Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE 50


__ADS_3

Sementara di pintu kerajaan Ba Xi'an sudah menunggu istri tercintanya itu dengan sabar. Senyum ceria telah terpatri di wajah tampanya.


pagi-pagi sekali dirinya bangun.


Sarapan paginya bahkan di lewatkannya sangking tidak sabarnya menunggu sang istri.


""Apa semua sudah siap?


Tanyanya bahkan raut wajahnya tersenyum saat bibirnya mengeluarkan pertanyaan itu.


Membuat sang Kasim tua dan para pengikut yang lain tertekun.


""Sudah yang Mulia. Jawab Kasim tua. Merasa senang.


" Akhirnya hari yang di tunggu-tunggu Putra Mahkota telah tiba. Batinya sangat senang.


Kasim Tua itu telah menyaksikan dengan kedua matanya perjuangan Putra Mahkota beberapa bulan ini.


Terlebih dari satu bulan ini.


Putra Mahkotanya itu tidak mengenal lelah.


Paviliun selir kelima yang awalnya lebih kecil dari yang lain. Kini telah di rombak habis oleh Putra Mahkota.


Lebih besar dan lebih megah dari Istana Utama tempat tinggalnya dulu.


Mahar yang bisa membeli satu kerajaan yang cukup besar telah di persiapkan Putra Mahkota untuk selirnya.


Gaun sutra warna merah telah di jahit satu pasang.


Tandu yang paling besar dan yang paling kokoh juga tidak luput dari ukiran tangan Putra Mahkota.


Putra Mahkota telah mengukir tandu itu dengan ukiran Naga dan Phoenix.


Kasim Tua bernafas lega. Walaupun dirinya lelah mendampingi Putra Mahkota beberapa bulan ini. Itu sebanding dengan kebahagiaan Putra Mahkota hari ini. Sang kasim terharu melihat perjuangan Pria dingin itu.


Ba Xi'an masih setia berdiri disana.  Matahari sudah meninggi membuat senyum di bibir Ba Xi'an semakin merekah.


""Sebentar lagi istriku akan tiba.


Ucapnya pelan dan masih bisa di dengar oleh Kasim tua


Setelah Ba Xi'an dan yang lainnya menunggu cukup lama.


Pengawal bayangan tiba-tiba muncul dengan luka di lenganya.


"Yang Mulia...hewan suci ranah Dewa mengepung rombongan selir kelima


Daaan...


Belum sempat sang Pengawal bayangan menyelesaikan ucapanya.


Dirinya tumbang mengeluarkan darah hitam dari mulutnya. Serta menghentikan pernapasannya.


Tubuhnya langsung tidak bernyawa.


Ba Xi'an membeku. Dia tidak merasakan firasat yang buruk. Tapi kabar mengenai pengepungan istrinya sesuatu hal di luar pemikirannya.


Saat Ba Xi'an ingin melangkah pergi melihat keadaan istrinya. Pengawal bayangan yang lain tiba-tiba muncul dengan bersimbah darah.


"" Yang Mulia. Selir ke--lima.


Ucapnya terbata-bata.


Ba Xi'an menatap nyalang Pengawal bayangan itu.


""Bawa aku ke tempat istriku. Ucapnya bergetar.


Dalam sekejap Ba Xi'an dan di ikuti Kasim Tua. Menghilang dari gerbang Istana itu.


Ba Xi'an tiba di tempat kejadian yang menimpa istrinya.


Pandanganya mengedar seluruh pengawal bertumbangan dan tidak bernyawa.


Tempat itu telah berubah menjadi lautan darah


Deeg..deg..


Ba Xi'an membeku. Dadanya sesak,


Beberapa meter dari tempatnya mata legamnya menatap sosok tubuh yang di kenali Ba Xi'an dari  warna gaun itu. Gaun itu adalah gaun yang di pakai wanitanya saat bepergian ke kuil.

__ADS_1


Ba Xi'an mencoba melangkahkan kakinya dengan seluruh kekuatan yang di milikinya.


Jantung sedari tadi sudah bergemuruh.


Semakin dekat semakin membuat Ba Xi'an tidak bertenaga dan hilang kendali.


Ba Xi'an berlutut jarak dua langkah lagi maka kakinya akan menyentuh tubuh tak bernyawa itu.


Ba Xi'an membeku.


Otaknya berusaha berfikir normal.


Ba Xi'an menggeleng-gelengkan kepalanya


Dia menganggap ini mimpi.


Tubuhnya bergetar mendekati tubuh istrinya itu.


Ba Xi'an melihat wajah istrinya hancur.


Akibat cakaran.


Dari mulutnya masih keluar darah.


Mata istrinya tertutup rapat.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari sosok tubuh itu.


"Tidak...tidak..


"Tidaakkk...


"Aku mohon..hiks


"Aku mohon...


"Ini adalah mimpi.


"Sayaanng...tolong..Toloong


"Jangan seperti ini...hmm


"Ini bukan kenyataan.


"Sayang...banguuunn...


"Sayaaang.....


"Jangan...akuu..mohon.


"Tolong...jangan seperti ini.


"Apakah kamu bisa mendengar ku.


"Apa...apaa..yang terjadi..hiks.


Suara Ba Xi'an bergetar.


Matanya menatap tubuh tak bernyawa itu.


Dari jarak beberapa meter Ba Xi'an melihat  jimat yang di buatnya untuk istrinya.


Hatinya menangis pilu.


Karena tekanan yang tiba-tiba yang di rasakannya.


Ba Xi'an tumbang di tempat itu dan tidak sadarkan diri.


Tubuhnya terlalu shock dengan semua yang di lihatnya.


Kasim Tua dan yang lain tertekun.


Lalu Kasim memerintahkan yang lain.


""Ayo segera kita bawa yang Mulia Putra Mahkota dan mayat selir kelima ke Istana. Ucapnya parau. Air matanya sedari tadi sudah mengalir deras di wajah tuanya itu.


Sementara di aula Istana.


Terjadi kekacauan. Ibu Suri dan Permaisuri pingsan saat menerima berita yang menimpa menantu kesayangannya.


Sang Kaisar yang mencoba kuat.

__ADS_1


Menahan jantungnya yang sudah rapuh.


Beberapa saat kemudian Sosok yang menggemparkan itu telah tiba.


Para petinggi Istana yang sudah berkumpul di aula itu terkejut melihat pemandangan yang berada di depan mata mereka.


Kaisar mencoba memeluk Putranya yang sudah sadar dan seperti orang linglung.


Orang-orang di sana tidak menyangka bahwa Putra Mahkota yang bengis itu akan menjadi seperti orang gila saat kehilangan salah satu selirnya.


Walaupun selama ini mereka mendengar gosip tentang hubungan Putra Mahkota dengan selir kelima yang saling menyayangi hal itu tetap  di luar nalar mereka.


Putra Mahkota yang mereka lihat saat ini tidak lebih dari sosok yang sangat rapuh dan juga lemah.


Kasim tua melakukan penyucian tubuh kepada selir kelima.


Untuk mengetahui Apakah tubuh itu sosok selir kelima atau tidak.


Ba Xi'an telah menyuruhnya untuk melakukan itu. Dia masih berharap ke ajaiban itu masih ada untuk istrinya.


Kasim Tua bergetar. Saat mengetahui aura yang terdapat dalam mayat itu.


Dirinya tidak sanggup untuk melihat Putra Mahkota yang sedari tadi  sudah sangat kacau.


Ba Xi'an menangis pilu.


Badanya bergetar kuat di dalam dekapan Permaisuri yang sudah sadar sebelumnya.


Ba Xi'an tidak sanggup melihat mayat istrinya yang sudah hancur itu.


""Aku mohon...jangan hukum aku seperti ini.


""Sayang kembalilah. Paraunya memohon pilu.


Permaisuri dan Kaisar yang mendengar suara  memohon Putra mereka merasa tersayat-sayat.


""Dewa terlalu kejam dalam  menghukum Putranya.


Ibu Suri mendatangi mayat cucu menantunya itu. Mencoba menguatkan dirinya.


Air matanya bahkan sudah kering dari wajah keriputnya itu.


"""Kenapa Dewa begitu cepat memanggil  cucu menantuku.


"""Bahkan cucu menantuku baru saja  melahirkan anaknya.


""Pernikahan megah yang sudah di persiapkan oleh cucuku belum terlaksana.


Ucapnya bergetar disamping mayat cucunya itu. Mayat yang sudah di masukkan di dalam peti mati.


Hening...suasana di aula itu sangat berduka.


Orang-orang di sana tidak berani berbicara bahkan bergerak sedikitpun.


Di pintu aula istana sepasang paruh baya sedang berjalan dengan langkah gontai.


""Keluarga selir kelima telah tiba.


Suara Kasim disana terdengar serak.


Ba Xi'an yang melihat kedatangan keluarga istrinya itu merasa miris.


Ba Xi'an menundukkan kepalanya.


Dirinya tidak sanggup bertemu dengan kedua orangtua istrinya.


Melihat mata biru mertuanya membuat Ba Xi'an sesak.


Dadanya seperti tertimpa batu yang sangat besar dan ribuan panah menancap tepat di jantungnya.


Bibirnya bergetar menahan rasa nyeri yang menggerogoti dadanya.


Baron Alexander dan istrinya beserta yang lain telah tiba di aula itu.


Selir keduanya mengamati tubuh putrinya. Bahkan selir keduanya itu sampai pingsan dua kali di perjalanan.


Ibu Ivona memandangi lekat tubuh Putrinya.


Air matanya masih mengalir deras dari wajah yang sudah menua itu.


Walaupun aura Putrinya yang ada di peti mati itu sudah di sucikan untuk mengetahui auranya.

__ADS_1


Ibu Ivona  tetap melakukan caranya untuk memastikan lagi tubuh sang putri.


Dirinya memang sudah tidak memiliki kekuatan akibat pernikahannya dengan suaminya itu. Tetapi ibunya itu masih punya cara yang bahkan suaminya ataupun orang lain tau.


__ADS_2