya. Tapi, diurungkan niatnya.


“Minta susu coklat.”


“Buatkan sandwich.”


“Sup krim. Bikinkan.”


Sara sendiri hanya bisa mengomel di dapur tanpa tahu bahwa Agam juga bisa mendengarnya dan menyeringai setiap kali mendengar omelan Sara itu.


“Ya Allah ... Dia kenapa, sih? Belum juga dimakan yang itu.”


“Dia kesambet apa, ya Gusti???”


Tapi sungguh, Agam ingin sekali mencicipinya. Tangannya bergerak meraba meja makan mencari piring yang disajikan di depannya. Begitu tersentuh, dia hanya mencolek sedikit. Lalu, memasukkan ke dalam mulutnya.


Enak ...

__ADS_1


Tapi tidak. Bukan itu tujuannya.


“Ya sudah, Mbok. Saya kenyang. Mbok makan saja.”


Agam bisa mendengar Sara menarik napasnya dalam-dalam lalu menahannya. Dia mungkin sedang menahan kesalnya.


Semenjak pembicaraannya dengan Widia di telepon waktu itu, dia punya pendapat lain tentang Sara. Dia yakin sepenuhnya, Sara tidak akan mengkhianatinya. Tapi mungkin bukan hanya karena telepon itu.


Mungkin dimulai saat Agam tahu Sara menemaninya semalaman ketika dia mengamuk malam itu. Atau mungkin saat mendengar Sara yang mengomel di NFC waktu itu. Entah sejak kapan, tapi Agam menyadari sesuatu, setiap hal yang dilakukan Sara sedikit demi sedikit menaburkan bibit percayanya pada gadis beraroma citrus vanilli itu.


Tapi, bukan itu pertanyaan besarnya sekarang.


Agam sedari tadi sedang memegangi sebuah cincin di tangannya. Cincin yang dia temukan di kamarnya tadi.


Dia baru keluar dari kamar mandi, dan akan menuju ke lemari dengan kursi rodanya. Tapi kemudian, kursi roda itu berhenti dan memberikan sinyal padanya bahwa sensor telah menangkap ada sesuatu di bawahnya.


Agam bersusah payah untuk turun dari kursi rodanya hanya untuk mencari tahu apa yang ada di bawahnya. Cincin. Ternyata adalah sebuah cincin.


Dia merabanya perlahan-lahan, mencoba mengenali cincin itu inci demi inci.


Hanya cincin biasa. Bentuknya kecil. Pasti milik seorang wanita.


Dan siapa yang baru dari kamarnya? Agam hanya mengingat satu nama yang semalam terdengar begitu panik di belakangnya. Sara.


Semakin menguatkan dugaannya bahwa itu adalah Sara saat dia akan turun ke bawah yang mana Sara biasanya mengikutinya, tapi malah ke arah sebaliknya, yaitu ke kamarnya. Salah satu sudut bibirnya terangkat sedikit.


Dia memang sengaja tidak mengganti password kamarnya, membiarkan gadis itu masuk ke dalam untuk mencari barang yang selalu dibawanya sejak ditemukan. Dia pasti sedang panik mencari sekarang.


Dan pertanyaan besarnya adalah ukiran pada cincin itu.


Saat Agam meraba cincin itu , dia dapat merasakan bagian kasar yang ada pada cincin itu. Perlahan-lahan dia merabanya dan berusaha membaca ukiran unik yang terukir pada cincin itu.


Bukan dengan huruf biasa, tapi Braille. Dan terukir dengan satu nama. Vian.


Siapa Vian?

__ADS_1


__ADS_2