
Disaat seseorang sedang galau merana. Bedahalnya dengan wanita yang saat ini.
Wanita itu sibuk memborong makanan di pinggir jalan membuat pengawal Bingwen kewalahan. Dirinya baru mengenal sosok yang baru dari selir kelima Putra Mahkotanya itu.
Ibarat seseorang yang terkurung selama ini.
Dan pengawal Bingwen membetulkan pikiranya.
"Bukankah memang selir kelima di kurung selama hampir setahun ini di Istana?.
Batinya.
Segala macam rasa makanan sedang di nikmati Ivona saat ini.
Dari yang dingin dan panas, manis, asam, asin dan kecut.
Ivona sangat menikmati itu.
Dirinya seperti menjelajahi dunia luar untuk pertama kalinya.
**
Tidak terasa hari berlalu. Akhirnya rombongan itu tiba di kuil kerajaan pada siang hari. Ivona sengaja menginap karena dirinya ingin berleha leha sebentar.
Ternyata siapa sangka. Saat kakinya menginjak kuil leluhur itu. Semua orang sedang berjejer menyambut kedatanganya. Seperti menyambut seorang Raja.
Dengan sopan para penjaga kuil itu menyapanya.
"""Selamat datang kekuil leluhur yang Mulia. Semoga Dewa Agung selalu menyertai yang Mulia.
Ivona tersenyum kecut.
"""Apa ini perbuatan Putra Mahkota yang tak berperasaan itu batinya.
Karena Ivona bukan orang yang gila-gila hormat dan dirinya tidak gampang di jilat.
Ivona langsung memerintahkan pengawal mengantarnya ke kamarnya. Yang membuat Ivona hampir pingsan Paviliun tempat tinggalnya sementara itu begitu besar dan indah.
Ivona selama ini berfikir dia akan menderita menjalani hari harinya selama satu bulan di tempat itu. Ternyata dia salah besar.
Bahkan penjaga kuil itu sangat menghormatinya bahkan menyuruh Ivona istirahat.
"Bukankah aku kesini untuk Berdoa.
"Kenapa aku malah di suruh istirahat. Batinya.
Tapi Ivona tidak perduli mumpung sedang di kasih waktu untuk rebahan dia terima terima saja.
Jika di pikir pikir dua Minggu ini tenaganya sangat terkuras untuk melayani dua bayi yang berbeda usia itu.
Jika untuk merawat Putra bungsunya Ivona tidak keberatan bahkan dia merasa waktunya sangat kurang.
Tetapi untuk bayi besar yang satu lagi Ivona benar benar mengeluarkan tenaga super wonder womannya.
Selain lelah fisik melayaninya di ranjang juga lelah batin melihat pemandangan yang menggerogoti hatinya.
Bisa-bisanya suaminya itu selalu ber Duaan di ruang pribadinya dengan selir pertamanya itu. Apalagi saat suaminya itu memanggil nama selir pertama itu membuat Ivona hampir muntah darah.
""Cihh..umpatnya.
Ke esok harinya Ivona telah bersiap dengan gaun serbah putihnya itu. Dia menutup kepalanya dengan kain putih.
__ADS_1
Kaki jenjangnya memasuki kuil suci itu.
Ivona merasakan kuil itu penuh dengan aura ilahi. Mungkin kuil itu selalu di datangi oleh orang orang yang berhati tulus sehingga kuil itu banyak memiliki aura ilahi yang pekat.
Dengan tulus Ivona Berdoa di kuil itu.
Memohon berkat dari sang Kuasa.
Berdoa untuk kesehatan dan keselamatan kedua Putranya, mendoakan orang orang yang di sayanginya.
Ivona tidak mendoakan suami laknatnya itu karena Ivona merasa suaminya itu sudah memiliki semuanya, rupa yang tampan, kekuasaan, kekayaan, istri yang cantik lebih dari satu. Apa lagi yang perlu di do'akan.
Bahkan lelaki itu sudah melebihi batas kata sempurna. Meskipun Ivona tidak mendoakan lelaki itu. Ivona tetap mendoakan kerajaan Phoenix itu supaya terus berjaya.
Ivona bersikap profesional dia tidak akan membawa masalah pribadinya untuk mengutuk kerajaan itu.
Gimanapun kerajaan itu mempunyai masyarakat puluhan juta jiwa. Jadi Ivona tetap mendoakan kerajaan itu supaya lebih aman dan tentram.
Selesai Berdoa Ivona melakukan puasa dan makan vegetarian.
Ivona tidak habis pikir ternyata di Zaman kuno itu ada istilah berpuasa menahan lapar.
Dan jika sudah saatnya makan.
Ivona akan di sediakan makanan yang berbau vegetarian. Ivona tidak mengeluh dia mengikuti tradisi itu dengan senang hati. Hitung-hitung untuk kedua putra tercintanya.
Para penjaga kuil itu sangat menghormati Ivona. Ternyata Selir kelima Putra Mahkota itu orang yang sabar dan tidak suka mengeluh seperti para bangsawan biasanya.
Bahkan selir putra Mahkota itu sangat mandiri dan mudah di layani.
Membuat mereka semakin kagum.
***
Dalam satu bulan ini Ivona selalu mendoakan hal yang sama.
Bahkan Ivona lupa mendoakan dirinya sendiri. Ivona hanya fokus mendoakan orang-orang yang disayanginya.
""Yang Mulia sudah saatnya kita kembali.
"Yang Mulia Putra Mahkota berpesan untuk melanjutkan perjalanan Tanpa menginap.
"Untuk kebutuhan yang Mulia sudah lengkap tersedia di kreta kuda.
Ucap Bingwen sopan.
Ivona memutar bola matanya malas mendengar kata-kata pengawal patung itu.
Bahkan pengawal itu berbicara Tanpa ekspresi.
"Pantas saja Ana menyebutmu manusia patung. Cibirnya. Lalu Ivona masuk ke dalam kreta.
Bingwen merasa selir Putra Mahkota itu sedikit berbeda.
""Mungkin yang Mulia sudah mendapatkan pencerahan setelah satu bulan Berdoa di kuil. Batinya berfikir positif.
Kreta kuda yang di tumpangi Ivona telah melaju pergi menjauh dari kuil itu.
Malam sunyi dan dingin serta hutan dengan suara suara nyaring mereka lalui.
Ivona tetap duduk tenang di dalam kreta. Matanya terpejam sambil Menghitung jari-jarinya.
__ADS_1
Matahari mulai menampakkan sebagian wajahnya. Pagi yang indah telah menyambut mereka.
""Yang mulia sebentar lagi kita akan memasuki gerbang kota kerajaan.
Ucap Bingwen lantang dari Depan kreta kuda yang saat ini berada di atas kuda hitamnya.
Seringai Licik muncul di bibir tipis Ivona.
Satu...dua..tiga...
AAuuuuu....suara seekor ular hijau yang sangat besar memekakkan telinga mungkin suara itu Sampai ke gerbang ibu kota kerajaan.
Muncul tepat di hadapan mereka.
Burung elang merah Darah ikut menambahkan suasana mencekam di tempat itu.
Mengepung orang orang yang ada disana.
Dalam hitungan detik Ular itu langsung menyemburkan racunya terhadap para pengawal itu.
Pengawal itu langsung tumbang.
Sekuat tenaga Bingwen berteriak.
""Yang Mulia Lari...di depan kerajaan akan banyak pengawal yang menyambut yang Mulia. Teriaknya histeris.
Sekuat tenaga Bingwen mengeluarkan kekuatanya untuk melawan dua binatang suci yang sudah ranah Dewa itu.
Ivona tertawa pelan di dalam kreta itu saat mendengar perintah pengawal patung itu..
"Ckk....Sayang sekali pengawal itu mati.
"Jika tidak mati pasti nyawanya akan sekarat. Ucap Ivona tersenyum sinis..
Bingwen melawan ular dan elang merah Saat dirinya fokus membuat formasi.
Kreta kuda milik selir Putra Mahkota itu Tiba-tiba mengeluarkan ledakan yang memekakkan telinga.
""Duuaaarrr...
Bingwen terbelalak...jantungnya seakan keluar dari tempatnya.
Dari jarak beberapa meter dari posisinya. Terpental Tubuh seorang wanita yang di yakininya adalah selir Putra Mahkota...
Wajahnya hancur seperti di cakar.
Bingwen berteriak histeris.
"" Yang Muliaaaa....
Dengan membabi buta Bingwen menghajar elang merah itu.
Dengan lihai Elang itu dapat menangkis serangan Bingwen.
Dengan santainya Elang merah itu bahkan berdiri diatas tubuh selir kelima.
Mematuk-matuk wajahnya yang sudah mengeluarkan darah.
Elang merah itu kemudian terbang menjauh dari sana.
Bingwen terduduk lemas. Bahkan dirinya tidak merasakan racun yang sudah beberapa kali menyemburnya dan menggerogoti tulang-tulangnya.
__ADS_1
Maaf..maafkan aku yang Mulia... ucapnya lirih bahkan air mata yang tidak pernah di bayangkanya untuk keluar kini mengalir deras dari sana.