
Zhang mengangguk patuh. Apapun yang di rencanakan wanita ini dia yakin semua akan berjalan dengan baik.
Saat ini dirinya hanya fokus berlatih. Supaya dia bisa mengharumkan kerajaanya.
""Apakah kau tidak punya ke inginan?
Ivona bertanya dan menatap lekat pria itu dengan santai.
Sementara yang di tatap merasa tertekun dan gemetaran.
""Kecantikan dapat membuat sebuah kerajaan hancur. Batinya.
''Hamba tidak mempunyai keinginan lagi Nona. Karena keinginan hamba cuma ingin menjadi Dewa obat jawabnya dengan yakin.
Ivona memicingkan matanya.
""Oo..
""Apakah kau tidak ingin mengatakan sesuatu?
Zhang berfikir sejenak.
" Maksud Nona?
Zhang sedikit tidak mengerti. Walaupun dia termasuk orang yang cerdas. Tetapi Zhang orang yang berfikir sempit.
Ivona menghela nafas panjang.
""Setidak kasih tau identitas aslimu.
"Wahai Putra Mahkota Zhang Wong.
Putra Mahkota dari kerajaan dataran rendah. Ivona mengatakanya tanpa ekspresi.
Zhang terbelalak Lututnya semakin lemas.
Identitas yang sudah di rahasiakan serapat rapatnya. Ternyata ada juga orang yang tau. Perempuan ini terlalu menakutkan. Selama ini hanya perempuan inilah yang sangat mudah mengetahui Rahasianya. Bahkan wajahnya yang sudah di permaknya dengan riasan senatural mungkin. Masih bisa di bongkar wanita itu.
""Maaf Nona. Hamba tidak bermaksud merahasiakan identitas hamba karena hamba merasa Tidak ada yang bisa hamba banggakan dari identitas hamba itu Nona.
Ucapnya sedikit miris.
Dimana mana. Gelar Putra Mahkota hal yang sangat di dambakan semua orang. Tetapi Zhang adalah sosok yang tidak menginginkan itu. Bahkan dirinya sudah tidak berkeinginan lagi memakai gelar itu. Kerajaan kecil miliknya sudah di ambang kehancuran.
__ADS_1
Mata hijau Zhang berkaca kaca. Jika bukan karena ibunya Permaisuri yang mendesak untuk menjauh dari kerajaan itu. Dirinya mungkin sudah ikut di tahan oleh kerajaan yang saat ini menjajah mereka. Sampai saat ini Zhang sudah tidak menerima lagi informasi tentang kehidupan keluarganya di sana.
Terakhir kali Zhang menerima informasi.
Tentang ayahnya yang jatuh sakit.
Ivona dapat melihat wajah ketidak berdayaan Putra Mahkota yang di depanya itu. Ivona pernah mendengar dari Kasim Ba Xi'an tentang kerajaan mereka yang sedang di jajah kerajaan lain.
""Berlatihlah lebih serius jika saatnya tiba. Kita akan menghancurkan kerajaan yang sedang menguasai kerajaan Mu itu. Ucapnya tulus dan serius. Membuat Zhang merasa terharu. Walaupun dirinya tidak terlalu yakin tetapi Zhang merasa sangat tersentuh. Dia mengira wanita itu akan menghinanya habis habisan. Ternyata dia salah. Bahkan wanita itu berniat membantunya.
Zhang mengangguk tidak terasa sebulir kristal bening mengalir di wajah sendunya. Selama ini dirinya sangat tertekan dan merasa manusia yang tidak berguna. Dia lari saat kerajaannya membutuhkannya.
""Terimakasih Nona. Selamanya hamba akan menjadi pelayan Nona. Ucapnya dengan tulus.
IVONA mendadak pusing satu hari ini begitu banyak orang yang menawarkan dirinya menjadi pelayan. Ivona jadi berfikir.
""Hal baik apa yang telah di lakukanya semasa dulu?.
Sementara Jing mi sedari tadi yang menjadi pendengar setia. Merasa terkejut.
Pria yang selama satu bulan ini bersamanya dan selalu membuatnya terganggu ternyata seorang Putra Mahkota.
""Ckk dasar Putra Mahkota yang tidak bertanggung jawab. Cibirnya.
Di Istana. Kerajaan Phoenix. Dengan segala rangkaian dan drama yang menyakitkan. Akhirnya Ba Xi'an mengkremasi jasad istrinya itu. Dengan langkah gontai Ba Xi'an melangkah ke Istana Utama. Diri ya tidak punya gairah hidup untuk memasuki Istana baru yang sudah di bangunya untuk wanita tercintanya.
Ba Xi'an memandang kosong ke dalam kamar yang pernah di tempati istrinya itu. Kamar itu menjadi saksi bisu menyaksikan kisah cintanya dengan kekasih hatinya.
Saat Ba Xi'an masih berlabuh dengan kenangan indahnya dengan istrinya. Sang Kasim Tua dan beberapa pelayan datang menghampirinya.
""Yang Mulia...pangeran kecil sudah tiba. Ucapnya sambil menyuruh pelayan itu meletakkan pangeran kecil itu di tempat tidur yang Mulia.
Kasim Tua itu juga merasa sedih. Dirinya tidak menyangka kehidupan yang Mulia Putra Mahkotanya berubah seratus delapan puluh derajat.
Ba Xi'an melihat bayi yang saat ini berada di sampingnya. Putra Mahkota itu menatap anaknya. Wajah anaknya itu persis seperti istrinya. Matanya, wajahnya.
Hanya alis saja yang mirip denganya.
Alis Putranya itu lebih lebar dan lebih tegas.
Ba Xi'an kembali mengeluarkan air matanya saat netra legamnya menatap biru safir itu.
Sampai sekarang di masih merasakan hal semua yang terjadi seperti mimpi.
__ADS_1
""Apa yang harus ku lakukan terhadap Putra kita sayang? Bisiknya.
Membuat semua orang yang berada disana merasa pilu.
Kasim Tua ikut menahan Isak tangisnya.
""Kalian pergilah tinggalkan kami. Ucapnya serak.
Saat para Kasim dan pengawalnya itu pergi.
Ba Xi'an membuka lemari pakaian istrinya. Dia mengambil satu gaun yang paling sering di gunakan istrinya.
Gaun merah muda. Ba Xi'an naik ketempat tidur dengan hati-hati. Takut membuat Putranya terganggu.
Ba Xi'an meletakkan tubuh rapuhnya Di ranjangnya lalu Memeluk gaun itu dengan erat. Menghirup aroma tubuh wanitanya yang masih tertinggal di sana.
Isak tangisnya kembali terdengar.
Isak tangisnya itu lebih pilu seperti tersayat pisau. Kasim Tua yang mendengarnya ikut menangis dalam diam.
Putranya yang terlentang di sampingnya menatap ayahnya dalam diam. Matanya sedari tadi melirik ke kanan dan kekiri. Tetapi netra birunya itu lebih sering menatap sang Ayah. Seperti mengetahui Ayahnya sedang bersedih.
Dua jam telah berlalu Ba Xi'an mendudukkan dirinya kembali di tempat tidur itu.
Saat ini kepalanya seperti di tekan batu besar terasa sakit dan berat. Mungkin karena dirinya telah menangis lama
Ba Xi'an melihat Putranya sudah tidur.
Ba Xi'an menarik selimut pelan untuk menutup tubuh mungil anaknya itu.
Anaknya itu sekarang penyemangatnya. Dia akan membesarkan Putranya sendiri. Dia akan memenuhi pesan istrinya untuk yang terakhir kalinya.
Setelah Ba Xi'an membersihkan dirinya di bantu oleh Kasim Tua. Ba Xi'an berbicara dengan serak.
""Apakah Bingwen sudah melewati masa kritisnya?
""Sudah yang Mulia walaupun pengawal Bingwen masih demam naik turun. Tapi tabib istana mengatakan pengawal Bingwen sudah melewati masa kritisnya. Kasim Tua itu menjelaskan dengan baik. Suatu keajaiban karena pengawal dingin itu masih bisa bertahan.
""Hmm..
""Mulai besok kita akan pindah ke Istana. Phoenix.
Ucapnya istana baru yang sudah di bangunya itu Ba Xi'an memberikan namanya dengan Phoenix lambang dari kerajaannya. Kaisar dan Permaisuri hanya bisa mendukungnya sewaktu membangun istana itu.
__ADS_1
Mereka tidak melarang sekalipun istana itu lebih besar dan lebih megah dari yang lain.