Cinta Sang Dewa Dingin

Cinta Sang Dewa Dingin
EPISODE. 122


__ADS_3

Mereka yang sudah ribuan tahun saja mengabdi belum pernah memasuki kamar Sang Dewa Tinggi.


Mereka hanya bisa berdiri sampai pintu yang menjadi batasannya.


"Apa mereka satu kamar


Tanya Dewa pengawal Dua kepada Pengawal satu.


Bagaimanapun pengawal Dewa satu lebih sering berinteraksi dengan Sang Dewa Tinggi.


"Sepertinya tidak, tapi Dewa Tinggi Putra Mahkota telah membagi kamarnya menjadi dua bagian.


Dewa Tinggi sendiri yang melakukanya.


Jelas Dewa Pengawal satu.


"Apa?


Mereka sangat terkejut.


"Apakah peri itu yang akan menjadi Permaisuri sang Dewa.


"Aku melihat Sang Dewa Tinggi Putra Mahkota sepertinya sangat menyukainya.


Tanya Dewa pengawal tiga.


"Aku tidak tau.


"Tetapi jika kalian penasaran, Kalian tanya saja langsung kepada Dewa Tinggi.


Balas Dewa Pengawal satu dengan enteng.


"Ckk.. Kami tidak berani.


"Lagian Jiak Dewa Tinggi Putra Mahkota menyukai peri itu pasti akan menimbulkan konflik di kerajaan langit. Pasti banyak yang menantangnya.


Para Dewi Tinggi pasti akan langsung turun tangan dan melakukan aksi protesnya.


Ucap Dewa pengawal empat.


"Memangnya nyali mereka sebesar itu untuk menunjukkan ketidaksukaannya?


"Dewa Agung dan Kaisar langit saja tidak berani protes, Apalagi mereka.


Ucap Dewa Pengawal dua.


Saat ini dia sedikit senang, setidaknya Dewa Tinggi Putra Mahkota tidak menjaga jarak lagi dari wanita.


"Berarti Sang Dewa Tinggi itu masih normal.


Batinya.


"Apakah ini kamarku.


Tanya Yu Jie antusias. Dirinya sangat senang.


Dia baru tau inilah surga kerajaan langit yang sebenarnya.


Tempat itu Sangat indah dan rapi. Semua tersusun dengan sempurna.


Apalagi di suguhi dengan taman yang begitu luas, membuat Yu Jie betah disana.


Dia berpikir tidak akan pernah meninggalkan kamar itu walau sedetik.


Dirinya ingin memanjakan Indra penglihatannya dan Indra penciumanya.


"Hmm.

__ADS_1


Jawab Heng Yuze sambil duduk di tempat tidur besar itu.


Matanya masih setia melihat gerak-gerik Yu Jie yang tidak bisa diam.


Wanita itu berlarian kesana-kemari.


"Sudah malam,


'"Tidurlah, bukankah kamu juga sudah mengantuk tadi.


"Besok saja untuk melihatnya lagi.


Titah Heng Yuze dengan suara lembutnya.


Selama ini dirinya akan menjaga jarak dengan wanita. Dia juga tidak menyukai wanita yang berisik, Apalagi bertingkah seperti yang di lakukan Yu Jie saat ini.


Tetapi saat melihat wanita yang di depanya itu, Heng Yuze merasa senang dan sedikit akrab


Bahkan Heng Yuze menyukai semua apa yang di lakukan wanuta itu.


"Benarkah aku bisa jalan-jalan menyusuri istana milikmu ini besok?


Tanya Yu Jie menghampiri Heng Yuze. Mendekatkan diri kepada laki-laki itu.


Membuat Heng Yuze menelan ludahnya dengan susah payah.


Jarak wanita itu sungguh dekat.


Bahkan dia menduduki jubah Heng Yuze.


Aroma tubuh wanita itu kembali membuat perasaan Heng Yuze tenang dan damai.


Dia ingin sekali merengkuh wanita yang di sampingnya.


Tetapi Heng Yuze masih sadar untuk tidak bersikap lancang. Dia berusa menahan keinginannya.


'"Bukankah tidak sembarangan memasuki istana milikmu?


"Jangan dengarkan ucapanya.


"Jika aku sudah memberikan izin, maka kamu bebas menyelusuri Istana ini sesuka hatimu.


Jawab Heng Yuze sambil merapikan anak rambut Yu Jie yang sedikit berantakan.


Tanganya kembali ramah. Padahal selama ini Dia anti bersentuhan. Apalagi menyentuh seorang wanita. Hal itu tidak pernah terbayangkan oleh Heng Yuze.


Tetapi saat tanganya menyentuh Yu Jie.


Dia sangat menyukainya dan ingin berlama-lama menyentuh gadis cantik ini.


"Apakah Dewa Tinggi tidak berbohong?


"Jika Dewa berbohong. Maka aku akan tetap berkeliaran dan mengobrak-abrik Istana mu ini. Ucap Yu Jie sambil tersenyum riang. sikap kekanak-kanakannya muncul.


"Iya.


Balas Heng Yuze. Bahkan bibirnya ikut membalas senyuman manis Yu Jie.


Yu Jie merebahkan tubuhnya di tempat tidur empuk itu.


"Nyamanya. Batin Yu Jie


Setelah kelopak mata indah itu tertutup rapat.


Heng Yuze pergi dari sana.


Dirinya juga ingin melakukan meditasinya.

__ADS_1


**


Pagi-pagi sekali sosok bergaun biru muda itu sudah berkeliaran dan pergi ke istana bagian belakang.


Dirinya tidak sengaja melihat pohon-pohon persik yang sedang berbuah lebat dan juga besar.


"Katanya jika memakan satu buah persik ini. Maka dia akan mempunyai kekuatan seratus tahun. Ucap Yu Jie dalam hatinya.


Jika aku memakan sepuluh berarti kekuatanku bertambah seribu tahun. Pikirnya . Yu Jie sangat senang. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan berharga ini.


"Aku akan mengambil lima untuk Jing Huli, biar dia mempunyai kekuatan melawan Dewa hukum.


Yu Jie masih bermonolog dalam hatinya sambil memanjat pohon Persik penuh semangat.


Dirinya ingin menggunakan wujudnya yang kecil itu untuk terbang. Tapi Yu Jie takut dia di lihat Dewa pengawal.


Dia takut tiba-tiba di panggang para Dewa pengawal itu.


Apalagi Yu Jie secara tidak sengaja, Telah membuat ke empat pengawal utama itu kesal.


Yu Jie yakin pengawal itu saat ini sedang menyimpan dendam kepadanya.


Seseorang laki-laki yang sudah berumur.


Merasakan goyangan pada pohon yang saat ini di gunakanya untuk bermeditasi.. Setiap hari, Setiap subuh-subuh buta, Dia akan datang kekebun buah Persik milik Heng Yuze untuk melakukan meditasinya.


Dia menyukai kebun persik itu karena memiliki aroma yang manis dan juga menyegarkan.


Karena goyangan yang di rasakanya seperti Badai.


Dia tidak tahan lagi, Dan membuka mata jernihnya.


Dia hampir jatuh saat melihat gadis cantik yang saat ini sibuk merapikan gaunya yang nyangkut pada ranting pohon persik.


"Kenapa pakaianku ini menyusahkan sekali.


Gerutu Yu Jie yang masih belum sadar di atasnya ada sosok yang memperhatikannya sambil mengerutkan keningnya.


"Ah..Sampai juga.


Ucap Yu Jie, Setelah perjuanganya memanjat pohon Persik yang paling lebat itu. Akhirnya Yu Jie bisa sampai pada buah yang sudah di Incarnya sejak tadi. Dia yakin buah itu memiliki kekuatan lebih dari seratus tahun.


"Hei..Gadis manis, Apa yang kau lakukan disini.


Tanya Dewa Agung sedikit menahan suaranya supaya tidak di dengar laki-laki dingin itu.


Bahkan Dewa Tinggi Agung menyembunyikan auranya supaya tidak bisa di rasakan Heng Yuze.


"Kakek siapa?


"Apa kakek mau mencuri buah Persik milik Dewa Tinggi Putra Mahkota?


Tanya Yu Jie, Dia sangat terkejut saat melihat sosok laki-laki Tua, yang masih gagah duduk bersilah dengan santai di atas pohon itu.


Yu Jie hampir saja jatuh ke bawah.


Dia yakin Kakek Tua itu menggunakan kekuatanya sehingga bisa mengambang di atas pohon Persik.


"Mencuri?


Beo Dewa Agung.


Seumur hidup. Dia merasa satu kata itu belum pernah di sematkan kepadanya.


"Siapa yang mencuri gadis manis.


"Bukankah terbalik,

__ADS_1


"Kau yang mencuri.


Ucap Dewa Agung sedikit kesal.


__ADS_2