
[Sara]
“Mbak, itu bekal makan siangku, kan?,” tanya Arya yang tiba-tiba saja muncul di teras depan dan sudah siap akan berangkat ke kantor.
Sara yang sedang bersama Agam yang hari ini juga akan ke kantor jelas terkejut dengan kemunculannya yang seketika itu.
Begitu Sara mengiyakan, Arya langsung berseru, “Asyik!!”
“Aku?” Agam menanyakan satu pertanyaan yang biasa sebenarnya. Karena jika Sara memberikan Arya sesuatu tapi Agam tidak, biasanya pria itu akan protes. Seperti sekarang.
“Kan katanya Mas cuma sebentar saja ke kantor hari ini,” protes Sara karena memang begitu yang dikatakan Agam semalam.
“Ya kan aku juga mau,” seru Agam tidak mau kalah.
Ya Allah, aku kayak lagi ngurus dua bayi besar.
“Sudah aku titipkan Raka,” gerutu Sara yang langsung ditanggapi Agam dengan senyum penuh kepuasan.
Untung kusiapkan. Sudah kuduga pasti begitu.
Dua bayi besarnya itu memang sedikit merepotkan, tapi Sara tidak keberatan sebenarnya. Dia menikmatinya.
Arya sudah berangkat begitu membawa kotak bekalnya. Sedangkan Agam menyusul kemudian.
Sara membantu mendorong kursi rodanya dan menunggu di depan pintu mobilnya yang sudah siap terbuka. Beberapa detik kemudian, lift mini secara otomatis menaikkan Agam ke dalam mobil.
Sara masih berdiri di depan teras memandangi mobil yang membawa Agam pergi ke kantor. Satu perasaan bahagia yang akhir-akhir selalu menyelimuti hatinya.
Beberapa hari terakhir adalah hari-hari dengan ketenangan yang luar biasa. Tidak ada drama apapun yang menguras emosi, semuanya lancar dan mulus semulus jalan tol.
Agam semakin dekat dengan Arya. Terkadang saat sore hari, saat Arya sedang tidak lembur, dia selalu menemani Agam di teras belakang. Tidak hanya mengobrol, kadang mereka bercanda seperti layak dua anak laki-laki bertubuh besar. Yep, masih dengan candaan tipikal anak laki-laki.
Suasana makan di ruang makan juga lebih hangat dari biasanya, karena Arya yang selalu mengajak Agam bercanda.
Dan yang paling menyenangkan bagi Sara adalah saat-saat akan beranjak tidur. Momen dimana dia dan Agam saling mengobrol sebelum tidur hingga saat mata tak kuasa lagi untuk tetap dibuka.
Entah bagaimana awalnya. Tahu-tahu saja, mereka sudah membicarakan sesuatu yang akhirnya menyerembet kemana-mana.
Bisa jadi Agam yang sedang membicarakan Arya, dan Sara yang mendengarkannya. Atau saat Sara bercerita tentang Milo yang sekarang sedang aktif-aktifnya, dan Agam yang gantian mendengarnya.
Kebiasaan baru yang tidak biasa, tapi tanpa disadarinya sangat dinantikan oleh Sara. Kebiasaan yang membuat Sara mengetahui sisi lain Agam yang dulu tidak pernah dia ketahui.
“Hei, kamu,” sapa Sara gemas pada seekor anak kucing yang sedang mengitari kakinya dengan manja. “Ditinggal sama babu kamu, ya. Acian.”
Saking gemasnya, Sara terus menciumi Milo sampai-sampai kucing itu berteriak dengan suara kecil melengkingnya. Sara yang tidak mempedulikannya terus melakukannya sampai tergelak sendiri.
Meski Sara yang menemukannya, tapi Milo sudah resmi menjadi kesayangan Arya. Karena Arya yang paling memperhatikan makanan dan semua hal yang berkaitan dengan Milo. Hampir setiap hari mereka bersama, bahkan tidur pun bersama.
“Tunggu yang manis, ya. Nanti sore babumu baru akan datang.”
__ADS_1
Pagi yang biasa seperti pada pagi-pagi sebelumnya. Tidak ada yang aneh. Semua berjalan begitu lancar tanpa rasa khawatir akan terjadinya kemalangan.
Tapi beberapa jam kemudian, semua seperti dibalik dengan mudahnya semudah membalikkan telapak tangan. Semua berawal dari saat sore hari.
Sara hanya berniat memanggil Agam yang sedang berada di kamarnya untuk turun ke teras seperti biasanya. Tapi yang didapatinya adalah Agam yang sedang terbaring di atas tempat tidur dan terus merintih dalam tidurnya.
“Astaghfirullahaladziim. Demam ...,” gumam Sara saat dia menyentuhkan punggung tangannya ke kening Agam.
Segera Sara meminta Mbok Jami untuk mengambilkan termometer untuk mengecek suhunya. Selang beberapa menit kemudian, Sara sangat terkejut dengan hasil yang didapatnya.
“40 derajat ...”
Panik. Padahal beberapa jam yang lalu Agam masih baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang jadi begini?
Diambillah ponsel miliknya, dan segera dia menghubungi Raka. Dia berharap Raka bisa memberitahunya dokter yang biasanya menangani Agam. Karena jika tidak, maka Sara akan membawanya rumah sakit.
Beruntungnya, Raka tahu.
“Saya akan segera ke sana bersama dokternya, Nyonya,” begitu katanya sebelum panggilannya diakhiri.
Tapi, menunggu itu hanya akan membuatnya semakin panik. Dan yang bisa dia lakukan saat ini hanyalah mengompres kening Agam dengan handuk hangat.
Ya, itu dulu. Sambil menunggu.
......................
Sudah lebih dari satu jam Sara menunggu. Tapi, Raka belum juga datang. Sara bahkan sudah mengganti kompresnya lebih dari lima kali. Dan Agam masih terus merintih, karena demamnya tidak juga turun.
Dilihatnya tangan Agam yang sedang menggenggam tangannya dengan kuat. Sedari tadi terus begitu. Sara hanya melepasnya sesekali saat akan mengganti kompresnya.
Sara bahkan bisa merasakan panas tubuh Agam yang menyengat hingga menembus kulitnya. Panasnya terlalu tinggi ...
Seperti inikah waktu itu? Pasti sakit rasanya.
“Sabar sebentar ya, Mas. Bentar lagi Raka datang sama dokter,” ucap Sara lirih, meski dia sendiri yang melepaskan alat bantu dengar Agam tadi.
“Selamat sore, Nyonya. Maaf sedikit macet di jalan,” kata Raka yang datang beberapa menit kemudian. Seorang dokter dan perawat yang datang bersamanya langsung masuk begitu Sara mempersilahkan.
Sara terus memperhatikan dokter memeriksa Agam yang masih merintih kesakitan. Dengan cemas, dia terus memandangi Agam sembari menunggu dokter menyampaikan diagnosanya.
Beberapa menit kemudian, dokter memanggil Raka untuk mendekat. Kemudian mereka berbisik sembari sesekali mengalihkan pandangan mereka ke Agam.
Ada apa? Mengapa mereka berbisik?
Selanjutnya yang dilakukan dokter itu adalah mengeluarkan peralatannya dari dalam tasnya. Entah apa saja yang ada di sana, Sara tidak terlalu memperhatikan. Tapi yang jelas, dokter itu kemudian mengambil sedikit darah dari Agam.
Raka bilang dokter akan melakukan beberapa tes. Hasilnya akan bisa segera diketahui.
Menunggu lagi ...
__ADS_1
Sara tidak tahu lagi harus melakukan apa. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah berada di dekat Agam sementara dokter dan Raka keluar dari kamar. Mengganti kompres di keningnya dan juga terus menggenggam tangan Agam berharap Agam tahu bahwa dia tidak sendirian saat ini.
Ada aku disini, Mas ...
Tidak tahu berapa lama lagi Sara menunggu, yang jelas begitu Raka kembali, wajahnya jelas menunjukkan ketegangan yang luar biasa. Sara bisa merasakan itu dari raut wajahnya dan tatapan mata Raka pada dirinya.
“Bagaimana hasilnya?,” tanya Sara yang sudah tidak sabaran.
Tapi bukannya menjawab, Raka malah balik bertanya. “Apakah Nyonya bisa menyebutkan makanan apa saja yang dimakan Tuan hari ini?”
Kening Sara langsung berkerut. Kenapa jadi menanyakan makanan?
Sara tetap menjawabnya. Dia sebutkan semua makanan yang dimakan Agam di rumah hari ini, termasuk juga rendang daging yang dikirimkan Ibu tadi rumah. Sara ingat betul semuanya karena dia sendiri yang melayani Agam.
“Apakah ada yang masih tersisa?” Lagi-lagi Raka menanyakan satu pertanyaan yang aneh.
“Kalau nasi rasanya sudah habis. Tapi kalau rendang daging, aku rasa masih ada sedikit di kulkas.”
Apa tujuannya semua pertanyaan ini?
“Bisa tolong antarkan saya untuk diambilkan sedikit, Nyonya?”
Kening Sara tidak berhenti berkerut. Tapi dia tetap saja mengantarkan Raka ke dapur.
“Ada apa sebenarnya?,” tanya Sara ketika Raka mengambil sedikit rendang dan memasukkannya ke dalam plastik bertuliskan kata ‘sampel’ lalu disegel. Hal yang membuat Sara semakin cemas.
“Kami masih menyelidikinya, Nyonya.”
“Jadi, menurut dokter, apa yang sebenarnya terjadi pada Mas Agam?,” desak Sara dengan pertanyaan lain yang tidak kalah pentingnya.
Tapi mungkin bagi Raka, itu tidak penting. Karena dia hanya diam saja menanggapi pertanyaan Sara.
Sara semakin tidak sabaran. Dia sudah terlalu lama menunggu dan hanya pertanyaan tanpa jawaban yang diberikan Raka.
“Setidaknya beri tahu aku ada apa? Aku istrinya!,” hardik Sara.
Raka menatap Sara sebentar. Entah apa yang sedang dipikirkan pria itu. Lalu, dia berkata, “Saya sebenarnya tidak ingin mengatakan ini. Tapi, Nyonya hanyalah istri berdasarkan kontrak perjanjian.”
DEG!
Dia tidak salah.
Tapi, kenapa dia harus mengingatkannya?
Anehnya, Raka menunjukkan raut wajah penyesalannya.
Kata-kata Raka terus terngiang di kepalanya tanpa bisa mengatakan apa-apa lagi. Dia tetap diam meski Raka sudah pergi dengan sampel di tangannya.
Tidak bolehkah aku mengkhawatirkannya meski aku cuma istri kontrak?
__ADS_1
Tapi Sara tahu dia tidak bisa diam begitu saja. Agam masih sakit. Sara harus berada di sampingnya. Dengan keyakinan itu, Sara kembali ke atas.
“Maaf, tapi mulai saat ini, Nyonya dilarang untuk mendekati Tuan Agam.”