Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE. 66


__ADS_3

Putra Mahkota yang sempat emosi itu ikut tertawa merasa senang dengan ide pengawalnya.


"Selangkah lagi kaki busuk kalian melangkah. "Maka kalian semua akan berakhir seperti dia. Ancam Jing Mi penuh emosi sambil menunjukkan mayat Kasim yang tergeletak.


Dirinya ingin mencabik-cabik mulut-mulut kotor yang mencoba menghina Ratunya itu.


'"hahaha..


"Apakah kau juga ingin ikut memuaskan Putra Mahkota kami.


Ucap Pria berbadan besar yang sejak tadi menghina Ivona.


""Apakah satu menit cukup?


Ivona menatap Jing mi dengan malas.


""Tidak perlu satu menit yang Mulia.


""Tiga puluh detik. Ucapnya menyeringai.


Dirinya sudah lama tidak main-main.


Ivona memulai dengan mengetuk jari-jari lentiknya di kursi kayu yang kokoh itu.


"Krass


"Aahh


"Krass


"Ahh


Suara raungan tiba-tiba bergema di aula itu. Suara itu terdengar pilu dan menyayat hati.


Puluhan pengawal Putra Mahkota. Dalam sekejap tumbang dalam dua puluh detik. Menyisahkan Putra Mahkota yang masih belum pulih dari kesadaranya.


""Krakk


""Ahh


Putra Mahkota itu menjerit kesakitan saat tangan kanannya dipatahkan dan tenaga dalamnya di hancurkan.


Matanya menatap nyalang wanita yang mematahkan tanganya dan mengambil tenaga dalamnya.


""Kauu.. berani-beraninya kau.


Hardiknya sambil menahan rasa sakit yang luar biasa.


""Lumayan. Ucap Ivona


""Terimakasih yang Mulia. Jing mi tersenyum senang jarang-jarang dirinya menerima pujian dari sang Ratu.


""Jika kalian membunuhku maka Ayahku sebagai Kaisar kerajaan Teratai salju tidak akan melepas kalian.


Ancamnya masih dengan raut wajah penuh kesombongan.


Putra Mahkota telah merasakan tubuhnya lemah tak berdaya.


""Oo.


'' Bagaimana jika aku memberimu hadiah perpisahan.


Ivona berbicara dengan tenang.


Putra Mahkota itu tidak menghiraukan perkataan Ivona. Tidak ada sedikitpun raut wajah ketakutan yang terpatri di wajah bengisnya.


Di luar Istana masih ada ribuan parajuritnya dia yakin mereka akan datang.


""Cepat atau lambat semua pengawalku yang berjumlah ribuan orang akan mengepung tempat ini.


Ucap Putra Mahkota itu tersenyum bangga.

__ADS_1


Dia yakin para penghuni aula itu saat ini pasti merasa ketakutan.


""Oo..ya.


""Apa perlu kusuruh pengawalku membawamu Jalan-jalan melihat pemandangan yang begitu indah di luar.


Tawar Ivona.


Ivona mengerakkan tanganya. Hitungan detik Putra Mahkota itu telah di bawa kakek Elang Tua untuk melihat pemandangan di luar Istana.


Aula itu sunyi senyap.


Tidak ada yang berani berbicara.


Kaisar kerajaan itu beserta pengikutnya yang masih terkurung. Tidak berani berkutik.


Zhang memberikan pil penguat jiwa kepada Ayahnya.


Untuk mempertahankan lebih lama lagi nyawa sang  Ayah.


Sedangkan ibunya menatap sendu Putranya. Dia telah menyimpan begitu banyak pertanyaan kepada Putranya itu. tetapi Permaisuri itu menahan niatnya. Matanya tidak berani menatap mata hijau wanita yang duduk di singgasana.


Kakek Tua itu telah kembali ke aula beserta Putra Mahkota yang sudah pucat pasi. kepalanya terus menggeleng membayangkan pemandangan yang berada di luar istana.


"'bagaiman?


""Aku yakin baru kali ini Putra Mahkota melihat pemandangan yang begitu.


"'inn..daahh..tekan Ivona.


Sementara Putra Mahkota yang mendengar suara iblis Ivona  menahan gejolak di perutnya yang ingin muntah Darah.


Dia menjadi takut menatap wanita yang di hadapanya itu.


Dia telah meremehkan wanita itu. Sosok yang di hadapnya itu tidak pantas di sebut sebagai wanita.


Dia lebih pantas di sebut wanita iblis penjaga Neraka.


Wanita itu dengan tenangnya mengatakan orang-orang yang tergeletak tak bernafas di luar dengan pemandangan yang indah.


""Apakah hadiahnya masih kurang?


""Aku juga akan memberimu hadiah yang paling istimewa.


Putra Mahkota itu merasa cemas dan was-was saat mendengar suara terkutuk Ivona.


Tangan Ivona terangkat ke atas. Tepat di hadapan Putra Mahkota itu tiba-tiba tergeletak sosok beberapa tubuh yang di kenalnya...


Putra Mahkota itu terbelalak dan membeku.


Matanya menatap nyalang. Kedua bola matanya hampir melompat keluar.


"Ini..


"Tidakk...tidakk..


"Ayahh..ibu..


"Meimei.


Teriak Putra Mahkota. Dia menyebut nama orang orang kesayangannya. Dengan histeris


Lelaki itu menatap Ivona dengan tatapan penuh dendam dan penuh dengan aura membunuh.


""Tidak perlu berterimakasih.


""Anggap saja ini hadiah dari semua perbuatanmu kepada kerajaanku selama setahun ini.


"Bukankah kau telah memperlakukan masyarakat ku dengan sangat kejam?


Ucap Ivona dengan lembut.

__ADS_1


Tetapi bagi lelaki itu bagaikan ribuan busur panah yang menancap tepat di ulu hatinya.


Orang-orang yang di aula itu menahan nafasnya masing-masing. Seumur hidup. Baru kali ini mereka melihat peristiwa yang sangat mengerikan.


""Bereskan.


Satu kalimat yang keluar dari mulut Ivona. Mengakhiri hidup Putra Mahkota yang masih menangis pilu itu. Sebuah pedang menancap tepat di punggungnya.


Setelah beberapa menit mayat-mayat itu telah di bereskan.


Ivona menatap Mata Zhang.


""Artefetak. Ucapnya.


Zhang melihat ibunya yang menunjukkan raut wajah  kebingungan.


""Dari mana wanita ini tau Artefetak milik kerajaan. Batinya.


Dengan langkah lemah dan tubuh yang gemetaran permaisuri itu menyerahkan sebuah kotak kepada Ivona.


Sungguh Permaisuri itu sangat takut melihat sosok wanita yang bercadar hijau itu


Ivona menerima kotak itu Tanpa ekspresi membuat Permaisuri semakin gusar.


Saat tangan Ivona menyentuh Artefetak itu. Sebuah cahaya keemasan muncul dari Dalam. Membuat Permaisuri dan yang lain terbelalak bahkan sang Kaisar yang sudah di ambang Kematian tertekun.


Sebuah senyuman terbit di bibirnya.


""Akhirnya dia bisa pergi dengan tenang pemilik Artefetak itu telah datang.


""Bagaimana bisa. Bisik Permaisuri dan bisikanya masih bisa di dengar oleh orang-orang yang di sana.


""Apakah kau percaya Bahwa Artefetak ini milik leluhurku. Ucap Ivona sedikit berbohong. Membuat Jing mi terbelalak.


""Kenapa Ratu ini tidak jujur. Batinya.


""Maaf Ratu. Ucap ibu Suri. Ternyata leluhur wanita yang depannya itu Pemilik Artefetak yang selama ini di jaga ketat oleh kerajaannya.


""Mulai saat ini biasakan memanggilku Putri Mahkota.


Karena kerajaan kita telah mengalahkan kerajaan Teratai salju maka kita sekarang akan menempati posisinya.


Saat ini kerjaan kita akan masuk kedalam kerajaan  terbesar di urutan nomor lima belas. Salah satu kerajaan yang tergolong kuat dan besar. Ucap Ivona dengan wajah serius.


Semua penghuni kerajaan itu Melongo. Walaupun mereka dapat mengalahkan kerajaan Teratai salju. Tetapi kerajaan mereka tergolong kecil dan miskin.


""Apakah kalian tidak setuju. Ivona menatap wajah-wajah pesimis yang ada  di aula itu. Dirinya tidak suka mempunyai bawahan yang tidak percaya diri.


""Baik yang Mulia.


Suara mengema mengalir kuat dari dalam aula itu. Para pejabat itu hanya bisa mematuhi wanita yang duduk di singgasana.


""Aku ingin istirahat.


""Dalam waktu satu bulan kerajaan kita sudah terdaftar dalam lima belas kerajaan terbesar. Titahnya.


""Baik yang Mulia.


Ivona meninggalkan aula itu dengan sejuta pertanyaan yang bersarang di wajah para pejabat dan keluarga kerajaan itu.


Mereka ingin bertanya. Tetapi mereka tidak punya nyali.


Zhang membawa keluarganya ke istana miliknya. Setelah dirinya membubarkan rapat di aula itu.


Disana dia menceritakan semua kepada keluarganya, tentangnya dan tentang Ivona. Dia juga tidak lupa untuk mengingatkan keluarganya itu untuk mematuhi Ivona dan segala rencananya.


Semua keluarganya itu mengangguk patuh. Mereka masih bersyukur kerajaan mereka masih terselamatkan.


""Apakah dia tidak menginginkan kerajaan ini. Tanya Permaisuri kepada Putranya.


""Dia sudah punya kerajaan sendiri ibu. Dia hanya ingin membantuku merebut kerajaan kita dari orang-orang yang serakah itu. terang Zhang.

__ADS_1


Permaisuri dan yang lain  mengangguk tanda mengerti.


Mereka tidak akan bertanya lagi


__ADS_2