Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE. 41


__ADS_3

Saat di penginapan aku akan meninggalkan bayi dan nona ini. Batinya menyeringai.


"""Kita akan tetap ke hutan Spritual.


Zhang melototkan matanya.


""Jika nona ingin mati silahkan jangan mengajakku.


Aku akan turun disini. Zhang berdiri. Bersiap untuk turun Lalu dia berpikir lagi.


"" Kenapa kreta ini berjalan tidak terasa  bergoyang. Batinya.


Walaupun jalan ibu kota Rata bukan berarti kreta itu tidak melewati bebatuan.


Seketika dia merinding saat membuka gorden di depan. Jantungnya hampir melompat saat kreta itu tidak ada kusirnya.


Tubuhnya merinding.


Apakah aku di culik hantu. Batinya.


"""Jika tuan turun maka aku tidak segan segan membakar tubuh jelekmu itu.


Suara  perempuan yang di belakangnya semakin membuat tubuhnya semakin membeku.


Lalu Zhang melihat kebelakang.


Di jari wanita itu ada api ungu. 


Membuat tubuhnya menggigil ketakutan.


"Apa nona mempunyai sihir?


Zhang bertanya dan sialnya wanita itu hanya menatapnya datar.


Akhirnya Zhang mengerti. Wanita itu tidak takut ke hutan Spritual.


Dia yakin wanita yang di depanya itu masih sihir tingkat satu atau dua. Sementara hutan Spritual mempunyai Tingkatan.


Tingkat bawah kumpulan hewan Spritual yang rendah tempat itu bisa di masuki siapa saja jika orang itu mempunyai sihir tingkat satu dan dua.


Tingkat menengah kumpulan hewan tingkat sedang. Yang bisa kesana minimal sudah menempuh sihir tingkat lima.


Tingkat atas adalah kumpulan hewan Spritual tinggi dan jika mau kesana tingkat sihirnya minimal tingkat sepuluh itupun banyak yang tidak berhasil.


Sementara tingkat puncak. Kumpulan para hewan spritual yang sudah ranah Dewa dan Dewi konon katanya hanya Putra Mahkota kerajaan Phoenix satu satunya yang sudah pernah kesana.


Bahkan dia telah mengontrak beberapa hewan Spritual tingkat Dewa dan Dewi sebagai pengawalnya. Hal itulah yang membuat kerajaan yang lain tidak ada yang berani mengusiknya.


""Jika wanita itu mati di tingkat pertama.


Maka aku bisa melarikan diri dari sana.


Batinya kembali Dan matanya melihat Bayi yang ada di pangkuannya dan aku juga akan membawamu. Bisiknya seakan mengerti sorot mata bayi itu.


Jing mi tidak perduli. Dirinyalah disana pemimpinya. Semua hewan spritual disana menakutinya.  Bahkan tidak ada yang berani muncul di hadapannya.

__ADS_1


Jing mi memejamkan matanya. Dia memikirkan nasib Ratunya. Putra Mahkota adalah sosok yang susah di hadapi.


Setelah Zhang bisa berpikir jernih. Dia berbicara.


""Kehutan Spritual memakan waktu selama dua minggu. Kita tidak mempunyai pasokan makanan. Bisakah kita berhenti sebentar. Untuk membeli beberapa macam makanan dan pakaian hangat. Tawarnya.


""Tidak perlu.


Tuan jangan berbicara yang tidak penting. Lebih baik tuan diam saja. Jika tuan lapar dan haus. Bilang saja aku akan menyediakan ya. Tidak perlu kita turun dari kreta.


Zhang mencoba mencerna kata kata Jing mi.


Seketika di berpikir licik. Aku lapar dan haus.


Jika wanita ini turun dari kreta aku juga ikut turun batinya tersenyum girang.


Sebelum kedua bibirnya tersenyum lebar di hadapannya sudah ada sebuah meja dan diatasnya terdapat makanan serta minuman seperti teh dan anggur telah tersedia. Bahkan di meja itu terdapat selimut dan beberapa potong pakaian pria.


Zhang langsung pingsan.. Wanita yang di hadapannya bukan cuma menguasai sihir ternyata wanita itu punya ruang di mensi yang hanya di miliki seorang Dewa atau Dewi.


Jing mi..terkesima dia tidak menyangka perbuatanya yang sederhana itu bisa membuat pria yang di sampingnya pingsan.


"Ckk...dasar tidak berguna.


Bukanya membantu malah jadi beban umpatnya.


Jika dirinya nanti sudah bertemu dengan ratunya Dia akan mengatakan kepada ratunya untuk mengusir pria itu.


Jing mi mengambil Tuan kecilnya itu dari pangkuan Zhang.


Bayi itu menatap Jing mi seakan mengerti. Dan simbol Phoenix di dahinya bercahaya.


""Degg...Jing mi ketakutan. Maaf yang Mulia.


Keringat di keningnya tiba tiba muncul sangking gugupnya.


"""Bayi saja sudah membuatku takut.


"Apalagi jika yang Mulia sudah besar nanti. Batinya bergidik ngeri.


Entah kenapa bayi yang di pangkuannya itu mempunyai mata yang sama dengan Putra Mahkota. Warna legam pekat seperti lautan di malam hari. Tenang dan mematikan.


"Ckk..akan lebih baik jika bola mata yang Mulia kecil sama dengan Ratu.


"Jika begini bagaimana caranya menyembunyikan identitas yang Mulia.  Ucapnya pelan.


Kreta kuda telah memasuki hutan Spritual. Hewan hewan Spritual yang sempat menari nari mengharapkan mangsa yang datang seketika lari terbirit-birit saat merasakan aura yang familiar. Bahkan para hewan itu tidak berani bergerak. Apalagi di dalam kreta itu ada sang kaisar Phoenix. Mereka tidak berani bernafas sedetikpun. Semua hewan suci dari tingkat bawah sampai puncak sujud menyembah.  Semua hewan suci spritual yang sudah tahap dewa dan Dewi memberi mutiara kehidupan lewat udara kepada bayi mungil itu seakan mereka menunjukkan kehebatannya di hadapan sang kaisar Phoenix. Kelak sang kaisar akan menjadikan mereka pelayan atau pengawalnya.


Bibir Jing mi berkedut.


""Selama dia memimpin para hewan suci itu tidak ada yang bertingkah pamer seperti itu di hadapannya malahan semua hewan yang melihatnya lari menjauh.


Yang Mulia kecil belum sehari datang kedunia ini sudah banyak yang mengantri menjadi pelayanya..


Tetapi Jing mi merasa puas dirinyalah pertama kali menjadi pelayan yang Mulia kecil...bibirnya tersenyum manis.

__ADS_1


Hari sudah siang. Akhirnya kreta kuda itu tiba di sebuah pondok bambu yang cukup mewah. Walaupun pondok itu terbuat dari bambu. Disana tertata rapi segala kebutuhan.


Sementara Zhang yang sempat pingsan langsung tertidur pulas akibat sihir yang berikan Jing mi. Jing mi takut lelaki itu banyak bertanya dan Jing mi  langsung membuat pria itu tertidur saat pria itu mulai tersadar.


Zhang meregangkan otot-otot tubuhnya.


Dia sudah merasakan hangatnya matahari. Dia berpikir bahwa hari sudah siang.


""Bisakah kita istirahat sebentar sekedar menghirup udara.


Pintanya. Kali ini Dia akan menjadi penurut.


""Turun.


Ucap Jing mi datar.


""Ckk.. baiklah cantik cantik tapi sayang galaknya minta di cium. Kekehnya.


Sebelum dia menghayal yang tidak tidak sebuah kaki telah menendangnya keluar.


"""Buukk..sial..


"kauu...


Zhang menatap nyalang wanita itu.


Sungguh wanita itu telah menodai wibawanya.


Jing mi melangkah pergi tanpa memperdulikan pria yang tersungkur di tanah itu.


Memasuki pondok bambu hijau itu. Dia yakin tubuh Yang Mulia kecil itu pasti lelah.


Zhang mengedar pandanganya ke semua arah. Matanya berhenti ke sebuah pondok yang beberapa meter dari hadapannya.


""Tunggu..kenapa kau memasuki rumah orang tanpa permisi ?


"Nanti pemiliknya marah. Bisiknya.


""Tuan jangan berisik.


"Yang Mulia sedang tidur.


""Ini tempat tinggal kita untuk sementara sampai Nona datang. Jelasnya.


Zhang mengangguk-angguk.


"""Bukankan kau bilang kita kehutan spritual.?


Kenapa kita disini?


Jing mi memutar bola matanya malas. Pertanyaan lelaki ini tidak ada habisnya.


""Ini hutan Spritual Tuan.


Zhang - "-"

__ADS_1


""Apaa?


__ADS_2