
Putranya itu sudah di bawah ke menara sihir suci kerajaan untuk memastikan jiwa Naga yang di tubuh Putranya.
Saat itu jiwa Naga itu memang ada di tubuh Putranya.
""Kenapa Sekarang ada jiwa Phoenix. Tanyanya
""Apa kalian tidak salah?.
Ba Xi'an ingin memastikan sendiri.
Saat sihirnya menyentuh tubuh anaknya.
Ba Xi'an samar-samar merasakan kehangatan di hatinya. Tetapi dirinya tidak memperdulikanya. Dirinya hanya fokus melakukan sihir pendeteksi kepada Putranya
""Katakan kepada Ayah. Siapa wanita itu?
Ba Xi'O yang melihat wajah serius Ayahnya. Merasa Takut.
""Dia ibuku ayah.
Ba Xi'an tertawa mengejek.
""Ibumu?
""Sejauh mana wanita itu mengatakan tentang ibumu?
Nada suaranya sedikit meninggi. Netranya menatap nyalang biru safir Putranya.
""Ayah jangan memanggil dengan sebutan Wanita. Dia ibuku ayah..
""Jika ayah tidak percaya. Ya sudah.
"Ayah memang payah.
"Sama Seperti yang ibu bilang.
Ucapnya menangis dan pergi dari ruangan Ayahnya.
"Selama ini Aku sudah berusaha menyelamatkan ayahnya di depan ibu.
"Tetapi Ayah memang keras kepala.
"Tidak mau mendengarkan orang lain.
Ucapnya sambil terisak.
""Ibu..ibu benar ayah adalah ayah yang kejam dan ayah yang paling buruk.
Ba Xi'O berlari ke Istana Phoenix.
Dia pergi ketaman yang sering di tempati ibunya.
Sementara Ba Xi'an yang berada di ruanganya mendadak pusing. Baru kali ini dia membuat anaknya menangis.
""Maaf..maafkan Ayah.
Bisiknya dirinyapun ikut menangis. Dia terlalu di kuasai amarahnya sehingga dirinya tidak sengaja membentak Putranya.
__ADS_1
Sementara ketiga sahabatnya itu merasa miris. Melihat kehidupan sahabatnya yang satu itu. Mereka tidak menyangka sosok yang paling dingin dan tak tersentuh itu kini terlihat rapuh dan hancur.
Ruan mendekati Ba Xi'an. Menepuk-nepuk punggung sahabatnya.
""Berbicaralah Pelan-pelan dengan pangeran kecil.
""Kami tidak menyangka aura jiwa Phoenix bisa menempel di tubuh Pangeran kecil.
Walaupun itu bukan milik Pangeran kecil. Pasti jiwa Phoenix itu hanya kesasar. Atau sisa dari Rohnya. Bukankah beberapa tahun lalu pemimpin akademi pernah berkunjung ke istana untuk membawa Roh Phoenix itu ke menara sihir?
Dulu pemimpin akademi pernah mengatakan jiwa Naga dan Phoenix itu adalah jodoh yang sudah di takdirkan langit. Mungkin Sisah Rohnya itu sedikit tertarik kepada pangeran kecil. Sehingga Sisa Roh Phoenix itu mendekatinya. Untuk hal-hal yang di katakan Pangeran kecil barusan mungkin Dia pernah mendengarnya dari orang lain secara tidak langsung. Ucapnya panjang lebar berniat berpikir positif serta menyemangati sahabatnya itu.
Lagian Sudah ratusan tahun tidak ada manusia yang memiliki jiwa Phoenix.
""Jika pun ada pasti akademik Kultivator bisa merasakannya. Dan lonceng suci milik Phoenix yang ada di menara sihir suci pasti berbunyi.
""Dan mungkin Dia yang menjadi Permaisuri mu ucapnya sedikit menggoda untuk mencairkan suasana yang sudah membeku di ruangan itu.
""Ciihh... sekalipun ada manusia yang memiliki Roh jiwa Phoenix. Aku tidak akan mau mengangkatnya menjadi Permaisuri sekalipun itu sudah takdir langit. Ucap Ba Xi'an datar..
""Iya...iya
""Terserah tidak ada yang dapat menandingi pesona kakak ipar. Ucap Ruan mengangguk.
"Minggu depan kami akan pergi ke hutan Spritual. "Kuharap Putra Mahkota dapat membantu kami mengambil salah satu hewan suci tingkat tinggi. Pinta Ruan dengan serius.
Dia ingin sekali mengontrak hewan tinggi.
""Hmmm...jika kalian sudah tiba di pintu masuk hutan itu.
Ba Xi'an mengeluarkan burung Roh miliknya.
Ruan mengambil burung Roh itu dan menyimpannya.
""Istirahatlah kami akan kembali nanti malam untuk menghadiri perjamuan.
Xia He berbicara sambil berdiri.
Dia kembali melihat Ba Xi'an.
""Putra Mahkota jangan terlalu memaksakan diri.
Ba Xi'an hanya membalas dengan anggukan.
Saat ketiga sahabatnya itu pergi. Ba Xi'an bertanya.
""Kemana Pangeran pergi?
Sang Kasim menjawab dengan menunduk.
""Ke taman selir kelima yang Mulia.
"Pangeran kecil sudah kembali tenang dan tidak menangis lagi yang Mulia.
Ba Xi'an menghembuskan nafas lelahnya.
""Jika sayang masih hidup mungkin hidup kami berdua tidak sekacau ini. Batinya.
__ADS_1
**
Di hutan Spritual.
Sosok wanita cantik dan lemah lembut. Sedang sibuk mencari Putra sulungnya.
Lie Zhu...suaranya yang lembut juga merdu memanggil nama Putra sulungnya.
Suaranya yang lembut itu seakan pengantar ketentraman di tempat itu.
"'Kemana Putraku? Tanyanya pada sosok laki-laki yang baru saja tiba di pondok itu.
"" Apa yang Mulia tidak ada di kamarnya? Bukanya menjawab Zhang bertanya.
""Tidak ada.
""Yang mulia di sini saja aku akan mencari Yang Mulia kecil.
""Oh..ini yang Mulia
""Aku membeli makanan ringan dari ibu kota. Zhang memberikan kotak makanan kepada Ivona. Ivona menerimanya dengan senyum mengembang membuat Zhang tertekun.
Walaupun dirinya sering melihat senyuman Ivona jantungnya masih bertalu-talu saat melihat senyum lembut itu.
Wanita itu akan bersikap lembut jika tidak ada yang menyinggungnya.
Zhang segera pergi dari sana. Jika dia lama-lama disana dirinya yakin akan meleleh.
Ivona memakan makanan ringan itu dengan santai di temani teh teratai emas yang harum membuat pikiranya sedikit tenang.
Selama tiga tahun ini dirinya sudah bekerja keras. Mungkin dia sudah siap menghadapi kekerasan dan kekejaman dunia .
Selama ini dirinya berlatih sekali sebulan atau sekali tiga bulan di Gua gioknya.
Dia sengaja kesana karena di sana penuh dengan aura ilahi dan esensi Spritual yang sangat kuat. kata Jing mi Gua itu adalah tempatnya berlatih diri sewaktu Masih Dewi Phoenix.
Walaupun Ivona tidak ingat dengan dunianya yang dulu tetapi tempat itu adalah tempat yang membuatnya nyaman dan merasa familiar.
Ivona juga bersyukur. Berkat Gua Giok itu dirinya dengan leluasa bisa menjumpai putra bungsunya lewat mimpi. Dia tidak menyangka.
Pintu Gua Giok bagian belakang yang berbentuk segitiga itu bisa menembus kedalam mimpi seseorang yang ingin kita temui.
Selama ini Ivona selalu pergi ke mimpi anaknya dan mengajarinya ilmu beladiri dan sihir. Ivona juga sering menceritakan cerita yang membuat anaknya tertawa tawa bahkan sesekali menangis jika mendengar cerita ibunya.
Ivona ingin anaknya itu memiliki Indra perasa layaknya manusia biasa. Dia tidak ingin anaknya tumbuh menjadi sosok yang dingin dan kejam seperti ayahnya.
""Membayangkan ayahnya.
"Apa kabar Pria tak berperasaan itu. Batinya.
""Mungkin rasa cinta yang di hatinya adalah kutukan dari langit sehingga dirinya tidak bisa menghilangkan rasa cinta itu dari pria kejam itu.
Ivona bahkan sekuat tenaga melupakan mantan suaminya itu.
Bukanya rasa cinta itu sirna malah semakin berakar dan bertumbuh di hatinya.
Jika di Ibarat dengan sebatang pohon. Mungkin pohon itu sudah berbuah lebat dan mempunyai batang yang kokoh. Ivona menghembuskan nafas kasarnya.
__ADS_1