Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE. 106


__ADS_3

Ayah titip ibu Nak. Sang Ayah memeluk mereka dengan erat.


Acara Duka itu berjalan dengan teduh.


Sosok wanita ramping yang berjubah putih itu terdiam di depan  papan ukiran sang suami.


Bahkan dirinya tidak sanggup melihat acara mengkremasi sang suami.


Wanita itu memeluk guci porselen di pangkuannya seakan menjaga barang berharga yang takut di ambil orang.


Ivona sesekali mencium guci itu.


Menangis pilu disana.


Segala cara di lakukan ibu dan ayah Ba Xi'an untuk membujuk Ivona makan dan beristirahat. Tetapi menantunya tidak menghiraukan mereka.


Bahkan Putranya yang biasa di dengarnya tetap tidak mempan membujuk sang menantu.


Semua Keluarga menantunya juga sama. Bahkan besanya itu berulang kali pingsan saat melihat kerapuhan Putri kecilnya.


Kehidupan Putrinya itu sungguh malang.


Penderitaannya tidak ada habisnya.


Dulu saat dirinya  belum mengandung.


Ada sosok cahaya bersinar menghampirinya.


""Karena kamu mempunyai garis darah jiwa Phoenix maka aku akan menyerahkan anak ini kepadamu.


" Dia akan kau Kandung selayaknya manusia biasa.


"Jangan pernah memberitahu identitasnya jika bukan dia sendiri yang tau.


"Berikanlah dia kehidupan layaknya manusia biasa.


"Biarlah dia berpikir bagaimana manusia biasa berpikir.


"Jika kamu berhasil mengandung dan membesarkanya. Maka kesalahanmu akan ku ampuni.


Ucap cahaya terang itu dalam mimpinya.


Saat itu ibu Ivona sangat terkejut akan didatangi seorang yang di yakini ibunya seorang  dewa.


Hanya Dewalah yang tau dosa dan kesalahanya. Karena Dia juga pernah menjadi pelayan seorang Dewi dan menghianati Dewi itu. Sehingga Dewi itu membuangnya ke Dunia manusia. Dan mengambil esensi kehidupan abadinya dan kekuatanya.


Ibu Ivona melakukan semua yang di perintah cahaya terang itu. Dia tidak ingin melakukan kesalahan yang sama.


Walaupun Dirinya tidak tau Putrinya reinkarnasi dari siapa dan berasal dari mana. Hanya satu yang ada di pikiran ibunya bahwa Putrinya keturunan Langsung dari Phoenix. Karena Putrinya itu memiliki jiwa Phoenix.


Ibu Ivona menangis pilu di pelukan suaminya.


""Kenapa orang-orang yang di sayanginya harus menderita.


"Kenapa Dewa tidak mengambil langsung Nyawanya.


"Dan kenapa harus Putrinya yang mengalami dosa-dosanya.


"Seandainya Dia tidak mengikuti rasa dengki di hatinya Dia tidak akan menyakiti orang yang sangat di sayanginya itu.


""Maaf...


"Maafkan ibu Nak.


Seandainya ibu tidak menghianati sang  Dewi mungkin kamu tidak menderita seperti ini Batinya.


"Sayang..


Air mata Ivona sudah mengering. Matanya sudah bengkak. Pandangannya sudah kabur.


""Aku akan memanggilmu sayang setiap hari bahkan setiap detik.


"Supaya kamu bahagia.


Ucap Ivona sambil meletakkan guci itu di samping papan Ukiran nama Ba Xi'an.


Ivona mundur selangkah.


Bibirnya bergetar.


"Sayang..kamu sangat jahat.

__ADS_1


""Bruukkk.


""Menantukuu.


""Ibuu.


Mereka serentak terkejut dan memanggil Ivona bersamaan.


Yaang memapah tubuh kecil sang kakak yang sudah tidak sadarkan diri.


Dirinya sungguh tidak tega melihat hidup kakak tersayangnya itu yang sangat hancur.


""Sayang..


""Hei..Sadarlah.


Ivona langsung membuka netra birunya.


Dia seperti mendengar suaminya memanggilnya.


""Sayang..


"Apakah itu kamu


"" Kamu di mana?


Ivona memanggil Ba Xi'an histeris.


Rambutnya di Jambak kuat. Wajahnya di cakarnya sampai berdarah.


Dia seperti orang gila.


""Sayaaangg... hikks..


Ivona meraung histeris memanggil-manggil suaminya.


""Kamu jahat..hiks


Ivona menangis pilu. Suaranya serak nyaris tak terdengar.


Ivona kembali sadar saat tidak ada sahutan dari pria tercintanya itu.


Ivona meremas kuat alas tempat tidurnya.


""Kenapa kamu tega meninggalkanku.


""Hiks.


""Ibu..


Lie Zhu segera membelai surai ibunya dengan sayang saat mereka mendengar jeritan memilukan dari mulut ibunya.


BA Xi'O yang di samping ibunya. Menghapus kasar air matanya.


Dia harus kuat seperti kakaknya yang hanya bisa menangis diam-diam di kamarnya.


Ivona memeluk kedua Putranya.


Hatinya kembali teriris saat melihat wajah kedua Putranya yang mencoba tegar demi dirinya.


Pasti jauh-jauh hari suaminya itu sudah berpesan teguh kepada ke dua Putranya itu.


""Ibu minta menangislah jika kalian ingin menangis.


"Aku tidak ingin kalian memendamnya ucap Ivona serak sambil mencium kening kedua Putranya dengan sayang.


Lie Zhu dan Ba Xi'O langsung menangis melihat keadaanya ibunya yang memilukan saat di tinggalkan sang Ayah.


Mereka kali ini akan melanggar janjinya kepada sang ayah demi menuruti ibunya.


Mereka sudah berbulan-bulan menahan sesak di dada mereka saat mengetahui ayah mereka sakit keras.


Terlebih saat melepaskan Kepergian sang Ayah.


Sejatinya mereka hanya anak kecil yang butuh pelukan dan kasih sayang. Mereka sudah mencoba bersikap Dewasa. Tetapi mereka masih mempunyai perasaan yang sama dengan anak-anak sebaya mereka di luar sana.


""Ibuu...


"'ibu..


Mereka hanya memanggil ibunya dan tidak berani menyebut sang Ayahnya.

__ADS_1


Permaisuri yang ada di luar kamar di temani yang lain hanya bisa meremas dadanya yang begitu sesak.


Kepergian Putranya menjadi pukulan yang sangat berat untuk menantunya dan  ke dua cucunya yang masih membutuhkan kasih sayang Putranya.


*


Waktu terus berlalu.


Segala takdir manusia memang sudah di tentukan yang Kuasa.


Manusia hanya bisa menjalaninya sesuai porsinya masing-masing.


Ivona menatap nanar  hamparan Taman itu.


Taman yang segaja di bangun suaminya untuk dirinya.


Taman itu sungguh luas.


Sejauh mata memandang ujung taman itu tidak akan di temukan.


Dulu taman itu begitu indah dan wangi.


Tapi saat ini Taman itu tidak seindah dan sewangi dulu.


Aura taman itu sudah pudar bagi Ivona.


Sejak kepergian Ba Xi'an.


Dulu Ivona akan di temani sang suami dan akan bermanja-manja di tangan kekar suaminya.


Sambil mengendus-endus leher suaminya dan terkadang membuat suaminya terkekeh geli.


Dulu di taman itu suaminya akan sabar menyuapinya dengan beberapa cemilan kecil serta menuangkan teh hangat untuknya.


Ivona saat itu baru percaya dengan lirik lagu di zamannya.


Ratu yang Di manja pangeran.


Rasanya sangat menyenangkan dan indah.


Apalagi suaminya tipe laki-laki pendiam tapi romantis dan hangat kepadanya.


Suaminya hanya bersikap hangat dan lembut hanya kepadanya.


Bahkan kepada Putranya sekalipun suaminya itu akan bersikap tegas dan sedikit kejam.


Hanya kepadanya lah Suaminya itu bersikap lunak dan cepat  luluh.


Apalagi saat Ivona mengeluarkan suara manja dan rengekanya. Suaminya itu akan langsung luluh dan menurutinya Tanpa berpikir dua kali.


""Apakah sayang bahagia disana.


"Sudah dua tahun ya Sayang.


"Kamu meninggalkan ku dan kedua Putra kita.


"Putra kita kini sudah berumur sepuluh tahun lebih.


"Lie Zhu sudah di angkat menjadi Putra Mahkota.


"Dan ayah yang duduk di belakangnya untuk mengajarinya.


"Sementara Putra kita Ba Xi'O


Dia lebih banyak bermain dan menghabiskan waktu di hutan Spritual dengan paman-paman angkatnya.


Ivona tidak berhenti berbicara sendiri.


Netra birunya kini sedikit bersinar.


Padahal selama dua tahun ini Ivona menjadi sosok yang pendiam dan dingin. Bahkan senyum di bibirnya jarang terukir.


Segala cara sudah di lakukan orang-orang terdekatnya untuk menghibur Ivona.


Ivona tidak ada ubahnya menjadi sosok Ba Xi'an dulu saat di tinggal sang istri.


Permaisuri yang menatap menantunya dari ke jauhan hanya bisa menghela nafas panjang.


Dia melihat sosok Putranya di diri menantunya itu. Dulu Putranya itu juga melakukan hal yang sama.


""Jika ada kehidupan selanjutnya

__ADS_1


"Semoga kalian bisa bersama selama-lamanya tidak mengalami perpisahan lagi. Doa ibu Ba Xi'an tulus.


__ADS_2