
Kini tusuk rambut itu telah berubah menjadi pedang yang sangat berkilau dan tajam.
Yu Jie dengan santainya menggunakan pedang itu.
Dan menebas Pohon yang saat ini masih di duduki Dewa Agung.
"Brakkk..
Pohon itu tumbang berserta penghuninya.
Dewa Agung yang masih belum sadar dari keterkejutannya. Kini terjatuh dari atas. Akibat tidak sempat menggunakan kekuatanya yang masih terkunci, Sebab Dia melakukan meditasinya.
"Aduhh .Pinggangku sakit.
Keluhnya. Badanya terasa remuk.
Baru kali ini dirinya terjatuh dengan tidak layak.
Untuk saja Dewa Takdir tidak ada. Jika Dewa notulen itu disini maka hal ini akan menjadi berita yang luar biasa di kerajaan langit, bahkan di alam semesta ini.
"Kau..
Belum sempat Dewa Agung melanjutkan ucapanya. Dia kembali terkejut batin, melihat pedang yang sangat berkilau yang saat ini di genggam tangan mungil gadis manis itu.
"Apa yang terjadi?
"Kenapa bisa..
"Siapa kau..Kenapa kau bisa megendalikan pedang Es ini..
Tanya Dewa Agung serentetan sambil buru-buru berdiri. Dia tidak menghiraukan sakit pinggang lagi. Yang terjadi di depan matanya saat ini jauh lebih penting.
"Apa kakek ingin mengambilnya?
Tanya Yu Jie sambil menjaga jarak dari Dewa Agung.
"Tidak gadis manis.
"Sini dulu.
"Kau siapa,
"Kenapa kau bisa mengendalikan pedang es milikku.
Tanya Dewa Agung sambil memegang pinggangnya yang terasa remuk.
"Dia pelayanku.
"Namanya Yu Jie.
Dewa Tinggi Putra Mahkota Heng Yuze tiba di tempat itu dan langsung menjawab pertanyaan Gurunya dengan datar.
Bahkan Heng Yuze tak kalah terkejut melihat Yu Jie bisa dengan mudahnya mengendalikan pedang Es itu.
Padahal Hanya orang-orang tertentu yang dapat mengendalikannya.
"Apa.
Dewa Agung lebih terkejut lagi. saat Heng Yuze yang menjawab pertanyaannya.
Ternyata ucapan gadis manis itu benar.
"Sejak kapan kau mengijinkan pelayan wanita di istanamu?
"Darimana kau mendapatkan gadis semanis ini.
"Aku tidak bermimpikan?
"Tidak..aku tidak bermimpi, Buktinya aku bisa merasakan pinggangku yang masih terasa sakit. Ucap dewa Agung. Bertanya sendiri menjawab sendiri.
__ADS_1
Dewa Agung bahkan hampir pingsan melihat pemandangan di depan matanya.
Kedua bola matanya melotot sempurna.
Saat ini Heng Yuze dengan santainya merapikan gaun Yu Jie yang sedikit koyak dan di tempeli daun persik.
"Simpan pedang ini,
"Dan seterusnya jangan bermain-main lagi dengan pedang ini.
"Itu sangat berbahaya.
Ucap Yu Jie lembut, sambil melepaskan jubahnya. Karena kebetulan suasananya masih sangat pagi dan masih terasa dingin.
"Kenapa kamu bangun pagi-pagi sekali.
"Sekali lagi. Jika kamu mau pergi kemanapun. Ajaklah aku.
Ucap Heng Yuze dengan lembut.
Sementara yang di ajak berbicara.
Hanya mengangguk-angguk.
Yu Jie senang mendapatkan senjata yang kuat.
"Ayo kembali, Mandi air hangat dan ganti pakaianmu.
"Aku sudah membuat pakaianmu. Timpal Heng Yuze kembali sambil menarik lembut tangan Yu Jie. Dia sudah seperti suami yang sangat menyayangi istrinya.
Heng Yuze meninggalkan Dewa Agung yang saat ini sudah pingsan, karena tidak sanggup melihat adegan yang sangat aneh di depanya.
Dia merasa seperti berada di dunia lain.
Jangankan Dewa Agung. Keempat pengawal itupun hampir muntah darah melihat Dewa Tinggi Putra Mahkota yang memperlakukan seorang pelayan wanita dengan lembut. Bahkan Dewa Tinggi Putra Mahkota, memberikan jubahnya kepada pelayan cantik itu.
Mereka mencarinya keliling Istana. Dan berakhir di kebun Persik istana Dewa Tinggi.
Mereka berempat juga ikut terkejut saat gadis itu bisa mengendalikan pedang Es milik Dewa Agung.
Konon katanya siapa saja yang bisa mengendalikan pedang Es itu maka akan menjadi murid Dewa Agung yang kesepuluh.
Ke empat Dewa pengawal itu sempat mengira pelayan itu mempunyai tubuh yang lemah karena badannya yang mungil.
Ternyata mereka salah, Sosok gadis lemah itu bisa mengendalikan pedang Es. Seketika mereka merinding. Dan tidak ingin menyinggung pelayan itu lagi. Mereka takut menjadi korban keganasan pedang es itu.
"Mandilah, Selesai mandi, Datanglah keruang makan. Aku akan menunggu disana
Ucap Heng Yuze sambil melihat wajah Yu Jie yang sedikit belepotan. Mungkin habis memakan buah persik miliknya.
Yu Jie mengangguk.
Dia juga merasa tubuhnya terasa lengket dan kotor.
Selesai mandi. Yu Jie melihat meja rias miliknya sudah terisi dengan alat-alat kecantikan. Yang entah darimana asalnya.
Yu Jie juga melihat Beberapa gaun yang sangat mewah.
Yu Jie saat ini belum bisa seperti Dewa dan Dewi yang bisa sewaktu-waktu mengubah penampilannya sesuka hatinya.
Kekuatan Yu Jie masih jauh di bawah mereka.
selesai mandi dan berdandan tipis-tipis. Yu Jie keluar dari kamarnya menuju ruang makan.
Disana sosok yang Maha Besar itu dengan sabar menunggunya.
Heng Yuze yang melihat kedatangan Yu Jie merasa terpana. Aroma tubuh gadis itu semakin melekat di hidungnya.
Heng Yuze tidak tau ada apa dengan dirinya.
__ADS_1
Dia hanya mengikuti kata hatinya.
Saat dirinya memperhatikan Yu Jie dan memanjakannya. Hatinya baru tenang dan Damai.
Jika boleh dia meminta, Heng Yuze ingin sekali Yu Jie berada di sekitarnya seharian penuh.
Dia tidak menyukai jika wanita itu menjauh, Seperti tadi pagi.
Heng Yuze kalang kabut mencari wanita itu. Dirinya hampir saja membalikkan istananya hanya untuk mencari wanita yang saat ini duduk manis di sampingnya.
"Makanlah yang banyak.
Heng Yuze memberikan beberapa hidangan ke piring Yu Jie.
Sebenarnya Heng Yuze tidak merasa lapar, Tetapi dia hanya ingin bersama Yu Jie. Dan memanfaatkan sarapan pagi bersama sebelum pergi mengikuti rapat seperti biasanya.
"Apakah Dewa Tinggi ingin pergi?
Tanya Yu Jie sambil melahap makananya.
"Iya..
"Apa kamu ingin ikut.
Tawar Heng Yuze sambil mengusap-usap surai lembut Yu Jie.
Yu Jie menggeleng.
"Aku akan pergi menjumpai Jing Huli.
"Bisakah aku membawa beberapa buah Persik untuknya?
Yu Jie meminta persetujuan Heng Yuze.
Dia tidak ingin bertingkah sesuka hatinya.
"Bawalah.
Ucap Heng Yuze sambil jari jempolnya membersihkan makanan yang di mulut Yu Jie.
"Pelan-pelanlah makanya.
"Tidak akan ada yang merebutnya.
Ucap Heng Yuze dengan sabar.
"Dewa pergilah, aku bisa sendiri.
Yu Jie mengusir Dewa Tinggi itu. Sebenarnya Yu Jie tidak berniat mengusirnya hanya saja Yu Jie melihat sand Dewa Tinggi tidak ikut sarapan.
Dia takut Dewa Tinggi Putra Mahkota terlambat karena menemaninya makan.
"Kamu tidak suka, Aku temani.
Heng Yuze bertanya sedikit muram.
"Bukan Dewa, Aku tidak bermaksud seperti itu.
"Aku senang jika Dewa Tinggi disini menemaniku.
"Aku hanya takut jika Dewa terlambat. Ucap Yu Jie polos.
Heng Yuze tersenyum senang.
"Walaupun aku telat, Tidak akan ada yang protes.
Ucapnya sambil tersenyum.
Keempat pengawal itu kembali melongo melihat Dewa Tinggi tersenyum.
__ADS_1