
""Selir pertama yang memohon kepadaku untuk mereka.
"Selir pertama tidak menyukai kekejaman. "Apalagi sebelumnya selir ketiga pernah memohon kepada selir pertama untuk kebebasan pelayannya itu.
"Jadi aku mencabut hukuman mati pelayan itu dan memasukkan dua pelayan itu ke penjara dingin serta menyuruh penjaga di sana menyiksa mereka.
"Dan salah satu pelayan itu sudah di bawa kanselir ketiga untuk di jadikanya mainanya.
Itu juga sudah termasuk hukuman berat baginya. Jelasnya.
Untung Dirinya masih mengingat sedikit. sehingga dapat memuaskan pertanyaan istri tercintanya itu.
""Jeduaar"" bak di sambar petir perasaan Ivona saat ini...ribuan jarum tepat di jantungnya di torehkan lelaki itu saat mendengar penjelasanya.
"Ternyata semua ucapan pelayan itu benar.
Ivona tersenyum miris.
""Bisa bisanya lelaki itu mengatakan wanita ular yang di sampingnya itu wanita yang tidak suka kekejaman. Batin Ivona.
Saat Ivona ingin bertanya lagi.
Suara halus yang membuat Ivona merinding menyentuh gendang telinganya.
"""Yang Mulia maafkan hamba.
"Tidak seharusnya hamba memohon ke pada yang Mulia.
Sehingga tidak menimbulkan kesalah pahaman Meimei selir kelima terhadap yang Mulia. Ucapnya dengan wajah bersalah.
Ba Xi'an menghembuskan nafas beratnya.
Dia tidak menyangka istri kecilnya itu cukup pendendam. Sehingga menginginkan kematian semua orang yang berhubungan dengan selir ketiga yang telah meracuninya.
Dia memandang lekat wajah wanita tercintanya itu. Ba Xi'an mencoba menenangkannya.
""Mulai saat ini jangan bahas lagi peristiwa itu. Aku tidak suka. Ucapnya sedikit menekan.
Ivona mencoba menahan gejolak di hatinya.
Dia ingin memaki dan menangis di depan pria itu.
"Karena cinta pria itu terhadap wanita ular yang di sampingnya itu sehingga menutup matanya untuk menutupi kesalahan wanitanya.
Sekalipun korbanya dirinya dan anaknya sendiri. lelaki itu tetap menutup matanya.
Ivona sangat berharap keadilan lelaki itu.
Sangat berharap lelaki itu sedikit melindungi dirinya dan anaknya walau se ujung kukupun Ivona sangat mendambakan itu.
Jika hal itupun lelaki itu tetap tidak sudi memberikanya.
Setidaknya lelaki itu melihat anak yang di kandunganya.
""Kejam.. Kau sungguh sangat kejam Putra Mahkota.
__ADS_1
Teriak Ivona frustasi didalam hati.
"Ivona tersenyum miris beberapa hari ini.
Ba Xi'an sangat perhatian dan sangat lembut memperlakukannya. Ivona sempat berpikir bahwa Ba Xi'an sudah mulai menyayanginya karena dia juga sudah melahirkan Putranya. Ternyata Ivona salah besar. Dirinya tidak lebih mesin pembuatan anak. Dan tubuhnya tempat pelampiasan nafsu pria keji itu.
""Sementara wanitanya...Ivona melirik wanita yang pura pura menangis itu.
""Wanita itu seperti permata yang sangat berharga bagi Suaminya. Bahkan wajahnya sangat terawat. Dan tubuhnya masih segar bugar.
Tidak seperti dirinya yang selalu kelelahan.
Mata panda di lingkaran kedua Matanya. Seharusnya saat ini dirinya menjalani masa nifas yang tenang.Tetapi pria itu seakan tidak memperdulikanya. Setiap malam Ivona selalu menerima sikap brutal suaminya yang tiada habisnya.
Bahkan dirinya hanya tidur selama sejam atau dua jam dalam sehari.
""Baik..baiklah suamiku..tanggung jawabku telah selesai.
"Aku bukan wanita naif seperti dulu yang rela menahan segala cacian dan hinaan hanya untuk mendapatkan tatapanmu.
Batinya Ivona bahkan merasakan air matanya yang sudah berubah menjadi darah Sangat perih di bola mata safir miliknya.
""Ivona tidak sanggup lagi melihat pria itu. Pria yang di bencinya sekaligus pria yang di cintainya. Ivona keluar dari ruangan Ba Xi'an dengan menelan sejuta kekecewaan.
Ivona tidak ingin menangis di depan pria itu. Lebih baik dirinya menangis di ruang di mensinya.
Ba Xi'an yang melihat kepergian istrinya itu dengan menunjukkan wajah kekecewaan menggertakkan giginya.
Ba Xi'an menatap nyalang wanita di sampingnya itu.
Dengan menahan amarah Ba Xi'an mengusir selir pertama dari sana.
""Pergi..untuk selanjutnya jangan pernah menginjak ruangan ini lagi.
Bentaknya kepada selir pertama.
Ba Xi'an sungguh tidak bisa mengontrol emosinya jika sudah menyangkut selir kelimanya.
Selir pertama yang mendengar bentakan Putra Mahkota kepadanya mengepalkan kedua tanganya. Dia menunduk.
""Baik yang mulia.
"Suaranya selembut mungkin seperti embun di pagi hari lalu pergi dari sana.
Saat keluar dari ruangan Ba Xi'an. Seringai kepuasan terpatri di wajahnya.
Air mata Ivona langsung mengalir deras di pipi mulusnya. Dia akan mengingat dendam ini.
Jika suami bodohnya tidak mau menegakkan keadilan untuknya dan anaknya maka dia sendiri yang akan menegakkannya.
Wanita licik itu telah mengusiknya bahkan wanita itu sampai hati ingin melenyapkan kandunganya.
Kematian terlalu enak untuk wanita itu.
Ivona akan membalas perbuatan wanita itu dengan penyiksaan tak berujung.
__ADS_1
Sehingga wanita itu menginginkan kematianya. Ivona masih ingat jelas rasa sakit yang menggerogoti Ivona saat racun itu menghentikan nafas.
Jika Ivona sudah keluar dari cengkraman Putra Mahkota Ivona akan mengumpulkan kekuatanya.
Menaklukkan dunia. Jika suatu saat pria itu menantangnya karena membalas kejahatan wanita itu. Ivona tidak akan takut lagi karena Dia sudah mempunyai kekuatan untuk menghadapi dua manusia terkutuk itu.
""Bersabarlah nak..sekuat tenaga ibu akan ""bertahan dan berusaha.
Bisiknya sambil mencium pipih gembul Putranya.
DENDAM...satu kata itu telah membuat Ivona semangat dan sebuah motivasi bagi dirinya.
Di dunia ini Wanita tidak bisa hidup tanpa laki-laki.
Lain Halnya Bagi Ivona yang pernah hidup di zaman modern.
Wanita bisa hidup dan bahagia tanpa adanya laki-laki.
Ivona bukan wanita di zaman ini. Yang terlalu berpikir pendek. Ivona adalah wanita yang berfikir logis dan Realistis.
Dia wanita karir dan wanita berpendidikan tinggi di kehidupannya yang dulu. Jadi dia tidak mau bergantung pada sosok laki-laki.
Prinsipnya menjalani hidup cukup simpel saja.
""Cintai yang mencintaimu.
""Tinggalkan yang menyakitimu.
""Balas yang menyakitimu.
Dia bukan wanita berhati malaikat.
Dia juga manusia biasa yang merasakan rasa sakit dan juga dendam.
Kalimat-kalimat itu adalah pedoman hidupnya di zaman modern.
Di zaman kuno ini juga dia akan menerapkan prinsip itu.
""**** you Ba Xi'an. Umpatnya.
Jika suatu saat setelah Ivona pergi dari kerajaan itu dan bertemu dengan laki-laki itu kembali maka kalimat gaul itu akan diucapkannya dengan nyaring. Sampai telinga laki-laki itu berdarah-darah baru bisa dia puas.
Setelah Ivona puas bersama putranya dan menangisi pria yang di cintainya itu.
Ivona kembali kekamarnya untuk mandi.
Ckk..seberapa banyak aku mengeluarkan air mataku yang mahal ini untuk manusia-manusia terkutuk itu. Ucapnya serak.
Ivona menatap mata biru safirnya. Mata itu adalah warna mata yang sama dengan ibunya. Ivona ingin sekali menanyakan seluk beluk keluarga dari ibunya itu.
Tapi sayang Ivona tidak punya waktu yang cukup untuk berbicara empat mata dengan ibunya itu.
Ivona mengurung niatnya itu.
"Lebih baik aku sendiri yang mencari tau. Suatu saat nanti. Batinya
__ADS_1