
Setelah menghabiskan waktu seharian dengan para Dewa yang tidak tau malu itu. Akhirnya Heng Yuze bisa bernafas lega.
Bayangkan saja kelima sahabatnya itu di kediamanya Sampai Matahari terbenam.
Heng Yuze bahkan sudah bolak-balik mengusirnya. Tetapi para sahabatnya itu sepertinya sudah memiliki kelamahanya. Mereka akan merengek kepada Wanitanya supaya tidak di usir. Dan terakhir Wanitanya Chang Lianlah yang membujuknya dengan menampilkan wajah gemasnya itu. Heng Yuze tidak bisa menolaknya. Dia paling tidak tahan melihat Chang Lian jika sudah bersikap manja.
"Istirahatlah kamu sepertinya sudah sangat mengantuk. Ucap Heng Yuze sambil menatap Kelopak mata Chang Lian yang sepertinya ingin tertutup rapat.
"Aku tidur dimana?
Chang Lian bertanya dengan mata yang sudah terpejam.
Heng Yuze tidak tahan lagi melihatnya. Dia langsung memapah Chang Lian dan menghilang dari Gazebo yang ada di taman itu.
Chang Lian menurut saja.
Bersandar di dada yang kokoh lumayan juga batinya.
Heng Yuze meletakkan Chang Lian ke kamar yang sudah di persiapkan sebelumnya.
Dia mengusap dan mengecup kening mulus itu dengan sayang.
Sementara yang di kecup sudah tidak sadarkan diri lagi, matanya sudah tertutup rapat. Dirinya sudah di alam mimpi.
***
Keesokan harinya Chang Lian bangun dengan tubuh yang bugar.
Dia duduk di tempat tidurnya dengan kening yang berkerut. Dia memimpikan sesuatu, Yaitu dua sosok anak laki-laki.. Walaupun wajahnya tidak jelas di lihat Chang Lian. Dia merasa akrab dengan dua sosok lelaki itu.
Dan anehnya mereka memanggil Chang Lian dengan sebutan " ibu.
Walaupun Chang Lian masih tergolong muda. Entah kenapa panggilan "ibu, itu sangat di sukainya.
Dia seperti sudah terbiasa dengan panggilan itu.
Chang Lian menghirup nafas panjang, Lalu melepaskannya. Perasaannya kini bercampur aduk.
Karena Chang Lian tidak mau hanyut dalam kekacauan hatinya. Diapun bangkit dari tempat tidur itu. Dia merasa mimpinya itu hanyalah bunga tidurnya saja.
Dalam sekejap dirinya telah mengubah penampilannya. saat ini dia menggunakan jubah kebesarannya yang terbaru.
Sepanjang jalan menuju Aula Istana. Chang Lian sedikit binggung, Pasalnya setiap dia melewati para Dewa pengawal dan para peri. Mereka akan langsung tertunduk.
Karena Chang Lian tidak terlalu memikirkannya dia melewati mereka begitu saja dan sesekali menyapanya. Dan anehnya mereka semakin menunduk dan menjaga jarak.
"Mereka kenapa? Batin Chang Lian Sambil menggeleng. Sementara pria yang di sampingnya tersenyum tipis sambil menggenggam tangan lembut Chang Lian.
Apalagi saat melihat wajah kebingungan wanitanya membuat Heng Yuze merasa gemas.
Dia aula Istana langit. Tiba-tiba saja para Dewa Tinggi di aula itu menunduk hormat. Mereka tidak akan mengangkat kepalanya sebelum sosok Dewi Phoenix itu melewati mereka.
Kali ini Chang Lian semakin penasaran.
Dia duduk di kursi kebesaranya.
Dia melihat Dewa Tinggi yang duduk di samping kanan dan kirinya. Untung saja mereka menyapanya sekilas dan langsung mengubah posisi kepalanya.
__ADS_1
Chang Lian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Melihat Dewa Tinggi yang di sekitarnya menatapnya hanya sekilas dan sepertinya juga sedang mencoba menjaga jarak.
Entah apa yang terjadi Chang Lian tidak tau.
Dia merasa sesuatu telah terjadi.
Atau memang seperti inilah peraturan saat menghadapi rapat. Wanita dan laki-laki tidak boleh saling tatap-tatapan dengan waktu cukup lama. Tapi Chang Lian memutar ingatanya yang semalam. Kejadian hari ini tidak ada.
Bahkan banyak Dewa Tinggi yang terang-terangan memandangnya lama dan memuji kecantikannya.
"Lebih baik aku bertanya kepada Dewa Tinggi Putra Mahkota. batin Chang Lian memfokuskan diri melihat kedepan.
"Ckk.. Apakah kau sangat senang sudah membuat gadis manis itu binggung?.Tanya Dewa Agung.
Heng Yuze mengangkat sebelah alisnya.
Panggilan gadis manis yang di sematkan Gurunya kepada kekasih hatinya itu, sungguh membuat Heng Yuze tidak menyukainya.
"Mulai sekarang, Panggil chang'er dengan panggilan Dewi Phoenix Guru.
"Guru tidak cocok memanggilnya gadis manis.
"Karena umur guru sudah tua dan tidak pantas lagi memanggil seperti itu. Ucap Heng Yuze datar.
Bibir Dewa Agung berkedut.
Dia baru mengetahui sifat terbaru muridnya ini.
"Chang'er murid kesepuluh ku.
"Suka-sukaku memanggil dia apa. ucap Dewa Agung jengkel.
" Atau ku panggil saja dia Chang'er sayang ? tanyanya.
"Ah.. sepertinya panggilan itu memang sangat cocok dan lebih menggemaskan. Timpal Dewa Agung seenaknya.
"Guru jangan memanggil chang'er seperti itu.
"Jika guru memanggil chang'er seperti itu, Maka aku akan memulangkan pedang Es guru.
"Aku juga bisa memberikan pedang yang lebih bagus dan lebih kuat dari milikmu itu. Ucap Heng Yuze merasa geram.
Mata legamnya bahkan menatap gurunya itu dengan sangat mengintimidasi.
"Ckk..Dasar murid tidak ada akhlak. Gerutu Dewa Agung.
"Berhentilah kalian bertengkar seperti anak kecil. Bisik Kaisar Langit. dia tidak menyangka ke dua sosok yang di Agung-agungkan semesta alam itu, kini bertingkah dan berantam seperti anak kecil. Dirinya sampai tidak fokus mendengarkan setiap laporan para Dewa dan Dewinya, gara-gara kedua sosok berbeda usia ini.
"Apakah kau tidak mendengarkan ucapanya barusan. Dia sangat menjengkelkan adu Dewa agung kepada Kaisar Langit.
"Aku mendengarnya, Bahkan aku mau muntah melihat mu yang seperti anak kecil. Balas Kaisar Matahari.
."Ckk..jadi kau lebih membelanya, dari pada aku sahabatmu sejak sebelum menjadi Dewa?
Tanya Dewa Agung dengan raut wajah yang merajuk.
__ADS_1
Kaisar Langit memutar bola matanya malas.
Dia jengah mendengar ucapan Dewa Agung yang sudah basi itu.
"Kalian berdua sama saja.
Ucapnya.
Suasana di aula itu sedikit tenang. Tidak ada masalah kali ini. membuat Kaisar Langit mengembangkan senyumnya.
Saat netra Dewa Bintang tidak segaja melirik Chang Lian.
Chang Lian tiba-tiba bertanya kepadanya.
"Apakah Dewa Tinggi Agung dan Dewa Tinggi Putra Mahkota tidak pernah akur?
"Kenapa mereka sepertinya berantam.
Tanya Chang Lian sambil menatap netra ungu itu.
Dewa Bintang, menghembuskan nafas beratnya.
Lalu menggeleng.
" Kenapa kakak tidak melihat wajahku saat aku berbicara.
""Kakak hanya menggeleng kepala menjawabnya.
"Aku tidak menyukainya.
"Kakak tidak sopan.
"Walaupun umur kakak Dewa Bintang jauh lebih tua dariku.
"Setidaknya hargai lawan bicaramu.
Ucap Chang Lian sambil memanyunkan bibirnya. Membuatnya semakin menggemaskan. Dewa Matahari yang melihat, Wajah gemas itu, ingin menenggelamkan wajahnya ke gurun pasir sana.
"Aku heran melihat kalian semua.
"Kalian sepertinya tidak menyukaiku. Sehingga tidak mau melihatku.
'Iya kan..
"Kakak jujur. Ucapnya kepada Dewa Takdir.
Chang Lian merajuk.
"Sial lagi. Batin Dewa Takdir.
"Jika Dewi ingin tau kenapa, Tanya Dewa Tinggi Putra Mahkota yang sedang duduk Di sana?
Ucap Dewa Matahari, yang sudah tidak tahan lagi melihat kondisi mereka yang di pojokkan Dewi Phoenix.
Mereka juga tidak mau seperti ini.
Semua ini gara-gara si balok es sana. batin Dewa Matahari.
__ADS_1