Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE. 64


__ADS_3

Mereka saat ini sedang berada di tiga jalur persimpangan.


Bingwen tau arah ketiga jalan itu.


Jalan sebelah kanan menuju Kerajaan Fantasi, sebelah kiri menuju kerajaan dataran rendah yang sedang kacau karena sedang di jajah. Jalan lurus di depan mereka menuju kerajaan Matahari.


""Menurutmu kemana mereka pergi. Tanyanya kepada sosok Tegap yang di sampingnya.


""Tuan di dalam kreta itu terdapat Hewan suci yang Sudah ranah Dewa dan Dewi Tuan dan juga beberapa hewan yang sudah tingkat tinggi Tuan. Ucapnya. Dia yakin Tuanya itu tidak mungkin gegabah


Bingwen yang mendengarkan perkataan hewan sucinya itu terkejut. Jika dia Tetap maju dia yakin tidak akan bisa mengalahkan penghuni kreta itu.


""Apa mereka menuju kerajaan fantasi?


""Hanya kerajaan fantasilah yang  banyak mempunyai hewan suci yang sudah tingkat tinggi dan puncak.


""Apa mungkin pemilik kreta itu seorang Tuan Muda atau seorang Nona muda dari kerajaan fantasi? Tanya Bingwen berjejer.


Dia tidak akan gegabah melakukan penangkapan jika pemikirannya itu benar. Hal ini sudah menyangkut dua kerajaan.


Dia sangat yakin dengan pemikirannya.


""Tidak akan mungkin ada orang yang berani membunuh. Jika seseorang itu tidak mempunyai kedudukan atau posisi yang tinggi. Batinya sambil mengangguk mengiyakan pendapatnya.


""Lebih baik kita kembali melaporkan kepada yang Mulia Putra Mahkota.


Ucapnya. Membuat sosok yang di sampingnya itu menghela nafas.


""Mudah mudahan sang Ratu tidak DENDAM. Batinya. Dirinya lebih takut memikirkan DENDAM Ratunya di bandingkan menghadapi sang Putra Mahkota.


***


Kreta panjang dan besar itu telah melakukan perjalanan hampir dua bulan. Kini mereka sudah memasuki hutan daratan Rendah.


"" Apa hutan ini sudah termasuk kedalam tanah kerajaanmu?


Jing mi bertanya dengan wajah muram.


""Sudah Nona.


"'ckk...tanah di sini sangat gersang. Tidak ada aura kehidupan. Kerajaan Mu ini sudah tidak layak di katakan kerajaan. Hinanya.


""Bahkan  hutan terbengkalai yang ada di pinggiran hutan Spritual tidak layak di bandingkan dengan tanah kerajaanmu ini. Ucapnya tanpa filter.


Bibir Zhang berkedut.


"Mulut  wanita ini memang sangat berbisa. Batinya.


Sementara Ivona hanya diam tanpa ekspresi. Tanganya sibuk membelai surai Putranya yang sedang tidur terlelap.

__ADS_1


""Yang Mulia dari jarak satu kilometer ada sekelompok masyarakat yang sedang berjalan menuju jalan yang kita lalui yang Mulia. Elang Tua melaporkan penglihatannya.


"" Suruh mereka berhenti jika mereka sudah mendekat.


Mungkin itu masyarakat yang mencoba melarikan diri dari para penjajah itu. Ucap Ivona.


""Baik yang Mulia.


Setelah beberapa saat Elang Tua itu menghentikan masyarakat yang sepertinya sudah lelah tetapi mereka masih melanjutkan perjalanannya.


Di dalam gerobak terlihat ada yang sekarat .


""Apa kalian mau keluar? Tanya Elang Tua kepada sosok laki-laki yang di yakininya sebagai ketua kelompok.


""Iya...kami ingin menjual diri kami sebagai pelayan atau budak ke kerajaan lain yang bisa menerima kami. Jawabnya dengan wajah yang sudah kelelahan.


""Tuan...apa kalian ingin masuk kedalam?


""Lebih baik Tuan kembali. Di kerajaan sedang kacau Tuan. Terakhir kali informasi yang kami terima kaisar kami sedang kritis tuan. Hamba tidak yakin kaisar masih hidup atau tidak saat ini. Ucapnya sedikit bergetar.


Sementara Zhang yang ada di dalam kreta merasa tertekun. Butiran Keringat telah membanjiri pelipisnya.


""Keluarlah. Periksa mereka yang sedang sakit. Mereka membutuhkanmu.


""Bukankah sudah waktunya kau menunjukkan kehebatanMu? Ucap Ivona datar.


""Baik yang Mulia.


"Bagikan juga kue kering yang kita bawa.


"Serta tinggalkan beberapa keping Emas untuk mereka. Suara lembut Ivona bagaikan air jernih yang membasahi tenggorokan masyarakat itu.


""Baik yang Mulia. Ucap elang Tua di bantu dengan pengawal dan dua wanita pelayan.


""Terimakasih Nona.. ucap para masyarakat itu sambil bersujud dengan suara bergetar. Mereka tidak menyangka akan ada yang menolong mereka. Kehadiran Ivona ibarat seorang Dewi yang turun dari langit.


Saat mereka berdiri. Mereka melihat sosok yang familiar dan sosok yang mereka hormati.


""Putra Mahkota..?


Zhang melihat masyarakatnya yang sudah lusuh dan lelah itu. Hatinya miris tidak dapat melindungi masyarakat nya itu.


""Maaf. Ucapnya bergetar.


Para masyarakat itu tertekun .


""Kenapa yang Mulia kembali.


"" Seharusnya yang Mulia belum bisa Kembalilah saat ini. Istana sedang di kepung yang Mulia. Ucap kakek tua itu bersujud sambil memohon kepada Putra Mahkotanya untuk kembali.

__ADS_1


""Yang mulia.. pikirkan kami yang Mulia. Yang Mulia tidak boleh gegabah. Jika yang Mulia dalam bahaya maka kerajaan kita akan musnah. Ucap sang kakek tua itu sambil menangis di ikuti dengan yang lain


Walaupun kerajaan mereka saat ini sedang di jajah mereka masih berharap kerajaan itu bisa berdiri lagi suatu saat nanti. 


Mereka takut Jika penerus mereka tidak ada lagi maka kerajaan mereka akan hancur untuk selamanya. Untuk itu mereka memaksa Putra Mahkota itu kembali untuk bersembunyi.


""Aku tidak akan kembali. Sudah saatnya aku merebut kembali kerajaanku . Ucapnya lantang penuh dengan raut wajah keseriusan. Membuat para masyarakat itu terkejut sekaligus kagum. Putra Mahkotanya itu telah tumbuh menjadi sosok yang lebih Dewasa.


Setelah Zhang memeriksa penduduknya. Zhang dan yang lainya kembali ke kreta kuda.


Saat Zhang memasuki kreta itu. Dia melihat Ivona sedang tertidur pulas.


Zhang merasa bersalah. Jika bukan karena dirinya mungkin wanita itu sudah hidup tentram dan tidur nyaman saat ini.


Kreta kuda itu kembali melaju. Pengawal serigala kembar sudah kembali dan melapor.


""Yang Mulia semuanya sudah selesai sesuai dengan perintah yang Mulia.


""Bagus... Pergilah ke kerajaan teratai salju. Temui selir Agung kerajaan itu dan ajak selir itu bekerja sama. Dan bilang ini perintah dariku. Titahnya kembali kepada dua Serigala kembar itu.


""Baik yang Mulia.


Kedua serigala itu langsung pergi. Mereka sangat senang bisa mengikuti perintah Ratunya. Walaupun mereka masih Hewan suci tingkat tinggi. Mereka beruntung menerima esensi spritual dari Ratunya sehingga mereka dapat berubah cepat menjadi Manusia.


""Elang Tua pergilah kepintu masuk Istana. Segera bereskan kerikil itu.


Titahnya kembali kepada elang Tua yang saat ini duduk paling depan seperti kusir.


""Baik yang mulia.


Ivona mengetuk pintu kreta samping sebelah kiri.


""Ikuti si kembar. Titahnya.


""Baik yang Mulia.


Sementara pengawal di samping sebelah kanan Tampa di perintah langsung mengambil posisi.


Yang satu pindah ke belakang Kreta. Menggantikan tempat serigala kembar itu.


Sementara kedua pelayan perempuan itu sibuk meneduh teh dan menyiapkan beberapa cemilan untuk sang Ratu.


Jing mi ikut merepotkan dirinya melakukan telepati kepada bawahannya yang ada di hutan Spritual.


""Yang Mulia. Tiga pemuda yang kita jumpai di restoran telah memasuki hutan Spritual dan sudah mengontrak tiga hewan suci tingkat tinggi. Lapornya kepada Ratunya.


""Oo..yaa..


""Ivona tersenyum licik.

__ADS_1


__ADS_2