Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE. 47


__ADS_3

Ivona merebahkan tubuh lelahnya di kasur empuk itu.


Matanya menatap langit-langit kamar Paviliun itu.


Ivona tidak habis pikir suaminya seakan menutup mata dengan kejadian dirinya di racuni beberapa bulan yang lalu.


"Apakah dirimu begitu mencintai selir pertamamu itu. Sehingga kau mencoba menutupi perbuatanya.


Ucapnya serak.


Ivona sungguh merasa hal itu sungguh tidak adil.


Bukankah selama beberapa bulan ini dia begitu antusias menyambut kedatangan Putranya?


Saat dirinya berbaring lemah Putra Mahkota tidak patah semangat untuk menunggunya bangun.


Tetapi kenapa saat wanita yang di cintainya berbuat salah Putra Mahkota menutupi hal itu.


"Aku yakin dengan kekuatan milikmu.


"Kau telah mengetahui pelaku sebenarnya.


"Tetapi kau berusaha untuk pura-pura tidak mengetahuinya.


Batin Ivona sangat yakin.


Putra Mahkota memiliki kekuatan yang tidak bisa di remehkan bahkan sekali tanganya terangkat satu kerajaan bisa saja hancur.


Saat Ivona memejamkan matanya.


Dia merasakan aura Suaminya yang mendekati Paviliun.


Ivona buru-buru memejamkan matanya.


Sungguh dirinya tidak ingin melihat wajah dingin itu.


Tangan besar itu mengusap pipi mulus istrinya dengan lembut.


Ba Xi'an tidak menyangka Istrinya menangis.


"Apakah kamu menangisi kejadian itu?


Tanya Ba Xi'an serak.


Tapi sayang Istrinya itu telah tidur lelap sehingga Ba Xi'an tidak mendapatkan jawaban.


"Maafkan aku.


"Jika aku tidak menghukum mereka seperti yang kamu inginkan.


Ba Xi'an merebahkan tubuhnya yang lelah di samping istrinya.


Hari ini dirinya tidak konsen melakukan pekerjaan di Istana karena mengingat kekecewaan di wajah istri tercintanya.


Apalagi sekarang di saat dirinya kembali ke Paviliun istrinya.


Dia melihat bekas air mata dan ke dua kelopak mata istrinya sepertinya habis menangis dan Ba Xi'an yakin pasti istrinya itu telah lama menangis.

__ADS_1


Ba Xi'an semakin merasa bersalah.


Kepalanya mendadak berdenyut. Dia paling tidak suka jika sampai wanitanya bersedih dan menangis. Itu hal yang sangat di bencinya.


Ba Xi'an memeluk Ivona dengan erat.


"Aku mohon jangan pernah menangis lagi.


"Cukup kali ini aku melakukan kesalahan yang membuatmu kecewa.


Ucapnya sedikit bergetar.


Laki-laki itu telah merasakan kerapuhannya sendiri.


Selama ini Ba Xi'an tidak pernah merasakan ketakutan apapun.


Tetapi semenjak dirinya mengenal sosok wanita yang di pelukanya.


Ba Xi'an baru merasakan ketakutan.


Takut wanitanya menangis ataupun terluka.


**


Siang hari Ivona sibuk melakukan aktivitasnya di taman Paviliun.


Ivona dengan bersusah payah belajar merajut dari salah satu dayangnya.


Dengan usaha dan ketekunannya belajar Sehingga dirinya bisa merajut shal dan tas kecil bergambar Phoenix di atas kedua benda itu.  Dirinya membuat masing masing dua. Satu Satu untuk  kedua putranya itu Ba  Xio dan lie Zhu. Anak kembarnya.


**


Tetapi semenjak dua hari yang lalu Ivona selalu satu ruangan dengan selir pertama.


Awalnya panggilan manis yang di dengar dari mulut Putra Mahkota untuk selir pertama itu tidak di hiraukan Ivona.


Dirinya memikirkan itu hal biasa.


Ternyata semakin kesini kedua insan berbeda gender itu semakin akrab.


Bahkan Putra Mahkota dengan sabar menuntun selir pertama untuk berlatih.


Jika Ivona bertanya kepada Putra Mahkota. Jawabanya simpel.


""Supaya Ling'er cepat menguasai sihir tingkat tujuh dan cepat diangkat menjadi Permaisuri kerajaan ini.


Ivona tertekun untuk kesekian kalinya hatinya begitu pedih.


Ivona bahkan melihat ke dua bibir selir pertama itu menunjukkan senyum mengejek begitu terang terangan kepada Ivona.


Membuat Ivona terkekeh geli.


Jika di tanya cemburu..Ivona sangat..sangat cemburu. Dia adalah wanita yang ingin di tinggikan dan di muliakan oleh lelaki yang di cintainya. Tetapi apalah daya Ivona semua itu hanya angan anganya saja.


Sementara kemuliaan itu sudah milik wanita lain yang di cintai suaminya sendiri.


"Kenapa juga aku harus di panggil keruangan ini.

__ADS_1


"Apakah Putra Mahkota ini ingin menunjukkan kemesraannyabdi depanku.


Batin Ivona jengkel.


Sementara Ba Xi'an harus mengeluarkan kesabarannya yang setipis kertas itu untuk menghadapi istrinya yang menurutnya kadang cuek kadang juga tiba-tiba berubah sensitif.


Ba Xi'an belum pernah memperlakukan seorang wanita jadi Dia sedikit banyaknya harus belajar untuk memahami belahan jiwanya itu.


Apalagi sejak ke jadian duaminggu yang lalu membuat Ba Xi'an harus serba hati-hati dalam memilih perkataanya saat berbicara pada wanitanya itu.


Hari ini terpaksa Ba Xi'an menyuruh Kasim Tua untuk memangil selir pertama.


Karena Ba Xi'an ingin memantau langsung dan mengajari selir Pertama tentang tingkat sihir yang sudah di kuasai selir pertama.


Ba Xi'an tidak ingin rencana yang sudah di susunya gagal akibat keterlambatan selir pertamanya berlatih.


Bahkan sesekali dia akan memanggil selir pertamanya dengan nama panggilnya dulu sewaktu di Akademi Kultivator.


Supaya kedua selirnya yang di ruangan itu tidak saling meresponya saat dia memanggil salah satunya.


Dan hal itu juga menimbulkan pertanyaan oleh selir kelimanya.


Membuat Ba Xi'an sedikit was-was.


Dia takut istrinya itu berfikir yang lain-lain.


***


Hari ini Ivona telah bersiap siap meninggalkan Istana menuju kuil leluhur.


Menurut pelayanya ana. Perjalanan kesana memakan waktu satu hari.


Awalnya pelayan itu ngotot ingin ikut. Tetapi Ivona melarang. Dirinya berpesan kepada pelayannya itu untuk menjaga dan merawat putranya dengan baik.


Dulu Ivona sempat berfikir ingin membawa kabur pelayannya itu ternyata dia berpikir lagi. Di Istana itu walaupun ibu suri dan yang lainnya menyayangi putranya dia tidak yakin putranya itu aman terus. Pasti akan ada seseorang yang selalu berusaha menyakiti putranya. Jadi Ivona sengaja meninggalkan pelayannya itu supaya ada yang menjaga dua puluh empat jam sehari.


Ana mengangguk patuh. Dia berpikir wajar nyonya itu menitipkan pangeranya di bawah pengawasannya.


"""Cuma satu bulan. Batin ana.


Ba Xi'an memeluk erat istrinya itu. Engan untuk melepaskan kepergian wanita yang sangat di cintainya itu. Bahkan di depan sang kaisar dan yang lain dirinya tidak segan segan mencium seluruh wajah istrinya itu.


Bibir merah ceri istrinya itu tidak luput dari kecupan sayangnya.


Membuat kaisar mendengus.


""Dasar anak muda. Umpatnya.


Sementara kedua selir itu mengerutu tak jelas.


Ibu Suri dan permaisuri senyum senyum sendiri.


"''"Inikah anak yang kejam itu. Batin mereka.


Sementara kasim Tua selalu merapalkan mantra mana tau bisa menghilang sejenak dari sana. Tetapi dirinya tidak seberani itu.


Takut Putra Mahkota menghukumnya jika tiba tiba menghilang dari sampingnya.

__ADS_1


Dia dan pengawal Bingwen hanya bisa bersabar menonton adegan romantis itu.


Bahkan mata mereka cukup terbiasa dengan hal yang sudah sering di lakukan Putra Mahkota itu dalam beberapa Minggu ini.


__ADS_2