
Seringai tipis tercetak di bibirnya.
""Terimakasih yang Mulia. Telah menunjukkan keadilan untuk ibu dan pengawal pertamaku. Ucap Putri Mahkota Matahari tak kalah lembutnya. Dia sengaja melembutkan suaranya selembut mungkin untuk menarik perhatian orang lain dan Putra Mahkota Ba Xi'an dia tidak ingin kalah dari selir Pertama Putra Mahkota.
""Apa yang kita lakukan yang mulia.
Jing mi tidak menyangka hal ini. Dia hanya memikirkan Ratunya.
"Pasti Ratu merasakan sakit hati yang luar biasa akibat tindakan suaminya yang tidak berperasaan.
""Pantas saja dia menyandang gelar Putra Mahkota kejam. Batin Jing mi.
Jing mi mengusap punggung Ivona. Seakan menguatkanya.
Ivona menatapnya tajam
"Maaf yang Mulia.
""Apa kalian ada yang mau di sampaikan sebelum hukumannya di mulai.
Ucap Kaisar yang mencoba bersabar menghadapi sikap keras kepala Ivona.
"Sikap keras kepala wanita ini melebihi
Sikap keras kepala Putra ku batinya iba.
"Putra Mahkota...Ba... Xi'an
Suara selembut seperti embun di pagi hari menyentuh setiap Indra pendengaran di aula itu. Tak terkecuali Ba Xi'an yang merasa sedikit bergetar saat namanya terang-terangan di sebut secara terpisah.
Ivona menaiki dan melewati dua tangga. Berjalan anggun lima langkah tepat berdiri di hadapan Ba Xi'an.
Netranya menatap hitam legam itu. Netra yang pernah di tatapnya dengan tatapan memuja dan wajah yang pernah di impikanya setiap malam.
Tetapi saat ini netra hijau milik Ivona menatap tajam Lelaki yang pernah singgah di hatinya itu.
Saat ini dirinya sangat benci...sampai ke ubun-ubun rasa bencinya kepada Pria itu.
Ba Xi'an yang di tatap membalasnya dengan dingin.
""Apakah wanita gila ini ingin merayuku batinya. Berfikir jauh.
"Hahahaha.
Suara tawa Ivona menggema di aula itu.
Ivona tertawa sampai sudut matanya mengeluarkan butiran kristal.
Ivona merasa lucu dengan takdirnya ini.
""Apa yang Mulia yakin ingin membunuhku?
Ba Xi'an memicingkan matanya.
""Apakah kurang jelas? Jawab Ba Xi'an enteng.
""Baiklah.
""Izinkan aku menyelesaikan tugasku sebelum aku menerima hukuman gantung.
""Tidak ada tawar menawar.
"Kenapa sedari tadi mulutmu hanya diam?
"Kenapa saat hukuman mati menantimu baru mulutmu berbicara.
"Apakah kau sengaja mempermainkan ku dengan cara mengulur waktu?
__ADS_1
Bentak Ba Xi'an penuh Amarah. Netranya menatap tajam ke arah netra hijau itu.
Ivona tersenyum. Lebih tepatnya tersenyum miris. Lelaki itu masih sama bodohnya.
" Aku akan meluruskan sedikit kesalah pahaman.
""Sedikit?
""Wanita ****** sepertimu masih bisa mengatakan hal itu?
""Degg... jantung Ivona merasakan nyeri yang teramat dalam di hatinya. Lelaki yang sepenuhnya di cintai itu telah menghina dirinya.
""Yaa...aku memang ******.
Ucapnya bergetar sambil menatap tajam Ba Xi'an.
Hati Ivona terasa berdenyut menahan rasa sakit yang menusuk di dadanya.
Butiran air mata mengalir di pipih mulusnya..Bahkan cadar yang di gunakanya ikut basah.
Ba Xi'an tetap bersikap dingin. Walaupun dia merasakan sesuatu seperti ada yang menusuk di hatinya saat mengatakan kata-kata hina itu. Dia masih bersikap acuh tak acuh..
"Karena yang Mulia telah memanggilku
"Ja..Lang.
""Apa yang mulia mau mendengar sedikit ceritaku Ivona bahkan menekan kata ****** itu dengan jelas.
Orang-orang yang di dalam aula ini juga bisa mendengarkan ceritaku. Asal mula mengapa aku menjadi ******.
Harga diriku memang sudah tidak ada.
Ucap Ivona kembali santai.
Semua yang dia aula itu hanya terdiam dan tak berani berbicara. Karena saat ini wajah Putra Mahkota itu menggelap siap melemparkan Ivona ke Jurang tak berujung.
Entah kenapa wanita ini seakan mengujinya dan sengaja menyebutkan kata ******. Membuat Ba Xi'an semakin tidak nyaman karena telah membayangkan istri tercintanya. Karena dulu Ba Xi'an juga pernah mengatakan "kata. Yang sama kepada belahan jiwanya.
"Brak...
Karena amarah yang sudah di ubun-ubun Ba Xi'an tidak sengaja menendang meja yang di hadapanya.
Dan serpihan meja itu mengenai pelipis Ivona yang berjarak masih lumayan jauh dari tempat Ba Xi'an duduk.
Pelipis Ivona mengeluarkan darah segar di sana.
Walaupun Ivona sudah siap dengan konsekuensi dia tetap terkejut melihat tingkah brutal mantan suaminya.
Sementara Ba Xi'an yang melihat dan menyadari kesalahanya merasa ada yang menusuk di hatinya saat darah segar mengalir dari kening mulus wanita yang di depan sana.
""Ada apa denganku. Batinya.
Ba Xi'an mencoba mengontrol emosi yang menyeruak di dadanya.
"""Yang Mulia Kaisar. Bisakah hamba meluruskan masalah ini?
Sang Kaisar merasa binggung.
""Bukankah sudah dari tadi aku bertanya kepadamu Nak?
Bahkan sang Kaisar binggung dengan jalan pikiran wanita bercadar di hadapannya.
""Hamba diam karena hamba ingin melihat mereka merasa puas melampiaskan amarahnya yang tak jelas apa penyebabnya.
""Dan hamba ingin melihat sejauh mana Manusia kotor ini berbohong. Ucapnya tenang.
Ba Xi'an memicingkan matanya.
__ADS_1
"Wanita ini memang sudah gila. Batinya.
Bibir Kaisar berkedut mendengar penjelasan Ivona.
""Cara berpikir anak muda memang selalu berbeda. Batinya sedikit binggung.
Ivona menuruni tangga singgasana dia tidak ingin lama-lama di depan lelaki gila itu.
Dia duduk tenang di meja paling depan yang bahkan orang tidak tau sejak kapan kursi dan meja itu ada di sana dan lengkap dengan Teh dan cemilan.
""Apa yang di lakukanya.
" Kenapa dia duduk.
""Dari mana datangnya meja beserta yang lainnya.
Ucap para penghuni istana itu merasa binggung.
""Untuk ceritaku kenapa aku jadi ******. Aku akan menceritakannya di akhir.
Ivona melihat kearah keluarga Kanselir kanan dan kiri. Disana Dia melihat mantan pelayan selir ketiga sedang duduk santai seperti dia tidak melakukan kesalahan.
Sementara dialah yang pertama meminta dan bersujud di depan Ba Xian.
Lalu Ivona menatap rombongan Kerajaan Matahari. Selir kesepuluh itu terang terangan tersenyum mengejek kepada Ivona.
""Dasar ******. Ucap selir kesepuluh itu
Dan masih bisa di dengar Ivona.
""Apa kamu yakin tidak mau jujur?
Ivona masih mengajak selir kesepuluh itu tawar menawar.
""Jujur apa. Bukankah aku disini korbanya? Ucap selir kesepuluh itu dengan sikap menantang dan tidak takut. Kali ini dia sudah menang.
""Wanita ****** cepatlah apa yang ingin kau ceritakan. Jangan kau mengulur waktu eksekusimu.
Ucap Putra Mahkota dari kerajaan duyung.
""O..ya.
""Apa kau juga ingin menantangku. Tanya Ivona dingin.
""Cihh...bahkan aku ingin membunuhmu. Ucap Putra Mahkota itu dengan lantang.
""Baiklah.
Kuperingatkan sekali lagi satu persatu aku telah mengingat suara kalian dan mengingat apa yang sudah keluar dari mulut kotor kalian untuk menghinaku.
Maka untuk itu aku tidak akan melepaskannya sekalipun memohon. Bahkan kematianpun tidak akan bisa menghampirinya karena aku paling suka menyiksa orang lain. Ucapnya dingin. aura di aula itu tiba-tiba membeku.
Semua yang di sana terkejut.
Kaa..kau...ucap Putra Mahkota duyung itu tergagap. Dia yakin wanita yang di depanya ini wanita yang memiliki sihir yang sudah mencapai tingkat Dewi.
""Kenapa dia bisa mempunyai aura yang begitu kuat..
Bisik-bisik para penghuni itu dan mereka merasa sesak.
Kaisar yang duduk di singgasana sedikit menahan rasa sakit di dadanya.
""Apakah Dia akan menjadi saingan Putraku. Batinya.
Sementara Ba Xi'an acuh tak acuh. Aura wanita itu tidak dapat menyentuh kulit kokohnya.
""Ahh... maaf aku terlalu gegabah. Ucap Ivona santai dan melepaskan auranya.
__ADS_1
Ivona menatap selir kesepuluh. Seringai Licik terpatri di wajahnya.