Cinta Sang Dokter Dan Perawat

Cinta Sang Dokter Dan Perawat
Hati Bagai Malaikat


__ADS_3

Yuri dan sang ibu duduk di kantin, Yuri memberi si ibu teh manis hangat, membelikan juga makanan.


" Diminum ya bu, di makan juga".


" Makasih dokter, dokter sangat baik.Harusnya saya yang traktir dokter".


Yuri teetawa.


" Iya, nanti kalau udah sehat Ana nya ya bu, traktir saya ,janji, " ujar Yuri tersenyum manis.


" Ana anak saya satu satunya dok, baru bulan lalunkami kehilangan papi nya, mendadak juga , karena kasus henti jantung juga, tetapi di kantor beliau sendiri, tidak mendapatkan pertolongan."


" Henti jantung berakibat fatal lebih dari 89 persen Bu, " ujar Yuri.


" Dibandingkan serangan jantung. Hal itu karena saat darah tidak mengalir ke seluruh tubuh, organ lain kekurangan oksigen.


Hal ini bisa sangat membahayakan otak, dan cedera neurologis sering terjadi pada mereka yang selamat dari henti jantung.


Sementara itu, serangan jantung merupakan penyumbatan di arteri yang mencegah darah mengalir ke jantung, dan memicu kerusakan pada otot."


" Ibu gak gitu paham nak, baru kamu yang jelaskan sama ibu.Sewaktu suami ibu meninggal, kawyawan hanya mengatakan ,suami ibu kena serangan jantung, terlambat pertolongan."


" Wajah ibu udah gak sepucat tadi,kalau ibu mau ambil keperluan Ana, saya nanti jagain Ana bu".


" Iya nak, tadi ibu buru buru, liat aja ,nih sendal ibu lain sebelah."


Yuri mengusap wajah sang ibu.


" Andai mami saya masih ada ,pasti se umuran sama ibu, kangen banget saya bu".


" Ibu masih asa Ana, saya sebatang kara bu".


" Makasih nak, sudah selamatkan anak saya. Kalau gak saya juga sebatang kara."

__ADS_1


" Tuhan masih mau, Ana ada bersama ibu, saya dan Dokter Dewanta hanya manusia biasa bu, di bekali ilmu".


" Ibu doain ya, dokter sukses dan selalu dalam perlindungan Tuhan".


" Amin, makasih doa nya ya bu, doain saya cepat jadi spesialis jantung, lagi berjuang nih bu".


" Ya nak, datang main ke rumah ibu , anghap ibu keluargamu nak, ibu juga dari sedari kecil gak punya siapa siapa ,yang besarin paman ibu, itu juga gak perduli sama ibu.Suami ibu baik, makanya ibu sangat kehilangan dia."


" Ibu sudah siap nak".


" Yuk bu".


Yuri dan sang ibu berjalan menuju ruangan UGD.


" Pasien sudah melewati masa kritis, susah bisa di pindahkan ke ruang perawatan bu, " ujar Dewanta.


" Saya urus dulu ya dok ,ke bagian admin nya".


" Untung kamu bawa ibu itu ke kantin Ri, tadi hampir pingsan, pucat banget. Beneran ..., dia sayok ya Ri".


" Suami si ibu 1bulan lalu, meninggal karena henti jantung dok, apa gak syok dok, anak satu satunya juga ngeluh sakit di bagian dada."


" Begitulah kasih sayang ibu pada anak dan suaminya.Kamu aja Ri, gak nerima saya".


" Ihhhh, dokter ngarep yahhhh?".


" Ngarep lahhhh, banget Ri".


" Ahhh udah jangan di bahas deh dok, saya udah iaterinya orang".


" Kutunggu jandamu yaaaang".


" Ihhhh, dasar dokter , jangan doain yang enggak enggak dong".

__ADS_1


" Aku serasa kamu permainkan Ri, jodohku di tikung teman se profesi."


" Emang nya bajai dok, pakai tikung menikung?", ujar Yuri tertawa.


" Ri ,pasien kamar 301 apa kamu kenal?".


" Sangat kenal dok, anak ibu itu, dulu saya suka banget, tapi gak pernah sih pacaran, suka adeknya eh abangnya ngebet, sampai bucin banget, saya kerepotan dok."


" Tetapi udah nikah kok dok, jadi aman".


" Apanya aman Ri, tuh perawat pada bergosip, anak pertama pasien 301, duda beranak satu".


" OMG, jangan kumat lagi ya dok, seremmm, seperri minum obat dok, 3X1 ,beneran dokkkkk".


Dewanta tertawa ngakak.


" Saya juga seperti minum obat ya Ri? dosis saya lebih Ri bucin nya 5x1."


" Super seram, saya cus dulu ya dok, dari pada kumat, nanti saya bisa kehilangan belahan jiwa."


Yuri melambaikan tangan menuju ke ruangannya.


🥰😍🥰😍🥰😍


Jangan Lupa


Like


Vote


Koment


Bahagia selalu, wajibbbb!!!!!!!!

__ADS_1


__ADS_2