
Pertempuran panjang kini kembali terjadi.
Apalah daya, Laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu kini mulai bersarang di hatinya.
Chang Lian mulai menyukai dan mencintai suaminya itu. Chang Lian tidak tau kenapa. Dia merasa perasaanya saat ini sangatlah bahagia.
Semenjak mengenal suaminya. Chang Lian selalu saja di perlakukan dengan sangat hangat.
Suaminya memang tipe yang dingin di luar, Tetapi di hadapannya, suaminya itu selalu bersikap Lembut dan manis.
"Cepatlah hadir Nak.
Ucap Heng Yuze serak sambil mengusap dan mencium perut rata sang istri.
Dia baru saja menanam benihnya. Heng Yuze berharap benihnya itu segera tumbuh.
Apalagi beberapa hari ini Heng Yuze selalu saja menerkam istri cantiknya ini habis-habisan.
Berharap ke dua Putranya langsung hadir di rahim istrinya. Heng Yuze sudah sangat merindukan ke dua Putranya itu.
Jika kedua Putranya sudah hadir dan lahir.
Maka Heng Yuze akan membuat seorang Putri lagi. Heng Yuze sudah membuat List perencanaannya.
Heng Yuze menatap wajah teduh istrinya .
Seperti biasa Istrinya pastilah sangat kelelahan melayaninya.
Kelopak mata indah itu sudah mulai tertutup.
"Terimakasih, Bisik Heng Yuze sambil menenggelamkan wajahnya ke leher jenjang Chang Lian.
Chang Lian mengangguk sambil mengusap-usap kepala suaminya itu. Jika sudah seperti ini, suaminya itu tidak akan mau bergerak.
Tubuhnya sudahlah sangat lelah. Di tambah suaminya sudah kembali bersikap manja seperti ini. membuat Chang Lian hanya bisa pasrah saja.
Ternyata para Dewa dan Dewi itu sungguh sangat salah menilai suaminya dan menjuluki suaminya balok Es. Mereka hanya melihat sifat luar suaminya saja.
Mereka tidak tau. Jika Balok Es ini sudah bertingkah maka, anak-anak pun akan kalah di buatnya karena sifatnya yang begitu manja ke padanya. Bahkan umurnya yang sudah matang itu tidaklah menjadi penghalang baginya untuk menunjukkan sifat kenak-kanakan itu.
* Ke esokan harinya. Chang Lian dan Heng Yuze sudah bersiap-siap menuju alam Phoenix.
Bahkan keempat sosok Dewa muda itu sudah menunggu di depan istana Heng Yuze.
"Ckk .Apa mereka masih tidur?
Gerutu Dewa bintang, Dia sudah tidak sabar lagi melihat wanita-wanita cantik di alam Phoenix.
Hal yang menjadi alasanya ikut kesana.
Chang Lian dan Heng Yuze keluar dari kediamannya.
"Salam untuk Dewa Tinggi Putra Mahkota dan Dewi Tinggi Phoenix. Ucap Mereka serentak.
Chang Lian tersenyum melihat para kakak Dewanya itu.
__ADS_1
Heng Yuze memicingkan matanya saat melihat ke empat Sahabatnya itu.
Dia yakin para sahabatnya itu pasti ingin ikut.
Jika tidak ngapain mereka berdiri di istananya. Biasanya juga Mereka akan menerobos masuk kedalam.
Hal itu tidak akan di biarkan Heng Yuze. Heng Yuze tidak ingin ada pengganggu di antara dirinya dan istri cantiknya itu.
"Kembalilah, Kalian tidak bisa ikut.
Tolaknya dengan suara tegasnya.
"Aku ikut karena mewakili yang Mulia Kaisar langit
Ucap Dewa Matahari langsung. Dia juga tidak mau mengikuti Heng Yuze. Matanya akan terbakar jika sudah melihat adegan romantis dari pengantin baru itu.
Sementara Dewa Takdir, Sudah menjadi tugasnya mengikuti para Dewa sahabatnya itu.
Heng Yuze juga tidak dapat mengusirnya.
Izinkan aku ikut. Aku sungguh takut tinggal di istanaku. Pinta Dewa Bulan dengan raut wajah yang ingin di kasihani. Dewa Bulan ikut untuk menghindari Dewi Ular.
Dia takut wanita yang kejam itu datang ke istananya. Untuk menghindari itu, Dia akan memohon kepada Dewa Tinggi Putra Mahkota.
Heng Yuze menghembuskan nafas beratnya.
Jarang-jarang sahabatnya Dewa Bulan meminta tolong begini kepadanya.
Heng Yuze menatap Dewa Bintang yang menunjukkan wajah santainya.
"Jika kalian ikut, Aku harap kalian bisa menjaga Rahasia istriku. Pesannya.
Ke empat Sahabatnya itu mengangguk.
**
Dalam Sekejap mereka tiba di alam Phoenix.
Chang Lian mengukir senyum manisnya.
Alam Phoenix miliknya sangatlah indah. Tidak kalah megah dari kerajaan langit.
Ternyata mereka sudah di tunggu oleh sang Nenek.
"Salam kepada Dewa Tinggi Putra Mahkota. Ucap Ratu Phoenix di ikuti oleh penatua dari klan Phoenix.
Mereka berenam memasuki Aula yang menjadi tempat pertemuan mereka.
Disana telah berbaris rapi meja Giok dan diasanya telah tersedia makanan dan minuman. Hal yang paling di sukai Dewa Takdir jika sudah mengunjungi setiap klan.
Dewa Bintang bersiul saat melihat wajah-wajah cantik dari Calon Dewi-Dewi itu.
"Diamlah jangan bertingkah. Disini kita menjalankan tugas, Bukan tebar pesona. Ucap Dewa Matahari datar.
"Ckk..Baru saja mulai. Jawab Dewa Bintang.
__ADS_1
Dia kembali menunjukkan martabatnya sebagai Dewa dari kerajaan langit. Jika sudah menyangkut misi katanya. Dia juga tidak akan bermain-main.
Heng Yuze duduk di singgasana. Di mengandeng tangan istrinya dengan erat karena takut istrinya menolak.
Beberapa wanita yang sedang berdiri di aula itu terkejut saat sang Dewa Tinggi Putra Mahkota mengandeng tangan seorang wanita yang sangat cantik. Bahkan ke cantikan wanita itu, Membuat mereka merasa minder.
Xi Lin yang berdiri di barisan paling depan memicingkan matanya.
"Siapa wanita muda ini?
Batinya.
Dia langsung tidak menyukainya.
Hatinya panas saat tangan dari laki-laki yang di sukainya memegang tangan wanita itu.
"Apakah dia mau bersaing denganku?
"Jangan harap, Kau menang dariku?
"Kekuatanku bisa menghancurkan wajah jelek mu itu.
Ucapnya menahan rasa cemburunya. Xi Lin tidak mau mengakui kecantikan Chang Lian.
Hanya orang-orang yang butalah yang menganggap wanita itu cantik. Pikirnya.
Laporan-laporan dari setiap penatua klan Phoenix. Di dengar baik oleh Heng Yuze, Terutama Chang Lian. Dia memasang telinga tajamnya. Setiap laporan itu menyangkut masa depan klan Phoenix miliknya.
"Jadi kalian menginginkan pengangkatan Ratu terbaru?
Tanya Heng Yuze dengan suara beratnya.
Inti dari laporan yang di terimanya mengarah kesana.
Beberapa penatua itu secara tidak langsung menginginkan Ratu yang baru.
"Katakan kepadaku, Siapa yang pantas menjadi Ratu Phoenix.
Suaranya terdengar dingin. Sehingga para penatua itu tidak berani menatap Heng Yuze.
Seseorang Penatua yang sudah berumur maju kedepan.
"Dewi Xi Lin pantas menjadi Ratu Phoenix kami. Yang Mulia. Ucapnya sedikit takut.
"Xi Lin. Beo Heng Yuze.
"Hamba yang Mulia. Ucap Xi Lin menyahuti panggilan Heng Yuze. Semua mata menatapnya termasuk Chang Lian.
Chang Lian mengerutkan keningnya.
Dia sedikit familiar dengan wanita itu.
"Apakah kau pantas menjadi Ratu Phoenix?
Tanya Heng Yuze dengan tatapan tajamnya.
__ADS_1
"Saya akan berusaha yang Mulia. Jawab Xi Lin dengan percaya dirinya. Chang Lian tersenyum tipis. Dia merasa wanita itu sedikit misterius. Chang Lian tidak menemukan sorot ketulusan di mata wanita itu. Justru ambisi liar yang di temukanya.